Hujan Teluh

Hujan Teluh
Antara Cinta dan Benci


__ADS_3

Antar Cinta dan Benci


Melin hanya menggeleng pelan, ke arah Adrian. Karena masih dilanda rasa kaget, Melin segera berlari ke arah Adrian dan ia memeluk lelaki itu dengan eratnya.


Adrian tersentak, karena dia tidak menyangka akan mendapatkan pelukan hangat dari Melin lagi. Telapak tangannya yang terluka ingin dieluskan kepunggung Melin, untuk menenangkan gadis itu.


Namun Adrian mengurungkan niatnya, lelaki itu tak ingin nantinya. Melin tak bisa melakukan apa yang harusnya Melin lakukan.


Gadis itu harus membunuh seluruh siluman, yang ada di bumi ini termasuk dirinya. Jika Adrian menunjukkan kasih sayang kepada Melin, takutnya Melin tidak akan sanggup membunuh Adrian nantinya.


"Jangan sampai ada siluman lain yang datang, kita harus sampai di gubuk itu secepatnya!" ujar Adrian.


Dengan paksa, Adrian melepas pelukan Melin dari tubuhnya. Padahal Melin masih ingin memeluk tubuh Adrian, karena hatinya benar-benar sedang terguncang.


Adrian melangkah terlebih dulu ke arah mobil. Sedangkan Melin mau tidak mau, harus mengikuti Adrian.


Mereka segera menuju ke tempat tujuan awal mereka. Rumah Pondok yang berada di tepi danau, ternyata rumah pondok itu menjadi tujuan mereka.


"Kenapa kita malah kesini? Tempat ini, sepertinya banyak silumannya!" ujar Melin asal-asalan.


"Tempat ini dikuasai oleh Nyi Roro Kidul, sang penjaga!


"Jadi tidak akan ada siluman manapun yang berani mendekati tempat ini, jika tidak mau berurusan dengan siluman terkuat di bumi ini. yaitu Nyi Roro Kidul!" jelas Adrian.


Melin hanya mengangguk mengerti. Siapa yang tidak tahu tentang Nyi Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan itu ternyata juga punya kekuasaan di tempat ini.


Benar-benar makhluk mistis bernama Nyi Roro Kidul itu, mempunyai kekuasaan di laut lepas tanpa batas.


Adrian menyalakan lampu emergency dan memasang lagi pusat langit-langit ruangan. Seketika seluruh ruangan di dalam pondok itu, terang benderang.


Adrian segera menuju almari yang terletak di sebelah ranjang tidur satu-satunya di ruangan itu. Dia mengambil beberapa pakaian lalu memyerahkan sesetel untuk Melinda.


Melin menerimanya, dan melihati pakaian di tangannya. Pakaian itu ternyata adalah pakaian yang ia beli bersama Adrian, di pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu.


"Kenapa kau jauh-jauh membawaku ke sini?" tanya Melin.


Melin tak ingin salah anggapan lagi, dia tak mau mengira bahwa Adrian adalah orang yang baik lagi.


"Karena dengan menjagamu, aku bisa mendapatkan tempat di dunia ini!" ujar Adrian bohong.

__ADS_1


Lelaki itu malah melanggar perjanjianya dengan Yanuar. Karena ingin melindungi Melin, dari serangan siluman-siluman jahat Di Desa Air Keruh.


"Jadi jangan mencoba kabur dariku!" kata Adrian.


Lelaki itu tanpa rasa malu, malah membuka bajunya di depan Melin. Sehingga Melin dapat melihat luka-luka di tubuh Adrian, yang mulai membaik dan sembuh.


Harusnya Melin tak perlu khawatir pada Adrian, yang saat ini sudah bersetatus sebagai siluman. Dia harusnya khawatir pada dirinya sendiri, yang bisa dipastikan akan mati sebentar lagi.


"Tampaknya kau ingin melewati malam terakhirmu ini, dengan suasana yang panas!" kata Adrian.


Lelaki itu sudah berbalik ke arahnya dan berjalan ke arah Melin.


Melin hanya bisa menelan ludahnya, karena terpesona dengan bentuk tubuh Adrian yang sangat luar biasa gagah. Lelaki itu belum mengenakan kemejanya lagi, dan celana yang dia pakai basah kuyup sehingga, kain itu mencetak dengan sempurna bentuk tubuh bawah Adrian.


"Berhenti di sana! Bukankah kau bilang, kau tidak akan memaksaku!" kata Melin dengan sangat gugup.


Gadis itu itu kembali mengingat, bagaimana rasanya disentuh oleh Adrian. Rasa nikmat yang tiada tara dapat gadis belia itu capai, meskipun saat itu Melin sedang tidak bergairah.


Tentu saja karena kelihaian Adrian, untuk memuaskan partner bercintanya.


Namun Melin tidak ingin terhanyut dalam cinta semu Adrian. Meskipun dia akan mati besok, dia tidak akan menerima perasaan yang tidak nyata seperti itu.


"Baiklah!" ujar Adrian.


Lelaki gagah itu benar-benar berhenti merayu Melin, dan membiarkan Melin berlari tunggang-langgang ke arah kamar mandi.


'Apa dia sakit? Kenapa jalannya tampak sempoyongan,' Adrian langsung merasa khawatir, ketika melihat cara berjalan Melin yang sedikit aneh.


Di dalam kamar mandi Melin tidak langsung mengganti bajunya yang telah basah kuyup, dengan baju yang baru saja diberikan oleh Adrian.


Dia malah menata laju detak jantungnya, yang amburadul karena pesona Adrian.


'Sejak kapan aku lemah terhadap pria tampan?' tanya Melin dalam hati.


Rasanya jantung Melin seperti ingin melompat keluar. Gadis belia itu hampir tidak bisa menahan gejolak jiwa mudanya, yang entah kenapa langsung membara ketika melihat tubuh Adrian.


"Aku benar-benar punya jiwa mesum, ternyata!" kata Melin lirih.


Dia meninju-ninju kepalanya dengan kepalan tangannya sendiri. Karena dia begitu tak bisa mengendalikan dirinya akan gairah gilanya.

__ADS_1


Karena hawa semakin dingin Melin segera menganti pakaiannya, dan keluar dari kamar mandi. Meski dengan langkah yang mengendap-endap seperti mau maling.


Melin tak habis pikir, ternyata Adrian menyiapkan makanan di lantai, yang di alasi oleh sehelai tikar tipis.


"Ayo makan!" ujar Adrian dengan nada ketus.


Seolah telah terbiasa dengan cara bicara Adrian, yang tak lagi ada lembut-lembutnya. Melin segera duduk di hadapan Adrian, yang telah berpakaian lengkap dan rapi serta wangi macan.


Melin segera mengambil piring, menindih barang berbentuk ceper itu dengan nasi. Lalu menguruk nasi itu dengan berbagai macam lauk yang disediakan oleh Adrian.


Melin makan dengan sangat lahap. Sepertinya sudah lama sekali, Melin tidak makan selahap ini. Karena hampir setiap dia mau makan, ada saja siluman yang mengganggu.


Adrian yang berada di dekatnya sampai bingung harus bagaimana. Karena Melin begitu sangat rakus saat makan.


"Pelan-pelan saja, nanti kau tersedak!" kata Adrian.


Melin sama sekali tak bergeming, karena dia makan dengan cara seperti itu. Agar dia tak memperhatikan Adrian, yang makin ganteng saja menurut Melin.


Gadis manis itu tak mau jatuh terjerembab lagi ke dalam pelukan Adrian. Lalu terjerumus ke dalam cinta palsunya, yang pasti akan berakhir menyakitkan.


Jadi Melin berencana makan sampai kekenyangan, terus tidur dengan nyenyak nanti malam. Melin tidak mau ada interaksi berlebihan, antara dirinya dan Adrian selama bersama di tempat ini.


Taktik Melin tidak terbaca oleh Adrian, tapi siluman harimau putih itu. Juga tak bisa memendam perasaannya pada Melin, yang tumbuh tanpa batas di hatinya.


Adrian menggenggam tangan kanan Melin, untuk menghentikan aktifitas makan Melin yang bar-bar.


Sentuhan itu membuat keduanya, saling menatap ke arah manik mata masing-masing. Detak jantung mereka, sama-sama meningkat. Berpacu karea hasrat cinta masa muda mereka, yang terbakar membara.


Adrian memdekatkan wajahnya ke arah wajah Melin. Gadis belia itu terbelalak kaget, ia tak menyangka Adrian akan mengingkari perkataannya sendiri.


Harusnya Melin tak begitu mudahnya percaya pada mahluk, yang bahkan mengunakan tubuh indahnya untuk menjadi siluman. Harusanya Melin tetap waspada dan menjauhkan dirinya dari Adrian.


Karena jika tidak, dia akan dimanfaatkan lagi. Dia akan di manfaatkan, karena Adrian tau. Rasa cinta Melin kepada siluman harimau putih itu tak sederhana.


Entah kenapa gadis belia itu sangat mencintai Adrian. Seolah-olah mereka pernah berhubungan sebelum kehidupan yang sekarang.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2