
Pusaka Adrian
Melin yang masih setengah kaget hanya bisa terbelalak saat melihat dapur rumah Adrian.
Dapur yang cukup besar dengan parabot yang lumayan komplit, serta dapur yang sangat femiliar di matanya.
"Apa kita benar-benar sudah berada di Desa Air Keruh?" tanya Melin.
"Emmmmm!" Adrian hanya berdehem kasar.
Tapi didalam harinya dia menahan tawa, karena ekspresi kaget Melin sangat mengemaskan menurutnya.
Saat kita sedang jatuh cinta pada seseorang, apa pun yang dilakukan oleh orang itu. Selalu saja membuat diri kita terus memandangnya.
Sekecil apa pun pergerakan yang dilakukan oleh orang yang kita cintai, pasti akan sangat begitu menarik perhatian kita.
Seolah mata kita diciptakan hanya untuk memandangnya, hanya untuk memperhatikannya. Diri kita seolah sanggup menjadi budak cintanya, selamanya. Asal selalu dekat dan terus bisa memandang dirinya.
Namun rasa cinta yang harusnya membawa bahagia itu harus ditahannya. Dia tak boleh berlebihan mengungkapkannya, dia harus pura-pura membenci pada orang yang dia cintai.
"Lalu kenapa kemarin, kau membawaku dengan mobil?" tanya Melin.
Keterkejutannya cepat sekali sirna. Gadis belia itu sadar jika Adrian adalah Siluman. Teleportasi bukan--lah hal yang mengkagetkan, mungkin saja Adrian juga bisa merubah benda-benda yang ia sentuh menjadi berlapis emas.
"Hanya ingin saja!" kata Adrian.
Alasannya karena Adrian ingin, Melin mengingat kebersamaan mereka, yang hanya sebentar. Adrian berharap Melin hanya mengingat hal-hal yang indah saja, jika dia telah mati nanti.
Karena Adrian tak bisa melihat Melin menagis, apa lagi jika tangisan gadis itu dikarenakan olehnya.
"Ternyata, kau suka hidup boros!" keluh Melin. Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar Adrian.
Melin tak jadi keluar, karena dia ingin melihat isi kamar Adrian yang suram. Lebih mirip kamarnya hantu.
Nuansa hitam kelam menyelimuti seluruh ruangan kamar Adrian. Entah kenapa lelaki gagah itu suka sekali dengan suasana kelam seperti ini.
Hampir di semua tempat yang di kunjungi Melin bersama Adrian, selalu saja terlihat begitu mengerikan.
Hanya ada satu almari kayu yang cukup besar, terlihat sangat biasa dan beberapa meja di pinggir ruangan yang berisi pajangan. Pajangan yang dipilih pria itu untuk menghiasi kamarnya, tentu saja pasti hanya benda-benda dengan aura mistis yang kental.
"Apa ini?" tanya Melin.
Gadis itu begitu merasa aneh saat melihat ada bambu di antara benda-benda mistis milik Adrian.
"Itu Pring Petuk!" ujar Adrian.
"Pring...apa?!" Melin bingung sekali.
"Pring petuk berarti adalah batang bambu yang bertemu," kata Adrian. "Biasanya bambu itu memiliki cabang atau tunas di masing-masing ruasnya!".
"Biasa aja menurutku!" kata Melin yang memang tak tau apa-apa tentang benda mistis.
__ADS_1
"Pusaka satu ini sangat susah dicari karena tidak diciptakan oleh manusia melainkan alam.
"Hanya orang-orang yang sedang sangat beruntung saja yang bisa menemukan benda ini.
"Benda ini sendiri konon memiliki satu khasiat yang luar biasa. Barang siapa bisa menemukannya, maka ia akan mendapatkan kelancaran dalam berdagang. Pusaka ini biasanya ada juga yang menjualnya, namun harganya pasti cukup mahal!" jelas Adrian.
"Emang Siluman mau dagang apa?" ujar Melin dengan nada meremehkan.
Adrian hanya bisa diam menahan kesal dengan reaksi Melin. Karena memang benar, apa yang bisa dijual Siluman di dunia manusia.
"Wahhhhh ini indah sekali!" ujar Melin.
Dengan sembarangan dan amat ngawur Melin malah mengangkat sebuah batu merah delima milik Adrian yang pasti sangat berkhasiat.
"Kau harus hati-hati, dengan pusaka itu!" bentak Adrian. Lelaki itu lalu merebut bongkahan batu yang berwarna merah keemasan itu.
"Cuma batu doank!" ujar Melin.
"Kau tau ini bukan batu sembarangan?!" Adrian menyembunyikan batu itu di balik tubuhnya karena Melin tampaknya cukup tertarik dengan batu di tangan Adrian itu.
"Tentu saja aku tahu, itu bukan batu sembarangan!
"Khasiatnya adalah jika kau melempar batu itu ke kepala seseorang, pasti kepala orang itu akan berdarah! Iya--kan!" ujar Melin.
Adrian tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi, namun dia juga tidak bisa marah kepada Melin. Karena saat ini, dia sedang berhadapan dengan manusia yang masih sangat muda. Maka Adrian berusaha untuk menekan emosi di hatinya.
"Apa ini bongkahan emas?" tanya Melin.
Dia kembali mengambil jimat yang biasa disebut oleh orang Indonesia dengan sebutan Wesi Kuning. Bentuknya memang seperti bongkahan emas, sebesar jari kelingking Melin.
"Bukan, itu Wesi Kuning!" ujar Adrian.
Lagi itu juga langsung merebut pusakanya yang dipegang oleh Melin.
"Pelit banget sih!" keluh Melin.
Namun perhatian Melin segera tersita oleh, sebuah benda yang mirip garis namun sangat kecil.
"Apa gunanya benda ini? Ini bukan gantungan kunci--kan?" tanya Melin kepada Adrian.
Gadis manis itu sudah mengacungkan keris pusaka Semar mesem ke arah Adrian.
"Cepat Letakkan itu!" kata Adrian.
"Apa, apa benda kecil ini bisa membunuh seseorang?" tanya Melin.
Manik mata Gadis itu menelisik fokus ke arah benda keramat yang bisa menarik lawan jenis itu.
Glodakkkkkkk
Adrian menjatuhkan semua benda pusaka yang dia genggam di tangannya. Pandangannya menuju ke arah Melin dengan tatapan paling mesum yang ia miliki.
__ADS_1
Melin yang melihat arah manik mata Adrian yang sorotnya amat sangat menakutkan bagi melin itu, segera mundur.
Tetapi Adrian terus maju, sehingga langkah Melin terpentok di pinggiran ranjang tidur Adrian.
Buakkkkkk
Tubuh gadis manis itu terjatuh ke kasur dengan posisi terlentang. Secepat kilat Adrian sudah berada di atas tubuh Melin.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Melin.
"Kurasa aku terpengaruh, oleh kekuatan benda di tanganmu!" ujar Adrian.
Melin segera mengarahkan pandangannya ke arah keris kecil yang dia genggam.
"Memang yang ini, apa gunanya?" tanya Melin dengan perasaan yang sangat gugup.
Adrian mengecup bibir Melin sekilas, lalu menjawab pertanyaan Melin. "Untuk menarik lawan jenis!".
Adrian mendekatkan wajahnya ke arah Melin lagi, Melin yang sadar akan khasiat benda yang dia genggam. Segera melepaskan benda itu begitu saja.
Namun Adrian yang hanya berakting terpengaruh oleh khasiat pusaka Semar Mesem, terus mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melin.
"Jika kau menggenggam keris kecil itu dan memikirkan nama orang yang kau cintai.
"Maka orang itu akan langsung mendekat padamu!" bisik Adrian di telinga Melin.
"Aku tidak memikirkanmu!" ucap Melin gugup.
"Benarkah?! Lalu kenapa aku merasakan ketertarikan yang amat kuat padamu, tadi?" goda Adrian.
"Mana ku tau!" Melin semakin gugup.
Gadis manis itu tidak dapat bergerak ke manapun, karena tubuh Adrian yang berada di atasnya sudah mengunci pergerakan Melin.
"Aku akan menciummu sekali lagi!" kata Adrian dengan nada mengoda.
"Jangan!" ucap Melin.
Tak sesuai dengan perkataannya, Melin malah memejamkan matanya. Seperti siap-siap untuk menerima sentuhan hangat dari Adrian.
Tentu saja Adrian tidak bisa menahan tawanya lagi, dia benar-benar sangat gemas ketika melihat Melin memejamkan matanya.
Namun Adrian segera bangkit dari atas tubuh Melin, dia tidak ingin kelepasan dan membuat Melin merasa tidak nyaman.
Apalagi saat ini mereka berada di desa air keruh yang penuh dengan Siluman-siluman, yang siap untuk membunuh mereka kapan saja.
"Mandilah tubuhmu bau sekali!" kata Adrian.
Melin segera bangkit dari kasur Adrian, dan mencium aroma tubuhnya sendiri yang memang sudah tidak enak untuk dihirup.
"Salah sendiri kenapa dekat-dekat!" kata Melin kesal.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤