
Benar-benar sesuai dugaan Melin, siluman yang sudah berubah menjadi Manusia Biasa itu. Keluar dari dalam gubuk dengan langkah tertatih, yang amat lemah.
Siluman yang sudah berwujud manusia lelaki setengah baya itu. Menoleh ke sana sini, untuk memastikan bahwa di sekitarnya tidak ada makhluk lain selain dirinya.
Usaha lelaki paruh baya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Karena di tempat pengintaiannya, Melin sudah mempersiapkan senjata apinya. Untuk kembali ia tembakan, ke arah manusia yang dianggapnya siluman.
Duarrrrrrrrr
Peluru timah panas yang dilontarkan Melin melalui pistol Kaliber laras pendek itu. Tepat melukai, salah satu kaki lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari gubuk.
Alhasil siluman katak yang sudah berubah menjadi manusia itu, tidak bisa melanjutkan langkahnya karena tersungkur ke tanah.
Melin segera berjalan ke arah gubuk dan memeriksa orang yang dia tembak.
Sementara Jendral masih berada di tepat persembunyiannya. Ia masih kaget dengan apa yang baru saja ia lihat. Cowok SMU itu, tidak percaya Melin dengan beraninya menembak sosok manusia.
Wajah Jendral benar-benar hanya terlukiskan kekecewaan yang amat mendalam. Lelaki muda belia itu tidak tahu lagi harus berdiri di arah yang mana.
Namun manik matanya, masih saja melihat ke arah Melin. Yang mendekati sosok manusia, bisa saja manusia itu adalah siluman.
Meski Jenderal sangat kecewa dengan Melin, namun lelaki muda itu masih khawatir dengan keadaan gadis yang ia cintai. Jendral tidak mungkin menutup matanya dan diam, jika Melin terluka karena siluman.
Jadi Jendral dengan ragu-ragu berjalan kearah Melin. Lelaki itu harus memastikan bahwa Melin baik-baik saja, selama dia masih hidup di dunia ini.
"Apa yang membuatmu menghalangi kami?" tanya Melin kepada sosok manusia, yang dianggap sebagai siluman katak.
"Kau pikir kau bisa keluar dari sini, secara hidup-hidup?" tanya lelaki itu dengan nada yang sombong.
Meski sudah tidak dapat bergerak lagi, namun sosok di depan Melin benar-benar sangat menjengkelkan.
Dari ekspresi wajahnya, yang sepertinya. Tidak takut dengan todongan senjata api yang kini tengah ditodongkan Melin kearahnya.
Lelaki paruh baya dengan ekspresi mengejek itu, benar-benar membuat Melin naik darah. Hingga Gadis manis seperti Melin terpaksa harus menembak salah satu bahu lelaki paruh baya itu.
"Mungkin aku akan mati, tapi aku tidak akan mati disini!
"Apa lagi mati oleh siluman rendahan seperti kalian!" ujar Melin tanpa rasa takut.
"Siluman yang berada di sini telah menunggumu sejak lama.
"Mereka tidak akan pernah Melepaskanmu, sebelum kau mati di tangan salah satunya siluman di sini!" lelaki paruh baya itu berkata dengan nada yang semakin sombong.
Hingga memaksa Melin mengeluarkan sebuah belati dari saku jaketnya.
"Apakah kau masih bisa sombong? Ketika melihat ini?" tanya Melin.
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkan benda itu? Harusnya benda itu, tidak berada di tanganmu!" ujar manusia siluman katak tersebut.
Wajah menjengkelkan dan sombongnya, segera berubah menjadi ketakutan. Karena belati yang di genggam oleh Melin, belati yang ditemukan Jendral di gubuk reot, belati yang ditemukan Melin di salah satu kamar rumah Jackson itu.
Adalah belati pengasih, satu-satunya belati yang bisa menghancurkan jiwa-jiwa iblis di dunia manusia.
"Entahlah. Aku mendapatkannya begitu saja, mungkin Tuhan memberiku hadiah untuk terakhir kalinya!" ujar Melin.
Melin segera menarik belati itu dari sarungnya, belati dengan mata pisau yang sebening kaca. Dimana jiwa-jiwa iblis yang bersemayam di tubuh manusia, dapat berkaca di bilahan matanya.
"Maaf...Tapi tampaknya kau harus mati hari ini, siluman katak bego!" kata Melin.
Melin segera mengayunkan belati itu menuju jantung sang siluman katak, yang masih berada di tubuh manusia.
Jlepppppppp
Siluman katak itu sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap Melin, karena tubuh yang sudah terluka parah.
Tak lama, tubuh lelaki paruh baya yang masih tersungkur di tanah itu, berubah menjadi abu yang melayang di udara.
Langkah Jendral mundur satu langkah. Apa pun yang baru saja dilakukan oleh Melin, benar-benar diluar kenalarannya.
Bagaimana bisa manusia, dengan mudahnya membunuh manusia lain.
"Apa kau takut padaku?" tanya Melin kepada Jendral.
Hujan deras yang mengguyur seisi bumi seketika berhenti, angin ribut juga tidak datang. Namun matahari sudah kehilangan kekuasaannya.
Kegelapan menjadi sebuah teman, di antara Melin dan Jendral.
"Tampaknya kalian benar-benar sudah sangat akrab!" sebuah suara muncul.
Suara yang sangat dikenali oleh Melin.
Suara itu tiba-tiba muncul dari balik tubuh Jendral, dan benar saja Adrian sudah berada di belakang Jendral. Dengan sebuah pedang yang dikalungkan rapat di leher cowok SMU itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Melin bingung.
"Membunuh, pria yang berusaha membawamu pergi dariku!" ujar Adrian.
"Jangan bunuh dia!" ujar Melin.
Adrian menyeringai penuh kemenangan, matanya berbinar-binar karena ia akan mendapatkan kenikmatan birahi untuk sekali lagi.
"Aku tak akan membunuhnya! Asalkan..." Adrian sengaja memotong kata-katanya, agar Melin penasaran.
__ADS_1
"Asal apa?" tanya Melin tidak sabar.
Wanita itu benar-benar tidak biaa melihat Jendral yang amat sangat ketakutan. Mata pedang Adrian juga sudah mengores kulit leher Jendral. Hingga darah segar menetes dari luka goresan itu.
"Layani aku, dengan baik!" kata Adrian.
Suasana jadi hening, syarat yang diajukan oleh Adrian. Mempunyai sifat yang amat sangat ambigu. Hingga membuat Melin dan Jendral bingung.
"Maksutmu?" tanya Melin.
"Malam ini kau harus bercinta denganku. Tapi aku mau percintaan kita nanti malam harus sangat mengairahkan!
"Bagaimana apa kau setuju?" tanya Adrian.
Melin tidak berani menjawab tawaran yang diberikan oleh Adrian. Karena dia merasa, dia tidak akan mampu melakukan persyaratan.
"Tapi kelihatannya. Kau lebih suka ,lelaki yang kau cintai ini mati sia-sia di tanganku!" kata Adrian.
Namun demi nyawa Jendral Melin tidak mungkin menolak permintaan Adrian.
"Baiklah, aku akan melakukan permintaanmu itu!" ujar Melin.
Senyum menyeringai penuh kemenangan kembali tersungging di bibir Adrian. Siluman harimau putih itu benar-benar sangat puas dengan hasil pemaksaannya.
"Kalau begitu ikut aku sekarang juga!" kata Adrian.
Lelaki gagah perkasa itu, tampaknya belum sepenuhnya percaya kepada Melin. Karena Adrian belum membebaskan Jendral dari belenggu mata pedang yang tajam.
Hal itu membuat Milan menyerah, Melin segera berjalan ke arah Adrian meski dengan berat hati.
Gerakannya sama sekali tidak bisa dibaca oleh Melin, karena sangat cepat. Tiba-tiba Adrian sudah berada di dekat gadis manis itu dan mengangkat Melin dengan sekali hentakan.
Dalam sekejap mata, Melin mendarat di dekat mobil Adrian yang terparkir di pinggir jalan raya.
"Ayo masuklah!" kata Adrian.
Melin yang kepalanya masih pusing, akibat teleportasi mendadak yang dilakukan oleh Adrian. Hanya menuruti perintah Adrian, karena lelaki itu menggiring gadis manis itu ke arah mobil. Lalu membukakan pintu untuk Melin.
"Kita akan kemana?" tanya Melin.
"Ke sesuatu tempat yang bagus!" kata Adrian.
Melin hanya terdiam. Namun pandangan matanya tidak bisa berpaling dari wajah Adrian, yang entah kenapa sangat dia rindukan.
Tiba-tiba Melin ingin kembali ke masa lalu, dimana dia dan Adrian hanya mempunyai hubungan sebatas keponakan dan om. Tanpa ada Kutukan Hujan Teluh di antara mereka yang rumit.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤