
Nenek Yah
Kobaran api mulai menyebar dan meninggi, membakar apa pun yang dia lewati. Warna hijau asri yang begitu dominan di Desa Air Keruh, berubah menjadi warna merah jingga dalam seketika.
Lautan api yang dihasilkan oleh Siluman Banaspati, membuat semua warga Desa Air Keruh Kisruh. Mereka lari tunggang-langgang untuk menyelamatkan diri, harta benda dan keluarga mereka.
Sementara sang pembuat keonaran, Siluman Banaspati atau Nek Yah dan Adrian. Sudah saling berhadapan, mereka fokus pada lawan mereka masing-masing. Karena jika mereka lengah terhadap musuh di depan mereka sedikit saja, bisa dipastikan nyawa mereka akan melayang.
Ada hal yang tak bisa kau dustai, yaitu perasaan cinta. Ketika kau bisa tersenyum meski hatimu menangis, tapi kau tak akan bisa diam saja jika seseorang yang kau cintai dalam bahaya.
Hati yang pernah mati sekalipun, akan menghangat jika cinta menghampiri mereka. Rasa yang tak bisa kau tebak, akan datang kapan atau akan pergi kapan. Dia misterius dan sangat berambisi.
Perasaan yang membuatmu menjadi manusia setengah gila, berani mengambil resiko. Sangat berbeda dari dirimu yang biasanya.
Adrian adalah sosok lelaki yang pendiam, dia cenderung menjauhi masalah. Dia tak suka kecapekan, meski lihai dalam bertarung. Dia suka berdiam diri, bersemedi. Meningkatkan ilmu kebatinan dan kanuragannya dari pada berseteru dengan kaum mana pun.
Sosok yang selalu tenang dan penuh perhitungan itu berubah dalam sedetik saja. Sosok yang dianggap tak berbahaya, bisa lebih buas dari Harimau jika diusik.
Semut pun akan menggigit jika dipijak. Begitu juga Adrian, dia akan melawan jika ada yang berani menyentuh Melin.
"Ternyata benar! Kau malah berhianat kepada kami!" ujar Nek Yah.
Suara wanita tua yang bisanaya lembut dan penuh wibawa. Seketika berubah menjadi kasar dan menakutkan.
Nyali Adrian tak surut hanya karena hal itu, dia rela dibakar hidup-hidup jika Melin bisa selamat dari kutukannya. Adrian dapat melakukan apa pun, agar wanita yang ia cintai bisa hidup lebih lama.
Padahal dia tidak tahu apa yang mendorongnya sampai sejauh ini. Adrian hanya menuruti kata hatinya, yang telah jatuh ke dalam pesona Melin. Pikiran lelaki itu itu hanya tertuju kepada Melinda seorang.
Dia tak butuh alasan apa pun untuk melindungi gadis itu. Karena dia tersiksa, jika dia tetap diam tak melakukan apa pun saat Melin dalam bahaya. Jadi Adrian memutuskan untuk melawan semua Siluman, yang mencoba menyakiti Melin.
"Aku tak menghianati siapa pun!" ujar Adrian.
Kedua tangan Adrian sudah berubah menjadi cakar putih, yang diselimuti dengan Ajian Api Hitam abadi miliknya.
Siluman Banaspati tampaknya tak merasa ketakutan dengan kekuatan baru Adrian. Tubuh wanita yang seolah sedang terbakar dengan kobaran api merah jingga itu, segera melakukan pergerakan untuk menyerang Adrian.
Pukulan tangan yang dilalap api, milik Siluman Banaspati mengarah ke arah Adrian.
Siatttttttttt
Adrian menangkisnya dengan cepat. Tangan terbakar itu di tariknya, dengan segenap kekuatannya. Adrian melempar tubuh Siluman Banaspati ke arah perkebunan pohon karet di samping rumahnya.
__ADS_1
Buakkkkkk
Buakkkkkk
Buakkkkkk
Tubuh api Siluman Banaspati terlempar keras, menghantam beberapa pohon karet. Yang langsung tumbang ketika bersentuhan dengan punggung Siluman Banaspati.
Tubuh wanita tua itu mendarat di rerumputan berembun, dengan api ditubuhnya yang berangsur padam.
Siluman Banaspati jatuh dalam posisi tengkurap, dia berusaha bergerak dengan tubuh manusianya yang penuh luka bakar.
"Arkkkkkkkkkkk!" jeritnya.
Ternyata Siluman Banaspati masih punya kekuatan untuk mengobarkan api di tubuh manusianya. Ia berusaha berdiri dengan susah-payah, tubuhnya kembali terbakar karena memang itu kehendaknya.
Adrian berjalan santai mendekati Siluman yang sudah kehilangan separuh kekuatannya, dan berusaha menghabiskan kekuatanya untuk menyerang Adrian.
Siluman Banaspati baru saja bisa berdiri, api di tubuhnya tak sebesar tadi. Menandakan bahwa kekuatan Siluman Banaspati sudah berkurang banyak. Padahal dia hanya terkena oleh satu serangan dari Adrian. Namun Siluman itu sudah hampir kehilangan sebagian besar kekuatannya.
Mungkin saja Siluman yang menempati tubuh manusia dalam jangka waktu yang lama, akan kehilangan sebagian kekuatannya.
Tangan Adrian yang masih diliputi oleh Ajian Api Hitam Abadi, segera mencengkram leher Siluman Banaspati didepannya.
Siluman hanya akan mati, jika di mereka kehilangan jantung mereka. Karena jantung mereka adalah satu-satunya titik Kehidupan bagi Siluman apa pun.
Wajah tampan Adrian yang sudah penuh dengan peluh, karena udara di sekitarnya telah berubah menjadi membara. Mengeryit bingung, raut muka lelaki itu penuh pertanyaan.
Lalu melihat ke arah tangannya yang masih tertancap di dada Siluman Banaspati. Adrian tak bisa menemukan jantung Siluman di depannya.
Adrian baru sadar, Siluman Banaspati mempunyai kemampuan lain selain membakar apa pun. Siluman Banaspati mempunyai Ajian Membelah Diri menjadi tiga.
Yang dilawan Adrian saat ini hanyalah bayangan dari salah-satunya. Lelaki itu segera memikirkan tentang Melin yang ia tinggalkan sendirian di dalam rumahnya.
Adrian segera mencabut tangannya dari dada Siluman Banaspati. Tapi bayangan itu menahan tangan Adrian, Siluman Banaspati tak mengijinkan Adrian pergi dari sana.
Adrian semakin yakin, ini hanyalah trik untuk mengecohnya. Siluman Banaspati yang asli pasti sudah ada di dalam rumah untuk mencelakai Melin.
.
.
__ADS_1
.
Melin sedang berjalan tergesa, dia tampak menuntun seseorang. Dan orang itu adalah Neh Yah.
Wanita setengah tua, yang pura-pura mendapat luka bakar di kakinya. Sehingga Melin mau menolong wanita, yang jiwa Silumannya sedang bertarung dengan Adrian di perkebunan Pohon Karet.
"Kayaknya kita sudah aman, Nek!" ujar Melin.
Melin dan Nenek Yah berjalan cukup jauh dari rumah Adrian. Mereka berusaha pergi dari lautan api, yang diakibatkan oleh pertarungan dua Siluman itu.
Nenek Yah memandang Melin dengan tatapan yang sedikit bingung. Wanita tua itu tampak merasa aneh dengan Melin.
"Ada apa Nek?" tanya Melin.
Gadis manis itu tau jika Nenek yang dia tolong sedang memandanginya dengan raut kebingungan.
"Tidak!" jawab Nenek Yah.
"Kita istirahat dulu, Nek! Kaki Nenek kayaknya parah!" kata Melin.
Gadis manis itu berhenti berjalan, dia dengan hati-hati membantu Nenek Yah untuk duduk di atas rumput.
Melin menyobek celana panjang yang dikenakan oleh Nenek Yah, yang sudah penuh dengan bekas terbakar. Lalu Melin bisa melihat luka bakar yang diderita oleh wanita tua tersebut.
"Estttttt!" Melin mendesis kasihan.
Melin bisa merasakan rasa sakit yang diderita oleh Nenek Yah. Rasanya pasti panas dan sangat menyakitkan. Terlebih fisik wanita itu sudah termakan usia.
"Siluman sialan!!! Kenapa mereka melukai manusia?" Melin benar-benar kesal, pada Siluman Banaspati dan juga Adrian.
Melin juga kesal terhadap Adrian, karena lelaki itu dengan sembarangan menangkis bola api. Sehingga membuat pemukiman yang berada di dekat rumah Adrian terbakar habis.
Nenek Yah masih mengarahkan pandangannya ke arah wajah Melin, yang terlihat tulus mengkhawatirkannya.
Wanita tua itu juga memandang Melin dengan tatapan, sangat kebingungan. Wanita itu merasa tidak enak terhadap Melin.
Karena Melin terlihat seperti manusia biasa, yang tidak sanggup membunuh seekor lalat sekalipun. Tetapi para tetua di Desa ini mengatakan bahwa Melin adalah Siluman yang akan membunuh seluruh warga di Desa ini.
Sehingga Nenek Yah mau bekerjasama dengan para tetua, yang sebenarnya adalah Siluman. untuk membawa Melin kepada mereka.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤