
" Maaf Nyonya , tapi ruang kerja Tuan Xavier ada di sebelah kiri Anda ! "
Suara seorang maid membuat Reina terperanjat , ketika ia menoleh ke belakang tampak seorang maid dengan wajah terlihat ketakutan ada di belakangnya . Ada sebuah kunci yang tergenggam erat di tangannya .
" Eh ... iya "
Reina segera menutup pintu ruangan yang tadi ia duga adalah ruangan kerja suaminya . Walau dalam hati ia yakin ruangan tersebut juga merupakan sebuah ruangan kerja . Reina berharap salah melihat karena tadi seperti melihat foto ibunya terpajang diruangan itu .
Xavier terlihat sedang fokus dengan layar komputernya ketika ia membuka pintu ruangan disebelahnya . Perlahan ia melangkah masuk dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan kue ditangannya .
Bau harum kopi membuat Xavier mendongakkan kepalanya , dan senyumnya mengembang ketika mengetahui kedatangan istri cantiknya . Pria itu segera mematikan layar komputernya dan beranjak menuju sofa yang ada di depan meja kerjanya .
" Kau belum tidur sayang ? "
__ADS_1
" Aku tidak akan bisa tidur jika kau masih sibuk seperti ini . Lanjutkan saja kerjamu honey aku tidak akan mengganggumu ! Aku bisa membaca buku atau tiduran di sofa ini " kata Reina karena diruangan ini pun dia melihat rak penuh buku di belakang meja kerja suaminya .
" Ethan sudah tidur ? " tanya Xavier lagi , di jam seperti ini biasanya putranya akan minta dibuatkan susu dan minta ditemani untuk tidur .
" Tadi lbu bilang ia akan tidur dengan cucunya , sepertinya putra kita sudah menjadi kesayangan lbu "
" Tentu saja , sudah sangat lama lbu mengharap kehadiran seorang cucu . Beliau bahkan pernah memaksaku untuk menikahi saudara tirimu yang licik itu . Aku dengar Tuan Peter sudah datang ke kota ini , apa ini berhubungan dengan kepulangan kita !? "
Reina hanya mengangguk , dia memang sempat berbicara dengan pengacara keluarga yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu . Dia hanya berpikir sudah waktunya Lorena mengembalikan semua kepadanya . Apa yang sudah di berikan oleh ayahnya adalah amanat untuknya jadi ada saatnya dia meminta kembali amanat itu .
" Kau masih saja terlalu baik pada mereka sayang . Kau tahu tidak salah ruangan bukan ? Tepat di sebelah ruangan ini adalah ruang kerja milik ayah dulu . Tapi sejak kepergiannya lbu menutup kamar itu , dia tak mengijinkan siapapun merubah tata letak atau apapun yang ada di ruangan itu . Jika ada waktu senggang lbu suka berlama lama berada di dalam sana , menurutnya dia masih bisa merasakan aura ayah di tempat itu . Cintanya begitu kuat kepada ayahku ! "
Reina mengangguk pelan , tiba tiba ia teringat dengan lukisan seorang wanita yang mirip sekali dengan ibunya di ruangan yang ternyata adalah milik Benedict Marcos . Tapi wanita itu kemudian berpikir mungkin ia salah lihat , mungkin saja itu adalah gambar sanak saudara dari klan Marcos yang mirip dengan ibunya .
__ADS_1
" Ckk .. kau melamun sayang ?! Apa yang kau pikirkan ? " tanya Xavier yang melihat pandangan kosong dari sorot mata istrinya .
Reina terperanjat , sesaat tadi dia hanyut dalam pikirannya tentang lukisan yang ada di ruangan itu . Untuk menutupi kegugupannya ia malah naik kepangkuan suaminya dan meraih bibir yang hampir setiap malam memanjakannya dengan beribu kenikmatan .
" Kau menggodaku sayang !? " lirih Xavier dengan suara bergetar, hasratnya selalu naik ketika inderanya mencium aroma tubuh istrinya .
" Kau seksi jika sedang bekerja , aku ingin bercinta disana ... " tunjuk Reina ke arah meja kerja yang di atasnya masih tergeletak laptop milik suaminya .
" Kau nakal ... tapi dengan senang hati aku turuti maumu sayang "
Xavier langsung mengangkat tubuh istrinya menuju meja kerjanya , tanpa membuang waktu kedua tangannya menyelusup di bawah gaun tidur istrinya dan menurunkan kain segitiga berenda berwarna hitam yang dikenakan Reina . Setelahnya pria itu menggeser kursi dan duduk tepat di bawah istrinya .
" Kau mau apa honey !? "
__ADS_1
" Hanya menikmati kudapan sebelum makanan intinya ... " jawab Xavier mengangkat kaki istrinya dan membukanya lebar .
" Aaawwsshhh ..... "