
Reina berlari kecil menuju lift karena Xavier sudah tiba di hotelnya , tadi ia mengirim pesan pada pria itu untuk menunggunya di lobi . Wanita itu tak mempedulikan tatapan kagum para pria yang ia lewati .
Mengenakan dress pendek warna hitam model vneck tanpa lengan yang berpotongan dada tidak terlalu rendah . Dipadukan dengan heels dan tas tangan warna senada , sedang rambutnya ia biarkan tergerai panjang dengan sebuah jepitan rambut terbuat dari permata putih tersemat di rambut keemasannya .
Xavier memandang tajam ke arah wanita yang berjalan dengan anggun ke arahnya , jantungnya terasa berhenti berdetak ketika senyum itu membuat seluruh mata pria di lantai dasar hotel itu terarah pada wanitanya . Dengan segera ia menghampiri wanita yang juga tergesa menghampirinya , dia melepas jas yang di kenakannya dan menutup lengan terbuka milik Reina .
" Kenapa harus ditutupi ? lni cukup sopan menurutku , apa menurutmu penampilanku seburuk itu ?? " tanya Reina yang menurut ketika lengan kekar Xavier merengkuh pinggangnya dan menuntunnya untuk berjalan ke arah mobilnya .
" Kau terlalu sempurna dan itu membuatku ingin membunuh semua pria yang lancang menatapmu .... "
" Aku tahu , kau pintar memilih wanita Tuan ! " ujar Reina dengan senyum yang ia sembunyikan . Tak bisa ia pungkiri sebagai seorang wanita hatinya terasa bahagia ketika mendapat pujian , walau pujian itu disertai ancaman mengerikan .
Sampai di mobil tangan kekar itu tak juga melepaskan rengkuhannya dari pinggangnya hingga mau tak mau ia harus duduk tak berjarak .
" Hei ini sudah ada di dalam mobil , bisakah kau melepas tanganmu ? Tidak ada yang melihatku di sini . Hanya ada supir .... "
" Sid .... "
Hanya dengan satu suara sekat antara supir dan penumpang di naikkan oleh sang supir , tampaknya suara pria disampingnya adalah titah raja yang harus di laksanakan .
" Ckk ... jangan macam macam Tuan !! " pekik Reina kaget ketika lengan kekar itu malah mengangkat tubuhnya agar naik ke pangkuan pria itu . Bulu kuduknya merinding ketika Xavier mulai mengendus leher dan mengecupi lengannya yang terbuka .
" Aku suka aroma tubuhmu , aroma ini yang membuatku tiga tahun mencarimu seperti orang gila . Kenapa kau langsung pergi malam itu ?? Seharusnya kau menungguku, " ujar Xavier menggigit lembut daun telinga wanita yang berada di atas pangkuannya hingga menjerit tertahan .
__ADS_1
" Aku suka mendengar jeritanmu , itu seksi !! Akkhhhhh ... "
Reina menggigit keras tangan Xavier karena setiap kata dari mulut pria itu selalu terdengar vulgar di telinganya . Pria bertampang dingin itu ternyata sangat mesum dan menyebalkan . Bukannya kesakitan pria itu malah tampak menatap tangan dengan cap gigi bekas gigitan yang masih tampak memerah .
" Terimakasih ... ini hadiah pertama darimu untukku . lni indah ! "
" Dasar gila !! Mana ada bekas gigitan yang indah .... " gumam Reina yang sebenarnya ingin memukul kepala pria itu agar bisa sedikit waras .
" Kau belum menjawab pertanyaanku sayang , kenapa waktu itu kau pergi ? Harusnya kau bertahan disisiku ! "
" Ya ... dan ketika kau bangun kau akan melemparkan segepok uang padaku dan langsung menendangku keluar dari kamar ! Kau tidak mengenalku ! Lagipula sudah ada dia disampingmu ... nona cantik tunanganmu itu ! "
" Kau sedang cemburu !? "
" Ha .... ha ..... "
Jika orang orang di luar sana melihatnya mereka mungkin mengira ini hanyalah sebuah mimpi , seorang Xavier Marcos tertawa lepas . Sesuatu yang tak pernah terlihat selama hidupnya .
Sampai di mansion Marcos mereka segera turun untuk menemui Magdalena yang sudah menyambut mereka di pintu utama . Wanita parubaya itu tampak bahagia melihat wajah putranya yang berseri , baru kali ini wajah datar putranya menampakkan rasa bahagianya .
" Sayang , kau cantik sekali .... " kata Magdalena memeluk Reina yang datang menghampirinya . Wanita itu sama sekali tidak menyangka jika akan ada hubungan secepat ini antar desainer cantik itu dengan putranya yang selama ini tidak pernah mau dekat dengan seorang wanita .
Baru kemarin putranya bahkan menolak datang ke acara pembukaan gerai milik Reina . Tapi sekarang Xavier sudah membawa wanita itu ke rumahnya dengan mengklaim bahwa desainer cantik itu adalah calon istrinya .
__ADS_1
" Anda juga cantik sekali Nyonya , senang bisa bertemu dengan anda lagi ! "
Dan acara makan malam berlangsung dengan hangat dengan di dominasi percakapan dua wanita yang membahas banyak hal . Seharusnya Xavier merasa iri karena merasa tersisihkan , tapi nyatanya hatinya malah menghangat ketika melihat dua wanita cantik beda generasi itu berbicara akrab layaknya seorang ibu berbicara pada putrinya sendiri .
Tak lama kemudian ponselnya berdering dan ia memilik naik ke ruang kerjanya agar tidak mengganggu percakapan dua wanita di depannya .
" Sudah kau siapkan semuanya untuk besok !? "
" lts done , aku rasa kita siap menghadapi mereka . Koneksi kita di Venice juga siap membantu jika kita membutuhkan tenaga tambahan . Apa dia cantik malam ini !? " suara Edgar terdengar sangat serius di seberang sana .
" Aku bisa membuatmu kehilangan kepalamu bahkan sebelum bertempur dengan musuh kita .... "
Setelah itu Xavier menutup sambungan teleponnya , bukan karena kelakuan Edgar yang menyebalkan tapi seorang bidadari membuka pintu ruang kerjanya dengan membawa dua cangkir kopi .
" Kau belum minum kopimu tadi ... " suara lembut itu benar benar memanjakan telinganya .
" Tapi aku tidak ingin minum ... aku ingin makan "
Reina meletakkan satu cangkir kopi di meja kerja Xavier , sedang ia menyeruput kopi di cangkir yang dipegangnya sendiri .
" Makan ? "
" Aku ingin memakanmu sayang ! Disini ... sekarang juga .... "
__ADS_1