
Sebelum berangkat ke bandara , Stacy berniat untuk menemui Jake terlebih dahulu . Dari informasi yang ia dengar Jake untuk sementara tinggal di rumah sakit milik salah satu temannya karena ada suatu pekerjaan . Stacy hanya ingin bicara lagi sebelum ia menjalankan niat ibunya yang menginginkan dia bertemu dengan keluarga Callahan di Colmar , sebuah kota yang terdapat di Perancis .
Stacy tidak ingin Jake bertambah membencinya karena sudah lancang memberitahukan kehamilannya tanpa persetujuan dari pria itu . Bukannya bertambah dekat , bisa bisa Jake membunuhnya karena ia tahu hubungan pria itu dengan keluarga besarnya tidak begitu baik .
Keluarga besar Callahan terutama ayahnya menginginkan Jake menjadi seorang pengusaha tapi nyatanya Jake tetap saja nekat meraih cita citanya sendiri , menjadi seorang dokter .
Sampai di rumah sakit ia malah harus disuguhkan dengan pemandangan yang menyakiti hatinya . Pria yang sudah tiga tahun menjadi tunangannya sedang mencium seorang wanita cantik yang ia tahu adalah saudara tirinya . Seorang upik abu yang sudah berubah total menjadi seorang putri Cinderella yang sangat cantik .
" Jennifer ... Xavier , tunggu saja pembalasanku !! Salah jika kalian pikir sudah bahagia di atas penderitaanku ... " gumam Stacy segera menjauh khawatir salah satu penjaga Marcos mengetahui keberadaannya . Sengaja ia lewat dari pintu samping agar tidak bertemu dengan orang orang Marcos .
Tapi rasa penasarannya kembali ketika tak sengaja melihat Reina masuk ke dalam sebuah kamar perawatan . Tiba tiba ia ingin mengetahui siapa yang di jenguk wanita itu , kebetulan juga dua penjaga berdiri agak jauh karena seperti sedang menelpon seseorang .
__ADS_1
Dan apa yang dilihatnya membuat dia sedikit terkejut , dia melihat seorang sahabat yang sudah lama tidak ia lihat . Pria yang dulu membantunya menyiapkan Jennifer agar pantas melayani Xavier .
" Kalian .... "
Reina dan Agie tampak terkejut dan menoleh ke arah suara , mereka melihat Stacy berdiri di pintu dengan tatapan nyalang kepada mereka .
" Dasar pengkhianat !! Tenyata kau malah membantunya !! "
Reina reflek maju menghadang Stacy yang berjalan ke arah ranjang rawat Agie , dia khawatir wanita itu nekat melakukan sesuatu yang membahayakan pria yang masih tergolek lemah di belakangnya .
" Dia sedang sakit !! Kami masih bisa mendengar walaupun kau bicara ditempatmu !! "
__ADS_1
" Kalian bersekongkol untuk menghancurkan aku hahh !! Kalian bersiasat untuk menjerat tunanganku bukan !? Augusto ... kau adalah sahabatku tapi dengan begitu tega kau malah membantu wanita yang aku benci hingga bisa memiliki Xavier !! Sahabat macam apa dirimu ??! "
Agie terlihat membenahi duduknya agar lebih nyaman berbicara , kedua tangannya juga sedikit menekan lukanya .
" Lukamu baik baik saja !? " tanya Reina yang melihat raut kesakitan di wajah Agie , seharusnya Agie memang belum diperkenankan banyak bergerak agar jahitan lukanya tidak terbuka . Tapi ketika ia datang pria itu malah sudah duduk dan bekerja dengan laptopnya .
" Tenang saja ... "
" Dulu aku terpaksa membantumu karena kau bilang Jenni adalah gadis jahat yang penuh dengan iri dan dengki . Tapi malam itu nuraniku mengatakan jika dia adalah gadis yang baik dan aku merasa berdosa karena ikut dalam konspirasi jahat yang kau rencanakan . Aku membawanya pergi jauh darimu , dari wanita wanita serakah yang tak pernah mengenal cinta . Dan jika kini mereka sudah bersatu dalam sebuah pernikahan maka bukan karena campur tanganku ... tapi karena campur tangan Tuhan !! "
" Persetan !! Tapi jangan kau pikir aku akan diam saja , suatu hari aku akan membalas semua ini . Kalian akan merasakan semua yang aku rasakan saat ini .... Aaakkhhhh !! " lirih Stacy dengan dua tangan memegang perutnya , entah tapi tiba tiba perutnya seperti kram dan rasanya sangat nyeri . Emosinya yang meledak menjadikan ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri .
__ADS_1
Reina menghampiri Stacy dan menuntunnya duduk di sofa , dia tidak tega melihat wajah Stacy yang terlihat ketakutan dan sedikit pucat . Dan mata desainer cantik itu terbelalak ketika melihat darah yang mengalir di kaki saudara tirinya itu .
" Darah .. "