Im Back

Im Back
161


__ADS_3

" Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu sayang , aku bersalah ! Aku gegabah mengambil keputusan karena mengikuti emosi sesaatku . Tapi jangan tinggalkan aku , kalian adalah hidupku !! " ujar Xavier sangat lega karena ternyata ia masih menjadi suami sah dari seorang Reina Walker .


Pria itu mengikuti langkah wanita di depannya yang berjalan menuju sofa ruang tengah . Hatinya bersorak senang karena mengetahui jika istrinya masih ingin mengobati dirinya . Sebelum ke ruang tengah Xavier melihat Reina sempat mengambil kotak obat yang ada di dapur .


" Duduk .... "


Seperti seekor kucing yang menuruti kata kata tuannya Xavier duduk di sofa ruang tengah dengan mata yang tak lepas dari istri cantiknya . Perlahan dengan penuh kelembutan wanita itu mengoles semua lukanya dengan cairan antiseptik , tapi kelembutan itu hanya dirasakannya sesaat karena setelah itu Reina sedikit keras menekan lukanya . Tapi Xavier tetap diam karena dia tahu wanitanya sedang menyalurkan emosinya .


" Kau berkelahi dengan siapa ? Augusto atau penjaga pulau ini !? " suara Reina akhirnya memecah keheningan .


" Ayah ... " jawab Xavier dengan singkat .


" Anak durhaka ! Bagaimana bisa kau bisa melawannya jika tahu jika yang kau lawan adalah ayahmu sendiri !!? "

__ADS_1


" Kau bisa lihat lukaku bukan ?? Dengan melihatnya saja kau seharusnya sudah tahu siapa pemenangnya ... " gerutu Xavier , jika saja Agie tidak menghadirkan ibunya maka mungkin pertarungan itu akan berlangsung hingga nanti .


" Tadi Agie memintaku kesini untuk membersihkan diri dan berganti baju , dia bilang untuk menunggumu di dapur karena setiap malam kau akan turun untuk mengambil air minum membuat susu . Ehhmm ... aku tidak mungkin membersihkan diri di kamarnya , maksudku ... "


" Dalam mimpimu !! Aku tidak akan ijinkan kau masuk ke kamarku setelah apa yang kau lakukan padaku . Disana ada ada kamar tamu , kau bisa bersihkan dirimu dan untuk baju akan aku ambilkan dari kamar Agie ! " tunjuk Reina pada sebuah pintu yang tak jauh dari ruang tengah , dia tersenyum dalam hati ketika mendengar suaminya mendesah kasar . Seseorang yang berego besar seperti suaminya harus tahu arti perjuangan untuk meminta maaf .


Xavier berjalan gontai ke arah kamar tamu yang ditunjuk Reina , perjalanannya untuk meminta maaf sepertinya harus menguji kesabarannya . Selesai mandi ia melihat baju ganti sudah ada di ranjang kamar tamu padahal tadi ia berharap sang istri akan masuk ke dalam kamar mandi hingga ia bisa sedikit melepas rindunya . Akhirnya ia rebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang untuk beristirahat , Reina pun juga sepertinya sudah kembali ke kamar karena tak mungkin meninggalkan Ethan terlalu lama sendiri .


Pagi pagi sekali ia bangun , entah tapi hatinya sangat berharap bisa menemani istrinya memasak sarapan di dapur ataupun bertemu dengan putra semata wayangnya . Tapi sang istri sedang benar benar menghukumnya , ia hanya melihat maid yang ada di dapur . Padahal Reina sangat tahu jika ia kurang suka jika makannya di urus oleh maid , Reina atau Magdalena yang mengurus semua yang masuk dalam perutnya .


" Sophie ?? Sophie Walker ... tidak mungkin !! " gumamnya tidak percaya dengan penglihatannya . Yang dia tahu makam wanita yang sempat ia benci itu berada di kota kelahirannya , jadi sangat tidak mungkin jika seseorang membawa makamnya ke tempat ini .


" Tuan William yang meminta Daddymu agar jasadnya dikebumikan disini .... "

__ADS_1


" lbu ... "


Magdalena tenyata sudah berdiri di belakang putranya , semalam Ben menceritakan semua padanya . Dan sebelum kembali ke kediaman dia berniat untuk melihat malam sahabat kecilnya .


Dua orang itu mendekat ke arah makam dan duduk bersimpuh di sisinya . Magdalena terlihat menyentuh batu nisan di depannya dengan meneteskan air matanya .


" Akhirnya kita bisa bertemu lagi , dia membuat tempat beristirahat untukmu dengan sangat cantik ! Putihnya bunga Jasmine dan bunga Lily yang memenuhi tempat ini adalah lambang cintanya padamu . Aku iri padamu ... aku merasa jika kau sudah merenggutnya dariku .... "


Xavier ingin meraih tubuh ibunya ketika wanita itu sudah mulai kalut dan terisak , tapi Magdalena bersikukuh tetap memeluk nisan bertuliskan nama Sophie Walker di depannya .


" Sudah Bu , dia sudah tenang di sana .... " ujar Xavier mencoba menenangkan , walau hatinya sendiri terasa diremat erat mengingat semua tuduhan tuduhan keji yang ia lempar pada Sophie dan putrinya .


" lbu yang sudah merenggut cinta mereka ! lbu yang membuat kubangan neraka untuk mereka ..... dan untuk seumur hidup bahkan aku tidak akan pernah bisa menebus itu semua !! "

__ADS_1


" Mommy tidak pernah menyalahkan lbu , di lembaran terakhir bukunya dia memintaku agar menyampaikan ini padamu . Semua yang terjadi pada hidupnya adalah pilihan hidupnya .... Tapi jika lbu masih saja merasa bersalah maka Mommy ingin aku mengatakan jika dia sudah memaafkanmu ! "


__ADS_2