
Paginya Ben mengajak menantunya pergi ke suatu tempat yang telah di dijanjikannya . Ethan masih tertidur jadi Reina menitipkannya pada salah satu maid di mansion itu .
" Kita hanya jalan kaki Dad ?! " tanya Reina yang mengira mereka akan pergi ke sisi lain pulau ini . Tapi nyatanya mereka hanya berjalan kaki menuju taman belakang mansion , jika dilihat letaknya tepat ada di bawah kamar Benedict . Semalam karena penyinaran yang temaram di bawah menjadikan wanita itu tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya . Dia lebih fokus dengan indahnya langit malam di pulau itu .
" Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu sayang , aku dan William tidak bermaksud menipumu atau siapapun yang menyayangi ibumu . Setelah peristiwa kecelakaan yang terjadi pada ibumu William memintaku untuk membawa jenasah ibumu untuk di kubur di pulau ini . Ayahmu bilang jika semasa hidup Sophie tidak bisa bersamaku maka ayahmu berharap aku bisa merawat makamnya disini . William ingin Sophie berada disisiku , pada akhirnya Tuhan menyatukan cinta kami dengan cara seperti ini . Cara yang bahkan tak pernah ada dipikiranku "
Reina menatap taman yang dipenuhi dengan bunga Lily dan Jasmine berwarna putih . Ketika pertama kali melangkahkan kakinya di tempat ini yang ia rasakan adalah kedamaian di hatinya . Wangi bunga bunga itu membuat dia teringat pada senyum ibunya .
Kemudian matanya terpaku pada gundukan tanah penuh rumput hijau dengan sebuah nisan kokoh terpasang di atasnya . Matanya terbelalak ketika melihat nama yang tertoreh di nisan itu , SOPHIE WALKER !!
__ADS_1
" lni .... "
Semua benar benar di luar dugaannya , ternyata makam ibunya ada di tempat ini . Reina kembali teringat saat dulu pemakaman ibunya memang dilakukan secara lebih pribadi . Dari rumah sakit jenasah langsung di makamkan , bahkan tidak ada orang yang di ijinkan melihat ibunya untuk terakhir kalinya .
Waktu itu ia berpikir mungkin kecelakaan yang menimpa ibunya membuat pihak rumah sakit meminta agar ibunya langsung di kuburkan .
" Mommy ... hai ! Akhirnya aku bisa datang melihatmu " ujar Reina bersimpuh dan membelai tanah gundukan di depannya . Begitupun Benedict yang duduk berjongkok dan menepuk nepuk pelan bahunya .
" Sayang ... " lirih Ben melihat air mata yang mengalir dari dua sudut mata menantunya .
__ADS_1
" Selama hidupnya lbuku selalu menunggumu Dad walau ia tahu sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi . Kematianmu membuat dia harus hidup dengan separuh nyawanya , karena kau sudah membawa seluruh hatinya ! Dia hanya bertahan hidup karenaku . Dan nyatanya Tuhan lebih sayang padanya , Dia mengabulkan keinginan ibuku dengan cara seperti ini . Akhirnya kau bisa menjemputnya ... akhirnya cinta kalian disatukan ! Terimakasih ... terimakasih .... aku tahu dia bahagia . lbuku pasti sangat bahagia !! "
Ben merengkuh tubuh menantunya yang sedang menangis kalut , tanpa Reina sadari jika pria bertubuh kekar yang sedang merengkuhnya sedang berusaha menahan genangan di kedua sudut matanya .
Jauh di lubuk hatinya dia merasa lega karena sudah membawa putri satu satunya wanita yang ia cintai ke tempat ini . Satu satunya hal yang belum ia lakukan adalah bersimpuh meminta maaf di kaki wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya , Magdalena .
Angin semilir pagi itu menjadi saksi pertemuan mereka kembali . Walau banyak hal yang sudah terjadi tapi tak sedikitpun ada kebencian yang dirasakan Reina pada pria parubaya yang merengkuhnya .
Semua sudah digariskan , begitupun dengan kisah cinta Benedict Marcos dan ibunya . Apapun yang terjadi pada akhirnya cinta akan menemukan jalannya sendiri !
__ADS_1
FLASH BACK END .....