
" Well come my dear ... senang bisa bertemu denganmu ! "
Reina langsung menoleh ke arah suara yang menyapanya karena ia merasa asing dengan suara itu . Matanya terpaku melihat pria parubaya bertubuh tinggi besar yang berdiri selurusan dengannya . Wajah pria itu terlihat sangat ramah .Dan yang membuat Reina terpaku adalah warna mata pria itu ....
Warna mata berwarna biru yang sama persis yang dimiliki Xavier maupun Ethan . Tiba tiba ingatannya mundur beberapa waktu yang lalu saat dia datang pertamakali ke rumah suaminya di kediaman Marcos . Wajah pria itu sama persis seperti gambar foto keluarga yang terpajang diruang depan . Pria itu adalah ...
" Kau tidak menyapaku sayang ?? Terima kasih sudah hadir kembali dalam hidupku " ujar pria itu mendekat kemudian memeluknya .
Entah kenapa tapi tiba tiba air mata keluar deras dari kedua sudut mata Reina , hatinya benar benar merasa damai di dalam pelukan pria ini walau tak pernah sekalipun bertemu dengannya .
" Jangan menangis sayang , kau akan membuat cucuku ketakutan karena mengira aku telah berbuat jahat pada ibunya " ujar pria itu dengan mengelus punggungnya pelan .
" Tuan Benedict Marcos anda .... "
" Panggil aku Daddy ... dan untukmu jagoan , call me Grandpa ! " ujar Ben yang kemudian melepas pelukannya pada sang menantu dan duduk berjongkok di depan Ethan yang sedang menatapnya dengan dahi yang mengerut .
" Glandpa .... mata Glandpa sama sepelti punya Daddy ! " kata Ethan yang meraba wajah Ben tanpa rasa takut .
__ADS_1
Benedict tertawa lepas ketika mendengar suara cucu laki lakinya untuk yang pertama kalinya . Ada satu titik air mata yang tak bisa disembunyikan pria itu , dan ia biarkan tangan mungil Ethan menghapusnya .
" Sayangnya Grandpa tidak mempunyai keberanian seperti dirimu jagoan , Grandpa membawa kalian setelah anak bodoh itu menyakiti kalian untuk kesekian kalinya . Maaf ... maaf ! "
" Jangan menunjukkan kelemahan di depan putraku Dad ! "
Dan suara bariton dari arah belakang selanjutnya membuat senyum Ethan maupun Reina mengembang , mereka melihat pria yang selama ini menjadi pelindung mereka .
" Daddy !! " pekik Ethan kemudian mengangkat kedua tangannya seolah meminta untuk diangkat oleh pria yang sedang berjalan ke arah mereka .
" Sekarang kau sedang ada bersama Grandpa jadi biarkan dia mengangkat tubuh gembulmu , itu baik untuk kesehatan tulangnya yang sudah mulai keropos ... " kata Agie dengan tertawa kecil , ia menyambut pelukan dari salah satu saudarinya .
" Bagaimana kabarmu sayang ? Pria berotak bebal itu sudah menyakitimu lagi !? " tanya Agie yang malah membuat Reina semakin mengeratkan pelukannya . Wanita itu seakan ingin menumpahkan semua rasa yang sekarang ada di hatinya .
" Glandpa apa tidak ada loti disini ? Ethan sangat lapal ... "
Benedict tertawa terbahak mendengar pertanyaan cucunya , mereka sampai melupakan jika mereka belum.mengidi perutnya padahal sudah seharusnya dari tadi mereka makan malam .
__ADS_1
" Maafkan Grandpa jagoan , aku terlalu terpesona padamu hingga melupakan jika kau pasti sudah sangat lapar . Besok akan Grandpa bangun toko roti dan minimarket disini agar kau bisa mencari makanan atau minuman kesukaanmu "
" Glandpa tidak bohong !? " pekik Ethan sangat senang .
" Tentu saja tidak ! Semua yang Grandpa punya adalah milikmu .... " ujar Benedict mengangkat tubuh gembul Ethan dan menciumi perutnya .
Agie yang berjalan di belakang bersama Reina hanya bisa berdecih dan memandang sebal pria bertubuh besar di depannya .
" Cihhh ... aku suka minum dan mendengarkan live musik Dad , jadi buatkan aku sebuah bar kecil dipinggir pantai " kata Agie yang merasa kakek tua didepannya berlebihan . Jangankan toko roti atau minimarket , persediaan makanan saja harus melewati lautan untuk dikirim ke tempat ini . ltupun oleh orang orang mereka sendiri .
" Dalam mimpimu !! " ketus Ben tanpa melihat ke arah putra angkatnya, pria itu sibuk bercengkerama dengan cucu laki laki kesayangannya .
" Hisshhh bisa bisanya monster naga sepertinya meleleh didepan putramu , kau tahu ? Kami sudah sangat terbiasa mendengarnya berteriak ketika sedang bicara ! " ujar Agie pada Reina , dia menggeser sebuah kursi untuk saudarinya ketika mereka sampai di meja makan .
" Kau berhutang penjelasan padaku tentang ini semua .. "
" Akan aku ceritakan semuanya sayang , tapi sebaiknya kita makan dulu untuk mengumpulkan tenaga karena mungkin ceritaku akan sampai pagi nanti " ujar Agie yang sebenarnya bahagia melihat pria yang selalu berwajah murung itu kini menemukan kebahagiaannya .
__ADS_1