Im Back

Im Back
159


__ADS_3

" Sakit !? " tanya Magdalena yang sedang mengobati luka lebam di seluruh wajah Ben yang merupakan hasil karya dari putranya . Beruntung di gudang belakang menyimpan kotak obat yang cukup lengkap yang sering digunakan jika ada penjaga yang mengalami luka saat pelatihan .


" Maaf .... "


" ltu tidak menjawab pertanyaanku Ben " gerutu Magdalena sedikit menekan ujung bibir Benedict dengan kapas yang sudah ia beri antiseptik .


" Bagaimana kabar cucu dan menantuku yang sudah kau sembunyikan ?! Bisa bisanya kau mempunyai ide gila untuk berbuat itu "


" Ethan sangat mirip dengan Xavier , mereka sama sama membuatku kewalahan saat menemani mereka bermain ! Satu mansion adalah arena mereka bermain .... dan kebiasaan mereka sama , akan tertidur jika sudah sukses membuat mansion seperti kapal pecah !! "


Magdalena tertawa mendengar Benedict menggerutu , walau selalu saja membuat lelah tapi Xavier tetap menjadi putra kesayangan pria itu . Benedict selalu membawa Xavier jika ada pertemuan non formal dengan para kliennya . Xavier selalu menjadi kebanggaannya ....


" Dan Reina seperti dirimu , dia adalah wanita yang sangat sabar . Dia selalu berusaha menyimpan air matanya untuk dirinya sendiri , dia tak ingin orang lain tahu tentang apa yang dirasakannya "


Magdalena menurunkan tangannya yang sedang merawat luka suaminya , wanita itu berpura pura sibuk membereskan kotak obat di depannya . Wanita itu tidak ingin Ben tahu jika ada satu butir air mata yang tak sengaja jatuh ke pipinya .


" Maafkan aku , tapi sungguh aku pergi karena tidak ingin menyakitimu lebih lama . Aku tidak ingin kau selalu tersiksa dengan sikap angkuhku , aku tidak ingin kau tersakiti lagi ketika mendengar setiap malam aku mengigau memanggil namanya ... aku adalah b*jingan ! Aku mencintai wanita lain bahkan saat aku sudah menikahimu ! " ujar Ben dengan meraih satu tangan Magdalena dan mencium lembut punggung tangannya .

__ADS_1


" Akupun tidak sebaik yang kau kira Ben , aku menikahimu karena rasa egoku ! Waktu itu aku tahu jika kau sangat mencintai Sophie Walker tapi aku langsung setuju ketika ayahku mengatakan tentang perjodohan ini . Aku juga tidak peduli dengan syarat yang kau buat jika beberapa tahun setelahnya kita akan berpisah dengan baik baik ! Aku pikir akan seperti cerita yang ada di novel yang aku baca ... kita bisa saling mencintai setelah pernikahan terjadi ! "


" Kita menikah hanya karena untuk menjaga nama besar keluarga kita . Akupun tak bisa menolaknya waktu itu ... jadi bukan sepenuhnya salahmu ! "


Magdalena tertawa hambar , dulu ia mengira cinta yang terjadi antara sahabat kecilnya Sophie Walker dan Benedict Marcos hanyalah sebuah cinta monyet . Dia mengira jika Ben hanya tertarik karena penasaran dengan kecantikan dan keceriaan dari seorang gadis muda bernama Sophie .


Magdalena sangat yakin jika suatu ketika Ben akan tunduk pada cintanya , posisinya akan lebih menguntungkan karena dia adalah seorang istri sah . Tapi yang ia bayangkan nyatanya jauh dari kenyataan . Menyesal pun sudah terlambat .


Dia diharuskan bertahan dengan semua sikap Ben karena ada seorang anak di antara mereka . Dan dia tidak membenci Ben ataupun Sophie karenanya , semua yang terjadi padanya ia anggap sebagai hukuman atas semua keserakahannya .


Dan rasa bersalahnya bertambah besar ketika mendengar kematian Sophie Walker setelahnya . Waktu itu dia berpikir ternyata takdir lebih memihak mereka , akhirnya mereka disatukan dimalam keabadian dimana tak akan ada lagi yang bisa mengganggu kisah mereka .


" Apa kau membenciku Ben ?! "


Benedict menarik nafasnya dalam dalam , kemudian dengan tersenyum ia menggelengkan kepalanya pelan . Sejak mencintai seorang gadis bernama Sophie Walker dirinya tak bisa membenci siapapun karena seluruh ruang di hatinya sudah dipenuhi oleh cintanya pada gadis itu . Harapannya sangat tinggi karena yakin suatu saat dia bisa mengalahkan apa yang telah digariskan oleh ayah dan ibunya .


" Aku ingin mengatakan ini dari dulu Ben , tapi tidak aku sangka kau pergi sebelum aku sempat mengatakannya .... "

__ADS_1


" Mengatakan apa !? "


" Aku melepasmu ... Aku melepasmu Benedict Marcos !! Aku bebaskan kau dari ikatan dan sumpah yang kau ucapkan di altar pernikahan kita . Aku tahu ini sudah sangat sangat terlambat ... Tapi aku ingin kau bahagia ! Sungguh "


Ben menggenggam tangan wanita yang tak lagi muda itu , pria itu tahu jika saat ini ibu dari putranya sedang berusaha keras untuk menyembunyikan air matanya . Magdalena tidak pandai untuk berpura pura menjadi kuat .


" Menangislah .... kau akan semakin terlihat tua jika terus terusan menahan air mata seperti itu ! "


BUGGHHH ...


Sophie memukul bahu Ben dengan sangat keras , setelah usia mereka tidak lagi muda ternyata sifat menyebalkan pria itu tetap tidak bisa berubah . Tapi ia hanya diam ketika pria itu merengkuh dan membiarkannya menangis di dadanya .


" Sudah berlalu , semua akan tersimpan disini ( menunjuk ke arah dadanya sendiri ) ! Kita akan bersama sama mengasuh cucu cucu kita kelak . Jika tidak ada apapun yang mengikat kita maka kita akan hidup sebagai teman ! Magdalena O'Brien ... maukah kau berteman dengan pria tua yang menyebalkan ini !? " tanya Ben dengan senyum lebarnya.


" Tidak , berteman denganmu akan membuat darah tinggiku selalu kumat Ben !! " sahut Magdalena yang malah bertambah keras terisak .


Tapi kemudian mereka tertawa bersama sama , Ben ataupun Magdalena yakin jika Sophie pun akan ikut merasakan kebahagiaan mereka di sana .

__ADS_1


__ADS_2