
Keesokan Harinya
Di pagi hari Aleta sudah bangun, ia ingin pergi jalan- jalan sekalian olahraga. Aleta membangunkan Reynand untuk ikut olahraga bersamanya. Reynand menolak, karena ia masih mengantuk. Akhirnya Aleta pergi ke kamar Reya untuk berolahraga bersamanya.
Aleta berjalan dengan semangat sekali, sesampainya dikamar Reya, Aleta masuk begitu saja karena pintu kamar Reya terbuka.
" Reya, kita olahraga yuk !" ajak Aleta.
" Sebentar dulu ya kak, aku masih ngantuk," ucap Reya yang masih tertidur.
" Yaudah deh," ucap Aleta dan langsung pergi.
Aleta pergi lagi ke kamar Reynand untuk berganti baju di sana. Setelah berganti baju ia langsung pergi keluar rumah tanpa berpamitan oleh ayah dan bunda Reynand. Satpam yang melihat Aleta pergi hanya membiarkannya, karena mereka mengira bahwa Aleta sudah mendapatkan izin dari tuan Reynand.
Ia berlari kecil sembari melihat- lihat pepohonan yang berada di kompleknya. Lalu Aleta keluar dari komplek itu untuk lari pagi. Ia berlari sampai taman yang biasa ia kunjungi. Tubuh Aleta sudah terasa sedikit panas, keringatnya pun juga sudah keluar.
Sesampainya di taman, Aleta duduk di kursi taman untuk beristirahat. Ia mengusap keringatnya menggunakan handuk kecil yang ia bawa. Baru saja ingin mengusap teringatnya, tiba- tiba dari arah samping ada seorang lelaki yang duduk disebelahnya dan mengusap teringat Aleta. Seketika Aleta terkejut, ia pun melihat ke arah sebelahnya.
" Ka- kamu, siapa !" ucap Aleta.
" Hai cantik," ucap lelaki itu dengan senyuman.
" R- Raka !" Aleta terkejut.
" Hmm, kamu terkejut ya," ucap Raka.
" E- enggak, kamu ngapain disini, hmm pasti ada niat jahatkan sama aku !" ucap Aleta.
" Yaampun, udah negatif thingking aja sih," ujar Raka.
" Terus kamu mau apa, kenapa kamu menghampiri ku ?" tanya Aleta.
" Tadi aku tak sengaja melihat wanita cantik yang sedang duduk sendirian di kursi taman ini, makanya aku menghampirinya," jawab Raka.
" Cih, omong kosong," ucap Aleta.
Raka tersenyum melihat wajah Aleta yang sedang cemberut karena kedatangan dirinya. Sedangkan Aleta tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Raka.
" Hey, kok kamu sendiri, mana suamimu itu, si Reynand ?" tanya Raka.
" Dia masih tidur di kamar !" ucap Aleta dengan cetus.
" Hmm, yaudah kalau begitu olahraga bareng aku aja yuk !" ajak Raka.
" Aku gak mau !" ucap Aleta.
Lalu Raka langsung menarik tangan Aleta saja dan mengajaknya berlari. Mereka berdua pun berlari mengelilingi taman, tanpa disadari Aleta ternyata sedari tadi ada yang memotret Aleta dan Raka yang tengah berlari bersama.
Sinar matahari mulai naik, panasnya sinar matahari sudah terasa sekali. Aleta pun ingin pulang, karena ia tidak ingin berlama- lama di taman itu, dikarenakan dia belum izin dengan suaminya. Ketika ingin pulang, Raka terus- menerus menghalanginya.
" Aleta jangan pulang dulu donk, mendingan kita beli ice cream dulu yuk !" ajak Raka.
" Gak mau, aku belum sarapan, masa udah makan ice cream ," ucap Aleta.
" Gak papa kali, udah ayuk !" ajak Raka, dan menarik tangan Aleta lagi.
Raka membeli dua ice cream, mereka berdua makan bersama, tadinya Aleta tidak ingin memakan ice cream, tapi ice cream itu terlihat sangat menggoda. Akhirnya dia memakan ice cream itu. Lalu datang lagi orang misterius yang memfoto Aleta dan juga Raka yang tengah berduaan. Ditambah lagi ketika Raka sedang mengelap mulut Aleta yang sedikit kotor terkena ice cream.
Seketika Aleta merasakan bahwa dia sedang diikuti oleh seseorang, tapi ia tak tahu siapa orang itu. Aleta sudah menoleh kesekeliling taman. Namun tidak ada orang yang mencurigakan.
__ADS_1
" Aleta, gimana ice creamnya, enak kan ?" tanya Raka.
" Hmm, enak," jawab Aleta.
Kemudian Alet pulang, karena hari sudah semakin siang. Di perjalanan pulang, Raka masih saja mengikuti Aleta. Namun Aleta tak peduli dengan kelakuan Raka. Pada saat dijalan, Raka tak melihat jika ada batu didepannya, karena pandangannya selalu ke arah Aleta.
Lalu....
BRUKK
" Ouch !"
Aleta langsung menoleh ke arah Raka. Melihat Raka yang terjatuh seperti itu membuatnya ingin sekali tertawa. Karea tak ingin menertawai Raka, akhirnya Aleta menolongnya. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Raka bangkit.
" Makanya kalau jalan itu pake kaki, lihat pakai mata," ledek Aleta.
" Iya, bantuin aku jalan donk, kakinya sakit nih," ucap Raka.
" Manja banget sih, gak mau ah nanti Reynand cemburu," ucap Aleta.
" Yaampun Aleta, Reynand aja gak ada disini, bantuin jalan donk, kamu mau jadi orang yang gak punya hati. Biarin lelaki tampan yang sedang kesakitan ini berjalan sendiri, dengan kaki yang terluka, atau enggak kamu beliin aku obat kek," ucap Raka panjang lebar.
" Ih... banyak drama banget sih, yasudahlah ayo ku bantu," ucap Aleta.
" Dari tadi kek, makasih," ucap Raka.
Sedari tadi Aleta selalu menuntun Raka, ia selalu melirik ke arah Raka sambil terkekeh melihat wajahnya.
" Jangan tertawakan aku !" ucap Raka.
" Iya maaf," ucap Aleta.
" Eum... sebenarnya aku mau jalan- jalan," ucap Raka.
" Raka, kaki kamu aja masih sakit, masa masih mau jalan- jalan aja sih !" ucap Aleta.
" Iya- iya, yaudah deh antarkan aku kerumah saja," ucap Raka.
" Aku kan gak tahu dimana rumahmu !" ucap Aleta.
" Terus gimana donk ?" tanya Raka.
" Raka... memangnya kamu tidak tahu rumahmu sendiri hah !" ucap Aleta dengan emosi.
" Tau sih, tapi... nanti kamu gak lelah mengantarku kerumah ku ?" tanya Raka.
" Iya !" bentak Aleta.
Aleta benar- benar emosi kepada Raka, ia bingung sebenarnya Raka itu pura- pura bodoh, atau memang benar- benar bodoh.
" Hmm, jika ku pikir- pikir, mungkin dulu Reynand sangat emosi jika menghadapiku karena aku sebodoh ini ya, mungkin saat ini aku sedang terkena karmanya," ucap Aleta didalam hati.
Satu jam telah berlalu, akhirnya mereka berdua sampai dirumah Raka. Aleta serasa mengajak jalan seorang kakek- kakek. Ia sangat lelah, sampai tak sada kalau dia langsung terduduk didepan rumah Raka.
" Aleta, kamu kelelahan ya, ayo kita masuk dulu," ucap Raka.
" Gak usah, aku mau langsung pulang saja, terimakasih," ucap Aleta.
" Minum dulu," ucap Raka dan menarik tangan Aleta, untuk masik kedalam rumahnya.
__ADS_1
Aleta melangkahkan kakinya ke dalam rumah Raka, terlihat warna dinding rumah yang elegan, lukisan- lukisan mewah yang terpasang di dinding langsung membuat Aleta kagum.
" Waww... lukisannya indah sekali," ucap Aleta.
" Hmm benarkah, itu lukisan ku sendiri," ucap Raka.
" Bohong, mana mungkin kamu bisa melukis sebagus ini," ucap Aleta dengan percaya dirinya.
" Hmm, yasudah kalau tidak percaya. Dulu ayahku adalah seorang seniman yang terkenal di negara Belanda, tapi karena ada seseorang yang tidak suka akan kesuksesannya. Ayahku di bunuh oleh orang jahat itu. Setelah mengetahui itu, ibuku menjadi depresi, dia benar- benar tidak terima ketika ayahku pergi untuk selamanya. Setelah beberapa hari, ibu ku sakit dan meninggal dunia, dan sampai saat inilah aku hanya sendirian," ucap Raka dengan wajah yang sedih.
" Ya- yaampun, ma- maaf ya Raka, karena aku kamu jadi teringat lagi dengan-"
" Ya tidak apa, lagi pula aku sudah tidak terlalu sedih lagi," ujar Raka.
" Aku jadi merasa bersalah," ucap Aleta.
" Hmm, jangan begitu, oh ya ayo aku tunjukkan ruang seni milikku !" ajak Raka.
" Wah, kamu punya ruang seni ? aku mau lihat donk !" ucap Aleta.
Mereka berdua pun pergi ke ruang seni yang berada dirumah Raka. Sesampainya di ruang seni, seketika Aleta kagum dengan lukisan- lukisan yang berada diruangan itu. Terlihat sangat hidup dan indah untuk dipandang.
" Hmm, aku yakin pasti kamu gak akan bisa melukis sebagus ini kan," ucap Raka.
" Enak aja, bisa lah," ucap Aleta.
"Oke, ayo kita taruhan. Siapa yang lukisannya paling jelek dia yang kalah, kalau lukisannya yang paling bagus di yang menang. Terus kalau yang kalah harus traktir makan malam," ucap Raka.
" Oke, siapa takut !" ucap Aleta dengan percaya dirinya.
" Heh... ternyata caraku ini berhasil membuat Aleta berlama- lama disini," ucap Raka dalam hati.
" Oh ya, Raka memangnya siapa yang akan menilai lukisan kita ?" tanya Aleta.
" Bibi !" panggil Raka.
Tak lama kemudian datanglah pembantu dirumah Raka.
" Iya tuan, ada apa ?" tanya bibi.
" Bibi duduk disini dulu ya, lihat kita melukis," ucap Raka dengan senyuman.
" Baik tuan," ucap bibi.
Di Rumah Reynand.
" Haduh Aleta kemana sih, dia pergi olahraga sendirian. Aku telphone ternyata telphonenya ada di kasur. Aleta... kamu itu ceroboh sekali sih, aduh kalau bunda tahu Aleta pergi sendirian pasti bunda marah," ucap Reynand yang sedari tadi mundar- mandir di kamarnya.
Tok, tok, tok
Tiba- tiba ada yang mengetuk pintu kamar Reynand, Reynand pun langsung membuka pintu kamarnya.
" Iya kenapa ?" tanya Reynand.
" Maaf tuan sudah mengganggu, nyonya besar sudah menunggu tuan di meja makan," ucap pelayan dirumah Reynand.
" I- iya, nanti saya akan segera kesana," ucap Reynand.
Pelayan itu pergi, sedangkan Reynand masih pusing karena memikirkan Aleta yang pergi entah kemana.
__ADS_1
Bersambung......