
Reynand masih saja mundar- mandir memikirkan Aleta yang tak kunjung pulang kerumah. Karena tak ingin membuat bundanya menunggu, Reynand langsung saja pergi menuju meja makan. Ia berharap semoga saja bundanya tidak bertanya tentang istirnya.
Kini Reynand sedang dihantui rasa kegelisahan, sedangkan Aleta ia tengah bersenang- senang dirumah Raka sembari melukis. Raka melukis dengan sangat cepat dan detail.
Baru saja Aleta memoleskan cat airnya di kanvas, tiba- tiba Raka sudah selesai melukis saja. Seketika Aleta pun terkejut, bagaimana Raka bisa melukis secepat itu.
" Aku sudah selesai, hey Aleta kamu sudah selesai belum ?" tanya Raka.
" Ih, sa- sabar ! kamu sih melukisnya kecepetan, pasti jelek !" ucap Aleta dengan percaya dirinya.
" Enak aja, sudahlah cepat melukisnya aku ingin mengambil air minum lagi," ucap Raka.
" Eum... tuan, biar bibi saja yang mengambil air minumnya," ucap bibi.
" Gak usah bi, biar Raka aja, bibi duduk disini ya," ujar Raka sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
Aleta masih saja membuat imajinasinya di kanvas, ia menggambar peri dan jamur yang dijadikan sebagai rumahnya. Terlihat wajah Aleta berseri- seri menggambar imajinasinya.
Tiba- tiba Raka datang dan tak sengaja melihat gambaran Aleta, seketika ia hanya tersenyum melihatnya.
" Wah... gambar apa itu ?" tanya Raka.
" Ih, jangan dilihat, curang tahu !" ucap Aleta.
" Iya- iya, nih aku buatkan jus jeruk untuk mu," ucap Raka sambil tersenyum.
Beberapa menit telah berlalu, akhirnya Aleta selesai membuat imajinasinya di kanvas itu. Sebelum memberikan lukisannya kepada bibi, Aleta meminum segelas jus jeruk terlebih dahulu.
" Selesai !" ucap Aleta.
" Hufttt, akhirnya selesai juga," ucap Raka sembari menghela nafasnya.
Babak penilaian pun datang, walaupun hanya main- main saja, tapi Aleta merasa tegang. Bibi yang memilihnya pun merasa bingung, karena kedua gambaran itu terlihat indah. Namun bibi kurang tahu yang dimaksud dengan gambaran milik Aleta. Ada banyak sekali manusia beterbangan dengan sayap kecilnya yang biasanya disebut dengan peri. Tapi ada juga kucing yang sedang melompat- lompat untuk menangkap peri- peri itu.
" Eum... nona Aleta, ini maksud dari gambar nona apa ya ?" tanya bibi.
Raka pun merasa penasaran, sebenarnya apa yang digambar oleh Aleta. Ia pun melihat gambaran Aleta.
" Oh, jadi itu ada peri, terus tiba- tiba kucing raksasa datang, nah habis itu dia mau menangkap peri itu untuk makan malamnya bi," ucap Aleta dengan polosnya.
Seketika bibi dan Raka hanya terdiam mendengar penjelasan dari Aleta. Mereka benar- benar tak pernah menyangka bahwa Aleta yang berwajah polos itu mempunyai imajinasi yang mengerikan seperti itu.
" S- serem banget," ucap Raka.
" Hehe... ceritanya itu kan suasana horor," ucap Aleta sambil tertawa.
" Oh, begitu ya," ucap Raka sambil tertawa hambar.
" Oh ya, kalau maksud dari lukisan tuan Raka apa ?" tanya bibi.
__ADS_1
" Hmm, disitu ada sepasang kekasih saja, yang ini pria, dan itu wanita," ucap Raka.
" Ih, kok penjelasannya gitu doank," ucap Aleta.
" Memangnya kenapa, gak boleh," ucap Raka.
" Ih, terus perempuannya itu siapa ?" tanya Aleta.
" Perempuannya itu kamu, dan laki- lakinya itu aku," sahut Raka.
" Apa !? kok begitu ?" tanya Aleta.
" Ya, karena suatu saat nanti kita akan menjadi sepasang kekasih Aleta," ucap Raka sambil tersenyum licik dan mendekatkan tubuhnya ke arah Aleta.
Seketika Aleta langsung tertawa ketika mendengar perkataan Raka dan menjauh darinya. Karena perkataan tersebut terdengar aneh.
" I- itu tidak mungkin, aku kan sudah menikah, mana mungkin kita akan menjadi kekasih," ucap Aleta sambil tertawa lucu.
" Yasudah kalau tidak percaya, lihat saja nanti," ucap Raka dengan percaya dirinya.
" K- kalau begitu, a- aku pulang dulu ya. Kelihatannya kakimu sudah tidak sakit lagi, haha... bye," ucap Aleta dan langsung berlari ke luar rumah Raka dengan wajah yang sedikit ketakutan.
Aleta berlari begitu saja, ia berharap semoga saja tidak akan bertemu lagi dengan pria yang bernama Raka lagi. Raka pun melihat Aleta yang tengah berlari di depan rumahnya dari jendela ruang seninya.
" Hmm, lihat saja nanti Aleta, kamu akan menjadi milikku," gumam Raka.
Di Rumah Reynand
" Eum... Aleta lagi... olahraga bun, lari pagi," jawab Reynand.
" Kok kamu gak ikut sih, nanti kalau istri kamu kenapa- napa bagaimana hah !" ucap bunda.
" Tuh kan, pasti aku dimarahin lagi," ucap Reynand dalam hati.
" Terus sekarang istri kamu lagi ada dimana ?" tanya bunda.
" Aku gak tau bun," jawab Reynand.
Diluar rumah Reynand, terlihat ada mobil taxy yang datang. Kemudian pagarnya terbuka, dan membiarkan mobil taxi itu masuk. Para satpam menghampiri mobil tersebut, untuk memeriksa orang yang berada didalamnya.
Ternyata yang berada didalam mobilnya itu adalah Aleta, ia pun membuka pintu mobilnya dan keluar.
" Ternyata nona Aleta," ucap para satpam itu.
" Iya, oh ya pak, Reynand udah berangkat ke kantornya belum ?" tanya Aleta kepada para satpam itu.
" Belum nona," ucap satpam tersebut.
" Ouh... yasudah kalau begitu saya masuk dulu ya," ucap Aleta dengan senyuman.
__ADS_1
Para satpam itu mengangguk, dan Aleta langusung masuk ke dalam rumahnya. Pada saat ia ingin ke kamar Reynand, ia tak sengaja mendengar suara ibu mertuanya dari ruang makan. Aleta pun pergi ke ruang makan tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi.
" Bunda, ada kenapa ?" tanya Aleta.
" Aleta ! yaampun sayang kamu habis dari mana aja sih, bunda kan khawatir sama kamu," ucap bunda.
" Iya, Aleta kamu kemana sih, aku kan jadi dimarahin sama bunda gara- gara kamu pergi gitu aja," ucap Reynand.
" Ma- maaf ya bun," ucap Aleta.
" Iya, gak papa, yasudah ayo sini makan dulu !" ajak bunda.
Satu jam telah berlalu, Aleta yang sudah selesai makan bersama kembali kekamarnya bersama Reynad. Aleta yang sedang merasa lelah langsung berbaring di tempat tidurnya bersama Reynand. Hari ini Reynand sedang cuty karena ia ingin berduaan bersama istri tercintanya itu. Reynand mengajak Aleta mengobrol, tapi Aleta selalu tidak menjawab pertanyaan dari suaminya.
Karena sedari tadi Aleta selalu memikirkan perkataan Raka. Karena perkataan itu selalu terlintas di pikiran Aleta. Ia tak tahu apa yang akan direncanakan oleh Raka.
" Hmm, sebenarnya apa yang dimaksud perkataan Raka ya," ucap Aleta.
" Apa, perkataan Raka, Aleta kamu tadi habis bertemu dengan Raka ?" tanya Reynand.
" I- iya, itu juga tidak sengaja ketemu kok Reynand," ucap Aleta.
" Benarkah ?" tanya Reynand.
" Iya, " sahut Aleta.
Aleta menceritakan kejadian ketika ia tak sengaja bertemu dengan Raka ditaman saat lari pagi. Dengan polosnya Aleta menceritakan semuanya, ia bercerita tanpa rasa bersalah pada Reynand, Aleta menceritakan kejadian itu seditail mungkin tak ada yang ia sembunyikan. Termasuk kejadian yang dirumah Raka. Aleta pun mengungkapkan kecemasannya tentang perkataan Raka ketika mereka sedang melukis.
Reynand yang sedang serius mendengarkan cetita aleta, sontak saja kaget dibuatnya. Reynand sangat marah mendengar cerita Aleta. Ia pun bangkit dari tidurnya dan memukul tembok dengan sanhat kencang.
" Beraninya kau Raka!" ucap Reynand dengan nada penuh amarah.
Perlakuan Raka yang sok manis terhadap Aleta dan cara Raka untuk mengambil simpati dari Aleta sungguh licik. Reynand tak bisa tinggal diam ia harus menemui Raka. Reynand ingin membuat perhitungan dengannya.
"Aleta kamu masih saja polos, kamu tidak tahu bahaya sedang menghampirimu. Aku harus lebih waspada menjaga Aleta". gumam Reynand didalam hati.
Aleta yang melihat Reynand memukul tembok dengan sangat kencang ikut terbangun dari tidurnya. Aleta pun langsung memeluk Reynand dan memeriksa tangannya Reynand.
" Sayang sudahlah, jangan terlalu emosi aku tidak apa - apa. Aku bisa jaga diri. Kamu lihat kan aku pulang dengan selamat !" ucap Aleta sambil terus memegang tangan Reynand yang terluka.
" Lepas kan aku Aleta ! aku ingin buat perhitungan dengannya." Jawab Reynand sambil melepaskan genggaman tangan Aleta.
Aleta pun tak membiarkan Reynand pergi begitu saja tanpa terlebih dulu ia obati tangannya. Aletapun menarik tangan Reynand dan mengajaknya duduk di pinggir kasur mereka. Aleta beranjak kemeja riasnya ia membuka lacinya untuk mengambil kotak P3K. Dengan sangat hati - hati Aleta mengobati tangan Reynand sesekali ia pun meniupnya, agar Reynand tidak merasa perih.
"Sayang berjanjilah ini untuk yang terakhir kalinya kamu melukai dirimu sendiri!" ucap Aleta dengan nada cemas.
"Iya aku berjanji, tapi kamu juga harus berjanji padaku jangan pernah kamu bertemu lagi dengannya." Jawab Reynand.
" Iya, aku janji," Jawab Aleta kembali.
__ADS_1
Bersambung.....