Istri Polos Bayaran Tuan Muda

Istri Polos Bayaran Tuan Muda
Hujan Deras


__ADS_3

" Eum sayang, k- kita pergi ke sana yuk !" ajak Aleta.


" Aleta, aku kan lagi ngomong sama kamu tentang pro-"


" Syutt, kita bicarainnya di tempat lain aja, disini banyak orang tahu," bisik Aleta seraya mencubit tangan Reynand.


Aleta berdiri dan menghampiri penjual pecel lele itu untuk membayar semua makanan yang ia pesan, sambil berkata," Bang, kalau udah siap semua bilang ke saya ya, soalnya saya mau ke taman sana,"


" Siap neng cantik," ucap abang penjual pecel lele.


Lalu Aleta menarik tangan Reynand untuk duduk di kursi taman. Semakin lama, taman itu semakim ramai. Banyak pasangan- pasangan yang datang ke taman itu, mereka berjalan sambil bergandengan. Reynand terus saja melihat pasangan- pasangan yang terlihat sosweet.


Ia merasa iri dengan pria yang sedang duduk di kursi samping kanan Reynand. Terlihat wanita itu sedang bersandar di bahu pasangannya. Reynand yang melihatnya juga ingin jika istrinya manja seperti itu.


" Sayang !" panggil Reynand.


" Kenapa ? kamu mau ngomongin tentang hal tadi ?" tanya Aleta.


" Ih, bukan. Tuh kamu lihat deh pasangan itu, romantis banget ya," ucap Reynand.


" Ya, memangnya kenapa ?" tanya Aleta lagi.


" Eum... kamu gak mau sandaran di bahu aku ?" tanya Reynand balik.


" Enggak, aku kan gak lagi sedih," ucap Aleta.


" Ish, Aleta gak peka banget sih," gumam Reynand.


Sebenarnya Aleta peka, namun ia hanya berpura- pura saja. Ia ingin melihat ekspresi wajah suaminya. Apakah Reynand akan marah atau tidak. Terlihat wajah Reynand menjadi masam, Aleta yang melihatnya hanya tersenyum saja.


" Reynand, kamu kenapa ? kok mukanya cemberut begitu ?" tanya Aleta.


" Enggak kok, aku lagi bahagia," ucap Reynand dengan senyum paksa.


" Hahaha.... iya- iya sayang, aku minta maaf, iya deh aku mau sandaran di bahu kamu," ucap Aleta sambil tertawa dan bersandar di bahu suaminya.


Seketika wajah Reynand langsung tersenyum, tiba- tiba abang penjuan pecel lele mengahmpiri Aleta dan berkata," permisi neng cantik, pesanannya sudah siap,"


" Oh sudah siap ya," ucap Aleta dan pergi menghampiri pesanannya.


Wajah Reynand pun berubah menjadi masam lagi, ketika istrinya tidak jadi bersandar di bahunya.


" Ih, dasar manusia menyebelin, kenapa sih datangnya di suasana yang gak tepat !" ucap Reynand dalam hati.


Beberapa menit kemudian Aleta kembali lagi dengan membawa banyak makanan. Lalu Aleta mengajak Reynand untuk pulang ke rumah.


" Aleta, kok kita malah pulang sih ?" tanya Reynand.


" Iya, soalnya aku udah ngantuk Reynand," sahut Aleta.


" Yah, yaudah deh," ujar Reynand.


Mereka berdua pun pulang, di perjalanan wajah Reynand selalu cemberut. Baru saja setengah perjalanan, tiba- tiba suara petir muncul. Perlahan- lahan air mulai berjatuhan dari langit.


" Yah, Reynand udah mau hujan lagi, rumahnya masih agak jauh," ucap Aleta.


" Kamu sih ! kan tadi aku bilang pakai mobil aja, tapi kamu gak mau, dan sekarang mau hujan jadi bingung kan !" ucap Reynand.


" Ya maaf, akukan gak tau kalau nanti akan hujan ," ucap Aleta.


" Yaudah, ayo jalannya cepet, nanti hujannya tambah kencang !" ucap Reynand.

__ADS_1


" Iya," ucap Aleta sambil membawa makanan yang tadi ia beli.


Tiba- tiba hujan malah turun dengan sangat deras. Aleta dan Reynand pun berlari mencari tempat untuk berteduh. Makanan yang Aleta bawa telah basah sedikit. Mereka berteduh di bawah pohon besar.


" Yah, hujan lagi. Makananny juga basah, gimana nih Rey ?" tanya Aleta.


" Yasudah, kita tunggu hujannya reda dulu," ucap Reynand.


Angin mulai berdatangan membuat hujan mengenai tubuh Aleta, Reynand pun langsung melindungi istrinya, ia tak ingin jika Aleta terkena air hujan yang dingin itu.


" Reynand, kamu gak usah lindungin aku dari air hujannya, dari pada ngelindungin aku, mending kamu jagain makanannya biar gak basaha kena air," ucap Aleta.


" Udah diam, lebih baik makanan itu yang basah dari pada kamu, nanti kalau kamu sakit aku yang repot !" ucap Reynand yang memeluk Aleta.


" Hmm, makasih Reynand, aku beruntung mempunyai pelindung seperti kamu," ucap Aleta yang ikut memeluk Reynand dengan erat.


Beberapa menit kemudian seikit demi sedikit hujan mulai reda. Reynand melepaskan pelukannya, padahal Aleta masih ingin di peluk oleh suaminya.


" Sedikit lagi hujannya mulai reda, habis ini kita lanjutin perjalanan lagi," ucap Reynand.


Aleta menggenggam tangan Reynand, ia tak ingin jika Reynand berjalan sendirian. Aleta ingin selalu bersama suaminya itu saat susah maupun senang.


" Kamu ngapain pegang tangan aku ?" tanya Reynand.


Terlihat wajah Reynand masih cemberut, Aleta pun tersenyum kepada Reynand. Ia berkata bahwa dia tidak ingin jauh dari Reynand.


" Eum, aku cuma ingin tidak mau jauh darimu," ucap Aleta.


" Loh, kenapa ?" tanya Reynand.


" Karena kamu adalah pria milikku," ucap Aleta sambil tersenyum.


Reynand langsung terdiam membeku, ia tak habis pikir dengan ucapan istrinya. Ucapan tersebut membuat hati Reynand berbunga- bunga. Wajah Reynand tersipu malu. Lalu Aleta menarik tangan Reynand dan mengajaknya berjalan lagi.


" Aleta, sini aku aja yang bawa makanan itu," ucap Reynand.


" Gak usah, aku aja," ucap Aleta.


Tak lama kemudian Reynand dan Aleta pun sampai di rumah dengan kedaan pakaian yang basah sedikit. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, sesampainya diruang tamu, mereka disambut dengan banyak pertanyaan.


" Yaampun, kalian bedua kenapa basah begitu ?" tanya bunda.


" Iya, kalia berdua habis hujan- hujanan hah ?" tanya ayah.


" Tadi di jalan pulang, kami kehujanan," jawab Aleta sambil tersenyum.


" Itu yang kamu bawa apa Aleta ?" tanya bunda sembari berjalan menghampiri menantunya itu.


" Oh, ini pecel lele bunda, tapi udah basah sedikit karena kena huja tadi, padahal ini buat semua orang yang ada dirumah ini," ucap Aleta.


" Hmm, yaudah gak papa, nanti kan bisa di panasin lagi sayang," ucap bunda.


Kemudian bunda menyuruh Aleta dan Reynand untuk berganti baju terlebih dahulu agar tidak masuk angin. Aleta dan Reynand akhirnya pergi ke kamar mereka untuk berganti baju. Bunda pun mengantarkan mereka untuk pergi ke kamar sambil mengajak ngobrol Aleta.


Karena bunda Reynand penasaran dengan menantu dan anaknya itu, apa yang mereka lakukan pada saat jalan- jalan di taman. Aleta menjawab bahwa pada saat di taman, Reynand selalu marah. Reynand pun kena marah lagi oleh bundanya.


" Reynand, kamu jangan marah- marahin istri kamu terus donk !" ucap bunda.


" Aku gak marah bun, Aletanya juga sih, dia itu gak peka sama aku !" ucap Reynand.


" Ouh, gitu," ucap bunda sambil tersenyum mendengar ucapan anaknya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Reynand, mereka bertiga pun masuk kedalam kamar Reynand. Kemudian Reynand langsung masuk ke dalam kamar mandi, karena Aleta yang menyuruhnya untuk berganti baju duluan. Reynand sudah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


" Sayang, tolong ambilin pakaian aku donk, aku lupa bawa pakaian aku," ucap Reynand dari kamar mandi.


" Iya, Reynand tunggu sebentar," ucap Aleta dan pergi mengambil baju suaminya.


Pada saat Aleta mengantarkan baju Reynand, bunda membuka laci meja di samping kasur Reynand. Karena ia hanya ingin melihat isi di dalamnya. Ketika sudah terbuka lacinya, terlihat ada kertas berwarna putih yang sudah terlipat.


" Ini apa ya, kayaknya surat," ucap bunda dalam hati.


Kemudian bunda Reynand pun melihat surat itu dan membacanya. Seketika wajah bunda terlihat sangat terkejut.


" Apa- apaan ini, surat per- janjian kontrak !" ucap bunda dalam hati.


" Bunda, itu apa ?" tanya Aleta.


" Aleta, jawab bunda dengan jujur !" ucap bunda dengan tatapan wajah yang serius.


" W- wajah bunda kenapa serius begitu ya, perasaanku jadi tidak enak begini," ucap Aleta.


" Apa ini ?" tanya bunda sambil menunjukkan surat yang ia pegang kepada Aleta.


Aleta yang melihat surat itu pun sangat terkejut, ia tak tahu bagaimana bundanya bisa menemukan surat itu.


" Jadi pernikahan kamu dengan Reynand hanyalah pura- pura ?" tanya bunda.


" Bu- bukan begitu bunda, A- Aleta," Aleta tak bisa berkata apa- apa lagi.


Tak lama kemudian Reynand keluar dari kamar mandi. Ia merasakan bahwa suasana sedang tegang.


" Bunda, Aleta, ada apa ? kenapa wajah kalia-"


PLAKKK


" Ah, bunda !" ucap Aleta dengan terkejut.


Tiba- tiba bunda Reynand menampar anaknya itu. Aleta yang melihatnya tambah terkejut lagi, begitu juga dengan Reynand. Ia tak tahu, kenapa bundanya menamparnya begitu saja.


" B- bunda, k- kenapa bunda tampar Reynand ?" tanya Reynand.


" Ternyata kamu sudah berani membohongi bunda dan ayah ya, tentang pernikahan kamu ini !" ucap bunda dengan wajah yang emosi.


" M- maksud bunda apa, aku gak ngerti," ucap Reynand.


" Pernikahan kamu sama Aleta ini palsu kan !" ucap bunda.


" Palsu ? e- enggak bun, aku sama Aleta sudah menjadi suami istri yang sah," sahut Reynand.


" Lalu ini apa ? kenapa kamu membuat perjanjian kontrak ini hah !" bentak bunda sambil menunjukkan surat kontrak itu kepada Reynand.


" S- surat ini, bunda dapat d- dari mana ?" tanya Reyannd dengan wajah yang panik.


Suasana di kamar Reynand mulai memanas, Aleta tak tahu harus berbuat apa. Karena ia tak mungkin berbohong pada ibu mertuanya.


" Hm, pantas saja waktu itu Aleta sempat memanggil kamu dengan sebutan tuan, ternyata karena surat ini. Reynand, sebenarnya surat ini untuk apa sih, untuk apa kamu membuat surat perjanjian seperti ini !" bentak bunda lagi.


" Bu- bunda, jangan marahin Reynand lagi bun," ucap Aleta.


" I- itu, ka- karena..." Reynand tak bisa berkata- kata lagi.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2