Istri Polos Bayaran Tuan Muda

Istri Polos Bayaran Tuan Muda
Kecurigaan Reya


__ADS_3

Sebelum Joshua mengantarkan Reynand ke kamar rawat bundanya, Joshua meminta ijin kepada dokter agar mengijinkan Reynand melihat bundanya sebentar. Awalnya dokter tidak mengijinkan walaupun itu hanya sebentar, karena dokter khawatir terjadi sesuatu pada Reynand apalagi Reynand baru saja sadarkan diri dari kecelakaan. Namun karena Reynand ikut memaksa akhirnya dokter pun mengijinkan.


Reynand akhirnya pergi menuju kamar bundanya dirawat dengan di bantu Joshua yang mendorong kursi rodanya dengan sangat hati - hati. Agar impusan yang masih terpasang di pergelangan tangan Reynand tidak macet. Ketika sampai di depan pintu kamar bundanya Reynand menyuruh Joshua untuk menghentikan kurai rodanya. Ia mengatakan kepada Joshua jika ia tidak akan masuk kedalam.


"Hentikan, cukup sampai disini. Sudah cukup bagiku melihat bunda dari luar!" ucap Reynand.


Joshua pun menuruti permintaan Reynand. Ia mebantu Reynand berdiri dari kursi rodanya. Tubuh Reynand yang masih belum pulih dan terlihat sangat lemas hingga tak mampu untuk berdiri tegak. Joshua pun memapah Reynand hingga mendekati pintu. Reynand melihat bundanya dari kaca pintu kamar bundanya dirawat. Ia teramat sedih melihat bundanya sakit. Apalagi ketika dia tidak ada disampingnya untuk menghibur bundanya itu.


"Rey, kamu yakin tidak ingin masuk kedalam?" tanya Joshua.


" Tidak usah banyak tanya. Kita kembali ke kamar sekarang!" Ucap Reynand.


Joshua menuruti kemauan Reynand dan mengantarnya kembali ke kamar. Sepanjang jalan menuju kamar Reynand, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Reynand. Sesampainya di kamar, Reynand di bantu Joshua dan suster untuk dibaringkan di tempat tidur. Saat di baringkan Reynand mengeluh kesakitan yang luar biasa di kepalanya. Hingga Reunand mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya dengan sangat kuat. Joshua yang panil meminta suster yang ada disebelahnya untuk memanggilkan dokter.


Tak lama kemudia dokter dateng dengan suster yang tadi memanggilnya. Joshua di persilakan untuk menunggu diluar kamar. Dokter ingin memeriksa keadaan Reynand. Tanpa banyak perdebatan panjang Joshua pun menuruti perintah dokter. Ia segera keluar kamar rawat Reynand. Memberikan ruang, untuk dokter menangani Reynand yang sedang kesakitan.


Di luar kamar Joshua menunggu dengan cemas, lagi - lagi ia selalu dalam dilema. Ia seperti makan buah si malakama.


"Bagaimana ini ! jika aku beritahu, takutnya Reynand akan marah, tapi kalau enggak .. bagaimana jika terjadi seauatu yang mengkhawatirkan pada Reynand. Aku juga pasti yang disalahkan," gumam Joshua dalam hati.


"Sial kenapa harus serba salah begini!" ucap Joshua dengan nada kesal.


Didalam kamar Reynand sedang mendapat penanganan dari dokter. Reynand pun mendapat suntikan untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Dokter juga menganjurkan kepada Reynand agar tidak boleh banyak bergerak dulu. Dan jangan terlalu banyak pikiran. Karena hal itu akan memicu sakit kepalanya kambuh lagi. Reynand hanya mengangguk mendengar perkataan dokter.


"Bagaimana mungkin aku tidak banyak pikiran. Andai saja dokter tahu beban pikiran yang saat ini ada didalam kepalaku. Dokter tidak akan mengatakan hal itu kepadaku. Suami mana yang tidak akan kepikiran jika istrinya yang paling dicintai kini sedang di culik dan tak tahu kabarnya bagaimana. Belum lagi bundaku juga sedang sakit. " Ucap Reynand dalam hati dengan pilu.


Dokter pun pamit dengan Reynand untuk memeriksa keadaan pasien yang lain. Ia meminta Suster untuk menyiapkan makan untuk Reynand dan segera setelah makan agar obatnya diminum.


" Pak Reynand bagaimana dengan sakit kepalanya? Apa sudah tidak terlalu sakit?" tanya dokter.

__ADS_1


"Iya dok sudah agak mendingan. " Jawab Reynand.


"Baiklah saya tinggal dulu ya pak, ingat pesan saya jangan banyak bergerak dulu dan jangan terlalu stress," ucap dokter dengan senyuman.


Dokter bersama dengan suster itu, meninggalkan Reynand dimakarnya agar bisa beristirahat dengan tenang. Didepan pintu kamar tempat Reynand dirawat, terlihat ada Joshua yang tengah menunggu dengan harap harap cemas.


"Bagaimana dok dengan sepupu saya? Kenapa kepala bisa sakit sekali?" tanya Joshua dengan lantang.


" Alhamdulillah, pak Reynand sekarang sudah tidak apa - apa. Tadi sudah saya berikan obat melalui suntikan untuk mengurangi sakitnya." jawab dokter.


"Alhamdulillah," ucap Joshua sambil menarik napas lega mendengar perkataan dokter.


"Tolong dijaga ya pak, kondisi pasien belum pulih benar, masih sangat riskan. Dan kalau bisa jangan biarkan pak Reynand terlalu banyak pikiran. Tidak baik untuk kesembuhannya. Apalahi pak Reynand mengalami benturan yang cukup keras dikepalanya. Kita doakan semoga hasil pemeriksaan akan baik - baik saja," ucap dokter kepada Joshua.


"Baik dok, terimakasih. Tolong juga panggilkan dok kalau sepupu saya mendapatkan pelayanan yang terbaik dari rumah sakit ini. Maaalah biaya dokter tidak usah khawatir." Ucap Joshua.


Dokter dan suster pun meninggalkan Joshua, sedangkan Joshua langsung masuk ke kamar Reynand untuk memastikan kondisi Reynand baik - baik saja.


"Rey, bagaimana dengan keadaan mu!" Tanya Joshua.


"Kamu tidak usah khawatir, aku tidak apa - apa. Tolongrahaaiakan kepada keluargaku tentang apa yang tadi kamu lihat. " Pinta Reynand.


"Baiklah," Jawab Joshua dengan paarah seolah tak ingin berdebat dengan Reynand.


Tak lama kemudian datanglah seorang suster membawakan Reynand makan siang, dan juga obat yang harus segera diminum. Suster menawarkan diri untuk membantu Reynand makan. Tapi Reynand menolaknya. Ia mengatakan kalau ia biaa melakukannya sendiri.


"Terimakasih suster saya bisa sendiri." Ucap Reynanad.


"Baik pak, kalau begitu saya tinggal dulu, jika pak Reynand butuh sesuatu, pak Reynand bisa pencet bel yang ada di atas kepala bapak." Ucap suater.

__ADS_1


"Tenang saja suster ada saya yang akan menjaganya. " Ucap Joshua yang ikut nimbrung obrolan mereka.


suster pun meninggalkan Reynand dan Joshua dikamar. Ketika suster sudah pergi Reynand meledek Joshua. Dengan mengatakan suster itu cantik cocok jika kamu peristri. Joshua yang mendengar candaan Reynand tertawa dibuatnya.


"Sini serahkan sendoknya padaku, tidak usah malu anggap saja aku ini Aleta. " Ucap Joshua sambil mengolok - olok Reynand.


Joshua mencoba sebisa mungkin untuk menghibur Reynand. Joshua ingin Reynand melupakan sedikit beban yang saat ini ia pikul. Memang tak banyak yang bisa Joshua lakukan untuknya setidaknya ia bisa menghiburnya sedikit.


Senyum diwajah Reynand mulai terlihat , walaupun terlihat agak terpaksa. Tapi itu sudah ada kemajuan bagi Joshua. Setidaknya ia bisa bernapas lega.


Di kamar bunda Reynand dirawat.


Diwajah ayah terlihat sekali kekhawatiran. Saat ini ayah sangat mencemaskan keadaan Reynand. Ia ingin sekali melihat Reynand. Ayah ingin memastikan apa Reynand sudah sadar atau belum dan apakah Reynand baik - baik saja. Reya yang sejak tadi memperhatikan sikap ayah menjadi curiga. Dipikiran Reya ayah seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ayah ada dikamar ini, tapi pikirannya kemana - mana!" ucap Reya di dalam hati.


Reya juga bingung karena Joshua tidak kembali sedari tadi, ia pun menanyakan keberadaan Joshua kepada ayahnya. Ayahpun mengatakan kepada Reya bahwa Joshua sudah ayah suruh pulang untuk istirahat di rumah.


Reya yang heran melihat jawaban ayah bertanya kembali.


"Tapi ayah, tidak biasanya kak Joahua tidak pamitan. Lagi pula Kak Joahua kan belum lihat keadaan bunda," ucap Reya yang masih penasaran.


Reya yakin sedang ada yang di sembunyilan dari ayahnya. Karena saat berbicara kepadanya, ayah tidak berani menatap matanya. Begitu juga dengan suara ayah terlihat gemetar ditambah lagi wajah ayah yang terlihat panik saat Reya menanyakan keberadaan Joshua.


Agar ayah tak menaruh curiga kepadanya, Reya pun berpamitan kepada ayah untuk keluar sebentar untuk minum kopi dan menghirup udara segar. Reya ingin mencari tahu sendiri apa yang sudah ayah sembunyikan darinya.


Ayah yang tidak menaruh curiga kepada Reya, tanpa berpikir, mengiyakan permintaan Reya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2