
Para pelayan begitu cemas melihat keadaan Aleta, Mereka takut darah yang keluar dari pergelangan tangan Aleta bisa membahayakan dirinya jika tidak segera di tolong. Aleta terus saja teriak histeris. Aleta tidak mau siapapun menyentuhnya kecuali suaminya Reynand.
Satu orang pelayan keluar dari kamar itu, ia hendak menghubungi majikannya Tuan muda Raka. Pelayan itu menceritakan kejadian yang sedang teejadi pada Aleta. Mendengar penjelasan Aleta Raka terlihat sangat panil dan penuh kekhawatiran.
Aleta yang kehabisa banyak darah akibat melukai dirinya sendiri, terlihat lemas dan pucat. Aleta pun merasa kaget melihat darah di pergelangan tangannya yang begitu banyak.
"Sial, kenapa darah ini tidak mau berhenti, kepalaku pun menjadi sedikit pusing!" seru Aleta didalam hati.
Rupanya Aleta tak sadar saat ia melukai tangannya. Tidak sengaja menggoresnya begitu dalam hingga membuatnya banyak kehilangan darah. Padahal niatanya hanya ingin melukai dirinya sedikit saja agar ia bisa membuat suasana kepanikan dirumah Raka, Hingga membuat para pelayan itu lengah dan pada akhirnya ia bisa kabur dari tempat dimana ia disekap. Namun semua tidak sesuai yang diharapkan Aleta. Aleta justru malah membuat dirinya dalam bahaya.
tiba - tiba terdengar suara benda terjatuh kelantai. Prang... suara itu memang pelan terdengar namun begitu jelas terdengar di telinga para pelayan yang saat itu masih berada satu kamar dengan Aleta. Para pelayan itupun saling menoleh mencari sumber suara yang mereka dengar. Teriakan kembali terdengar didalam kamar itu. Kepanikan dan wajah penuh kekhawatiran terlihat begitu nyata.
Para pelayan sangat terkejut melihatnya. Rupanya sumber suara itu berasal dari pecahan kaca yang dipegang Aleta dan tak sengaja terjatu dari tangannya. Tak lama kemudian tubuh Aleta terlihat mulai goyah . Aleta pun terjatuh terkulai lemas tak berdaya. Aleta tak sadarkan diri. Rupanya ia tak sanggup menahan rasa sakit di tangan dan pusing dikepalanya akibat goresan dipergelangan tangannya yang menggakibatkan ia kehilangan banyak darah.
Buak... tubuh lemah Aleta terjatuh ke lantai. Para pelayan mendekat menghampiri Aleta. Kemudian menggotong tubuh Aleta, memindahkannya kekasur. Darah yang begitu banyak keluar dari pergelangan tangannya hingga mengotori pakaian yang ia pakai.
Entah berasal dari mana, tiba - tiba Raka muncul di depan pintu kamar ditempat Aleta di sekap. Betapa kagetnya Raka melihat wanita yang begitu ia cintai terkulai lemas di atas kasur dengan darah yang ada di mana mana.
Raka pun menghampiri tubuh mungil Aleta, ia memeluknya dengan erat. Raka tidak peduli walaupun ia akan terkena noda darah. Raka tetap memeluk erat tubuh Aleta. Terdengar kata maaf yang keluar berulang kali dari bibir Raka. Yang menandakan penyesalannya.
Raka sangat marah kepada semua pelayan yang ada dirumahnya. Bahkan Raka hingga menampar mereka semua satu persatu. Raka tidak terima apa yang sudah menimpa Aleta. Begitu banyak pelayan yang ada di rumahnya. Kenapa tidak satupun diantara mereka yang mampu melayani dan menjaga Aleta dengan baik.
"Apa yang kalian lakukan kepada wanitaku? kenapa bisa Aleta terluka seperti ini? aku menyuruh kalian untuk menjaganya bukan untuk melukainya!" Seru Raka dengan nada yang sangat keras dan penuh kemarahan.
Mata Raka berubah menjadi kemerahan , air mata Raka mengalir dipipi. Raka merasa begitu sangat takut kehilangan Aleta. Ia sangat khawatir jika Aleta tidak dapat tertolong. Raka tak akan bisa membayangkan jika hal itu benar - benar terjadi. Raka akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Para pelayan tak mampu menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Mereka semua hanya diam tanpa terucap satu katapun. Para pelayan itu tak berani menjawab sepatah kata pun. mereka semua hanya menunduk tanpa berani memandang mata tuan nya. wajah - wajah yang penuh ketakutan begitu terlihat jelas. Tubuh mereka pun gemetar karena terlalu takutnya mereka dengan kemarahan Raka.
Suara mobil ambulance pun terdengar di halaman depan rumah Raka. Dengan cepat Raka menggendong tubuh Aleta menuju mobil ambulance. Raka sudah tidak lagi berjalan tapi ia berlari sekuat tenaga sambil menggendong tubuh Aleta yang masih pingsan. Tubuh Aleta memang ramping bahkan bisa dikatakan mungil namun ketika Aleta tidak sadarkan diri badannya terasa begitu berat hingga membuat Raka terkekeh di buatnya.
Aleta di masukkan kedalam mobil ambulance dan dibaringkan tubuhnya. Alat Alat medis yang seadanya di pasang di tubuh Aleta. Detak jantung Aleta terdengar semakin lemah.
__ADS_1
Raka semakin panik di buatnya. Ia tak tega melihat orang yang sangat ia cintai sedang berjuang melawan maut. Raka semakin merasa bersalah. Ia pun tak sadar sudah berkali kali menampar pipinya sendiri. Ia hampir tidak percaya dengan semua yang saat ini sedang terjadi. Ia masih saja belum percaya sepenuhnya . Dengan apa yang telah ia lihat dihadapannya. Dengan nada gemetar Raka masih mengulang kata maaf, Raka mengucapkannya tepat ditelinga Aleta. Raka berharap agar Aleta segera sadar dan pulih kembali.
Entah kenapa perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama. Raka semakin panik ingin rasanya Aleta ia bawa berlari sekencang mungkin agar segera sampai. Raka ingin agar Aleta segera ditangani pihak medis.
"Sayang, yang sabar ya kamu pasti akan baik - baik saja. " ucap Raka sambil membelai rambut Aleta.
Dikediaman Reynand
Ting nong , ting nong
Suara bel pintu rumah Reynand berbunyi, pelayan segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Pelayan yang membukakan pintu terkejut melihat kedatangan polisi di kediaman tuannya.
" Apa betul ini rumah bapak Reynand?" tanya seorang polisi kepada pelayan yang membukakan pintu untuknya.
"I.. iya betul pak!" jawab pelayan itu dengan nada gugup.
" Apa pak Reynand sedang berada di rumah?" tanya polisi itu kembali.
Pelayan itu pun mempersipakan dua orang polisi masuk kedalam rumah kediaman tuannya. Sesampainya diruang tamu, bunda Reynand pun menanyakan siapa yang datang. dengan cepat pelayan itu pun menjawab.
" Maaf nyonya ada tamu dari kepolisian, mencari tuan muda Reynand. "
Bunda Reynand yang saat itu sedang membaca majalah di ruang tamu terkaget hingga menjatuhkan sebuah majalah yang sedang ia baca.
" Mencari Reynand? apa yang sudah dilakukan putraku hingga polisi mencarinya?" tanya bunda Reynand dalam hati.
"Maaf bisa saya bertumu dengan bapak Reynand, ada yang ingin saya sampaikan perihal laporan kehilangan istri beliau, " ucap salah satu polisi tersebut.
Bunda Reynand kembali kaget dengan perkataan polisi yang baru saja ia dengar. Bunda Reynand merasa bingung dengan perkataan polisi itu. ia pun bergumam di dalam hati.
" Laporan kehilangan? seorang istri! apa maksud perkataan polisi itu. Kenapa polisi itu bilang Aleta hilang? bukankah Reynand bilang bahwa Aleta sedang menginap di rumah orang tuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
Bunda Reynand seolah tidak bisa mencerna perkataan polisi itu di otaknya. Bunda Reynand pun segera mempersilakan kedua polisi itu untuk duduk. dan menyuruh pelayan membuatkan minuman serta makanan ringan. Tidak hanya sampai di situ. Bunda Reynand juga menyuruh pelayan yang lain untuk memanggilkan tuan Reynand di kamarnya.
Tak lama kemudian dua orang pelayan datang dengan membawa minuman dan benerapa cemilan. Disusul juga dengan pelayan lain yang terlihat terburu - buru menuruni anak tangga. Pelayan itu menyampaikan kepada nyonyanya bahwa tuan muda Reynand tidak ada dikamarnya. Bunda Reynand pun meminta pelayan tersebut mencari disekeliling rumah. Sambil menunggu Reynand datang, bunda Reynand mempersilakan kedua polisi itu untuk mencicipi minuman dan aneka cemilan yang sudah di hidangkan pelayannya.
Suara langkah kaki terdengar , beberapa pelayan berkumpul di ruang tamu dimana bunda Reynand dan polisi itu menunggu kedatangan Reynand.
" Maaf nyonya, kami sudah mencari tuan Reynand di sekeliling rumah, namun tidak ada. " Ucap pelayan dengan kompaknya.
" Tidak ada? Lalu dimana tuan Reynand? Apa diantara kalian tidak ada yang melihat tuan Reynand keluar rumah hati ini? "Tanya bunda Reynand.
Semua pelayan yang ada dirumah Reynand kompak menggelengkan kepala, memberikan isarat bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang melihat tuan Reynand keluar Rumah.
Bunda Reynand pun menyuruh pelayan untuk meriksa ke garasi mobil, untuk memastikan apakah mobil yang biasa Reynand pakai terpakir rapih digarasi ataukah tidak ada di sana.
Pelayan itu pun segera menuju garasi mobil tempat dimana mobil tuan muda Reynand terparkir. Tak lama kemudian pelayan itu pun datang untuk mengatakan bahwa mobil yang biasa tuan muda Reynand pakai tidak ada.
Bunda pun semakin bingung, dengan semua ini. Kenapa Reynand tiba - tiba menghilang dan tidak biasanya pergi tanpa pamitan.
Tak sengaja Joshua yang kebetulan lewat ruang tamu dihentikan langkahnya oleh bunda Reynand. Bunda Reynand pun menanyakan tentang keberadaan Reynand.
Begitu juga dengan polisi yang berada di rumah Reynand. Polisi itu mengenali Joshua yang saat membuat laporan orang hilang dikantor kepolisian.
" Bukan kah Bapak yang waktu itu membuat laporan orang hilang di kantor kami?" tanya pilisi itu kepada Joshua.
"Iya, betul pak bagaimana dengan perkembangan kasusnya?" jawab Joshua dan kembali bertanya kepada polisi tersebut.
Bunda Reynand merasa semakin bingung, dengan apa yang terjadi. Ia masih saja belum bisa mencerna semuanya.
" Baiklah, karena pak Reynand sedang tidak ada dirumah dan kebetulan di rumah juga ada orang tuanya dan juga bapak Joshua yang sudah memberikan laporan ke kantor kepolisian. Dengan berat hati saya harus menyampaikan perihal ini kepada pihak keluarga. bahwa... " ucap salah seorang anggota polisi itu.
Bersambung...
__ADS_1