
Keesokan harinya, Joshua mencoba masuk ke kamar Vip 06, Dimana dikamar itu ada seorang wanita yang ingin ia dan Reynand ketahui identitasnya. Ia mengawasi kamar itu dari kejauhan. Joshua mencari waktu yang tepat dimana para bodyguard itu lengah. Barulah ia akan masuk kedalam.
Joshua sudah hampir putus asa dibuatnya, namun belum juga ada celah dimana ia bisa masuk kedalam.
"Sial, sampai kapan aku harus menunggu disini, tanpa bisa berbuat apa - apa!" Ucap Joshua dengan nada kesal sambil ia memukul dinding disampingnya.
Sudah hampir setengah jam ia mengawasi kamar itu tapi belum juga bisa masuk. Akhirnya ia kembali masuk ke kamar Reynand. Reynand yang melihat wajah lesu Joshua meledeknya hingga membuat Joshua marah.
"Baru dikasih tugas begitu ajah udah nyerah! " ledek Reynand.
" Kamu pikir gampang masuk kedalam kamar yang sedang di jaga oleh tiga orang bodyguard. " Jawab Joshua dengan nada kesal.
Reynnad pun memanggil Joshua agar lebih mendekat lagi dengannya. Reynand ingin membisikkan sesutu hal kepadanya. Dengan percayanya Joshua langsung menghampiri Reynand. Reynand pun membisikkan sesuatu hal kepada Joshua.
"Dasar payah!" Bisik Reynand.
Mendengar perkataan Joshua spontan saja Joshua memukul kaki Reynand. Reynand yang tiba - tiba mendapat pukulan dari Joshua merasa kesakitan dan berteriak.
"Aaaah, sialan beraninya kamu Joshua !" bentak Reynand sambil menahan sakit dikakinya.
Joshua yang mendengar teriakan Reynand seketika itu juga menjauh dari tubuh Reynnad. Menghindar dari pukulan balasan . Sambil tersenyum lebar.
"Maaf aku gak sengaja!" Ucap Joshua.
Reynnad menyuruh Joshua untuk menyamar sebagai seorang dokter agar bisa masuk ke kamar itu. Namun Joshua menolak saran dari Reynand. Menurut Joshua itu sangat berbahaya untuknya. Dia mengatakan kalau dirinya tidak mempunyai pengalaman sebgai seorang dokter. Reynand pun marah mendengar alasan Joshua.
"Kamu tidak harus punya pengalaman jadi dokter Joshua! kamu bukan ingin melamar kerja tapi hanya berpura - pura sebagai seorang dokter. Kamu hanya tinggal mendalami peran kamu saja. " Ucap Reynand dengan nada emosi.
"emmh, biar aku saja yang menyusun rencananya. Aku tidak mau jika harus berpura - pura sebagai dokter. Aku keluar dulu sebentar."Jawab Joshua.
__ADS_1
Joshua langsung keluar meninggalkan Reynand sendirian dikamarnya. Ketika Joshua hendak keluar kamar, ia lagi lagi melihat Raka yang akan masuk ke kamar dimana wanita itu di rawat. Dengan cepat Joshua menghampiri Raka. Raka yang kaget melihat Joshua tiba - tiba muncul dihadapannya menjadi sangat gugup.
"Kenapa disini bisa ada Joshua, gawat dia tidak boleh tau Aleta ada di dalam. " Ucap Raka dalam hati.
"Kamu kenapa ko tegang sekali?" Tanya Joshua.
"Ah nggak apa - apa, kamu sedang apa disini?" Tanya Raka dengan tenang.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu sedang apa disini?" Tanya Joshua balik.
Raka harus tetap bersikap tenang agar Joshua tidak menaruh curiga kepadanya. Ia pun sangat hati - hati sekali menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Joshua kepadanya.
"Aku sedang menjenguk teman yang sedang sakit!" Ucap Raka.
"Siapa?" Tanya Joshua balik.
Raka agak sedikit kesal karena Joshua sepertinya mulai penasaran dengan dirinya. Ia pun harus berpikir keras untuk mencari cara agar Joshua segera meninggalkan tempat ini. Tapi belum selesai Raka berkata, Joshua sudah langsung masuk kedalam kamarnya. Raka tidak bisa berbuat banyak, ia tidak bisa menghalangi Joshua untuk masuk kedalam.
Joshua sangat senang akhirnya ia bisa masuk kedalam, dan memastikan siapa yang selalu di jenguk Raka. Sebenarnya ia tak habis pikir juga kenapa dia mau saja menuruti permintaan Reynand yang penasaran dengan Raka. Padahal hal itu bukanlah sifat dia yang kepo denga urusan orang.
"Aku tidak bisa menghalanginya, jika hal itu aku lakukan Joshua akan curiga kepadaku." Ucap Raka dalam hti sambil mengikuti Joshua masuk kedalam.
Raka hanya bisa pasrah sambil berharap semoga Aleta masih belum sadarkan diri, agar ia masih tetap aman.
"Oh namanya Cinta?" Dia sakit apa Raka kenapa wajahnya harus ditutupi perban." Ucap Joshua penasaran.
"Pelankan suaramu, temanku ini kena luka bakar diwajahnya." Jawab Raka.
Raka ingin mengajak Joshua keluar dari kamar itu , Ia sangat panik, ia merasa was - was takutnya tiba - tiba Aleta sadarkan diri. Namun sedari tadi Joshua sudah memperhatikan gelagat Raka. Raka terlihat sangat cemas. Itu yang membuat Joshua semakin penasaran. Joshua dengan pintarnya membuat topik pembahasan agar ia bisa berlama - lama didalam ruangan itu.
__ADS_1
Sedangkan Reynand yang sudah tidak sabar dengan Joshua, lebih memilih mencari tahu sendiri. Ia memanggil salah seorang suster untuk menolongnya duduk dikursi roda. Suster itu tiba dikamar Reynand langsung membantunya duduk di kursi roda.
"Bapak Reynand mau kemana? Apa ingin ke kamar kecil? Apa yang biasa menemani pak Reynand belum kembali kesini?" Tanya suster itu kepada Reynand.
"Darimana susster tahu kalau teman saya pergi?" Tanya Reynand balik.
Suster itu pun menjelaskan bahwa tadi belum lama ia melihat teman Joshua masuk kedalam kamar di sebelah ruang Reynand dirawat. Entah kenapa mendengar perkataan Suster membuat perasaan Reynand teramat senang. Reynnad merasa lega dihatinya. Entah perasaan apa dia juga tidak paham apa yang dia rasakan.
"Akhirnya kamu bisa masuk ke kamar itu juga Joshua. " Ucap Reynand dalam hati.
Reynand meminta Suster mengantarkannya ke kamar sebelah. Ia beralasan ingin menjenguk temannya yang sedang sakit. Reynand mengatakan kepada suster itu kalau pasien yang sedang dirawat disebelah kamarnya adalah temannya. Ia sangat mengenalnya dengan baik. Reynand juga mengatakan jika ia ingin memanggil Joshua dikamar itu untuk mengantarnya kekamar mandi.
Awalnya suster itu tidak mau mengantarkan Reynand keluar ruangan dengan alasan apapun tanpa seijin dokter. Namun Reynand tetap saja memaksa dan memastikan kepada suster bahwa dirinya sudah jauh lebih baik.
"Baiklah pak, tapi jika terjadi sesuatu kepada pak Rsynand saya tidak ingi disalahkan. " Ucap suster itu.
"Tenang saja suster, semuanya aman. " Jawab Reynand memastikan semuanya akan baik - baik saja.
Suster dan Reynand keluar dari kamar itu menuju ke kamar sebelahnya. Ketika ingin masuk kedalam ia dihadang oleh ketiga bodyguardnya Raka. Reynand tidak diperbolehkan masuk ke dalam sebelum bodyguard itu mendapat ijin dari bosnya yaitu Raka. Sempat terjadi adu mulut antara Bodyguard Raka dengan Reynand. Hingga suara mereka berdua terdengar kedalam.
Tanpa basa basi Raka langsung keluar kamar itu, untuk memastikan keadaan diluar. Pintu kamar pun terbuka terlihat Reynnad sedang berada dikursi Roda dengan bantuan suster. Reynand yang penasaran dengan identitas wanita itu, langsung menerobos masuk kedalam dengan bantuan suater. Reynand menjadi sok akrab dengan Raka. Padahal selama ini dia sangat membencinya. Lagi - lagi Raka tak bisa berbuat banyak. Reynand sudah tidak dapat dicegah untuk tidak masuk kedalam.
Sesaat Reynand menghampiri wanita yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan keadaan tidak sadarkan diri. Ia merasa sangat sedih hingva tak terasa air matanya menetes di pipinya.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa sangat sedih melihat wanita itu? Siapa wanita itu sebenarnya?" Ucap Reynand dalam hati.
Raka yang melihat Reynand masuk begitu saja kekamar temannya di rawat yang tak lain adalah Aleta merasa sangat marah. Raka mendorong kursi roda Reynand agar menjauh dari tubuh Aleta. Sesaat ketika kursi roda itu didorong rupanya selimut Aleta tersingkap terlihatlah tangan Aleta yang menggunakan cincin pernikahan di jari manisnya. Reynand begitu terkejut saat melihat cincin dijari manis wanita itu.
" Tidak siapa wanita ini, mengapa ia memakai cincin pernikahan yang sama dengan Aleta?" Ucap Reynand dalam hati.
__ADS_1
Bersambung........