
Saling Menyuapi
" Aleta, udah selesai belum sih ? Kamu lama banget pilih bajunya !" Ucap Reynand.
" Iya tuan sabar !" Sahut Aleta.
Reynand sudah lama sekali menunggu Aleta yang sedang bersiap- siap, ia menunggu sambil duduk di kasurnya. Sudah beberapa kali Reynand mondar- mandir ke sekeliling kamarnya, namun Aleta masih saja belum selesai bersiap- siap.
" Aleta, kamu lama sekali sih !" Ujar Reynand sambil mengetuk- ngetuk pintu kamar mandinya.
Tak lama kemudian Aleta keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sangat berbeda. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian kantor dengan menggunakan make up yang natural. Hari ini Aleta terlihat sangat berbeda dari hari biasanya. Biasanya wajah Aleta polos tanpa make up. Tapi kini Aleta terlihat sangat cantik dan elegan. Aleta sepertinya sudah bisa menempatkan dirinya sebagai istri Reynand yang seorang CEO. Reynand yang melihat Aleta hanya terdiam, serta terpesona dengan penampilan istrinya itu.
" Tuan, tuan kenapa melihat ku seperti itu ?" Tanya Aleta.
Reynand masih saja terdiam, untuk yang kesekian kalinya Aleta mampu membuat Reynand terpanah akan kecantikannya. Aleta pun melambaikan tangannya di depan wajah Reynand, seketika Reynand sadar.
" Wah, wah, wah, hari ini istri ku cantik sekali," ucap Reynand sambil tersenyum menggoda.
" Iya donk, kalau suaminya ganteng, istrinya juga harus cantik," ucap Aleta.
" Hmm, yaudah ayo kita berangkat," ucap Reynand.
" Yuk !" ucap Aleta dan menggenggam tangan Reynand, pergi kedepan rumah.
Reynand tersenyum ketika tangannya di genggam oleh Aleta, ia merasakan betapa hangatnya genggaman tangan istrinya. Sesampainya di depan rumah, sebelum mereka berangkat Reynand dan Aleta berpamitan terlebih dahulu pada kedua orang tua Reynand. Setelah berpamitan mereka langsung pergi ke kantor dengan mobil sport hitam milik Reynand.
Beberap menit telah berlalu, mereka sudah sampai di jalan tol. Betapa macetnya jalan tersebut, semakin lama Aleta merasa mengantuk.
" Hoamm. Tuan aku tidur dulu yah," Ucap Aleta.
" Iya, " Ucap Reynand.
Aleta memejamkan matanya dan tertidur, Reynand melihat istrinya yang sedang tertidur membuatnya tersenyum lagi. Ia membelai rambut Aleta, dan mengusap kening istrinya dengan lembut. Lalu Reynand melepaskan sabuk pengamannya, ia ingin mencium kening Aleta, perlahan - lahan wajahnya mendekat ke arah kening Aleta.
Tiba- tiba Aleta malah bersin, ia pun terbangun dari tidurnya. Reynand yang terkena bersin Aleta hanya terdiam dan menutup matanya. Melihat Reynand yang berada dekat dengan Aleta membuat Aleta terkejut.
" Tu- tuan, " Ucap Aleta.
Wajah Reynand terlihat sedikit emosi, membuat Aleta ketakutan. Aleta pun memejamkan matanya.
" Haduh, pasti tuan ingin memarahiku," Ucap Aleta didalam hati.
__ADS_1
" Hufttt, sudahlah buka matamu aku tidak akan marah," Ucap Reynand.
Aleta langsung membuka satu matanya, ia mengintip serta melihat ke arah wajah Reynand. Apakah ekspresi wajah Reynand masih emosi atau tidak. Aleta hanya melihat senyuman diwajah Reynand, ia pun membuka mata sepenuhnya. Tatapan mata Reynand kepada Aleta penuh rasa sayang. Karena itulah yang membuat Aleta nyaman jika bersama dengan Reynand.
" Tuan tidak marahkan pada ku ?" tanya Aleta.
" Ya, aku tidak akan marah padamu," ucap Reynand.
" Asikkk !" seru Aleta.
Jalan tol pun mulai tidak macet lagi, Reynand fokus mengendarai mobilnya. Sedangkan Aleta fokus memainkan handphonenya. Tak selang waktu lama, mereka berdua sampai dikantor Reynand. Terlihat ada banyak pegawai kantor yang berkumpul untuk menyambut kedatangan Reynand.
Lalu Reynand keluar dari mobilnya, ia langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya Aleta. Semua pegawai kantor terkejut, melihat seorang CEO terkenal membukakan pintu mobil untuk seorang wanita.
Keluarlah Aleta dengan menggunakan kaca mata berwarna hitam milik suaminya. Reynand sedikit terkejut ketika melihat Aleta yang mengenakan kaca mata hitam miliknya. Semua pegawai ikut terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Aleta. Tiba- tiba datanglah asisten Reynand menyambut kedatangan Reynand.
" Pak Reynand, selamat datang," Ucap asisten itu dengan senyuman.
" Ya," Ucap Reynand membalas senyuman asistennya itu.
Melihat Reynand tersenyum dengan wanita lain membuat Aleta cemburu. Aleta langsung menggenggam erat tangan Reynand dan mencubit lengan Reynand. Reynand pun terkejut, wajah Reynand yang senyum berubah. Wajahnya seperti menahan rasa sakit.
" Makanya gak usah senyum semanis itu ke perempuan lain !" Bisik Aleta.
Para pegawai membicarakan Aleta, sebenarnya perempuan cantik di sebelah Reynand itu siapa. Mereka tidak mengenali wanita yang berada disamping Reynand. Para pegawai perempuan sangat cemburu ketika melihat Aleta yang menggenggam tangan Reynand dengan erat sekali.
Reynand dan Aleta pun masuk kedalam kantor. Tiba - tiba ada pegawai wanita yang menyenggol Aleta dengan sengaja. Ia hanya langsung pergi saja tanpa meminta maaf kepada Aleta.
Seketika Reynand langsung menarik tangan pegawai wanita itu dengan kencang, hingga membuatnya kesakitan.
" Kamu mau saya pecat hah !" ucap Reynand dengan tatapan mata sinisnya.
" E- enggak pak," ucap pegawai itu dan menundukkan kepalanya.
" Kalau gak mau saya pecat, cepat minta maaf sama istri saya !" bentak Reynand.
Semua pegawai terkejut lagi ketika Reynand mengatakan bahwa wanita cantik yang berada disampingnya itu adalah istrinya. Wajah Reynand terlihat sangat emosi, Aleta pun langsung menenangkan Reynand. Aleta menyuruh Reynand untuk tidak marah lagi.
" Tuan, aku tidak apa- apa. Jangan marah begitu donk, masa pagi- pagi begini sudah ada suasana tegang begini," Bisik Aleta.
Mendengar perkataan istrinya, Reynand mencoba untuk menahan emosinya. Ia langsung masuk ke kantor, dan berjalan menuju lift untuk pergi ke ruangannya. Suasana di kantor itu terasa sangat menegangkan akibat amarah Reynand.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan Reynand, Aleta langsung berlari ke meja kerja milik Reynand. Betapa luasnya ruangan Reynand. Lalu Aleta menghampiri dinding kaca, Aleta tercengang ketika melihat pemandangan kota dari dalam kaca ruangan Reynand. Betapa indahnya pemandangan kota jika dilihat dari ketinggian.
" Wah tuan, pemandangan perkotaannya keren sekali," Ucap Aleta.
" Gak usah nora deh, sebelum datang kesini kan kita sudah buat perjanjian, selama kamu disini, kamu harus duduk manis di samping ku dan jangan banyak bicara. Bicaralah seperlunya!" suruh Reynand.
Sudah tersiapkan satu kursi untuk Aleta duduk. Aleta menolak perintah Reynand, ia tidak mau duduk. Ia hanya ingin melihat pemandangan perkotaan. Tak disengaja Reynand mendengar suara dari perut Aleta. Reynand tersenyum mendengarnya dan iapun dengan sigap menyuruh ofice boy untuk membelikan Aleta makanan untuk sarapan.
Tak butuh waktu lama ofice boy itupun datang dengan membawa makanan sesuai dengan pesanan Reynand.
Tok
Tok
" permisi pak , saya mau mengantarkan makanan yang bapak pesan." Ucap ofice boy itu.
"iya letakkan saja makanannya dimeja dan ambil kembaliannya untukmu." Jawab Reynand.
Ofice boy itupun mengucapkan terimakasih kepada Reynand sebelum meninggalkan ruangan Reynand. Reynand pun menjawabnya dengan senyuman.
" Aleta, makanan untukmu sudah ada dimeja cepat dimakan. Sebelum bunyi perutmu mengganggu konsentrasi ku." ledek Reynand.
" Kapan tuan memesan makanan, kok aku nggak tahu ya? dan dari mana juga tuan tahu kalau aku sedang lapar!" ucap Aleta sambil tersenyum malu.
"Bunyi perutmu yang memberitahuku tadi." ledek Reynand sambil tersenyum tipis.
Aleta tanpa ragu memakan makanan yang sudah dipesan Reynand untuknya. Aleta bingung kenapa makanannya hanya untuk satu orang. Bukankah sedari pagi Reynand juga belum sarapan dari rumah. Aletapun bertanya kepada Reynand kenapa ia tidak memesan makanan juga untuk dirinya.
"Aku tidak lapar kamu saja yang makan. Cepat habiskan makanannya nanti keburu dingin!" Jawab Reynand.
Aletapun langsung mendekati meja kerja Reynand. Ia bermaksud mengajak Reynand untuk makan berdua. Dengan tegas Reynand menolak ajakan Aleta dengan senyuman. Rupanya Aleta tidak mau kalah ia menyuruh Reynand membuka mulutnya dan menyuapi Reynand dengan cekatan.
" Aleta sudahlah aku bisa makan sendiri nanti jika aku lapar aku akan memesan makanan untukku." Ucap Reynand.
Aleta tetap saja tidak mendengarkan perkataan Reynand ia pun terus saja menyuapi Reynand. Hingga akhirnya Reynand pun bergantian menyuapi Aleta. Reynand dibuat tertawa kecil oleh Aleta. Ia melihat Aleta sangat polos seperti anak kecil yang makannya masih berantakan. Reynand pun mengambil tisu untuk mengusap lembut bibir aleta yang kotor dengan makanan.
Rupanya pintu ruang kerja Reynand tidak ditutup rapat oleh ofice boy yang tadi mengantarkan makanan. Sehingga membuat Reynand dan Aleta menjadi tontonan para pegawainya. Para pegawai Reynand yang melihat kejadian itu dibuat kagum oleh sosok Reynand. Dibalik sifat tegas dan dinginnya, ternyata Reynand seorang yang penyanyang serta lembut kepada istrinya.
Reynand pun tersadar, ia segera menyuruh Aleta untuk menutup rapat pintunya. Ia tidak ingin semua pegawainya sibuk menonton dan membicarakannya. Bukan disibukkan dengan pekerjaan mereka.
Bersambung.....
__ADS_1