
Menemui Titik Terang
Ditengah perjalanan Aleta terpaksa harus menghentikan sandiwaranya, berpura- pura tidur. Ia harus segera bangun dari tidurnya. Ternyata Aleta lapar, ia sudah tidak dapat menahan rasa laparnya.
" Hoamm," ucap Aleta sambil berpura pura mengucek kedua matanya.
" Sayang , kamu sudah bangun," Ucap Reynand.
" Iya, kenapa kita sudah berada di dalam mobil, seingat ku terakhir aku sedang menonton film kartun dengan laptopmu!" Ucap Aleta yang masih berpura - pura tak terjadi apa - apa.
Reynand yang tersenyum melihat Aleta sudah terbangun. Ia mengusap lembut rambut Aleta. Reynand pun mengajak Aleta untuk mampir sebentar ke restaurant terdekat. Rupanya Reynand sangat peka terhadap istrinya. Reynand tahu pasti Aleta terbangun karena ia merasa lapar.
Tanpa basa basi Aleta menyetujui ajakan Reynand untuk mampir ke restorant. Reynand pun memasuki parkiran mobil restorant yang ia tuju. Reynand dan Aleta keluar dari mobil mereka secara bersamaan dan menuju ke pintu restaurant tersebut.
Kali ini Reynand yang menggandeng tangan Aleta. Dengan bangga ia menggandeng tangan Aleta. Reynand ingin menunjukan kepada semua orang bahwa Aleta adalah wanitanya. Wanita yang sudah ia pilih menjadi pendamping hidup dan ibu dari anak - anaknya.
Aleta menoleh kearah Reynand dengan senyuman bahagia. Ia berharap agar dirinya dan Reynand selalu bahagia hingga ajal menjemput.
Mereka pun memasuki restoran dengan disabut ramah oleh pelayan restaurant. Reynand dan Aleta dipersilakan duduk , sembari memberikan buku menu. Reynand dan Aleta memesan menu makanan yang mereka inginkan. Tak butuh waktu lama makanan pun siap dihidangkan. Reynand dan Aleta menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Mereka makan sambil berbincang bincang, sesekali Reynand dan Aleta tertawa kecil sambil menikmati makanan. Reynand pun tak sungkan sesekali mencubit lembut pipi Aleta dihadapan umum. Reynand merasa gemas dengan segala tingkah polos Aleta.
Sungguh romantisnya sikap Reynand terhadap Aleta, ia mengusap bibir Aleta dengan lembut menggunakan tisu, karena kotor akibat makanan. Sesekali ia pun menyuapi Aleta makanannya.
" Sayang makannya pelan - pelan ya. Jangan terburu - buru nanti kamu bisa tersendak," ucap Reynand dengan lembut.
" Iya tuan, maaf aku sudah terlalu lapar!" jawab Aleta yang tampak malu.
" Aleta, jangan panggil aku dengan sebutan tuan donk, ditempat keramaian begini, memangnya kamu tidak ingin merubah panggilanmu untuk ku mulai sekarang dan seterusnya." bisik Reynand.
__ADS_1
Aleta menatap wajah Reynand, Reynand pun menatap balik Aleta sambil mengusap lembut rambut Aleta. Aleta jadi salah tingkah dengan perlakuan Reynand. Semakin hari Reynand semakin menunjukkan rasa sayang dan cintanya kepada Aleta.
Aleta pun memalingkan pandangannya ke arah lain, agar Reynand berhenti menatapnya. Sedangkan Reynand hanya tertawa kecil melihat tingkah Aleta yang terlihat gugup di hadapannya.
" Ehmm, jadi tuan ingin aku panggil apa?" Jawab Aleta dengan tegas sambil menundukan kepalanya karena malu.
" Seterah kamu saja, yang penting jangan kamu panggil aku dengan sebutan tuan!" Ucap Reynand sambil mencubit lembut pipi Aleta."
wajah Aleta seketika berubah warna merah jambu. Ia benar - benar merasa canggung dengan Reynand yang terus saja menggodanya. Hingga Aletapun mengalihkan topik pembicaraan. Di dalam hatinya hanya berharap agar Reynand berhenti menatapnya dengan tatapan hangat seperti itu. Tatapan itu benar- benar membuat Aleta dimabuk kepayang. Hingga ia terlihat gugup dihadapan Reynand.
Reynand mengetahui perubahan sikap Aleta, ia tahu istinya menjadi salah tingkah karenanya. Hingga Aleta gugup tak banyak bicara. Reynand pun menggenggam telapak tangan Aleta dengan lembut. ia pun menanyakan apakah Aleta sudah selesai makannya.
Aleta pun menjawab." iya aku sudah selesai."
Reynand memanggil pelayan restaurant dan membayar tagihan makanannya. Mereka berduapun segera meninggalkan restaurant. Lagi - lagi Reynand menggenggam telapak tangan Aleta. Aleta tersenyum manis menoleh kearah Reynand.
Aleta yang takut dengan cara membawa mobil Reynand yang terlalu kencang, meminta Reynand untuk mengurangi kecepatan mobilnya.
" Sayang tolong pelankan mobilnya, aku takut!" seru Aleta sambil memegang telapak tangan reynand.
" Tenang saja sayang, aku sudah terbiasa mengendarainya." Ucap Reynand dengan senyuman sambil menoleh kearah Aleta.
Tiba- tiba dari arah depan muncul mobil sedan putih dengan kecepatan tinggi.
" AHHH ! Sayang awas!" Teriak Aleta.
Bak seorang pembalap profesional Reynand dengan kehebatannya mampu menghindari mobil yang nyaris saja menabraknya.
__ADS_1
" Hampir saja, bukannya pulang kerumah malah masuk rumah sakit!" Gumam Aleta sambil menarik nafas.
Reynand yang melihat kepanikan Aleta , hanya tersenyum sambil mengusap- usap lembut kepala Aleta.
" Kan sudah kubilang kamu tenang saja." Ucap Reynand.
Aleta pun marah - marah kepada Reynand, Aleta berpikir andai saja Reynand membawa mobilnya dengan kecepatan sedang hal itu tidak akan terjadi. Sepanjang jalan Aleta terus saja menggerutu. Ia masih kesal kepada Reynand yang tak menghiraukan perkataannya untuk mengurangi kecepatan mobilnya.
Setibanya dirumah, Aleta keluar mobil dengan wajah cemberut. Reynand yang melihat istrinya masih saja cemberut, langsung mengejarnya dan memanggil manggil namanya. Aleta tetap saja berjalan menuju pintu rumah tanpa menghiraukan panggilan Reynand.
Orang tua Reynand yang sedang duduk santai di ruang tamu, heran dengan raut wajah Aleta yang cemberut memasuki rumah. Aleta pun tidak banyak bicara dengan kedua mertuanya ia masuk kedalam rumah, hanya mengucapkan salam dan langsung pamitan menuju ke kamarnya.
Reynand yang mengejar Aleta dari belakang langsung diberentikan seketika oleh bundanya.
" Reynand, ada apa lagi dengan Aleta. kenapa wajahnya cemberut begitu? Kamu apakan menantu bunda? " Tanya bunda Reynand yang nampak penasaran.
" Gak apa- apa ko bunda ! Aleta cuma ngambek sedikit. Nanti juga dia tersenyum lagi." jawab Reynand.
Bunda pun langsung lega mendengar jawaban dari Reynand. Tak banyak yang ditanyakan bundanya Reynand. Bunda pun menyuruh Reynand langsung menemui istrinya dan berpesan jangan biarkan istrimu terlalu lama ngambeknya . Tidak baik untuk rumah tangga kalian.
Reynand langsung menaiki anak tangga untuk menyusul Aleta menuju kamarnya, baru setengah perjalanan. Handphone Raynand pun berbunyi. Ia mendapat telephone dari seseorang. Reynand mengurungkan niatnya untuk menemui Aleta dikamarnya. Ia langsung menuju ruang kerjanya. Rupanya diam - diam Reynand sudah menyewa detektif swasta untuk menyelidiki kasus yang akhir - akhir ini terjadi di rumahnya. Dengan kekuasaan yang dimiliki Reynand tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan siapa pelaku yang sebenarnya.
Reynand mengangkat telepone dari ruang kerjanya , Wajah Reynand pun berubah seketika. Wajahnya berubah tegang dan terlihat sekali diwajahnya penuh dengan amarah yang seakan akan meledak seketika. Reynand memukul Meja kerjanya dengan sangat kencang. Ia pun mengakhiri obrolannya di telephone.
" Kurang ajar beraninya mereka, bermain main dengan seorang Reynand. Apakah kalian sudah bosan hidup?" gumam Reynand didalam hati dengan penuh amarah.
Bersambung........
__ADS_1