Istri Polos Bayaran Tuan Muda

Istri Polos Bayaran Tuan Muda
Menginginkan Seorang Anak


__ADS_3

Di malam hari


" Reynand, kamu gak mau jalan- jalan malam gitu ?" tanya Aleta sambil menutup matanya.


" Emangnya kamu mau jalan- jalan kemana ?" tanya Reynand balik.


Reynand baru saja mengelap tubuhnya yang basah, karena ia baru selesai mandi. Sedangkan Aleta duduk di tempat tidur Reynand. Aleta masih saja menutup matanya, akibat ia tak ingin melihat tubuh suaminya itu. Reynand yang melihat istrinya seperti itu pun menghampiri Aleta.


" Eum, Reynand kamu udah pakai baju belum ?" tanya Aleta yang masih menutup mata.


" Belum, sedikit lagi," ucap Reynand, sambil duduk di tempat tidurnya menghadap Aleta.


" Udah belum sih, lama banget," ucap Aleta.


" Ya, udah selesai," ucap Reynand.


Aleta pun langsung membuka matanya, seketika ia terkejut melihat Reynand yang sedang memakai bath robes dengan terbuka sedikit dan memperlihatkan dada bidang Reynand.


" AHHH !" Teriak Aleta dan menutup matanya lagi.


" Hahaha..." tawa Reynand.


" Dasar pembohong, aku tak mau dosa karena melihat tubuh mu tahu !" ucap Aleta.


" Dosa ? Aleta, kita ini kan sudah jadi suami istri, masa dosa sih, aneh kamu !" ucap Reynand.


" T- tapi... a- aku kan-"


" Oh kamu malu ya, melihat tubuh suamimu ini ?" tanya Reynand sambil memainkan rambut istrinya.


" Ih, apasih kamu, udah sana pakai baju dulu !" suruh Aleta.


" Iya," ucap Reynand.


Reynand pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian lagi. Beberapa menit telah berlalu, akhirnya Reynand keluar dari kamar mandi. Lalu Aleta langsung mengajak suaminya untuk berjalan- jalan malam di luar.


" Yasudah, ayo kita jalan- jalan," ucap Reynand sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Mereka berdua pergi keluar, sebelum pergi mereka izin terlebih dahulu kepada bunda dan ayah Reynand. Reynand mengajak Aleta untuk pergi dengan mobil, namun Aleta tak mau karena ia lebih memilih untuk berjalan kaki.


Reynand tak mau jalan kaki, tapi Aleta tetap membujuk Reynand supaya dia mau berjalan kaki. Akhirnya Reynand mau berjalan kaki.


Mereka berjalan bersama, di langit muncul banyak bintang- bintang yang bersinar terang. Aleta pun melihat ke atas langit terus- menerus. Di perjalanan Aleta selalu terdiam, dan pandangannya tertuju ke atas langit.


" Aleta, kamu gak capek apa kalau terus- menerus melihat ke atas langit ?" tanya Reynand.


" Enggak Rey, aku suka melihat indahnya bintang- bintang dilangit," ucap Aleta.


Reynand hanya melihat Aleta, ia pun menggenggam tangan Aleta agar dia tidak tersandung karena terus- menerus melihat ke atas langit.


Aleta yang merasakan genggaman tangan Reynand, seketika pandangannya berubah, dan tertuju kepada suaminya itu. Aleta pun tak lagi melihat ke atas langit, ia menggenggam tangan suaminya juga dengan erat.


Mereka berdua berjalan sambil bergandengan, angin- angin mulai berdatangan. Langit semakin gelap, Aleta mengajak Reynand untuk pergi ke taman.


" Sayang, kayaknya mau hujan deh, kita pulang saja yuk !" ajak Reynand.

__ADS_1


" Yah, sedikit lagi Reynand pliss," ucap Aleta sambil memohon kepada suaminya.


" Huftt, yaudah deh," sahut Reynand.


Mereka melanjutkan perjalanan lagi, sesampainya di taman, terlihat ada banyak orang- orang yang berkumpul di sana. Suara ramai terdengar di telinga Aleta dan Reynand. Tiba- tiba Aleta menarik tangan Reynand untuk duduk di kursi taman.


" Wah, ternyata taman ini indah sekali ya kalau dimalam hari, penuh dengan warna," ucap Reynand dengan kagumnya.


" Iya donk, kayak cinta kita yang selalu berwarna," ucap Aleta.


" Ih, gombal," ucap Reynand sambil tersenyum malu.


" Emangnya kenapa, gombal sama suami sendiri, emangnya gak boleh ?" ucap Aleta.


Mereka duduk di kursi taman berdua, sambil mengobrol- ngobrol. Terlihat wajah Aleta sangat gembira ketika dia jalan berdua bersama suaminya.


" Sayang, kamu tau gak kenapa malam ini aku senang banget," ucap Aleta.


" Emangnya kenapa sayang ?" tanya Reynand.


" Kepo," ucap Aleta.


" Ih, gak jelas," ujar Reynand.


Tak lama kemudian Reynand mengajak Aleta untuk makan malam terlebih dahulu, karena mereka berdua belum sempat makan malam saat dirumah.


" Ayo ! Reynand, kita makan di situ aja yuk !" ajak Aleta.


" Maksud kamu, tempat makan yang ada di pinggir jalan itu ?" tanya Reynand.


" Gak mau, aku maunya di restoran, gak mau makan disitu, pasti gak higenis," ucap Reynand.


" Ih, kalau makan di sana lebih enak, dari pada makan direstoran sayang, ayo donk kita makan di sana aja, pliss," ucap Aleta.


" Yaudah deh," sahut Reynand.


" Hehe... senyum donk," ucap Aleta.


Reynand hanya tersenyum paksa, Aleta menarik tangan Reynand untuk makan di warung makan pinggir jalan. Sebenarnya Reynand tidak mau makan di warung makan itu. Karena ia belum pernah makan di tempat seperti itu.


Setelah sampai di sana, Aleta mengajak Reynand untuk duduk di sampinya. Reynand pun hanya pasrah, ia mengikuti apa mau istrinya itu. Jika Aleta bilang duduk, Reynand pun akan duduk.


" Bang, pesen pecel lelenya satu, terus pecel ayamnya juga satu, ayam goreng sama lele gorengnya ditambah satu lagi ya , sekalian dua potong tahu dan tempe gorengnya juga! oh ya, sama minumannya teh manis hangat aja ya bang !" ucap Aleta.


" Siap neng," ucap abang penjual pecel lele.


" Sayang kamu pesannya banyak banget, terus kamu benar mau makan disini ?" bisik Reynand.


" Iya, coba deh kamu makan disini, pasti kamu ketagihan, biasanyakan aku sering makan disini waktu masih SMA sama kak Samuel," ucap Aleta.


" Ih tuh kan Samuel lagi, Samuel lagi," ucap Reynand dalan hati sambil merasa emosi.


Beberapa menit telah berlalu, tak butuh waktu lama pesanan Aleta pun sudah di antarkan ke meja yang ditempati oleh Aleta dan suaminya.


" Makasih bang," ucap Aleta dengan sanyuman.

__ADS_1


" Ya, sama- sama neng cantik," ucap abang penjual pecel lele itu.


" Bang, bisa gak, gak usah genit sama istri saya, senyum- senyum lagi," ucap Reynand dengan wajah yang emosi.


" Ih, Reynand jangan begitu, gak enak tau sama abangnya, maafin suami saya ya bang," ucap Aleta.


" Iya neng, gak kenapa- napa," ucap abang penjual pecel lele.


Kemudian Aleta memakan pecel lelenya begitu saja, Reynand melihat istrinya makan tanpa menggunakan sendok membuatnya sedikit merasa tidak suka.


" Sayang, kita makannya gak pakai sendok ?" tanya Reynand.


" Coba dulu donk sayang, makan gak pakai sendok. Kalau makan disini lebih enak makan gak pakai sendok tahu," ucap Aleta.


" Gak ah, aku lebih mau makan pakai sendok," ucap Reynand.


" Ih dibilangin gak percaya," ucap Aleta.


Padahal di meja sudah disiapkan sendok dan garpu untuk mereka berdua makan. Tapi kenapa istrinya lebih memilih untuk makan pakai tangan. Ia benar- benar tak mengerti dengan istrinya ini.


Melihat istrinya yang makan dengan tangan membuat Reynand merasa penasaran, apakah enak jika makan tidak menggunakan sendok.


Baru saja Reynand ingin mengambil nasi dengan tangannya, tiba- tiba Aleta langsung menghentikan suaminya itu.


" Reynand, cuci tangan dulu ih," ucap Aleta sembari memberikan sebuah mamkok yang sudah terisi air untuk mencuci tangan.


" C- cuci tangannya di sini ?" tanya Reynand.


" Iya, sayang," ucap Aleta.


Reynand pun mencelupkan tangannya ke dalam mangkok itu. Kemudian baru dia makan pecel lelenya. Ternyata kata Aleta benar, makan dengan tangan itu lebih enak jika di tempat seperti ini. Lama kelamaan Reynand menjadi ketagihan dengan pecel lele, dan pecel ayamnya. Aleta yang melihat suaminya, hanya tersenyum.


" Gimana, enakkan sayang ?" tanya Aleta.


Reynand hanya mengangguk pelan sambil tersenyum malu, diperhatikan istrinya terus- menerus saat sedang makan. Setengah jam telah berlalu, akhirnya mereka berdua selesai makan.


" Haduh, sayang aku kenyang banget, tapi aku masih mau lagi," ucap Reynand.


" Besok lagi, atau kamu mau pesen buat nanti dirumah ?" tanya Aleta.


" Boleh deh, oh ya sayang, pesenin buat semua orang rumah juga ya," ucap Reynand.


" Siap !" ucap Aleta.


" Eh sayang, nanti aja kita kan masih mau jalan- jalan," ucap Reynand.


" Iya, tapi di pesan dulu biar nanti gak kehabisan Reynand," ucap Aleta.


" Oke deh," ucap Reynand.


Tiba - tiba Reynand menanyakan sesuatu kepada Aleta yang membuat Aleta hingga terbatuk dibuatnya.


" Sayang kapan kita akan program punya anak? apa kamu tidak ingin punya anak dariku?" Ucap Reynand dengan tegas.


Aleta pun bingung harus menjawab apa, ia menginginkannya tapi ia malu untuk mengatakannya. Aletapun bermaksud untuk mengalihkan perhatian Reynand dengan mengatakan sesuatu yang sebenarnya Aleta juga tidak mengerti.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2