
Amarah Muel
" Cih !" Reynand langsung membuang muka.
" Kak Samuel ngapain ke sini ?" tanya Aleta.
" Tanya aja sama suami kamu itu," ucap Samuel.
Tiba- tiba Muel mengusap- ngusapkan kaki Aleta dengan tangannya. Muel selalu menatap Aleta dengan tatapannya yang imut. Aleta yang biasanya melihat muel seperti itu langsung ia peluk. Namun sekarang tidak karena ia masih merasa sedih.
" Hey, sayang kenapa kamu masih sedih aja sih. Aku udah panggil Samuel sama kucing gendutnya itu, tapi kenapa kamu masih sedih aja ?" tanya Reynand.
" Miaww !" Muel mengeong ke arah Reynand dengan wajah marahnya.
Reynand heran kenapa Muel melihatnya dengan tatapan seperti itu. Semakin lama Muel mendekati Reynand.
" Reynand, jangan ngatain dia gendut begitu nanti dia bisa marah !" bisik Samuel.
" Memangnya kenapa, emang kenyataan kok kalau dia itu gendut !" ucap Reynand.
Seketika Muel berlari ke arah Reynand, ia ingin sekali mecakar Reynand. Samuel yang melihat Muel sudah mulai menunjukkan gelagat marah langsung menagkap Muel dan memeluknya. Muel terus menerus meronta- ronta agar diturunkan.
Aleta hanya terdiam dan melihat mereka berdua saja. Tiba- tiba Muel mencakar pipi Samuel, karena cakarannya Muel pun langsung dilempar oleh Samuel.
BUKKK !
Muel terlempar hingga tubuhnya terkena dinding. Aleta yang melihatnya sangat terkejut. Muel terbangun lagi, kali ini dia tidak akan melepaskan Reynand dan Samuel. Tatapan mata Muel begitu menyeramkan. Ia berlari menghampiri Reynand dan Samuel.
Lariannya semakin kencang, Reynand dan Samuel pun berlari untuk menghindar dari Muel. Mereka bertiga kejar- kejaran, sedangkan Aleta masih diam dan duduk dikasur Reynand.
" Oahhh ! Samuel cepat tenangin dia !" ucap Reynand.
" Gak bisa, aku takuttt !" ucap Samuel.
Aleta benar- benar terganggu dengan teriakan mereka berdua. Reynand dan Samuel naik ke atas kasur dan melompat- lompat agar tidak terkena cakaran Muel. Aleta semakin marah, karena tingkah laku mereka berdua.
" Aduhh, kalian berisik banget si-"
Tiba- tiba Reynand turun dari kasur dan menggendong Aleta pergi dari kamarnya. Samuel dan Reynand pun berlari, sedangkan Muel masih terus mengejar mereka.
" Hey Reynand, cepat turunkan aku !" suruh Aleta.
" Gak, nanti kalau kamu dicakar juga gimana hah ! aku gak mau kamu terlukan cuma gara- gara kucing gendut itu !" ucap Reynand yang berlari menuruni tangga.
Semakin lama Muel semakin dekat, Samuel pun berlari semakin kencang. Reynand yang sedang menggendong Aleta tak kuat untuk berlari lebih kencang lagi.
" Miawww !" teriak Muel.
__ADS_1
" Oahhh ! padahal cuma dukejar kucing, tapi kenapa takutnya setengah mati !" ucap Samuel.
" Iya, kayak dikejar- kejar sama singa !" ucap Reynand.
Lalu sampailah di ruang tamu. Bunda, ayah, Reya serra pelayan yang ada di ruang tamu itu terkejut ketika melihat Reynand dan Samuel yang tengah berlari seperti itu. Ditambah lagi dengan Reynand yang berlari sambil menggendong Aleta.
" Yaampun, kalian lagi ngapain kenapa lari- larian seperti itu ?" tanya bunda.
" Kita dikejar sama singa bunda !" teriak Reynand.
" Si- singa !?" bunda Reynand terkejut, begitu pula dengan ayah.
Lalu muncullah Muel dari arah belakang sofa, badan yang besar, gigi yang taring serta bulu yang lebat membuat bunda, Reya, dan juga ayah tertawa. Ketika mereka tahu, singa yang Reynand maksud adalah kucing imut dan gendut yang tengah berjalan dengan santai.
" Hahaha... yaampun ternyata kucing gendut dan imut ini," ucap bunda dan menghampiri Muel.
" Bunda jangan bilang dia gendut !" ucap Reynand yang berhenti berlari.
Tiba- tiba tangan bunda Reynand digigit oleh Muel. Semua orang pun terkejut ketika melihat Muel menggigit tangan bunda Reynand.
Beberapa menit kemudian....
" OAAAHHHH ! Siapa saja tolong kami !" teriak Reya.
Mereka semua berlari karena dikejar oleh Muel yang sedang ganas. Mereka berlari sambil berteriak ke arah taman bunga milik Reynand. Karena teriakan bunda Reynand semua satpam pun datang.
" Aduh bunda, pinggang ayah sakit lagi !" ucap ayah, langsung berhenti berlari.
" Aduh, ada- ada aja sih ayah !" ucap bunda.
Akibat pinggang ayah sakit, akhirnya mereka semua bersembunyi di semak- semak. Reynand menurunkan Aleta dari gendongannya. Mereka semua bersembunyi dari Muel.
" Samuel, kenapa kucingmu jadi seperti ini sih ?" tanya Reynand.
" Iya, biasanya gak kayak begitu kak," ucap Reya.
" Eumm, soalnya dia lagi jatuh cinta. Tapi cintanya itu ditolak sama kucing perempuan gara- gara bodynya yang terlalu gemuk, makanya sekarang dia jadi pemarah terus," ucap Samuel.
" Yaampun ternyata kucing juga bisa patah hati ya," ucap bunda Reynand dengan wajah yang agak heran.
" Iya tante, Muel juga udah diet tapi dietnya itu gak berhasil. Padahal dia udah kurangin makannya, tapi bukannya kurus, dia malah makin gendut," ucap Samuel.
" Lah kok bisa ?" tanya Reya.
" Iya, biasanyakan Muel makan tujuh kali sehari. Tapi sekarang cuma lima kali sehari," ucap Samuel dengan nada bicara yang sedih.
Seketika Reynand, Reya, dan bundanya terdiam seketika mendengar perkataan Samuel.
__ADS_1
" Pantesan aja, gak turun- turun berat badannya. Makan aja sampe lima kali sehari," ucap Reya.
Reynand dan bundanya hanya tertawa sedikit, mendengar perkataan Samuel.
" Miawww !" teriak Muel dengan ganasnya.
Lalu satpam datang, mereka langsung menangkap Muel dan menggendongnya. Setelah melihat satpam sudah menangkap Muel, mereka berenam keluar dari semak- semak dengan perasaan yang lega.
" Fiuhhh, hampir saja kita mau dimakan sama Muel," ucap Reya.
" Hahahaha.... " tawa Aleta.
Tiba- tiba Aleta tertawa terbahak- bahak, semua orang terkejut dengan tawaan Aleta, mereka bingung kenapa Aleta tertawa begitu. Reynand yang melihat istrinya tertawa seperti itu membuatnya khawatir.
" Sa- sayang, kamu kenapa ?" tanya Reynand dengan khawatir.
Aleta masih saja tertawa, ia tak menjawab perkataan suaminya. Reynand pun semakin khawatir dan panik, ia takut jika istrinya sudah tidak waras.
" Sayang !" teriak Reynand sambil menggoncangkan tubuh Aleta.
" Hahaha... haduh ngakak banget tadi, kita lari- larian kayak begini cuma gara- gara dikejar Muel," ucap Aleta yang masih tertawa.
Seketika Reynand terdiam, ternyata ia salah paham. Reynand mengira istrinya kenapa- napa akibat kejadian tadi diruang kerja Reynand. Reynand sangat lega melihat istrinya yang baik- baik saja.
" Hahaha... kamu kenapa Reynand ? kok wajahnya pucat begitu ?" tanya Aleta yang masih tertawa.
" E- enggak !" ucap Reynand.
" Biasa, khawatir itu mah..." ucap bunda.
" Ih kak Reynand. Kak Aleta ketawa aja masih dikhawatirin," ucap Reya.
Bunda Reynand hanya tersenyum sambil mengusap- ngusap kepala Reynand dengan lembut, sedangkan ayah terus menerus memegang pinggangnya yang masih sakit akibat berlarian.
" Bunda, dari pada ngusap- ngusap kepala Reynand. Mending bunda usap- usap pinggang ayah nih, sakit tahu," ucap ayah.
" Yaudah, yuk ke kamar !" ajak bunda.
" Ayo," sahut ayah.
" Reynand, Aleta, Samuel, Reya. Bunda dan ayah pergi ke kamar dulu ya," ucap bunda dengan senyuman.
" Iya bun," ucap Reynand.
Para satpam pun menurunkan Muel dari gendongannya. Terlihat Muel dan Aleta sedang kelelahan karena berlari- larian. Muel langsung tertidur, begitu pula dengan Aleta. Reynand yang melihat istrinya bersandar di tubuhnya lalu tertidur langsung menggendongnya.
Reynand menggendong Aleta yang tengah tertidur, sedangkan Samuel menggendong kucing peliharaan, Muel. Mereka berjalan menuju kamar Reynand. Reya ditinggal pergi oleh mereka. Satpam juga sudah pergi, karena tak tahu harus apa, Reya pun mengikuti kakaknya dan Samuel.
__ADS_1
Bersambung......