
Bryan yang melihat Julian berjalan di belakang dirinya seperti sekretaris mengikuti CEO membuat Bryan geleng geleng kepala. Dia tidak menyangka kalau Julian memilih berjalan di belakang dirinya, dari pada harus berjalan di sisinya.
Bryan berbalik arah dan menyusul Julian serta langsung meraih tangan Julian untuk diganggamnya, sekarang Bryan dan Julian sambil berjalan bersisian dan bergandengan tangan.
Julian menatap kaget ke arah Bryan. Julian sama sekali tidak menyangka kalau Bryan akan melakukan tindakan tersebut. Julian merasa heran dan sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Bryan kepada dirinya. Dirinya sama sekali tidak menyangka akan kejadian seperti sekarang ini.
"Kok?" tanya Julian dengan melihat ke tangannya yang digenggam oleh Bryan dengan lembut.
"Apanya yang kok? Biasa aja kali" jawab Bryan dengan santai dan tidak memperdulikan ekspresi terkejut yang diberikan oleh Julian kepada dirinya.
"Suami istri yang nikahnya kayak kita berdua ini, wajib pacaran sebelum punya anak. Jadi kemesraan ini terjaga dengan semestinya" balas Bryan memberikan alasan kenapa dirinya menggenggam tangan Julian dengan lembut dan membawa Julian berjalan bersihkan dengan dirinya.
Julian menatap ke arah Bryan dengan tatapan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan suaminya itu.
"Hay, ekspresi kamu tolong disederhanakan, aku seperti melihat seseorang yang mau di bunuh saja" kata Bryan memprotes Julian saat dirinya melihat Julian memasang wajah cemas plus ketakutan seperti orang yang akan dibunuh.
"Kasih aku waktu lima menit untuk menenangkan perasaanku" kata Julian.
Julian benar benar tidak tahu dengan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Satu sisi dia merasa sangat bahagia, karena Bryan benar benar bersikap seperti seorang suami kepada istrinya. Sedangkan di sisi lain, dia takut kalau ini hanya mimpi dan sesaat saja.
'Ya Tuhan kalau ini mimpi jangan buat aku bangun ya. Aku sangat menikmati mimpi ini' ujar Julian berdoa dalam hatinya.
"Oh tidak, itu sangat lama. Dua menit" balas Bryan yang merasa kalau waktu untuk menenangkan diri Julian terlalu lama.
"Tiga menit" Julian meminta tambahan waktu satu menit dari yang diminta Bryan.
Bryan mengangguk setuju, dia bisa melihat kegigihan seorang Julian dalam negosiasi. Dia tidak mau memperlama waktu kencannya. Dia harus pandai memanfaatkan waktu yang ada untuk acara kencan mereka hari ini, kencan pertama yang tidak boleh gagal dan meleset.
Julian berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Dia tidak mau membuat Bryan lama menunggu dan kesannya Julian tidak mau pergi kencan dengan dirinya.
__ADS_1
"Oke siap. Mari kita jalan"
Julian mengangkat tangan mereka yang bergandengan tangan. Bagi Julian sekarang waktu ini adalah waktunya untuk mengenal lebih jauh siapa sebenarnya Bryan suaminya itu.
"Pada akhirnya mereka jalan beriringan" ujar Kelvin yang masih mengikuti Bryan dan Julian.
Kevin dan Felix mengiringi Tuan dan Nona mudanya dari dalam mobil. Sebenarnya Bryan sudah meminta mereka berdua untuk pergi. Bryan tidak ingin Julian curiga dengan mobil yang mengikuti mereka. Tetapi, karena Felix dan Kevin tidak ingin ada sesuatu yang terjadi dengan Tuan dan Nona muda, membuat mereka berdua mengiringi Bryan dan Julian dalam kesenyapan.
"Gue berharap mereka tidak akan terpisahkan, karena bagaimanapun juga Nona muda adalah pasangan yang tepat untuk Tuan Muda" kata Felix mengucapkan harapannya untuk sepasang suami istri itu.
"Jadi kita kemana sayang?" tanya Bryan kepada Julian.
"Kamu yakin aku yang milih tempatnya?" Julian balik bertanya dan memastikan apakah Bryan bersungguh sungguh meminta dirinya untuk menentukan kemana mereka akan pergi saat kencan pertama ini.
Bryan mengangguk, meyakinkan Julian akan permintaannya itu. Sebenarnya Bryan meminta Julian menentukan tempat kemana yang akan mereka tuju, disebabkan karena Bryan sama sekali tidak memiliki gambaran tempat yang akan mereka tuju hari ini.
"Makan bakso bagaimana?" Julian menawarkan tempat pertama yang akan mereka kanjungi.
"Sedikit lapar, tadi aku membagi dua bekal makan siang aku dengan Vina" jawab Julia sambil menatap ke arah suaminya itu.
"Kok bisa?" tanya Bryan.
"Karena dia lupa bawa bekal makan siangnya. Jadi, karena aku bersahabat dengan dia, makanya aku ngasih dia separo bekal makan siang ku" jawab Julian.
"Oh kamu benar benar baik sayang. Ayo mari kita makan" kata Bryan di mulutnya kepada Julian.
'Vina, kamu telah membuat istriku kelaperan, karena harus berbagi bekal dengan dirimu. Cukup sekali ini saja Vina' kata Julian dalam hatinya bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Bryan di mulutnya.
Bryan membawa Julian ke sebuah warung bakso yang ada di dekat daerah tersebut. Bryan punya satu tempat rekomendasi untuk menikmati bakso yang lexat, tetapi dia tidak mungkin membawa Julian ke sana, bisa bisa nanti semuanya akan terbongkar pada saat itu juga. Jadinya, Bryan hanya bisa membawa Julian ke warung bakso yang ada di sekitar tempat mereka berada sekarang.
__ADS_1
Kevin dan Felix melihat ke arah mana Tuan dan Nona mudanya masuk hanya bisa saling menatap saja. Mereka berdua tidak menyangka kalau kedua orang itu akan masuk ke warung bakso pinggir taman. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Bryan mengingat nama belakang keluarga besarnya itu.
"Loe yakin, Tuan muda akan aman makan di sana?" tanya Kevin kepada Felix.
"Ya sangat yakin. Gue tau bagaimana sifat Tuan Muda." jawab Felix.
Felix memang sudah sangat lama mengikuti Tuan mudanya itu. Hal itulah yang membuat Bryan sangat yakin saat meminta Felix menjaga Julian.
"hem semoga saja Tuan Muda tidak sakit perut nantinya" ujar Kevin dengan nada yang sungguh sungguh.
"Hahaha hahaha haha. loe kira mereka ngasih obat sakit perut ke dalam kua baksonya."
"Ngadi ngadi bae" kata Felix mengomentari apa yang dikatakan oleh Kevin sebentar ini.
"Bentar ada pesan masuk" ujar Kevin saat melihat ponselnya berkedip menandakan ada pesan masuk.
Kevin membaca pesan yang dikirimkan seseorang ke ponselnya itu.
"Huft" ujar Kevin sesaat setelah membaca pesan yang masuk tersebut.
"Ada apa?" tanya Felix yang penasaran dengan isi pesan chat yang membuat Kevin harus menghela nafas dengan lumayan kasar itu.
"Loe baca sendiri aja" jawab Kevin kepada Felix.
Felix mengambil ponsel milik Kevin dan membaca pesan masuk yang membuat Kevin menjadi menghembuskan nafasnya dengan penuh kekesalan itu.
"Jadi, loe dan gue di suruh turun dan ikut makan di warung bakso itu?" ujar Felix sesaat setelah dirinya membaca pesan masuk yang dikirimkan oleh Tuan Muda mereka.
Kevin mengangguk dengan lemas. Dia baru saja memberikan komentar atas pilihan tempat makan yang dipilih oleh Tuan dan Nona muda mereka itu.
__ADS_1
"Ayo turun" ujar Felix menahan senyumnya mengajak Kevin untuk turun.
"Loe aja" jawab Kevin