
Satu bulan berlalu dari tragedi yang menimpa Julian di mall atas perbuatan Nyonya besar Witama. Permasalahan itu hanya sampai di situ saja. Nyonya besar Witama tidak melaksanakan ancamannya kepada Julian. Julian yang merasa damai damai saja tanpa gangguan dalam pekerjaan, dirinya maupun rumah tangganya pada akhirnya memilih untuk ikut diam juga. Padahal kalau sekali saja Nyonya besar Witama memancing keributan dengan Julian, maka sudah bisa dipastikan Julian akan langsung membalasnya dengan pembalasan tunai tidak bertepi. Julian sudah siap dengan semua resiko yang akan diterimanya saat berurusan dengan Nyonya besar Witama. Tapi yang anehnya, Julian sama sekali tidak mau mencari tau siapa Nyonya Nyonya yang sudah mengasari nya itu. Berbeda dengan dulu, saat dia dikasari maka dia akan langsung mencari tau dan balas dendam. Sedangkan sekarang tidak, semenjak tinggal sendirian dan mencari uang sendiri, julian sudah benar benar berubah drastis. Semua orang yang dulu kenal dengan julian tidak akan menyangka kalau Julian bisa seperti sekarang ini
Julian dan Bryan pun sudah menjadi suami istri yang sebenarnya, malam panjang mereka habiskan berdua untuk memadu kasih. Julian saat itu benar benar menikmati permainan yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya, Bryan sangat senang saat Julian memberikan sesuatu yang dijaganya sampai dirinya benar benar menemukan seorang suami yang layak untuk mendapatkan hal yang spesial itu.
"Sayang, kamu hari ini dinas keluar lagi? atau stay di perusahaan saja? " tanya Julian saat mereka berdua sedang duduk menikmati sarapan berupa nasi goreng kampung yang dimasak Julian.
"Sepertinya nggak. Kenapa sayang? Kamu pengen waktu istirahat kita dihabiskan seperti siang dua hari yang lalu?" tanya Bryan sambil tersenyum menggoda istri cantiknya yang semakin cantik semenjak sudah tidak jadi gadis perawan lagi
"Ye maunya. Mana ada sayang. Aku lembur hari ini. Malam tadi kan udah masak masih mau lagi" kata Julian sambil tersenyum ke arah suaminya yang memiliki seribu satu ide agar mereka tetap menjaga keromantisan di ranjang yang hampir setiap hari panas itu.
"Kirain mau kayak yang waktu itu. Kalau mau mah aku siap aja. Aku akan selalu siap untuk melakukan hal itu sayang. Kalau masalah malam tadi itu mah stamina tadi malam. Stamina pagi ini kan belum di cobakan" kata Bryan yang sangat suka sekali menggoda Julian.
Bryan saat menggoda Julian tidak terlihat lagi seperti seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Pebisnis muda yang namanya terdengar kemana mana. Siapa yang tidak mengenal Bryan Witama di dunia bisnis. Hanya Julian saja yang tidak mau tau dengan nama besar itu. Bagi Julian kehidupannya yang penting kehidupan orang lain biarkan saja.
"Hem tengok nanti aja ya, kalau untuk sekarang sepertinya belum berminat. Kamu simpan saja stamina kamu itu untuk nanti malam atau besok subuh" jawab Julian yang mulai merasakan sesuatu di sana. Julian tidak bisa memungkiri sesuatu yang sedang bergelut dalam dirinya saat ini. Sesuatu yang ingin dilepaskan sekarang juga, walaupun tadi malam sudah dilepaskan sebanyak tiga kali.
"Haha haha haha. Sayang wajah kamu udah memerah itu. Kamu jangan bohong sayang. Aku sangat tau bagaimana sensitif nya kamu akan hal itu" kata Bryan yang sukses membuat wajah Julian menjadi tersipu dan merona. Bryan benar benar membuat Julian mati gaya pagi ini
"Mana ada memerah gara gara ucapan kamu itu, aku memerah karena kepedasan nasi goreng ini" kata Julian membela dirinya.
"jangan boong sayang. kamu nggak bisa boong ke aku. aku tau gimana kamu" lanjut Bryan masih dengan suara menggodanya
Julian pura pura melihat jam tangannya, dia tidak akan menang melawan Bryan, apalagi sesuatu di bawah sana sudah menghentak hentak ingin bertemu pawangnya. Dia merasa masih ada sedikit waktu untuk melakukan sesuatu. Julian berdiri dari posisi duduknya. Dia beranjak ke arah Bryan yang sedang duduk.
Julian kemudian duduk di atas Bryan dengan mengangkang kan kakinya. Bryan kaget saat melihat apa yang dilakukan oleh Julian kepada dirinya.
"Wow sayang. Kamu serius?" tanya Bryan yang tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang Julian.
"Ya dong ini kan yang kamu mau. Stamina kamu pagi ini wajib di coba sayang. Mana tau enak stamina pagi dari pada stamina malam sisa sisa bekerja di perusahaan" ujar Julian dengan gemas sambil memegang pipi Bryan.
"Wow" pekik Bryan saat Julian mulai sedikit menggesek sesuatu untuk membangunkannya dari posisi tidurnya itu.
__ADS_1
"Kamu benar benar luar biasa shayang. Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal indah ini" kata Bryan yang sudah tidak tahan lagi dengan goyangan Julian di atasnya.
Julian memajukan mulutnya. Dia memakan habis bibir Bryan pagi ini. Julian benar benar menikmati semuanya. Julian memainkan permainannya. Permainan yang akan selalu diingat oleh Bryan setiap harinya. Permainan yang akan membuat Bryan tidak melihat wanita lain karena mereka tidak sebanding permainannya dengan Julian.
Pagi ini yang pegang kendali adalah Julian. Sedangkan Bryan hanya menikmatinya saja. Julian benar benar beringas pagi ini. Dia naik turun menikmati sesuatu yang penuh di bawah sana. Julian sama sekali tidak memikirkan jam sekarang. Dia hanya fokus ke benda bagian bawah Bryan yang memberikan kenikmataaannnn kepada dirinya di pagi hari yang indah itu
"Wow sayang. Wow." kata Bryan yang tidak bisa lagi mengatakan apa apa kepada Julian. Dia benar benar tidak habis pikir, kenapa bisa Julian melakukan hal segila ini pagi hari ini.
Sedangkan Bryan yang mendapat serangan tidak terduga di pagi itu, hanya bisa menuruti apa keinginan dari Julian saja. Dia mengikuti ritme permainan dari Julian. Beberapa kali Bryan berusaha menghentakkan miliknya ke dalam milik Julian. Tetapi tangan Julian menahan panggung Bryan.
"Aku yang pegang kendali. Anggap aja hukuman pagi hari untuk kamu, karena sudah berani beraninya menggoda aku" kata Julian di telinga Bryan dengan sangat mesranya.
Alunan nada suara Julian yang begitu mesra dan menggoda membuat Bryan menjadi tidak bisa berbuat apa apa lagi. Bryan hanya bisa pasrah menerima apa yang dilakukan oleh Julian kepada dirinya.
Julian merasakan sesuatu di dalam sana yang hendak meledak dan membawa semua aura negatif Julian keluar dari dalam tubuhnya. Julian semakin mempercepat gerakannya, Bryan yang melihat Julian akan mencapai sesuatu, mulai mengikuti gerakan yang dibuat oleh Julian, mereka bergerak dengan ritme yang sama. Bryan berkali kali memberikan kecupan ke leher jenjang Julian. Bryan tidak peduli lagi seperti apa penampakan leher Julian nanti setelah mereka selesai bermain di pagi hari yang sangat cerah.
"A.............h" teriak Julian dan Bryan sama sama melepaskan sesuatu yang entah sudah berapa kali mereka lepaskan selama ini.
"Makasi sarapan paginya sayang" kata Bryan sambil mengecup mesra bibir Julian.
"Sama sama sayang. Besok besok kalau mau menggoda lagi, pikirkan waktu ya" kata Julian.
"Haha haha" Bryan tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.
"Kalau tau hasil akhirnya dari godaan tadi adalah gol, maka akan aku pastikan aku akan menggoda lebih pagi lagi" jawab Bryan.
Cup. Sebuah ciuman mendarat di bibir Bryan. Julian si tersangka langsung berdiri setelah melakukan itu. Dia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan merapikan makeupnya yang sudah kembali berantakan karena habis bertempur dengan Bryan. Rambut yang sudah capek di tata nya ke atas tadi terpaksa harus dilepaskan karena tingkah Bryan yang memberi tanda di lehernya.
"Sayang tolong ambilkan scraf aku di lemari dong" ujar Julian meminta tolong kepada Bryan dengan hanya mengeluarkan kepalanya saja dari dalam kamar mandi.
" Emang kenapa sayang kenapa harus memakai scraf?" Tanya Brian yang tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Julian terhadap scraft yang dimintanya
__ADS_1
" jangan banyak tanya Sayang ini kan gara-gara kamu"
" kamu yang bikin tanda di leher aku tentu aku harus menyembunyikannya supaya tidak menjadi bahan ledekan oleh rekan-rekan kerja aku nanti di perusahaan" jawab Julian yang sedikit kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bryan si tersangka yang membuat Julian harus kembali menutupi lehernya pagi ini
" hahaha hahaha Aku sengaja sayang supaya leher jenjang kamu itu tidak menjadi santapan para lelaki hidung belang yang melihat ke arah kamu" Bryan memberikan alasan kenapa dirinya selalu melakukan hal itu saat mereka sedang bercinta dengan begitu romantisnya
" oke oke oke oke oke oke oke dasar pria posesif" kata Julian mengomentari alasan yang diberikan oleh Brian kepada dirinya Karena kelakuan Brian yang selalu meninggalkan tanda merah seperti sekarang ini
" ini skrafnya cepat pakai hari sudah hampir setengah delapan"
" Apa kamu mau telat ke kantor?" Kata Brian memperingatkan Julian kalau hari sudah setengah delapan pagi
"Tentu tidak. Bisa ngamuk nanti Vian kalau aku telat" ujar Julian yang ntah kenapa memilih kata kata itu sebagai alasan.
"Emang Vian pernah ngamuk sama kamu?" tanya Bryan penasaran saat mendengar alasan dari Julian.
"Nggak sih" jawab Julian sambil tertawa.
"Sayang, ternyata pagi hari enak juga ya. " kata Julian dengan santainya saat mereka akan keluar rumah.
"kamu ada ada aja sayang. Fantasi kamu kadang membuat aku terkejut" kata Bryan yang terus mendapatkan kejutan dari Bryan.
"Lah yang ngajarin kan kamu sayang. Aku hanya nerusin aja" jawab Julian membela dirinya.
"ya ya ya ya. Kamu memang siswa terbaik" kata Bryan lagi.
Akhirnya Julian selesai merapikan penampilannya. Mereka berdua pun keluar dari rumah. Bryan sudah membeli sebuah motor, dia mengantarkan Julian memakai motor ke perusahaan. Nanti kalau waktu pulang mereka sama maka Bryan akan menjemput Julian ke perusahaan tempat dia bekerja.
"Hati hati kerjanya sayang. Cari referensi baru lagi ya" kata Bryan saat dirinya berpamitan setelah mengantarkan Julian ke perusahaan tempat dia bekerja.
Vian yang tidak mengerti dengan pembicaraan suami istri itu hanya bisa diam saja. Mau bertanya takut salah, tidak bertanya rasa ingin tahu tidak mau mengalah
__ADS_1
"bener bener absurd alias susah dijelaskan" kata Vian.