
"Jadi, kenapa gue loe suruh cepat cepat datang ke sini Bryan?" tanya Felix yang sudah tidak ingin membahas perihal titipan Julian yang luar biasa banyak dan paling banyak adalah makanan.
Bryan berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Dia mengambil dua dokumen yang menjadi penyebab kegalauannya sekarang dan juga menjadi penyebab Felix harus datang secepatnya ke perusahaan.
"Loe baca ini ya. Gue pusing kalau harus menjelaskannya" kata Bryan sambil memberikan dua buah dokumen laporan perusahaan miliknya.
Felix mengambil kedua laporan yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya. Dia melihat logo perusahaan yang terpampang jelas di sampul laporan yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.
"Bukannya ini perusahaan loe yang di francais bukan?" tanya Felix saat melihat logo tersebut.
"Ya" jawab Bryan dengan menganggukkan kepalanya.
"Terus ada apa? Kenapa ada dua laporan?" tanya Felix dengan nada heran melihat ada dua laporan di tangannya sekarang ini.
"Loe baca aja dulu. Nanti loe akan tau kenapa loe, gue minta untuk datang kemari secepatnya" kata Bryan.
"Loe nggak bisa langsung mengatakan isi dari laporan itu?" tanya Felix yang sebenarnya malas membaca laporan laporan perusahaan untuk saat ini. Apalagi ini ada dua laporan keuangan yang harus dibacanya.
"Malas gue. Loe baca sendiri aja. Baik tensi gue kalau harus baca itu lagi" kata Bryan yang sudah kembali menjadi sedikit marah karena laporan itu.
"Loe mau cerita Vin?" kali ini Felix mencoba keberuntungannya lewat Kevin.
Felix meminta kepada Kevin untuk cerita karena Kevin sudah pasti tau apa yang terjadi dengan kedua laporan itu. Kalau Kevin tidak tau, maka tidak akan mungkin Kevin diminta oleh Bryan untuk menghubunginya berkali kali sejak tadi.
"Loe baca aja" jawab Kevin dengan nada lemas.
Felix melihat kedua sahabatnya yang sekarang raut wajahnya sangat bertentangan satu dengan yang lainnya. Wajah Bryan menunjukkan kemarahan yang tidak dia simpan lagi seperti tadi. Sedangkan wajah Kevin, menggambarkan ekspresi seseorang yang menyesal karena telah salah dalam melakukan sesuatu hal.
"Baiklah gue akan baca sendiri aja" akhirnya Felix mengalah, dia memutuskan untuk membaca sendiri dua dokumen yang sekarang sedang berada di tangannya itu.
Felix membaca kedua laporan yang sekarang ada pada dirinya. Dia membaca dengan sangat teliti setiap laporan yang ada. Tapi tiba tiba Felix terdiam sesaat, dia menemukan kejanggalan dalam laporan itu.
"Bryan, ini kok" ujar Felix yang belum selesai berbicara sudah di potong oleh Bryan
"Loe selesaikan dulu baca kedua dokumen itu, baru berikan komentar loe" kata Bryan memotong pembicaraan dari Felix mengenai analisa Felix terhadap dokumen yang di pegangnya itu.
__ADS_1
"Oke" jawab Felix.
Felix menandai bagian bagian yang salah dan mencurigai dari laporan pertama yang diambilnya. Laporan yang dibuat oleh orang kepercayaan Bryan. Felix sangat serius membaca semua dokumen itu, tidak satupun yang dilewatkan oleh Felix. Semua dilahap habis oleh Felix.
Felix mengambil dokumen yang kedua. Dokumen kedua sama sekali tidak ada yang ditandai oleh Felix. Bahkan dokumen kedua itu diselesaikan oleh Felix dalam waktu yang sangat cepat, tidak seperti dokumen pertama yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dibaca dan dianalisis oleh Felix.
"Gimana Felix?" tanya Bryan sambil melihat reaksi Felix.
"Dokumen kedua oke. Gue yakin ini adalah keadaan asli perusahaan sebenarnya" jawab Felix memberikan penilaian yang sangat objektif terhadap laporan yang dipegangnya saat ini.
"Sedangkan untuk dokumen yang pertama gue baca, dokumen itu bener bener palsu. Mereka sangat sangat rapi membuat manipulasi, kalau kita nggak baca dengan penuh konsentrasi, maka sudah bisa dipastikan, kita tidak akan menemukan letak kesalahannya dimana" Felix menjelaskan untuk dokumen laporan yang pertama.
"Jadi menurut loe laporan yang asli adalah laporan yang?" tanya Bryan
Kevin melihat ke arah Felix.
"Pastinya dokumen yang kedua yang asli. Sedangkan yang pertama, dokumen yang penuh rekayasa" jawab Felix.
Kevin yang mendengar jawaban dari Felix merasa sangat bahagia sekali. Beban berat yang dipikul nya hilang lenyap dak berbekas sekarang.
"Ya dan sudah pasti" jawab Bryan.
Bryan kemudian menceritakan asal usul dua dokumen yang berbeda itu. Bryan menceritakan semuanya, sekali sekali cerita Bryan ditambah oleh Kevin sebagai penguat cerita itu. Felix menyimak semua cerita dan langsung menganalisa nya. Dia sekarang sudah bisa memastikan satu hal.
"Gitu ceritanya" kata Bryan setelah menceritakan semuanya kepada Felix.
Bryan, Felix dan Kevin terdiam, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing masing.
"Kita berangkat ke negara francais saja Bryan. Sepertinya mereka ingin bermain dengan kita bertiga" kata Felix memberikan masukan kepada Bryan untuk menyelesaikan masalah yang sudah dibuat oleh mereka yang bekerja di perusahaan milik Bryan.
"Sepertinya mereka ingin sekali melihat dan mendengar langsung apa yang bisa kita lakukan terhadap mereka yang berbuat curang" lanjut Felix yang sudah sangat kesal melihat kecurangan yang telah dilakukan oleh manager yang dipercaya oleh Bryan untuk mengelola perusahaannya yang di negara Francais.
Bryan menyimak apa yang dikatakan oleh Felix, sebenarnya dia juga ingin untuk pergi ke negara itu. Tetapi bagaimana dengan Julian, apa yang harus dikatakannya kepada istri cantiknya itu.
"Felix sebenarnya gue pengen terjun langsung untuk menyelesaikan permasalahan ini, tetapi gue tidak tau bagaimana meminta izin kepada Julian" kata Bryan menyampaikan kendalanya untuk saat ini.
__ADS_1
"Makanya gue berkali kali meminta loe datang dari siang, supaya loe yang berangkat menyelesaikan permasalahan di perusahaan sana" lanjut Bryan.
Bryan memperhatikan raut muka Felix. Tetapi Bryan tidak menemukan sebuah kemarahan atapun kekecewaan di sana. Felix menerima semuanya dengan lapang dada. Semua itu terpancar jelas dari raut wajah Felix.
"Jadi menurut loe gue yang harus ke sana sendirian?" tanya Felix lagi.
"Nggak. Loe ke sana berdua dengan Kevin" jawab Bryan yang kali ini meminta Kevin untuk ikut menyelesaikan permasalahan di perusahaan itu.
"Loh kenapa gue juga harus ikut Bryan? Gue di sini ajalah" kata Kevin yang tidak ingin ikut dengan Felix mengurus permasalahan yang sudah bisa dipastikan oleh Kevin akan sangat rumit dan bervelit belit.
" Tidak ada penolakan. Loe berangkat dengan Felix besok ke negara Francais. Satu lagi, Felix dan loe Kevin, tolong perhatikan benar rekan loe yang mengirimkan dokumen itu ke loe" kata Bryan selanjutnya.
"Kalau dia bisa dipercaya, maka angkat dia menjadi pemimpin perusahaan itu" lanjut Bryan lagi
Felix menatap Kevin. Kevin memberikan anggukan tanda dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Oke sip. Besok kami akan berangkat siang" kata Felix.
"Ngapain siang pagi" ujar Bryan yang tidak setuju Felix berangkat siang menuju negara Francais.
"Loe kira gue nggak capek sekarang? Mana istri loe bikin gue kerepotan cari barang dan bawa barang. Belum lagi sampe sini gue harus langsung datang ke perusahaan, eeeeee langsung baca dua dokumen. Nah pagi loe suruh lagi herangkat. Gila ya lo" kata Felix protes dengan perintah yang diberikan oleh Bryan.
"Gue mau tidur sampe pagi. Jadi gue akan berangkat jam dua dengan Kevin. Gue pake pesawat perusahaan" Lanjut Felix dengan nada tegas dan final.
"Oke terserah lo. Sekarang mari pulang. Gue capek" Kata Bryan.
Kevin hanya geleng geleng kepala saja. Saat Felix belum datang, Bryan bener bener uring uringan, semuanya salah. Saat Felix sudah datang, maka Bryan sudah kembali seperti semula.
"The power of Felix memang mengerikan" ujar Kevin tepat saat dirinya dengan Felix keluar berbarengan dari ruangan Bryan.
"maksud loe gimana?" tanya Felix tidak mengerti
"Tadi saat loe belum datang wajah Bryan benar benar mengerikan. wajah frustasi tingkat dewa. Nah pas lie udah dateng itu wajah kembali seperti tadi pagi baru datang dari kantor" kata Kevin menjelaskan apa maksud perkataannya tadi.
"nggak juga. kita berdua sangat penting bagi dia. nggak ada yang nggak penting" kata Felix yang tidak mau Kevin berkecil hati dengan sikap Bryan tadi
__ADS_1
felix sebenarnya sangat tau bagaimana pengaruh dirinya bagi Bryan. tetapi Felix tidak ingin membuat Kevin berkecil hati. sehingga dia mengatakan hal yang sebaliknya