Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #11


__ADS_3

Loe ajalah yang turun" ujar Kevin kepada Felix.


"Op mana bisa. Loe mau bikin Bryan ngamuk?" jawab Felix menakut nakuti Kevin.


"Loe ngomong aja sama dia, kalau gue ada urusan" kata Kevin yang memang sangat takut makan bakso di tempat itu.


"Ogah gue. Kata mama gue, gue nggak boleh boong, karena boong itu dosa" jawab Felix dengan santai menjawab permintaan yang diajukan oleh Kevin kepada dirinya.


"Tega loe" ujar Kevin lagi.


Kevin tidak ada pilihan lain, mau tidak mau, suka tidak suka dia harus ikut turun bersama dengan Felix dan masuk ke dalam warung bakso tersebut.


Ponsel Kevin kembali berdering. Dia melihat nama Tuan Muda yang tampil di layar ponselnya.


"Huf manusia nggak sabaran banget" ujar Kevin kesal melihat nama yang muncul di layar ponselnya.


"Hahahaha, rasain loe" ujar Felix melihat raut wajah Kevin yang kesal.


Kevin menarik tangan Felix untuk masuk ke dalam warung bakso kaki lima. Dia tidak ingin dimaki maki oleh Bryan karena datang terlambat.


Kedua pria tampan itu masuk ke dalam warung bakso. Mereka berdua melihat Bryan dan Julian sudah duduk sambil menikmati bakso yang sudah di pesan.


"Hay sini" ujar Bryan saat melihat Kevin dan Felix saat masuk ke dalam warung bakso.


"Siapa?" tanya Julian kepada Bryan.


"Kenalin, ini sahabat aku." kata Bryan memperkenalkan kedua orang sahabat sekaligus rekan kerjanya itu kepada Julian.


"Julian" ujar Julian sambil menangkupkan tangan ke depan dadanya.


"Kevin" jawab Kevin


"Felix" jawab Felix


Julian melirik Bryan meminta penjelasan kenapa kedua sahabat Bryan harus duduk di meja mereka.

__ADS_1


"Kamu jangan marah ya. Mereka duduk di sini, karena kalau mereka duduk di tempat lain, bisa jadi mereka tidak akan makan" jawab Bryan sambil menendak kaki Kevin yang berada di bawah meja.


Bryan sudah tau kenapa mereka berdua sampai telat datang ke warung haksibitu karena Kevin yang tidak ingin makan di tempat seperti itu.


"Kok?" ujar Julian tidak paham dengan jawaban yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.


"Ceritanya panjang. Tapi yang jelas, mereka berdua ini adalah orang kaya. Jadi, kamu pahamkan apa maksud aku?" ujar Bryan memberikan klue untuk Julian menebak jawaban dari pertanyaan nya sendiri.


Julian mengangguk, dia sekarang tahu kenapa Kevin dan Felix bisa tidak akan makan kalau mereka berdua duduk jauh dari Bryan dan Julian.


Kevin dan Felix hanya bisa menggeleng lemah saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Bryan kepada Julian. Mereka berdua tidak menyangka kalau jawaban itu yang akan diberikan oleh Bryan kepada Julian.


Mereka berempat kemudian menikmati bakso yang dihidangkan oleh pelayan. Betapa kagetnya Kevin saat merasakan bagaimana nikmatnya bakso yang sedang dimakannya itu.


"Gimana enak kan?" celetuk Felix kepada Kevin, saat melihat perubahan wajah Kevin setelah menikmati bakso yang baru saja di masukkannya ke dalam mulut.


"Enak banget. Enak dari pada tempat kita biasa makan" ujar Kevin mengakui bagaimana rasa lezat dari bakso yang mereka makan saat ini.


"Makanya jangan menilai sesuatu dari luarnya. Coba dulu baru komentari" ujar Bryan yang sangat hafal bagaimana sifat dari seorang Kevin.


"Sifat jelek elo yang membuat elo terus di tipu wanita" lanjut Bryan.


Julian yang tidak paham dengan alur percakapan ketiga sahabat itu hanya bisa diam dan menikmatinya saja. Julian sangat bersyukur ada dua orang pria ini di depan dirinya. Sehingga dia tidak canggung harus bersikap dan berbicara apa dengan Bryan suami dadakannya itu.


"Nah berhubung bakso kalian sudah habis, maka dengan berat hati, saya meminta kalian berdua untuk pergi meninggalkan tempat ini."


"Kami berdua mau lanjut kencan" kata Bryan meminta Kevin dan Felix untuk pergi dari sana.


"Yah nggak asik" jawab Kevin spontan saat mendengar Bryan mengusir dirinya dan Felix.


"Maksud loe?"


"Jangan bilang loe mau ikut kencan dengan gue" kata Kevin menatap ke arah Kevin dengan tatapan tajam.


"Tentu saja tidak Tu"

__ADS_1


"Au" teriak Kevin saat pinggangnya di cubit dengan keras oleh Felix.


Bryan menatap tajam ke arah Kevin. Hampir saja Kevin mengatakan hal yang boleh dikatakan oleh dirinya.


"Udah sana loe berdua pergi, dari pada akhirnya menyusahkan hidup gue" ujar Bryan mengusir dengan paksa kedua sahabatnya itu.


Kevin dan Felix berjalan meninggalkan Bryan dan Julian. Mereka berdua kembali ke dalam mobil untuk mengawasi Tuan dan Nona muda dari dalam mobil.


"Kemana lagi?" tanya Bryan yang masih nggak tau mau membawa Julian kemana pada kencan pertama mereka sebagai suami istri.


Julian menggeleng. Julian sama sekali tidak tau mau kemana mereka pergi. Julian baru pertama kali menghadapi hal seperti ini.


"Biasanya kamu kemana pergi kalau habis kerja?" tanya Bryan.


"Tapi jangan jawab langsung ke kontrakan" lanjut Bryan saat tau apa jawaban yang akan diberikan oleh Julian kepada dirinya.


"Ye mana ada mau jawab itu." balas Julian sambil menatap sinis ke arah Bryan.


"Terus kalau tidak jawab itu mau jawab apa lagi?" tanya Bryan.


"Aku biasanya kalau tidak kerja di swalayan, maka akan pergi ke toko buku itu" ujar Julian menunjuk sebuah toko buku yang berada di seberang taman kota yang sangat indah tersebut. Taman kota yang sangat jarang dinikmati oleh Julian keindahannya, hal ini bulan disebabkan oleh apapun. Melainkan karena waktu Julian untuk menikmati keindahan taman itu sama sekali belum ada. Waktu Julian habis untuk kampus dan kerja paruh waktu.


Bryan menatap toko buku yang di tunjuk oleh Julian. Toko buku yang terlihat tidak begitu besar. Tetapi, toko buku itulah hiburan semata yang bisa dinikmati oleh Julian selama ini.


"Kamu beli apa di sana? Aku lihat di rumah kita, tidak ada buku buku" ujar Bryan yang memang memperhatikan setiap sudut rumah tempat Julian tinggal selama ini.


Dalam rumah itu sama sekali tidak ada buku yang dibeli Julian. Semua buku yang ada di sana hanyalah buku hasil pinjaman dari perpustakaan kampus atau perpustakaan daerah.


"Aku sama sekali nggak pernah beli buku. Mending uangnya aku simpan untuk kebutuhan sehari hari dan juga biaya kuliah" jawab Julian dengan santainya.


Nada suara Julian sama sekali tidak mengandung keputusasaan. Julian terlihat sangat tegar dan menerima suratan takdir yang harus dijalani oleh dirinya.


"Jadi kamu kesana ngapain aja?" tanya Bryan yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Julian.


"mau tau?" ujar Julian.

__ADS_1


Bryan mengangguk.


Julian mengambil tangan Bryan. Mereka berdua kemudian berjalan meninggalkan warung bakso.


__ADS_2