Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #29


__ADS_3

"Ternyata dia sama sekali tidak datang. Aku terlalu berharap sekali" ucap Julian saat sudah menyapu wajah wajah semua orang yang sudah datang untuk melihat dan menyaksikan sidang terbuka disertasinya itu.


Padahal sebenarnya Julian sangat berharap Bryan hadir menyaksikan dia mempertahankan hasil penelitiannya di depan semua orang.


'ah dia pasti sibuk. Lagian gue nggak ngomong beberapa hari sebelumnya ke dia, kalau gue sidang terbuka hari ini' kata Julian berusaha menghibur dirinya sendiri.


Vian melirik dengan matanya ke arah Bryan. Bryan tidak memberikan reaksi apapun, Tuan muda itu masih bersikap dingin kepada siapapun. Dia seperti tidak peduli dengan orang orang di sekitarnya. Dia menetap lurus ke arah Julian.


'Maaf sayang, aku terpaksa harus menyembunyikan diriku. Aku tidak mau terjadi sesuatu terhadap kamu nantinya' kata Bryan yang tetap menatap lurus ke arah Julian, istrinya yang sangat luar biasa itu. Istri yang tetap melanjutkan kuliahnya walaupun dalam keadaan terbatas. Seorang wanita tangguh yang sangat jarang ada di zaman modern seperti sekarang ini.


Sedangkan Bryan yang sadar kalau dirinya dicari cari oleh Julian, masih bersikap biasa saja. Bryan sama sekali tidak ingin orang orang yang ada di sana menyadari kehadiran Bryan Witama di tengah tengah mereka. Apalagi kalau mereka sampai tau bahwasanya Bryan berada di sana untuk memberikan semangat kepada Julian. Bisa bisa Julian akan menjadi bahan gosip oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.


Julian dengan sangat bersemangat dan mengenyampingkan kesedihannya karena Bryan tidak datang saat dirinya sidang terbuka tersebut. Julian memaparkan sejelas jelasnya kepada semua orang yang ada di sana isi dari disertasinya itu.


Pertanyaan dari dosen penguji serta dari para ahli yang sesuai dengan bidang penelitian dari disertasi Julian, dibabat habis oleh Julian. Semua pertanyaan di jawab dengan sangat baik dan sangat bermutu serta berwawasan tinggi. Semua penanya dan juga orang orang yang berada di sana sangat bangga mendengar setiap jawaban yang diberikan oleh Julian.


Bryan memberikan dua jempolnya kepada Julian dari kursi tempat duduknya. Hal itu sontak membuat siapapun yang melihatnya pasti tertawa. Tetapi kali ini tidak ada yang tertawa karena hanya seorang Vian saja yang melihat apa yang dilakukan oleh Bryan.


'Tuan muda tuan muda. Kalau di situ ngasih jempol mana terlihat sama Julian. Ada ada aja' kata Vian dalam hatinya saat melihat apa yang dilakukan oleh tuan muda nya itu. Suatu tindakan yang dinilai oleh Vian sangat mubazir sekali.


Akhirnya setelah melakukan sidang disertasi selama satu setengah jam. Julian di nyatakan lulus dan berhak ikut wisuda bulan depan. Julian sangat bahagia mendengar hasil dari sidang disertasinya itu.


Lelah yang selama ini ditanggung oleh Julian mendadak menjadi sirna seketika saat Julian mendengar hasil keputusan dari dosen penguji. Julian benar benar sangat bahagia sekarang.


"Coba kalau ada Bryan di sini. Gue pasti akan sangat bahagia sekali. Bukannya gue nggak bahagia atas keberhasilan yang gue raih, tetapi gue akan semakin bahagia kalau Bryan bisa menyaksikan keberhasilan gue kali ini" kata Julian sendiri.


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang juga melakukan sidang disertasi bersamaan dengan Julian, sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Julian. Mereka dari dulunya tidak ingin berteman dengan Julian. Menurut mereka Julian bukanlah orang yang pantas untuk mereka ajak berteman.


Akhirnya semua rangkaian kegiatan ujian terbuka disertasi sudah selesai. Julian dan beberapa mahasiswa yang sidang terbuka hari itu dinyatakan lulus semuanya dan berhak untuk wisuda bulan depan.

__ADS_1


Semua orang yang mengenal mahasiwa dan mahasiswi yang sidang terbuka itu, mendatangi mereka satu persatu. Mereka melakukan foto bersama. Sedangkan Julian yang sama sekali tidak pernah mereka ajak berteman hanya berdiri mematung seorang diri. Tetapi yang anehnya Vian tidak merasa kesepian ditengah keramaian itu.


"Hay, selamat ya atas apa yang kamu raih tadi. Kamu berhak mendapatkan nilai sempurna untuk disertasi kamu yang wow itu" ujar Vian memberikan selamat kepada Julian.


"Makasih Vian. Loe sahabat terbaik gue" ujar Julian sambil memeluk Vian.


Saat itulah mata Julian melihat sebuah papan bunga dengan tulisan selamat atas sidang terbuka disertasinya istriku. Bunyi papan bunga yang ada di depan tempat sidang terbuka tadi.


"Vian, loe tengok papan bunga itu" ujar Julian sambil menunjuk sebuah papan bunga yang terparkir berjejer di depan tpag sidang terbuka tersebut.


"Yang mana?" ujar Vian yang tidak paham kemarah arah maksud dari telunjuk Julian.


"Itu yang ada tulisan istriku itu" ujar Julian memberitahukan maksud karangan bunga yang ditunjuknya tadi.


"Oooo" komen Vian seadanya saja.


"Huft elo. Coba kalau itu kiriman dari Bryan. Wow betapa senangnya aku" ujar Julian sambil melihat kembali papan bunga tersebut.


Julian mengamati dengan seksama papan bunga itu. Mata Julian tidak lepas melihat papan bunga. Akhirnya dia melihat dua huruf yang dijalin. Dia bisa membaca dua huruf itu. Julian tersenyum bahagia saat mengetahui hal sederhana tersebut.


"Ngapain loe senyum senyum nggak jelas gitu? Kesambet setan papan bunga loe?" ujar Vian saat melihat senyuman terukir di bibir Julian.


"Loe baca huruf itu" kata Julian meminta Vian untuk membaca huruf yang ditunjuk oleh dirinya.


Vian menatap lama huruf yang ada di papan bunga itu. Dia bisa membaca dengan jelas huruf yang di maksud oleh Julian.


"JB gitu?" ujar Vian menyebutkan huruf yang berhasil di bacanya.


Julian mengangguk. Huruf yang ada di papan bunga itu adalah JB singkatan dari nama Julian dan Bryan.

__ADS_1


"Percaya diri banget anda Nona muda" ujar Vian berusaha menggoyahkan keyakinan dari seorang Julian Bernadet.


"Wah sama sekali tidak terlalu percaya diri. Tetapi aku sangat yakin kalau itu adalah inisial dari nama aku dan Bryan" jawab Julian yang benar benar sangat yakin dengan kepanjangan dari dua huruf itu.


Vian tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Julian. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Julian memang benar. Papan bunga ucapan selamat itu adalah dari Bryan. Pemberian khusus untuk istrinya yang pintar itu.


"Kita lanjut pulang?" tanya Vian sambil melihat Julian yang menatap lama ke arah papan bunga itu.


"Boleh minta tolong sesuatu?" lanjut Julian yang memiliki sebuah ide di kepalanya untuk saat ini.


Vian menatap lurus ke arah Julian. "Apa?" tanya Vian dengan nada pelan. Vian cemas Julian memiliki ide yang aneh aneh, tetapi selama ini Julian belum mengeluarkan ide ide yang tidak masuk akal itu.


"Fotoin gue dengan papan bunga itu pakai HP loe ya" kata Julian menyebutkan apa keinginannya kepada Vian.


Vian mengangguk cepat menjawab apa yang disampaikan oleh Julian kepada dirinya. Vian sama sekali tidak menyangka, permintaan Julian sangat sederhana sekali. Permintaan yang bisa langsung dikabulkan oleh Vian saat itu juga.


'Tidak ada orangnya, papan bunganya pun jadi' ujar Julian dalam pikirannya sendiri.


Julian memberikan semangat kepada dirinya sendiri. Julian tidak ingin larut dalam kesedihan karena Bryan tidak hadir dalam sidang terbukanya itu. Julian hanya memiliki satu pemikiran bahwasanya Bryan sedang sangat sibuk di tempat kerjanya, sehingga dia tidak bisa datang. Lagian semuanya berawal dari kesalahan Julian juga, Julian tidak memberitahukan kepada Bryan kapan dia akan sidang terbuka.


Julian berdiri dan berpose di dekat papan bunga itu. Bryan melihat semua itu dari jauh sambil tersenyum. Setelah beberapa kali Julian bergaya di papan bunga untuk dirinya itu, serta menjadi pandangan beberapa rekan rekan mahasiswa, sambil rekan rekan mahasiswanya itu memandang Julian dengan tatapan mengejek Julian.


Bryan keluar dari persembunyiannya sambil berjalan menunduk. Bryan memberikan kode kepada Vian untuk meminta Julian melanjutkan kegiatan berfhotonya.


"Julian, gue rasa ada yang blur foto loe. Kita ulang lagi ya" kata Vian meminta kepada Julian agar Julian mau mengulang pengambilan beberapa fhoto lagi.


"Oke" kata Julian menjawab dengan bersemangat. Hal itu sontak membuat Vian menjadi sangat kaget, biasanya Julian akan sedikit marah saat di suruh ulang melakukan sesuatu. Sedangkan ini Julian sangat bersemangat sekali.


Saat itulah seseorang dari belakang muncul melakukan adegan fhoto bersama dengan Julian.

__ADS_1


__ADS_2