
Bryan, Felix serta diikuti oleh Andri berjalan menuju meja resepsionis yang letaknya pas di depan lobby. Dua orang resepsionis menyambut tiga orang tamu mereka itu.
"Selamat pagi tuan. Selamat datang kami ucapkan di perusahaan Witama Grub. Ada yang bisa kami bantu?" ujar resepsionis menyapa Bryan dan yang lainnya dengan sangat hormat dan seperti sudah terbiasa mengatakan hal hal yang dikatakannya tadi kepada semua orang.
"Saya. mau bertemu dengan direktur. Apa direktur Anda ada di ruangannya" ujar Bryan memberitahukan keperluannya datang ke perusahaan itu.
"Maaf sebelumnya tuan, apakah tuan bertiga sudah membuat janji temu dengan direktur kami?" tanya resepsionis dengan sangat ramahnya.
"Sama sekali belum. Tapi kalau Anda mengatakan siapa nama saya, sudah pasti dia akan langsung menjawab akan bertemu dengan saya" ujar Bryan yang sudah mulai kesal dengan apa yang dilakukan oleh resepsionis itu.
Tetapi Bryan paham kalau itu hanyalah SOP yang harus dilakukan dan diikuti oleh resepsionis tersebut. Sehingga Bryan tidak boleh emosi.
"Maaf Tuan, saya sampai lupa. Silahkan isi buku tamu dulu Tuan. Nanti akan say hubungi direktur mengatakan kalau anda sedang menunggu di perusahaan" ujar resepsionis sambil memberikan buku untuk di isi oleh Bryan.
Felix kemudian mengisi buku tamu itu dengan tulisannya yang sangat rapi sesuai dengan penampilan Felix. Felix menulis nama Bryan Putra Witama sebagai nama pertama, setelah itu barulah nama dirinya dan nama Andri di urutan ketiga.
Resepsionis yang membaca siapa tamu yang sekaranh sedang berdiri di depannya ini, tamu yang akan membuat siapa saja lututnya akan menjadi bergetar tidak karu karuan, tamu yang sekarang sukses membuat wajah kedua resepsionis menjadi pucat pasi. Hilang sudah darah di wajah resepsionis tersebut.
"Apa saya bisa menemui direktur itu sekarang?" tanya Bryan kepada kedua resepsionis yang sudah seperti mayat hidup tersebut saking takutnya mereka saat membaca nama Bryan yang tertulis di buku tamu.
"Bi bi bisa Tuan Muda" jawab resepsionis yang sudah menukar panggilannya kepada Bryan.
"Saya akan mengantarkan Anda ke ruangan direktur" ujar resepsionis yang satu nya lagi. Resepsionis yang dari tadi hanya diam saja.
"Tidak perlu. Saya bisa ke sana sendirian" ujar Bryan menolah pertolongan dari resepsionis.
"Anda cukup bekerja dengan baik saja. Jangan hanya menyuruh teman Anda saja" ujar Bryan memberikan skak mat kepada resepsionis itu.
Resepsionis langsung terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya. Dia tidak menyangka kalau Bryan akan memperhatikan semuanya dengan sangat baik. Termasuk dirinya yang dari tadi diam saja tidak bekerja.
"Nona, Tuan muda tidak suka wanita penjilat seperti Anda. Jadi jangan mempermalukan diri anda sendiri" kali ini Felix yang memberi skak mat kepada resepsionis itu.
Resepsionis semakin tidak ada muka sekarang di depan tiga orang pria yang berada di hadapan dirinya.
Sedangkan Andri hanya bisa kaget saat melihat sikap dingin dan kejam dari Bryan dan Felix. Sikap yang sangat berbeda saat mereka berada di mobil tadi. Bahkan Andri yang notabene adalah seorang sopir bisa memberikan saran kepada Bryan dan Felix bahkan diterima dengan sangat baik oleh mereka berdua.
'Tuan Muda dan tuan Felix sangat pandai menempatkan diri mereka di posisi yang tepat" ujar Andri memuji pengendalian diri dari Bryan dan Felix.
Bryan dan Felix berjalan berisisan. Sedangkan Andri mengikuti mereka dari belakang. Andri masih belum tau apa tugasnya sekarang ini, makanya dia hanya mengikuti Bryan dan Felix saja.
__ADS_1
Felix menekan lift yang diperuntukkan untuk petinggi perusahaan dan orang orang penting yang akan bertamu ke perusahaan. Perusahaan Witama Grub memang membedakan lift untuk pimpinan dan karyawan. Hal itu bukan karena akan membuat perbedaan tetapi hanya karena mobilitas saja. Karyawan perusahaan Witama sangat banyak. Sehingga perusahaan merasa perlu untuk membedakan lift.
Bryan, Felix dan Andri masuk ke dalam ruangan direktur yang ternyata masih kosong itu. Bryan melihat jam mahalnya, hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sedangkan direktur masih belum datang.
Felix mencatat semua kejadian yang ditemukan oleh dirinya di perusahaan cabang pulau balis ke dalam catatan yang selalu dibawanya kemana mana. Catatan itu nantinya akan menjadi referensi saat rapat global seperti yang diidekan oleh Andri di atas mobil.
"Apa perlu saya telpon Tuan muda?" Tanya Felix yang sekarang sudah dalam mode asisten Bryan.
"Tidak perlu. Kita harus lihat jam berapa dia datang." kata Bryan dengan nada marah yang sangat sangat terlihat dari nada bicara Bryan saat menjawab pertanyaan dari Felix tadi.
Bryan kemudian duduk di kursi direktur itu. Kursi yang sangat panas dan ternyata menjadi penyebab kerugian perusahaan miliknya itu.
"Nanti saat tuan itu datang kalian berdua kalau bisa usahakan tidak terlihat sama dia. Sedangkan saya akan tetap duduk di sini dengan santainya" ujar Bryan memberikan perintahnya kepada Felix dan Andri.
"Siap Tuan Muda" jawab Andri yang dari tadi tidak mengeluarkan suaranya.
Sedangkan Felix hanya mengangguk saja menjawab perkataan dari Bryan tadi. Felix melihat ada satu tombol berada di dinding bagian belakang tepat bersebelahan dengan almari yang ada di sana.
Felix yang rasa penasarannya sangat tinggi itu memencet tombol tersebut. Dan ternyata tombol itu membuat almari yang ada di belakang Bryan bergerak.
"Sepertinya ada ruangan rahasia di situ" ujar Bryan yang langsung penasaran dan berdir dari posisi duduknya.
Ternyata saat almari itu terbuka sempurna ada sebuah ruangan di balik almari tersebut. Bryan, Felix dan Andri masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Wow banyak sekali dokumen dokumen perusahaan" ujar Bryan takjub melihat apa yang ditemukannya di dalam ruangan itu.
Bryan mengambil satu dokumen dan membaca dokumen itu. Ternyata yang di simpan direktur di dalam ruangan itu adalah dokumen dokumen keuangan yang asli, bukan seperti yang diberikan setiap bulannya ke perusahaan utama sebagai laporan keuangan.
Felix dan Andri mengumpulkan semua dokumen dokumen tersebut dan menggantinya dengan kertas kertas kosong yang sengaja di buat oleh Andri seperti sebuah laporan.
"Oke kita keluar. Jangan sampai dia datang kita masih di dalam ruangan rahasia yang dibuatnya itu" ujar Bryan mengajak dua orang anggotanya untuk keluar dari dalam ruangan rahasia tersebut.
Felix dan Andri lebih memilih untuk berdiri di balik goreden tinggi yang ada di dalam ruangan direktur tersebut. Sedangkan Bryan tetap duduk di kursi direktur, tetapi tidak menghadap ke arah pintu masuk.
Saat semua orang sudah berada di posisi mereka masing masing, saat itulah pintu ruang kerja direktur terbuka dari luar. seorang pria pendek dan gembul sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
dia menatap ke kursi kerjanya yang menghadap ke almari yang ada di belakang.
'kenapa kursi itu menghadap ke sana? bukan ke pintu seperti yang seharuanya?" Ujar direktur saat melihat ke arah mana kursi itu menghadap.
__ADS_1
Direktur berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. dia sudah sangat yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di dalam ruangannya itu.
Tiba tiba saat direktur mendekat ke arah kursi. Bryan sengaja mengangkat kepalanya sedikit. Sehingga direktur bisa melihat kalau ada seseorang yang duduk di kursi kerjanya itu.
"siapa Anda, kenapa masuk ke dalam ruang kerja saya?" ujar direktur dengan suaranya yang keras.
Bryan sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh direktur. dia tetap dalam posisinya. Bryan tidak membalik untuk melihat direktur.
"kalau kamu tidak berbalik maka saya akan memanggil security untuk mengeluarkan Anda dari dalam ruang kerja saya" lanjut direktur mengancam Bryan dengan akan memanggil security untuk mengusir Bryan dari dalam ruang kerjanya itu.
Bryan masih tidak peduli dan tidak mendengar ancaman yang diberikan oleh direktur kepada dirinya. dia tetap saja duduk dengan tenang dalam posisinya yang sekarang ini.
"kamu berani menantang saya? kamu tidak tau sekarang sedang berhadapan dengan siapa" ujar direktur dengan nada suara yang terlihat kalau direktur itu tersinggung oleh tingkah Bryan yang masih tetap tidak mau berbalik untuk melihatkan wajahnya kepada direktur itu.
Felix yang mendengar apa yang dikatakan oleh direktur hanya bisa menahan tawanya. dia tidak mungkin mengeluarkan tawanya karena pastinya direktur akan mendengar suara tawa Felix, sehingga apa yang direncanakan oleh Bryan tidak akan terwujud. Makanya Felix memilih untuk menahan tawanya walaupun membuat perutnya menjadi sakit dan tegang seketika.
Tuan direktur yang sudah tidak sabaran lagi dengan ulah Bryan menghubungi bagian security untuk menyuruh mereka datang ke ruang kerjanya.
Bryan yang sudah tidak tahan lagi untuk tertawa masih berusaha untuk tetap tenang. Dia ingin melihat bagaimana reaksi para security saat melihat wajahnya dan mengetahui siapa dia.
Tiga orang security berjalan dengan tergesa gesa untuk masuk ke dalam lobby perusahaan. Resepsionis yang tadi melayani Bryan dan kedua anggotanya itu langsung saja menyapa tiga orang security.
"eh mau kemana? " tanya resepsionis kepada tiga orang security itu.
"mau masuk ke ruangan direktur. ada penyusup yang masuk ke sana" jawab salah seorang security kepada resepsionis.
"aduh jangan cari perkara. balik aja ke pos. kalian tidak tau siapa yang berada di dalam ruangan direktur itu" ujar resepsionis yang tidak ingin ketiga security itu mendapatkan apa yang didapatkan oleh resepsionis yang satunya lagi.
"emang mereka siapa?" tanya salahs sorang security kepada resepsionis.
"tuan muda Witama dan tuan Felix. apa kalian bertiga mau berurusan dengan mereka?" Tanya resepsionis lagi.
"wow lebih baik tidak" Jawab ketiga security itu dengan kompak.
"kami akan balik ke pos saja. tidak mau mempertaruhkan nasib kami untuk menolong direktur" ujar salah satu satpam yang lainnya.
"itu adalah pilihan yang paling tepat" Ujar resepsionis mendukung pilihan dari tiga orang satpam itu.
Ketiga satpam tersebut kembali ke pos jaga mereka masing masing. mereka bertiga tidak mau mempertaruhkan pekerjaan mereka karena hanya untuk membantu direktur yang sedang berada dalam masalah yang luar biasa mengerikannya itu.
__ADS_1
Direktur harus menyelamatkan sendiri nasibnya sekarang. Dia tidak bisa minta bantu kepada siapapun lagi. Direktur hanya bisa membantu dirinya sendiri saja sekarang.