Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #98


__ADS_3

Bryan yang mondar mandir tidak jelas itu sibuk berbicara sendirian. Gengsi seorang CEO nya bentrok dengan rasa persahabatan yang ada. Bagaimanapun juga Bryan butuh Felix sekarang. Felix satu satunya orang yang memiliki dokumen permasalahan perusahaan cabang.


"Telpon"


"Nggak"


"Telpon"


"Enggak"


"ah ribet banget"


"ngapain juga jadi kayak anak SD yang menjawab soal pilihan ganda gue"


Bryan menghitung sambil melangkah satu satu. Bryan benar benar seperti anak kecil yang sedang berusaha mengambil keputusan yang sangat penting.


Saat sedang pusing seperti itu ponsel milik Bryan berdering. Bryan sudah tau siapa yang menghubunginya, karena ponsel Bryan yang satu itu hanya Julian yang memiliki nomornya.


"Hallo sayang" ujar Bryan langsung menyapa Julian.


"Kamu udah sampe sayang?" tanya Julian yang tidak mendengar bunyi apapun di dekat Bryan saat ini.


"Udah sayang. Ini sedang chik in hotel. Kamu udah di rumah?" tanya Bryan yang lupa melihat jam tangannya untuk melihat pukul berapa sekarang.


"Sayang ini udah pukul setengah sembilan malam. Ngapain juga aku masih di perusahaan. Emang aku satpam" ujar Julian menjawab pertanyaan tidak jelas dari Bryan.


"Maaf sayang. Aku lupa lihat jam" kata Bryan sambil duduk di sofa lebar yang ada di dalam kamar hotelnya itu


Bryan membayangkan sesuatu di sana yang bisa dilakukannya dengan Julian. Sesuatu yang akan membuat sofa itu menjadi basah. Serta membuat Bryan dan Julian juga menjadi basah.


Bayangan bayangan seperti itu membuat Bryan menjadi serba salah. Bryan benar benar ingin mengungkap siapa dirinya sebenarnya kepada Julian. Tapi Bryan mash belum sanggup dengan konsekuensinya.


"Sayang, kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Julian yang tau sekarang Bryan sedang memiliki pemikiran berat. Julian sangat yakin akan hal itu.


"Nggak ada mikirin apa apa sayang" jawab Bryan yang tidak mau mengaku kepada Julian.

__ADS_1


"Sayang, kita sudah lama bersama. Nggak satupun yang bisa kamu simpan dari aku. Kecuali siapa diri kamu sebenarnya. Kebetulan juga aku nggak peduli dengan hal itu" kata Julian dengan nada yang sudah berubah.


Bryan bisa merasakan perubahan nada bicara dari Julian. Bryan sekarang mengerti kalau Julian dalam mode serius, tidak bisa di ajak bercanda lagi.


"Sekarang tolong jawab pertanyaan aku. Kamu kenapa" kata Julian dengan nada final.


Perubahan mood Julian sangat jelas sekali. Bryan tidak bisa mengelak dari pertanyaan yang diajukan oleh Julian kepada dirinya lagi.


"Maafkan aku. Sebenarnya Felix marah sama aku" kata Bryan mulai membuka percakapan dengan Julian.


"Kenapa? Karena sepanjang perjalanan pergi tadi, kamu chat dengan aku terus? Benerkan gara gara itu?" tebak Julian yang langsung bisa menebak kenapa Felix bisa marah ke Bryan.


Bryan terdiam. Dia tidak mungkin menjawab memang benar itu yang terjadi. Bryan hanya bisa terdiam saja tanpa menjawab perkataan dari Julian.


"Sayang, seharusnya kamu bijaksana jadi rekan kerja. Aku di posisi Felix juga akan kesal dan marah, kalau rekan kerja aku tidak serius bekerja. Hanya terus ngirim pesan chat. Apalagi tadi Felix yang bawa mobil" kata Julian menerangkan dan memberikan nasehat kepada Bryan.


"Tapi sayang" Bryan ingin menyanggah apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


"Jangan sanggah aku dulu. Dengarkan dulu, baru nanti kamu sanggah" kata Julian sifat aslinya yang tegas itu keluar.


"Kamu harusnya paham sayang. Felix bawa mobil itu tentu butuh teman untuk bercerita. Nah teman yang mau dia ajak cerita sibuk dengan ponselnya. Siapa yang tidak akan kesal." lanjut Julian lagi.


"Sekarang aku tanya kamu. Kalau kamu di posisi Felix marah tidak, kalau rekan kamu satu mobil sibuk dengan ponselnya, padahal kamu sedang bawa mobil" tanya Julian membalikkan posisi antara Bryan dengan Felix.


"Marah lah. Enak aja aku capek nyupir dia sibuk ngirim pesan chat" jawab Bryan langsung menyambar pertanyaan dari Julian.


"Nah itu poinnya sayang. Hal yang sama sekarang terjadi kepada Felix" kata julian yang berhasil membuat Bryan mengerti akan kesalahannya tadi pagi.


Bryan terdiam mendegar sambaran jawaban dari Julian. Dia tidak menyangka dia akan terkena pancingan dari Julian. Sekarang pasti Julian sudah mulai marah ke dirinya.


"Kamu marah ke aku sayang?" tanya Bryan yang sangat cemas kalau Julian akan marah ke dirinya.


Wibawa seorang CEO telah hilang dari dalam diri Bryan saat dia mulai mencintai Julian dengan hati dan pikirannya.


"Aku marah sama kamu iya." jawab Julian mengakui kalau dia memang marah kepada Bryan.

__ADS_1


"Marah aku karena kamu terlalu tidak bisa membedakan antara urusan pribadi dengan pekerjaan." lanjut Julian lagi.


"Aku sangat tau kalau kamu tidak bisa pisah jauh dari aku. Aku pun sama merasakan akan hal itu."


"Tapi kita berdua harus bisa memisahkan antara urusan pribadi dengan pekerjaan. Jangan pernah di campur adukkan." kata Julian benar benar memberikan nasehat kepada Bryan.


"Kalau kamu mencampur adukkan antara urusan pekerjaan dengan pribadi ini yang terjadi. Jadi berantakan semuanya" kata Julian lagi.


Julian kemudian terdiam. Dia sudah terlalu banyak berbicara kali ini. Dia tau kalau dia sudah terlalu menceramahi Bryan. Julian ingin melihat bagaimana reaksi Bryan saat dirinya menasehati Bryan. Ini adalah kali pertamanya Julian menasehati Bryan.


"Kamu marah sama aku?" tanya Julian saat melihat sudah terlalu lama Bryan diam tidak memberikan reaksi apapun kepada Julian atas apa yang dikatakan oleh Julian kepada Bryan.


"Nggak sama sekali tidaktidak. Aku tidak marah sama kamu sayang. Malahan aku sangat senang kamu mau menasehati aku seperti ini" jawab Bryan sambil tersenyum bahagia, ternyata istrinya sangat peduli dengan dirinya.


"Makasih sayang. Aku karena sayang dan sangat peduli dengan kamu makanya ngasih tau hal itu" jawab Julian lagi.


"Sekarang kamu hubungi Felix. Pinter pinter kamu aja mau ngomong apa sayang. Pokoknya kamu nggak boleh marah atau bagaimana nya. Ada paham?" ujar Julian kembali meninggalkan pesan kepada Bryan.


"Siap sayang aku akan telpon felix sekarang juga" kata Bryan yang sekarang sudah sangat yakin untuk menghubungi Felix.


"oh ya sayang, kamu di rumah sama Vian kan ya? tidak sendirian?" tanya Bryan yang tidak mungkin membiarkan Julian tidur sendirian di rumah.


"sama vian sayang. nggak mungkin sendirian. aku juga takut kalau tidur sendirian di rumah" jawab Julian lagi sambil membetulkan posisi duduknya.


"oke sayang. aku jadi tenang mendengarnya. aku takut kalau kamu tinggal sendirian di rumah" ujar Bryan.


"tenang aja sayang, nggak akan mungkin aku sendirian di rumah. kami tau sendirikan bagaimana Vian" jawab Julian


"udah sana telpon Felix dulu. kalau aku jangan cemas ada Vian di sini" lanjut Julian.


"muach sayang" kata Julian memberikan kecupan jauh kepada Bryan.


"muach" balas Bryan.


Julian kemudian menutup panggilan telponnya kepada Bryan. ternyata apa yang ada di dalam pikirannya tadi ada benarnya juga. Bryan sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2