Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #27


__ADS_3

'bilangin atau nggak ya? Aku takut nanti dia marah dan curiga lagi' kata Julian dalam hatinya.


Julian terlihat mondar mandir. Dia benar benar ragu kali ini mau mengatakan apa. Julian sangat ragu sekarang ini, antara mau mengatakan atau tidak perihal jadwal sidang terbuka disertasinya itu.


'Ah bilang ajalah. Apapun hasilnya nanti aja pikirin' lanjut Julian yang sudah memutuskan untuk mengatakan hal yang sedang diragukan nya itu.


"Bryan" panggil Julian dengan nada yang sangat berat.


Bryan melihat ke arah Julian. Dia sudah lama sekali tidak mendengar nada berbicara Julian yang seperti itu. Nada suara Julian sangat berbeda dari pada biasanya. Kali ini nada suara Julian seperti ada sesuatu yang telat disampaikan oleh Julian kepada Bryan, sehingga membuat Julian merasa kalau dirinya sangat bersalah kepada suaminya itu.


"Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu dengan kamu?" tanya Bryan dengan nada khawatir. Bryan takut sesuatu terjadi terhadap diri Julian atau terhadap pekerjaan Julian dan juga terhadap tugas akhir Julian.


Julian menggeleng lemah. Dia sangat takut melihat ke arah Bryan. Bryan yang melihat Julian berubah sikap itu menjadi pusing sendiri. Bryan merasa kalau tadi malam mereka berdua dalam kondisi baik baik saja. Tidak terjadi sesuatu yang bisa memancing kemarahan dari Julian atau Bryan. Ntah kenapa pagi pagi suasana hati Julian bisa kacau seperti sekarang ini.


"Ada apa sayang? Jangan bikin aku cemas seperti ini" kata Bryan mendesak Julian memberitahukan ada masalah apa yang sedang terjadi terhadap Julian sekarang ini.


"Aku mau ngomong, tapi kamu jangan marah ya nanti saat mendengar apa yang aku katakan" ujar Julian sambil sedikit menatap ke arah Bryan. Julian memainkan kuku kuku jarinya. Itu adalah kebiasaan Julian saat dirinya sedang merasa bersalah kepada seseorang.


"Janji, aku tidak akan marah." jawab Bryan.


"Tetapi aku akan marah kalau kamu masih mencoba mengulur waktu untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran kamu sekarang ini" lanjut Bryan yang sudah sangat yakin Julian pasti masih akan tetap mencoba mengulur ulur waktu untuk mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya saat sekarang ini.


"Aku kan kemaren janji sama kamu untuk mengatakan jadwal sidang terbuka disertasi aku itu" kata Julian mulai mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya untuk saat itu.


"Ya benar. Terus apa hubungannya dengan masalah kegalauan kamu sekarang ini? " lanjut Bryan bertanya dengan tidak sabar kepada Julian yang masih bergulat dengan rasa cemas dan takutnya itu.

__ADS_1


"Nah itu dia. Aku lupa mengatakan sama kamu. Padahal dari waktu kamu jemput aku pulang kerja itu mau aku kasih tau. Ternyata karena kesibukan aku dan kamu, membuat aku sampai lupa mengatakannya" kata Julian mencoba menjelaskan secara terperinci kepada Bryan.


"Terus, kapan jadwalnya?" tanya Bryan yang sudah bisa memastikan kalau jadwal Julian melaksanakan Ujian sidang terbuka disertasinya adalah hari ini.


"Hari ini" Julian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bryan dengan menekurkan kepalanya dalam dalam.


Julian benar benar lupa untuk mengatakan kepada Bryan tentang jadwal sidang terbukanya itu. Julian menunggu reaksi yang diberikan oleh suaminya tersebut.


Bryan pantas marah dan kecewa kepada dirinya, Bryan lah yang sudah membantu Julian untuk menyelesaikan beberapa bagian tugas akhirnya itu. Tetapi pada saat tugas akhir itu akan disidangkan, Julian malahan lupa memberi tahu kan kepada orang yang membantunya selama ini.


"Maafkan aku Bryan" ujar Julian saat tidak mendengar reaksi apapun dari Bryan.


"Kamu layak marah sama aku. Tetapi sungguh, waktu kita jalan dari swalayan ke rumah, aku mau mengatakannya. Tetapi kita berdua sibuk bercerita tentang mimpi mimpi kita ke depannya" lanjut Julian berusaha sedikit membela dirinya. Dia tidak ingin Bryan menyalahkannya seratus persen.


Bryan masih mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. Dia ingin tau apakah Julian sebenarnya ada niat untuk memberitahukan tentang jadwal sidang terbukanya kepada Bryan atau tidak sama sekali. Ternyata seperti yang diduga oleh Bryan, Julian memang memiliki niat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Bryan. Tetapi karena beberapa hal membuat hal itu menjadi tidak tersampaikan.


Julian menatap lurus ke manik mata tajam setajam mata elang milik Bryan. Julian mencari sedikit saja kebohongan di sana. Tetapi yang disyukuri oleh Julian, Julian sama sekali tidak menemukan kebohongan di sana. Apa yang dikatakan oleh Bryan semuanya adalah kebenaran.


"Sumpah sayang, aku tidak marah sama sekali ke kamu. Malahan, aku mau mengucapkan selamat berjuang, dan aku yakin kamu akan sukses" kata Bryan yang ternyata memberikan doa untuk istri cantiknya itu.


Julian memeluk erat Bryan. Dia tidak menyangka kalau doa yang akan diberikan oleh Bryan kepada dirinya. Dia sangat bahagia akan hal itu. Sebuah doa dari suami sudah menyertai dirinya untuk berjuang dalam sidang terbuka disertasi yang sudah dibuatnya itu.


"Jadi, hari ini jam berapa kamu akan sidang terbuka?" tanya Bryan yang memiliki sebuah ide di dalam kepalanya itu.


"Jam empat menurut jadwal. Bisa mundur, tapi kalau maju tidak mungkin, karena sudah disesuaikan dengan jadwal dosen pembimbing dan dosen pengujinya" kata Julian menjelaskan kapan jadwal dirinya untuk melakukan sidang terbuka disertasi itu.

__ADS_1


"Okeh, hati hati ya. Sukses ya. Jangan lupa berdoa sebelum memulai sidang" lanjut Bryan menitipkan pesan pesannya kepda Julian.


"Satu lagi, kalau kamu ragu dan sedikit gugup, kamu harus menyebut nama aku.... " kata Bryan. Ucapan Bryan yang belum selesai di sambar Julian.


"Tiga kali" sambar Julian.


"Wah lima kali dong. Tiga kali, emangnya aku jin imprit" balas Bryan sambil menahan senyumannya.


Kekakuan yang sempat terjadi tadi sudah perlahan mencair. Julian sudah bisa kembali bercanda seperti semula. Dia sudah sedikit melupakan tragedi lupa menyampaikan jadwal sidang terbukanya kepada Bryan.


"Oke, aku akan mengingat pesan pesan dari manager aku" jawab Julian lagi.


Mereka berdua kemudian keluar dari dalam rumah. Ternyata Kevin sudah menunggu sepasang suami istri itu di luar.


"Bryan, itu Kevin" ujar Julian saat melihat ada sebuah mobil yang sama dengan mobil yang kemaren mereka tumpangi.


"Ya, aku dan dia mau dinas pergi ke tempat rekan bisnis perusahaan" jawab Bryan sekenanya saja.


"Oh oke. Berarti kamu nggak hadir dong di sidang terbuka aku?" ujar Julian dengan nada lemah saat mereka berdua sudah di dalam mobil Kevin.


"Eh ada yang mau sidang terbuka? Selamat kalau begitu Julian. Semoga sukses dan lancar selancar jalan tol untuk ujian disertasinya" kata Kevin mendoakan kesuksesan Julian dengan tulus.


"Makasi Kevin" jawab Julian


Tak terasa mereka sudah sampai di pintu gerbang kampus Julian. Vian sudah berdiri di sana menunggu kedatangan Julian.

__ADS_1


"sukses sayang" Ujar Bryan memberikan semangat kepada istrinya itu.


"makasi Bryan" Jawab Julian sambil tersenyum.


__ADS_2