Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #22


__ADS_3

"Ya. Aku masak sesuatu yang kamu sangat sukai. Aku masak dengan serius, lebih serius dari pada biasanya dan aku sangat yakin kalau masakan kali ini lebih enak dari pada masakan yang biasanya kita makan berdua" jawab Julian dengan nada bangga, dan sangat sangat yakin dengan masakan yang sekarang di masaknya.


"emang kamu tau makanan apa yang aku suka? Perasaan selama ini aku tidak pernah mengatakan masakan yang aku suka ke kamu sayang. Masak dengan tiba tiba saja kamu tau makanan kesukaan aku? " tanya Bryan penasaran dari mana Julian sampai mengetahui makanan kesukaan dari Bryan, padahal pada kenyataannya memang benar Bryan tidak pernah mengatakan makanan kesukaannya kepada Julian, Bryan selalu makan apapun masakan yang dimasak oleh Julian selama ini. Bryan sama sekali tidak pernah protes dengan masakan yang dibuat oleh Julian dan juga tidak pernah memesan makanan apapun kepada Julian.


"Lihat saja nanti, aku pastikan kamu akan suka dengan apa yang aku masak. Aku bisa pastikan itu" jawab Julian dengan nada yang sengaja membuat Bryan menjadi tidak sabaran lagi untuk melihat menu makan malam yang sudah disiapkan oleh Julian di atas meja makan


"Aku sudah tidak sabaran lagi" kata Bryan yang sangat ingin melihat apa yang dimasak oleh Julian dan membuat Julian sebangga itu dengan masakannya.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju meja makan yang terletak di depan dapur bersih. Julian tadi sudah menyimpan menu makan malam yang akan mereka makan berdua ke dalam alat pemanas masakan. Julian sangat tau kalau Bryan tidak suka makan makanan yang sudah dingin, sehingga dia sudah memasukkan menu makan malam mereka ke alat pemanas.


"Kamu duduk di sini dulu. Aku keluarkan dulu makanannya" ujar Julian. Julian berjalan menuju lemari tempat dia menyimpan menu makan malam untuk mereka berdua.


Bryan duduk di kursinya, semua peralatan untuk makan malam sudah berada di atas meja makan. Julian pergi mengambil menu makan malam mereka. Bryan yang melihat air masih kosong, mengisi gelas air minum denga air putih yang ada di dalam teko.


Julian menaruh tempe mendoan goreng dan juga goreng terong balado ke atas meja terlebih dahulu. Julian sengaja menaruh dua menu makan malam itu terlebih dahulu. Sedangkan menu makan malam spesial sengaja paling terakhir di taruh Julian.


"Sayang mana yang spesialnya? Dari tadi aku melihat makanan yang sudah biasa kamu masak sayang." tanya Bryan saat melihat menu makanan yang dihidangkan oleh Julian di depan matanya. Dia benar benar sudah tidak sabaran lagi untuk melihat masakan apa yang dimasak oleh Julian yang dikatakan oleh Julian sebagai makanan yang spesial.


"Sabar dong. Ini sedang di ambil. Kalau dingin nanti kamu nggak suka. Kamu kan nggak suka makanan yang sudah dingin. Kamu sukanya makanan yang selalu panas. " jawab Julian sambil berjalan menuju arah meja makan.


Bryan berusaha mencium bau dari masakan yang spesial dibuat oleh Julian. Tetapi Bryan tidak mendapatkan bau yang diinginkannya. Sama sekali tidak ada bau yang tercium oleh indra penciuman Bryan.


"Sayang, kamu menutup piring dengan plastik ya? Sehingga aku tidak bisa mencium wangi dari makanan itu?" tanya Bryan saat dirinya melihat Julian yang sudah mendekat tetapi mengangkat piring tinggi tinggi supaya Bryan tidak melihat isi piring yang sedang di bawa oleh Julian.


"Haha haha haha. Kamu benar benar manusia tidak sabaran. Sama makanan saja kamu tidak sabar, apa lagi dengan yang lain" kata Julian sambil menepuk pundak Bryan dengan sayang. Bryan tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Julian kepada dirinya.


"Eeee jangan salah kamu sayang. Aku ini sangat sabar. Kamu ingat ingat sendiri aja, udah berapa bulan aku sabar" ujar Julian menyanggah apa yang dikatakan oleh Julian tentang dirinya.


Julian tau kemana arah pembicaraan dari seorang Bryan. Dia tidak mau meladeni pembicaraan itu. Bisa bisa dia akan malu sendiri kalau terus membahasnya.


Julian kemudian menaruh makanan spesial itu di depan Bryan. Bryan menatap tidak percaya ke arah makanan yang diletakkan oleh Julian di hadapannya saat ini. Julian benar benar menghidangkan makanan paling spesial di hadapan dirinya.


"Sayang, kamu beneran tau makanan kesukaan aku?" kata Bryan kepada Julian dengan wajah terpana melihat makanan yang disajikan oleh Julian malam ini.


Julian tersenyum bahagia. Makanan itu berhasil membuat Bryan menjadi mendadak bahagia. Mata Bryan berbinar binar melihat menu makanan yang disajikan. Makanan yang paling disukai oleh dirinya, makanan yang sudah lama tidak pernah lagi di cicipi oleh Bryan semenjak dirinya kehilangan seseorang yang paling pintar membuat makanan kesukaan Bryan.


"Sayang, tolong jawab darimana kamu tau makanan kesukaan aku adalah ayam kecap?" tanya Bryan penasaran darimana Julian bisa mengetahui makanan favoritnya itu.


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Julian balik.

__ADS_1


Bryan mengangguk.


"Nanti saja ya. Sekarang lebih baik kita makan terlebih dahulu. Setelah itu baru kita ngobrol ringan selesai makan"


Julian memberikan usulan supaya mereka makan terlebih dahulu karena mereka berdua sudah sama sama lapar karena dari siang mereka berdua sama sama belum makan.


Julian mengambilkan nasi dan sayur serta sambal lado untuk Bryan. Setelah itu giliran Julian mengisi piringnya sendiri dengan menu makanan yang akan di nikmatinya.


"Kamu mau bagian ayam yang mana sama berapa potong?" ujar Julian sambil membuka plastik penutup ayam kecap itu.


"Aku mau bagian pahanya satu terus bagian sayap satu" jawab Bryan yang memang sangat suka makan bagian ayam yang dua itu saja.


Julian menaruh dua potong ayam di atas piring Bryan. Sedangkan dia mengambil satu bagian dada ayam untuk dirinya sendiri. Padahal biasanya Julian juga sangat suka bagian sayap, tetapi karena Bryan sangat suka dengan bagian sayap, membuat Julian memilih untuk memakan bagian dada.


Mereka berdua kemudian menikmati makan malam yang disiapkan oleh Julian. Julian sambil makan mencuri curi pandang ke arah Bryan, Julian ingin melihat bagaimana reaksi Bryan saat mencoba menikmati ayam kecap yang dibuatnya.


"Gimana rasanya?" tanya Julian penasaran dengan penilaian Bryan terhadap ayam kecap yang dibuatnya tadi.


"Rasanya....... Gimana ya... "


"Hem....... Hem...... Hem..... "


Bryan mengunyah ayam kecap nya dengan gaya seorang chef ternama yang sedang mencoba makanan yang dibuat oleh peserta lomba memasak. Julian menunggu dengan tidak sabar lagi hasil penilaian dari Bryan. Tetapi Bryan masih dengan gayanya, Bryan masih belum memberikan komentar apa apa tentang menu ayam kecap yang dimasak oleh Julian.


"Kalau menurut kamu bagaimana?" Bryan balik bertanya kepada Julian tentang rasa ayam kecap yang dimasak oleh Julian sendiri.


"Is kamu ngadi ngadi bae. Kalau aku yang nilai ya sama aja dengan boong, sudah pasti aku akan katakan sangat enak karena aku yang masak" jawab Julian yang gedeg dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bryan kepada dirinya.


"sekarang jawab, gimana rasa ayam kecap nya?"


"jangan bertele tele gitu Bryan" kata Julian yang sudah tidak sabar lagi ingin mendengar penilaian dari Bryan akan ayam kecap yang sudah dengan susah payah dibuat oleh Julian tadi.


"wah sayang, kamu semakin marah semakin cantik" Kata Bryan yang mulai lagi mengusili Julian dengan kata katanya.


Bryan benar benar sangat suka jail terhadap Julian. ada saja tingkahnya yang akan membuat Julian menjadi marah dan emosi.


"Kamu baru sadar kalau istri kamu ini adalah wanita cantik?" kata Julian sambil memainkan rambutnya.


"ya aku baru sadar kalau kamu cantik" jawab Bryan sambil menatap lekat wajah cantik Julian.

__ADS_1


"Udah jangan mengalihkan pembicaraan. aku tidak akan terpancing karena itu. Jadi jawab pertanyaan aku tadi bagaimana rasa dari ayam kecap buatan aku" kata Julian.


"Yah masih ingat?" Bryan melongos tidak percaya ke arah Julian yang ternyata tidak bisa dialihkan dengan mengatakan kalau Julian cantik.


"ingatlah. Emang aku wanita wanita diluaran sana yang setiap kali dikatakan cantik akan langsung lupa dengan pertanyaan sebelumnya"


"Oh tidak segampang dan semudah itu verguso" ujar Julian sambil menggoyang goyangkan jari telunjuknya di depan wajah Bryan.


"Haha haha haha. Kamu memang tidak seperti wanita wanita di luar sana sayang. Kamu spesial" jawab Bryan sambil tersenyum tulus ke arah Julian. Pujian yang memang keluar dari hati yang paling dalam dari seorang Bryan.


"Bryan........... nnnnnnnnnnnn. stop mengalihkan topik pembahasan. Sekarang jawab pertanyaan dari aku tadi. Bagaimana rasa dari ayam kecap yang aku masak" kata Julian sambil menatap ke arah Bryan dengan membesarkan mata indahnya itu.


"Rasanya sangat enak. Enak dari pada ayam kecap yang biasa aku makan" jawab Bryan.


"Emang kapan terakhir kamu makan ayam kecap?" tanya Julian balik.


"Sekitar lima tahun yang lewat" jawab Bryan.


"Hem lama juga. Pantesan ayam kecap buatan aku menjadi ayam kecap yang sangat lezat menurut kamu" jawab Julian dengan santai.


Bryan menganggat alis matanya tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


"Lah iyalah, lima tahun yang lewat itu udah sangat lama sekali. Makanya kamu sudah tidak bisa membandingkannya lagi dengan rasa masakan yang lama" jawab Julian dengan santainya.


"terserah ajalah, terpenting bagi aku ini adalah ayam kecap terenak yang pernah aku coba dan aku rasakan seumur hidup aku" jawab Bryan.


Sekarang giliran Julian mengangkat alis matanya.


"Percaya atau tidak tetapi itulah kenyataannya" jawab Bryan dengan santai.


"ya ya ya ya. Sekarang apa kamu sudah siap makannya?" tanya Julian saat melihat sudah tidak ada lagi nasi di atas piring Bryan.


"sudah" jawab Bryan.


"Kamu bisa bantu aku untuk merapikan meja makan?" tanya Julian kepada Bryan.


"oke" jawab Bryan.


"Makasi"

__ADS_1


"sama sama"


Bryan kemudian merapikan meja makan, Bryan memindahkan piring kotor ke dalam tempat cuci piring. Sedangkan Julian terlihat pergi ke dalam kamar. Dia menaruh kotak hadiah yang sudah disiapkan nya di atas kasur.


__ADS_2