
#Mansion Utama Keluarga Witama#
"Mami, Tania lihat Mami dari tadi tidak ada senyumnya. Ada apa?"
"Nggak biasanya mami seperti ini. Biasanya Mami tersenyum terus, nggak cembudut seperti sekarang ini"
Tania putri bungsu keluarga Witama yang sejak tadi memperhatikan Mami pada akhirnya bertanya juga kepada orang tuanya itu. Sejak mulai dari siang, Mami sama sekali tidak pernah tersenyum. Mami terus saja cemberut seperti seseorang yang sedang marah dan kesal terhadap suatu hal.
Tuan besar yang juga dari tadi memperhatikan wajah istrinya, sebenarnya ingin bertanya kenapa wajah cantik istrinya itu dari tadi cemberut saja. Cuma karena Tuan besar tau bagaimana watak istrinya membuat dirinya memutuskan untuk tidak bertanya. Hal ini dilakukan oleh Tuan besar karena tidak ingin hati dan mood istrinya itu menjadi rusak.
"Mami sedang kesal dan marah sayang" jawab Mami sambil melihat ke arah Tania dan ke arah suaminya.
"Kenapa Mami? Apa ada seseorang yang membuat Mami menjadi kesal dan marah?" lanjut Tania berusaha mencari tau hal apa yang membuat Mami nya menjadi seperti ini.
Mami menggangguk. Mami kemudian menceritakan kepada Papi dan Tania hal apa yang membuat Mami menjadi tidak mood dan tidak ada tersenyum dari tadi siang.
"Kenapa kakak bisa seperti itu Mami? Apa penyebabnya?" tanya Tania selanjutnya.
"Kita kan tau kalau kakak tidak akan pernah menjawab perkataan dari Mami, apalagi harus berkata seperti itu kepada Mami" lanjut Tania yang sangat mengenal sifat dan karakter Bryan.
"Mami juga tau akan hal itu Tania. Makanya hal itu membuat Mami menjadi kesal dan marah. Mami tidak mengerti kenapa kakak kamu bisa berubah secepat itu" jawab Mami dengan nada lemah dan kecewa dengan sikap Bryan kepada dirinya.
Tuan besar dan Nyonya besar Witama dan Tania terdiam. Mereka bertiga berfikir keras, mencari penyebab kenapa dengan tiba tiba Bryan bisa berubah sikap dan tindakannya kepada Mami.
"Mami, Papi minta maaf sebelumnya kepada Mami" ujar Papi kepada istrinya itu.
__ADS_1
Mami dan Tania melihat ke arah Papi. Wajah Papi sekarang terlihat sangat serius sekali. Papi seperti ingin mengatakan sesuatu yang sedikit agak menyinggung perasaan Mami. Makanya Papi sebelum memulai ceritanya terlebih dahulu meminta maaf kepada Mami.
"Kenapa Papi harus meminta maaf sebelum ngomong sama Mami?" kali ini masih Tania yang bersuara.
Mami masih setia dengan diamnya. Mami sama sekali tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Ini menurut Papi ya Mami. Hanya menurut Papi saja. Keputusan ini palingan hanya menurut pandangan Papi saja, menurut analisa Papi saja." ujar Papi memulai pembicaraannya.
"Iya Papi iya, semuanya menurut pandangan Papi. Jadi sekarang apa isi dari menurut pandangan Papi?" ujar Mami yang sudah tidak sabar mendengar isi pandangan dari Papi.
"Menurut Papi ya Mi. Salah satu hal yang membuat Bryan menjadi seperti itu kepada kita kedua orang tuanya, asal masalahnya dari kita juga Mami" kata Papi memulai membuka ceritanya.
"Maksud Papi bagaimana? Kenapa bisa Papi mengatakan hal seperti itu?"
"Apa Mami salah membantu menolong mencarikan Bryan istri yang cocok?" kata Mami balik bertanya kepada Papi
Papi melihat ke arah istri cantiknya itu. Istri yang sudah menemaninya selama ini. Istri yang nggak banyak omong dan tidak banyak tingkah. Tetapi sangat sangat protektif terhadap anak anaknya.
"Mami, maksud Papi bukan menyalahkan Mami telah memberikan masukan kepada Bryan tentang siapa yang akan dijadikannya calon istri. Tetapi Mami, cara Mami yang mendesak Bryan itu yang salah." kata Papi menjelaskan kepada Mami yang sedang dalam mode tidak baik baik saja.
"Mami harus tau kalau anak zaman sekarang tidak bisa lagi di paksa paksa dan dijodoh jodohkan" lanjut Papi.
"Papi denger Mami ya. Tolong denger Mami" kata Mami yang sekarang sudah menjadi emosi dan marah saat mendengar apa yang dikatakan oleh Papi kepada dirinya.
Tania yang melihat suasana obrolan kedua orang tuanya sudah tidak sehat lagi. Hanya bisa berdiam diri saja. Dia tidak mungkin menghentikan pembicaraan itu, dia tidak punya kuasa atas itu. Sedangkan kalau tidak dihentikan maka pertengkaran tidak bisa dielakkan.
__ADS_1
'Huft kenapa tadi gue harus bertanya kepana Mami cemberut ya. Nyesel gue asli nyesel' kata Tania dalam hatinya sambil melihat ke arah Papi dan Mami bergantian.
"Mami, Papi tidak menyalahkan Mami. Sama sekali tidak. Cuma cara Mami yang sudah tidak tepat lagi. Mami terlalu memaksa kepada Bryan. Jangan paksa Bryan seperti itu Mami." lanjut Papi berusaha menjelaskan sebaik baiknya kepada Mami.
"Mami tidak memaksa Papi. Sama sekali tidak memaksa. Mami melakukan semua yang terbaik untuk anak anak mami. Mami tidak ingin mereka salah mencari pasangan. Makanya, mami membantu mereka" Mami masih keras kepala dengan apa yang ada di dalam otaknya saat ini. Mami sama sekali tidak mencerna apa yang dikatakan oleh Papi kepada dirinya dengan tenang, Mami hanya mengedepankan emosinya saja.
"Mami, Papi paham dengan maksud dan tujuan Mami. Papi tau, tidak ada orang tua yang menginginkan sesuatu yang terburuk untuk anak anaknya. Tetapi kali ini cara Mami itu sedikit harus di ubah, supaya Bryan tidak merasa dikekang oleh Mami" kata Papi selanjutnya.
"Hanya mengubah sedikit saja. Tidak perlu banyak" lanjut Papi.
"Menurut Mami tidak ada yang perlu diubah Papi. Mami akan tetap dengan cara Mami. Sedangkan sudah dengan cara yang seperti ini tidak juga, apalagi dengan lembut lembut" jawab Mami.
"Malahan ini ya Papi. Mami akan buat rencana yang lebih wow lagi" kata Mami dengan tekad bulat yang sudah tidak bisa di tawar lagi.
"Maksud mami?" tanya Papi yang tidak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh istrinya itu.
"Papi lihat saja nanti. Mami akan membuat Bryan tidak bisa menolak keinginan Mami lagi"
"Papi dan Tania hanya perlu melihat saja. Mami akan buat Bryan pulang dan kembali menjadi Bryan seperti sebelumnya" lanjut Mami sambil menatap lurus ke depan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.
Papi menatap ke arah Tania. Tania mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti dengan jalan pikiran Mami. Tania sama sekali tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Mami
"Papi nggak perlu tanya ke Tania. Tania tidak akan tau apa yang ada di dalam otak Mami sekarang ini. Jadi Papi tunggu sajalah. Papi nikmati sajalah apa yang akan terjadi nanti" Kata Mami saat melihat Papi dan Tania main kode kodean.
Papi dan Tania mengangguk, sekarang mereka berdua sudah tidak bisa lagi berbuat apa apa. Kalau Nyonya besar Witama sudah memiliki rencana dan keteguhan hati maka dia tidak akan menyerah dan mundur dari apa yang telah direncanakannya.
__ADS_1