
'Kami sebentar lagi zoom' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Felix kepada Bryan.
Bryan yang sedang berada di lobby perusahaan kaget saat membaca pesan chat yang dikirim oleh Felix kepada dirinya.
'Ngapain loe pagi bener rapatnya. Masih jam tujuh pagi inj' protes Bryan membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Felix kepada dirinya.
'Woi di sana memang bener jam tujuh pagi. sedangkan di sini sudah selesai jam makan siang' balas Felix yang sedikit kesal saat membaca balasan pesan chat dari Bryan.
'Haha haha haha haha. Maaf gue lupa.' balas Bryan sambil tersenyum sedikit. Dia tidak mau para karyawannya melihat dirinya tersenyum. Bagi Bryan kebaikan dirinya hanya boleh dilihat oleh dirinya saja tidak oleh orang lain.
'Oke. Kirim link zoom nya. Gue udah di ruangan' balas Bryan saat dia sudah berada di ruang kerjanya.
'Yakin loe di ruangan. Bukannya di kamar mansi?' balas Kevin.
'Haha haha haha. Loe memang asisten paling baik yang sangat mengenal gue' balas Bryan memuji bagaimana baiknya Kevin mengenal dirinya.
'Naik gaji gue bulan besok' balasan chat Bryan dari Kevin yang baru siap memuji Kevin.
'Suka hati loe aja' balas Bryan.
Sebuah link zoom masuk ke dalam ponsel Bryan. Bryan kemudian menghidupkan laptop miliknya. Dia akan melakukan zoom memutuskan apa hukuman yang akan diberikan untuk orang yang sudah membuat dirinya rugi dalam finansial dan juga psikologis.
Felix dan kevin sekarang sudah berada di ruang kerja Bryan. Mereka berdua hanya tinggal menunggu semua staff berkumpul di dalam ruang meeting, setelah semua berkumpul barulah mereka akan masuk ke dalam ruangan dan akan memimpin jalannya rapat.
Sebenarnya mereka berdua ingin sekali meeting dari pagi, tetapi karena Bryan akan ikut membuat meeting dilakukan setelah jam makan siang, karena perbedaan waktu antara negara Francais dengan negara Indomesia ada sekitar enam jam.
"Tuan muda, semua manager sudah berada di ruangan" kata orang kepercayaan Bryan memberitahukan kepada Felix dan Kevin, kalau orang yang mereka tunggu sudah berada di dalam ruangan meeting, jadi mereka sudah bisa memulai rapat hari ini.
"Terimakasih kami akan ke sana sekarang" kata Felix dengan wajah datar dan tidak sedikitpun melihat ke arah direktur perusahaan itu.
'Mereka hanya sahabat. Tapi gaya lebih dari pada Bryan' ujar direktur dalam hatinya.
"Kami memang sahabat, tapi bisa mencopot anda dari jabatan Anda sekarang" kata Felix membalas langsung apa yang ada di dalam pikiran direktur itu.
Direktur langsung terdiam. Felix bisa membaca apa nyang ada di dalam pikirannya sekarang ini.
__ADS_1
Felix dan Kevin berjalan dengan langkah penuh percaya diri yang sangat tinggi untuk masuk ke dalam ruang meeting. Mereka berdua sama sekali tidak pernah tersenyum kepada orang orang yang bertemu dengan mereka sepanjang hari ini. Wajah Felix dan Kevin sangatlah masam. Semua orang yang bertemu dengan mereka berdua hanya bisa menundukkan kepala saja. Mereka takut melihat wajah kedua orang yang tidak bersahabat itu.
Felix dan Kevin duduk di kursi bagian depan. Sedangkan orang kepercayaan Bryan duduk di sebelah kiri Kevin. Wajahnya sudah sangat pucat seperti mayat saja.
"Kenapa anda terlihat sangat cemas sekarang? Ada apa?" tanya Kevin kepada orang yang duduk di sebelahnya saat ini.
"Eee eeee eee tidak ada Tuan Kevin" ujar orang kepercayaan Bryan sambil berusaha menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk saat ini.
"Kalau tidak ada apa apa, berarti anda sekarang sedang sakit sepertinya. Lihat saja wajah anda, pucat sekali" kata Kevin.
"Atau memang ada apa apa, sehingga membuat Anda takut?" tanya Kevin lagi.
"Tidak ada Tuan Kevin" jawab direktur masih tidak terlihat nada percaya dirinya seperti tadi pagi. Kepercayaan diri yang langsung saja hilang dengan seketika setelah Felix menjawab apa yang ada di dalam otaknya tadi.
"Baiklah. Semoga memang tidak ada apa apa. Kalau ada apa apa, kamu tau sendiri akibatnya" kata Kevin selanjutnya dengan nada mengancam.
Kevin sengaja melakukan hal itu supaya orang kepercayaan Bryan menjadi tidak percaya diri lagi. Sehingga saat Bryan mengadili nya, dia tidak punya nyali lagi untuk mengelak. Kevin sangat pintar sekali dalam menjatuhkan mental seseorang melalui ucapannya. Sedangkan Felix melalui gestur tubuhnya.
"Baiklah. Kita langsung saja ya. Pertama sekali saya mengucapkan terimakasih kepada Anda semua yang sudah hadir untuk memenuhi undangan mendadak dari CEO perusahaan kita Bryan Witama." kata Felix membuka meeting mendadak hari itu.
"Rapat kali ini tetap akan dihadiri oleh CEO kita secara daring." kata Felix yang tidak mau semua orang tidak serius dalam rapat kali ini karena tidak ada Bryan di antara mereka.
"Pagi semua" sapa Bryan dari negara yang jauh di ujung sana.
"Pagi Tuan Bryan" jawab semua manager dan direktur yang menjadi perwakilan Bryan memimpin di perusahaan itu.
"Hay sahabat saya. Orang kepercayaan saya. Apa kabar?" tanya Bryan. Nada suara Bryan terdengar ramah seperti biasa, tetapi keramahan itu tidak sampai ke mata Bryan. Mata Bryan sangat jelas terlihat sedang menahan kemarahannya saat ini.
Para manager mulai berbisik bisik, mereka tidak pernah melihat Tuan Bryan Witama seramah ini kepada siapapun. Cuma sikap ramah Bryan tidak sampai ke matanya. Sikap ramah Bryan seperti terlihat hanya pura pura saja, bukan sebuah ketulusan dari dalam hatinya.
"Ada apa dengan Tuan Bryan ya? Sepertinya Tuan Bryan sedang menahan emosinya saat ini" kaya seorang manager yang sekarang sangat takut melihat ke arah Bryan.
"Sepertinya ada masalah besar yang sedang terjadi" kata seorang manager lagi menanggapi apa yang dikatakan oleh rekannya itu.
"apa ada yang melakukan kecurangan di perusahaan?" tanya satu orang manager lagi yang memiliki pemikiran ke arah sana.
__ADS_1
"Bisa jadi. Tidak biasanya mereka bertiga sekali turun. Kalau sudah bertiga berarti permasalahan cukup berat aku rasa" kata yang lain menanggapi komentar rekannya itu.
Felix dan Kevin melihat bisik bisik tersebut. Mereka berdua tidak berusaha membuat semua manager itu untuk kembali tenang. Mereka menyerahkan kepada Bryan jalannya meeting mendadak kali ini.
"Kevin tolong tampilkan ke layar apa yang kita temukan." ujar Bryan meminta kevin untuk menampilkan apa yang mereka ketemukan lewat rekan Kevin yang ternyata bekerja di perusahaan itu dan juga hadir di salam rapat tersebut.
Kevin menampilkan di layar sebuah dokumen yang dikirimkan oleh direktur yang bertanggung jawab di perusahaan tersebut.
"Silahkan lihat ke layar besar, bukan ke layar anda masing masing" perintah Bryan. Nada dingin suara Bryan memenuhi ruang meeting tersebut.
Direktur yang menjadi pengelola perusahaan itu tersenyum samar, ternyata apa yang ditakutinya sama sekali tidak terjadi. Dokumen yang di tampilkan oleh Bryan adalah dokumen yang dikirimkan oleh dirinya. Sehingga dia merasa aman dan nyaman sekarang.
Beberapa orang manager mengalami perubahan raut wajah saat melihat laporan yang ditampilkan oleh Kevin. Mereka menatap satu dengan yang lainnya.
Bryan, Felix dan Kevin bisa membaca raut wajah para manager dan kepala divisi yang langsung berubah itu. Mereka bertiga semakin yakin bahwasanya memang ada permainan kotor yang sedang terjadi di perusahaan milik Bryan itu.
"Kenapa raut wajah kalian berubah? Ada apa?" tanya Kevin mewakili Bryan.
Para manager saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka juga saling sikut. Mereka tidak tau harus bagaimana mengatakannya. Mereka masih takut akan satu kekuatan yang bisa membuat hidup mereka dan keluarga yang mereka sayang terancam keselamatannya.
"Tidak ada apa apa Tuan Muda" jawab seorang manager mewakili suara semua rekan rekannya.
"Apa ada yang salah dengan dokumen yang kami kirim?" tanya Kevin kembali.
Para manager tidak menjawab pertanyaan dari Kevin. Mereka semua hanya pandang memandang satu dengan yang lainnya.
"Baiklah kalau tidak ada. Kita lanjut ke halaman berikutnya" kata Kevin lagi.
Tampilan halaman berikutnya membuat manager bagian pengadaan barang syok berat. Wajahnya benar benar pucat pasi seperti mayat hidup. Dia kaget luar biasa. Begitu juga dengan kepala devisi yang dibawa oleh manager untuk rapat dengan dirinya.
"Kenapa kaget?" tanya Felix lagi.
Bryan membiarkan saja kedua sahabatnya itu yang mengendalikan rapat. Sedangkan dirinya hanya menonton apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah pertempuran yang lumayan sulit sudah bisa dipastikan akan terjadi di ruangan itu. Bukan Bryan, Felix atau Kevin yang akan membuka suara saat ini. Tetapi mereka bertiga mengarahkan supaya yang membuka suara adalah para manager yang merasa dirugikan oleh pembuat laporan itu.
Ponsel milik Manager dan Kepala Divisi bagian pengadaan bergetar. Sebuah ancaman masuk ke dalam ponsel itu. Manager dan kepala divisi terlihat semakin cemas, keringat mereka keluar sebesar butir butir jagung.
__ADS_1
Felix dan Kevin mengacuhkan saja dulu kejadia yang menimpa manager bagian pengadaan. Mereka lanjut lagi ke halaman laporan berikutnya. Sampai halaman laporan terakhir yang di tampilkan. Semua reaks manager sama saja, mereka semua menampakkan ekspresi penuh ketakutan yang sama. Hanya satu orang saja di sana dalam posisi yang tidak takut sama sekali, siapa lagi kalau bukan orang kepercayaan Kevin.
Para manager kemudian saling memandang kembali satu dengan yang lainnya. Mereka sebenarnya sangat takut dengan apa yang terjadi sekarang ini. Felix dan Kevin serta Bryan yang jauh di ujung sana bisa melihat ketakutan dan kecemasan itu.