Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #51


__ADS_3

"Becok cucu ndak baci. Becok cucu cehat" kata Julian menenangkan Bryan. Julian menepuk nepuk punggung Bryan, Julian terlihat sedang membujuk anak yang sedang merajuk.


"Serius? Besok?" Bryan menatap mata istrinya itu. Tatapan mata Bryan sangat terlihat berbinar binar sekali. Bryan sudah lama ingin unboxing sesuatu yang barada di balik semua itu, sesuatu yang pastinya tidak pernah terlihat orang orang lain walaupun hanya sedikit. Julian selama ini sangat memperhatikan penampilannya. Tetapi kalau dia memaksa hasilnya tidak akan maksimal. Jadi Bryan memilih untuk menunggu saja terlebih dahulu. Bryan menunggu Julian siap dengan semuanya.


"Ya besok tidak basi" kata Julian dengan pasti.


"Sekarang bobok. Jadi suami yang baik. Jadi suami yang sayang istri. Jadi suami yang cinta sama istri. Jadi suami yang melindungi istri. Jadi suami yang manjain istri" ujar Julian.


"Tapi tidak dengan uang, melainkan dengan cinta dan kasih sayang" lanjut Julian yang tidak mau Bryan salah sangka dengan apa yang dia katakan tadi tentang manjain istri.


"Harus jadi istri yang menurut apa yang dikatakan suami. Harus jadi istri yang bisa membahagian suami. Harus jadi istri yang bisa jadi sahabat bagi suami. Itu yang paling penting" kali ini giliran Bryan yang mengatakan apa yang diinginkannya dari Julian.


"Siap" jawab mereka berdua serempak.


Bryan memejamkan matanya. Begitu juga dengan Julian. Dalam sekejap mereka berdua masuk ke dalam alam mimpi masing masing. Kelelahan membuat mereka langsung tertidur nyenyak.


"Nyonya jangan pernah menampar istri saya" kata Bryan.


"Saya sangat mencintai dia. Kalau Nyonya atau siapapun berbuat seperti itu lagi ke istri saya. Maka saya tidak akan segan segan menghancurkan keluarga Nyonya" teriak Bryan.


Julian yang masih tertidur lelap, merasakan Bryan yang bergerak gerak gelisah dalam tidurnya, selama ini Bryan tidur selalu nyaman, malahan Julian yang sering lasak, menendang sana sini, tetapi sekarang kebalikannya. Julian berusaha membuka matanya yang ngantuk itu. Dia ingin melihat kenapa Bryan bisa menjadi lasak seperti ini.


"Awas saja Anda Nyonya. Saya tidak akan takut dengan siapapun. Saya akan pastikan Nyonya akan menerima apa yang telah Nyonya perbuat" kata Bryan, masih dalam mata yang terlelap.


"Sayang sayang bangun sayang" panggil Julian.


Tetapi Bryan sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Bryan masih saja tertidur pulas. Julian menatap ke wajah suaminya yang terlihat marah itu.


"Dalam tidur saja kamu masih memikirkan aku sayang. Kamu masih memikirkan kebahagiaan aku, keselamatan aku" kata Julian.


Air mata Julian menetes di pipi. Julian benar benar bahagia sekarang ini. Suaminya sangat mencintai dirinya.


Bryan masih saja marah marah dalam tidurnya. Dia masih saja terus menyumpahi orang yang menampar dan menyakiti hati Julian tadi sore di mall. Berbagai cara sudah dilakukan oleh Julian untuk membangunkan Bryan, tetapi hasilnya masih sama saja. Bryan sama sekali tidak terbangun dari tidur lelapnya itu. Tidur lelap yang diselingi dengan kemarahan kemarahan yang membuat tidur Bryan menjadi lasak tidak sempurna.


"Sayang bangun sayang. Kamu hanya bermimpi" kata Julian masih mencoba peruntungannya untuk membangunkan Bryan.


Tetapi hasilnya masih sama saja. Kali ini Julian hanya memiliki satu ide cadangan, dia tidak ada pilihan lain. Dia akhirnya mengalah dengan prinsipnya sendiri. Tapi satu yang pasti pria yang sekarang menjadi suaminya sangat mencintai dirinya. Itu yang paling penting. Menikah sekali, mencintai sekali. Julian sudah memutuskan.


Julian melepaskan piyama tidurnya dengan perlahan, dia ingin mengeluarkan Bryan dari mimpi buruk yang menyiksa dirinya itu. Dia yang memang paling tidak suka memakai apa apa saat tidur itu sudah kembali seperti bayi yang baru saja dilahirkan saat piyama nya terbuka.


"Apa pilihan ini tepat ya?" ujar Julian yang kembali sedikit ragu. Julian hampir saja memakai piyama nya kembali. Tetapi dia mengurungkan niatnya itu.


"Tetapi siapa lagi yang mau aku tunggu. Pria yang mencintai aku dan juga aku cintai ada di depan aku sekarang. Aku harus bisa."

__ADS_1


Akhirnya Julian sudah memutuskan. Dia menaruh piyamanya di bawah ranjang. Dia akan melakukannya.


Julian menaruh benda kenyal yang dari tadi di minta oleh Bryan ke wajah Bryan. Benda kenyal yang jadi impian para pria untuk di pegang dan dimainkan. Julian menaruh benda kenyal nan ranum itu tepat di bibir Bryan yang sedikit terbuka.


Bryan merasakan suatu benda kenyal menyentuh bibirnya. Benda yang empuk dan ujungnya agak lunak saat sekarang ini. Dengan refleks Bryan membuka mulutnya sedikit. Benda itu langsung masuk ke sana. Bryan dengan sangat pelan dan penuh kelembutan mencoba benda kenyal itu. Benda yang harus diapa apakan dengan sangat hati hati, kalau tidak maka benda itu akan rusak dengan sendirinya.


Plup, bunyi benda masuk ke dalam sebuah gua. Bryan mengatupkan kedua bibirnya. Julian menggigit bibir bawahnya. Dia tidak menyangka rasanya akan seperti ini. Sebuah sensasi yang tidak pernah dirasakannya selama ini.


Bryan menunggu sampai benda itu menyatu dengan mulutnya. Setelah dirasa benda itu sudah menyatu barulah Bryan mulai memainkan benda yang tadi di caploknya. Bryan mengerahkan semua kemampuannya untuk memuaskan benda kenyal itu. Bryan tau kalau ini adalah kali pertanya bagi Julian merasakan sensasi yang seperti ini. Dia harus melakukannya dengan sangat lembut. Bryan benar benar memainka benda itu dengan lembut sekali. Sesaat benda itu menjadi benda yang paling disukainya.


'Bener bener indah' kata Bryan dalam pikirannya.


'Bener bener keren' lanjutnya


Julian merasakan sesuatu yang menyengat di bagian sana. Dia berusaha menahannya. Bryan yang sudah membuka matanya melihat wajah cantik Julian yang sekarang sedang memerah seperti sedang menahan sesuatu. Suatu niat usil muncul di wajah Bryan. Bryan tidak mau permainan ini cepat selesai. Dia masih mau bermain di sana.


"Kenapa?" tanya Bryan, tetapi dengan melepas benda kenyal itu.


"Jangan di lepas sayang. Kamu jahat sayang" protes Julian saat benda itu dilepas oleh Bryan.


"Kenapa?" tanya Bryan usil dengan strinya sendiri.


"Ilang enaknya sayang. Ayolah sayang, lagi" rengek Julian yang benar benar kesal dengan tingkah Bryan.


"Jangan pake ngobrol lagi sayang. Ayolah. Kan bisa sambil kayak gitu, kamu ngomongnya sayang" protes Julian.


Nada kesal dan pengen sangat terlihat jelas dari nada Julian. Bryan tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Julian. Istrinya ternyata sangat menikmati permainannya itu. Permainan yang memang paling lembut yang pernah dilakukan oleh Bryan terhadap wanita. Biasanya Bryan bermain kasar dan ingin cepat selesai. Dia tidak pernah mau melakukan seperti apa yang dilakukannya kepada Julian sama wanita yang pernah tidur dengan dirinya. Bagi Bryan bagian yang satu itu adalah bagian yang paling in**m dalam kehidupannya.


Bryan kembali memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Dia kembali memainkan benda tersebut. Julian kembali menikmati permainan dari sesuatu yang berada di dalam mulut Bryan terhadap benda itu.


"Sa..... Yang.... " panggil Julian dengan lemah.


"A........u........ A........h" teriak Julian.


Julian sudah tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari bibir tipisnya itu. Dia sudah seperti kehilangan pikirannya sendiri.


"Hem" komen Bryan. Bryan tidak mau melepaskan benda itu.


Dia tau kalau Julian sebentar lagi akan terbang melayang. Sehingga dia memainkan tempo dan ritme untuk membuat Julian mencapai sesuatu yang luar biasa bisa membuat semua yang sakit menjadi sembuh dalam sekejap.


"Sayang, au sayang" kata Julian di telinga Bryan.


Bryan menikmati pekikan dan rin***an Julian itu. Semakin Julian seperti itu semakin juga Bryan melancarkan serangannya. Mereka berdua berbalas dalam satu hal yang sama.

__ADS_1


"Sayang......... Sayang........ Sayang" kata Julian lagi.


"Lepasin aja" kata Bryan dengan membuka mulutnya sedikit.


"Apanya yang mau di lepasin?" tanya Julian dengan lugunya.


Julian benar benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya. Julian tidak tau apa yang mau dilepasin nya saat ini.


"Kalau itu mau kamu lepasin jangan sayang. Dia sedang enak" protes Julian yang mengira kalau Bryan akan melepaskan sesuatu yang ada dalam mulutnya saat ini.


"Bukan" jawab Bryan dengan satu kata saja.


Bryan semakin gencar melakukan sesuatu terhadap benda itu. Benda itu menberikan tanda kalau yang punya akan meledak. Benda semakin ke**s dan te**ng.


"Sayang..... Aku mau ke toilet" ujar Julian merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar di bagian bawah tubuhnya itu.


"Keluarin aja" ujar Bryan meminta Julian untuk mengeluarkan saja di atas ranjang mereka.


"Basah nanti sayang" komen Julian yang ternyata masih saja tidak tau.


"Nggak akan" jawab Bryan.


Bryan semakin brutal memainkan benda itu. Dia menggi**t di beberapa bagian benda kenyal itu. Warna merah tercetak jelas di kulit Julian yang putih. Begitu banyak tanda merah yang dibuat oleh Bryan di sana. Tanda merah yang akan menjadi tanda kalau yang punya adalah Bryan.


Julian sudah tidak bisa lagi menahan sesuatu yang akan meledak di bagian bawah itu. Akhirnya dengan satu is**an yang keras. Julian mengeluarkan apa yang sudah dari tadi di tahan tahannya.


"Keluar dia sayang" kata Julian dengan polosnya.


Bryan masih terus bermain di sana. Dia ingin saat Julian mengeluarkan itu, sebuah sensasi yang memikat Julian masih bisa dirasakan oleh Julian.


Bryan melepaskan benda itu saat benda itu sudah kembali kedalam keadaan normal seperti pertama kali sebelum dimainkan oleh Bryan.


"Enak sayang" kata Julian dengan malu malu.


"Aku tau. Ada yang lebih enak lagi. Tapi tidak sekarang" jawab Bryan.


Julian tersipu malu mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya


"Sekarang tidur ya." kata Bryan.


Bryan menutup tubuh bayi mereka dengan selimut. Bryan membawa istrinya yang sekarang sudah lengkap menjadi istrinya, walaupun belum sampai membelah duren. Tetapi yang tadi itu sudah merupakan kemajuan yang luar biasa.


Julian tidur dalam dekapan hangat suaminya. Rasa sakit di kepalanya, rasa kesal dan marah tadi, rasa lelahnya selama ini langsung hilang sirna di terbawa sesuatu yang keluar tadi. Julian merasakan terlahir kembali

__ADS_1


__ADS_2