Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #21


__ADS_3

"Kenapa udah jam segini Bryan masih belum pulang ya? Ada apa dengan dirinya?" Julian mulai sedikit cemas dengan keadaan Bryan di luar sana.


Julian menatap kembali jam dinding. Hari memang sudah sangat larut malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bryan sudah telat pulang empat jam dari pada biasanya.


"dia kemana coba. Kenapa nggak ngasih kabar sama sekali. Apa dia lupa kalau dia sudah ada istri yang harus dikabari nya? aku tidak ingin dia melupakan hal itu"


"walaupun sebenarnya kami menikah hanya karena kejadian yang tidak masuk akal itu. Tetapi karena kami sudah menikah, seharusnya dia ingat untuk mengabari aku, kalau dia telat pulang seperti ini"


"bukan hanya diam seperti ini. Membuat aku cemas saja dengan kondisinya di luar sana. Apa dia nggak ingat ya? Atau bisa jadi nggak ingat?" Julian berkata kata sendiri sambil terus menatap keluar.


Akhirnya karena capek harus bolak balik ruang depan dan ruang tengah, Julian akhirnya memilih untuk berpindah duduk di ruang depan. Dia benar benar mencemaskan suaminya itu sekarang. Dia selalu saja menatap ke arah luar, berharap pria yang sedang ditunggu tunggu ya itu datang sekarang juga dalam keadaan sehat.


Julian menunggu dalam rasa cemas yang tidak berujung, Julian merasakan sekarang rasa cemas nya sudah semakin menjadi jadi. Hal ini mengakibatkan, Julian tidak putus putusnya melihat keluar setiap ada motor atau orang berjalan kaki lewat depan rumahnya.


"Ya Tuhan dimanapun suami hambamu ini tolong beri dia keselamatan, tolong selalu jaga dia Tuhan. Bagaimanapun dia adalah suami hamba Tuhan. Hamba tidak ingin suatu hal yang buruk menimpa suami hamba. Hamba hanya meminta dia pulang dalam keadaan selamat. Hanya itu saja Tuhan. Tolong kabulkan permintaan hamba ini Tuhan" ujar Julian berdoa dalam hatinya meminta keselamatan untuk suaminya tersebut.


Tepat setelah menunggu lima belas menit dari selesai berdoa tadi. Sebuah motor berhenti di depan kontrakan Julian. Julian yang sudah tidak peduli lagi siapa yang datang, langsung membuka pintu kontrakan.


"Bryan?" ujar Julian dengan nada lega saat melihat suaminya pulang dalam keadaan baik baik saja.


Bryan yang melihat gelagat tidak baik baik saja dari seorang Julian langsung berjalan cepat ke arah istrinya itu. Julian langsung memeluk Bryan dengan sangat kuat. Bryan sebenarnya kaget dengan apa yang dilakukan oleh Julian kepada dirinya. Tetapi Bryan sangat senang dengan hal itu. Julian benar benar menunjukkan kepada dirinya kalau dia benar benar peduli dengan Bryan.


Sedangkan Felix yang bertugas mengantarkan Bryan untuk pulang hanya bisa tersenyum di balik maskernya. Dia sekarang yakin kalau sepasang suami istri yang menikah karena suatu kejadian itu, sudah saling mencintai. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengungkapkan berapa rasa cinta dan sayang mereka akan terungkapkan.


"Maaf" ujar Julian saat dirinya sadar telah memeluk Bryan dengan sangat kuat sekali.


"Tidak apa apa"


"Aku sangat bahagia kamu peluk seperti itu" jawab Bryan yang berusaha menghilangkan kegugupan dari seorang Julian karena aksi Julian yang main peluk Bryan.


Bryan kemudian memeluk pinggang Julian. Bryan membawa Julian untuk masuk ke dalam rumah. Hari sudah sangat larut malam. Bryan tau kalau Julian pasti sangat lelah sekali.


"Kamu dari mana?" tanya Julian saat mereka sudah berada di dalam rumah.

__ADS_1


Bryan sudah mengunci rapat pintu kontrakan.


"Tadi ada pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini juga. Makanya aku telat pulang" Bryan menjelaskan kepada Julian kenapa dirinya bisa telat pulang ke rumah tidak seperti biasanya.


"Kenapa tidak kasih kabar. Minimal telpon" jawab Julian yang merasakan kalau air matanya sudah menganak sungai. Entah kenapa Julian tidak bisa menahan tangisnya untuk tidak keluar. Julian sudah mati matian menahan tangisnya, tetapi hal itu hanya sia sia saja, air mata dan pikirannya tidak berjalan beriringan melainkan bertolak belakang.


"Hay maafkan aku. Jangan menangis seperti ini" kata Bryan saat melihat Julian yang sudah menengadahkan wajahnya ke langit langit rumah.


Bryan membawa Julian ke dalam pelukannya. Dia tidak ingin istri baiknya itu menjadi sangat sedih, karena mencemaskan dirinya yang telat pulang dari kantor. Julian yang dipeluk oleh Bryan langsung menangis di dalam pelukan suaminya itu. Dia menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan Bryan. Julian mengeluarkan semua emosinya di dalam pelukan Bryan.


"Kamu nggak biasanya telat seperti ini. Kamu biasanya pulang tepat waktu"


"Aku benar benar mencemaskan kamu. Aku nggak mau kamu kenapa kenapa. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu"


Julian menumpahkan semua yang ada di dalam kepalanya kepada Bryan. Julian tetap memeluk erat Bryan. Begitu juga dengan Bryan yang sama sekali tidak ingin melepaskan pelukan Julian. Bryan ikut ikutan memeluk Julian dengan sangat erat. Semua rasa ditumpahkan oleh Julian dalam pelukannya saat ini.


"Aku nggak pernah secemas ini sama orang lain. Ini kali pertama aku bisa secemas ini dan setakut ini. Aku sangat takut sekali. Berulang kali aku melihat ke luar berharap kamu yang datang. Ternyata tidak sama sekali" lanjut Julian mengutarakan semuanya kepada Bryan.


"Aku sampai berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan kamu. Saking cemas nya aku dengan kondisi kamu di luar sana. Aku beneran takut, sangat takut sekali."


Julian mengatakan semuanya dalam pelukan Bryan sambil menangis. Tangis yang dibarengi dengan kalimat kalimat yang membuat Bryan menjadi merasakan sesuatu dalam hati dan pikirannya. Sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakan selama ini oleh Bryan. Perasaan yang sangat susah digambarkan oleh seorang Bryan terhadap apa yang dirasakannya kepada seorang wanita.


Deg. 'Ini perasaan kenapa jadi seperti ini' ujar Bryan dalam hatinya.


'Aku nggak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya kepada wanita manapun' lanjut Bryan.


'Kenapa perasaan seperti ini muncul? Apa aku sudah mencintai Julian?' lanjut Bryan bertanya tanya dalam hatinya.


Kriuk kriuk kriuk, tiba tiba perut Julian berbunyi dengan nyaring. Para cacing sudah protes dalam perutnya minta dikasih makan. Bryan yang juga mendengar perut Julian yang berbunyi kembali menatap ke arah Julian.


"Kamu belum makan malam, sayang?" tanya Bryan kepada istrinya itu.


Kata sayang yang diucapkan oleh Bryan kali ini sangatlah berbeda dengan kata sayang yang biasanya. Kali ini ada sesuatu yang berbeda dari ucapan sayang itu. Bryan menyadari dengan sepenuhnya perubahan kata sayang yang diucapkannya kali ini.

__ADS_1


'Ini perut kenapa bunyinya nggak nengok situasi. Jadi malu kan ya, masak dalam posisi seperti sekarang ini dia bunyi. Tega bener' ujar Julian sambil memegang perutnya yang berbunyi nyaring tadi.


"Kamu belum makan?" tanya Bryan sekali lagi sambil berusaha melepaskan pelukan Julian dari dirinya.


Julian semakin mempererat pelukannya. Dia sangat malu untuk dilihat oleh Bryan. Julian sudah bisa memastikan kalau wajahnya saat ini sudah merah semerah kepiting rebus. Makanya dia tidak ingin Bryan melihatnya dalam keadaan seperti itu. Julian takut kalau Bryan akan mengatakan kalau dirinya luar biasa kepedean karena panggilan sayang yang terdengar berbeda kali ini saat diucapkan oleh Bryan kepada dirinya.


"Hay jangan malu malu gitu. Aku ini adalah suami kamu, kenapa kamu harus malu. Kalau kamu belum makan mari kita makan. Aku juga belum makan" jawab Bryan.


Julian dengan seketika melepaskan pelukannya dari Bryan saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan. Satu sisi dia tidak menyangka kalau Bryan juga belum makan, sama seperti dirinya. Sedangkan di sisi lain dia kaget saat mendengar Bryan mengatakan kalau dia tidak boleh malu terhadap Bryan karena Bryan adalah suaminya.


"Kamu juga belum makan sa... " Julian ragu untuk meneruskan panggilannya kepada Bryan.


"Panggil aja sayang. Nggak usah ragu. Aku sangat senang kalau kamu memanggil aku dengan panggilan itu" jawab Bryan yang sangat menunggu sekali koment dimana Julian memanggil dirinya dengan sebutan kata sayang.


"Jangan terlalu cepat. Kita pelan pelan saja ya. Aku akan mencoba dan belajar untuk memanggil kamu dengan sebutan seperti itu. Tetapi untuk saat ini aku masih agak kurang bisa melakukannya." kata Julian meminta Bryan untuk bisa mengerti kalau dia belum bisa memanggil dengan kata sayang seperti yang diizinkan oleh Bryan.


"Tapi aku berjanji aku akan belajar untuk memanggil seperti itu" kata Julian dengan memberikan senyuman terbaiknya kepada Bryan. Senyuman yang selama ini belum pernah di lihat oleh Bryan pernah dilakukan oleh Julian. Senyuman paling manis yang pernah dilihat oleh Bryan.


Bryan mengangguk, dia tidak ingin memaksa Julian untuk memanggil dirinya dengan sebutan seperti itu. Bryan akan bersabar dan selalu mengajari Julian untuk memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Ayok makan, aku juga udah laper banget. Mana pekerjaan aku banyak lagi. Sehingga pikiran dan perut aku menjadi lapar" Bryan mengajak Julian untuk makan malam bersama.


Julian tersenyum kembali. Kejadian tadi membawa aura baru dalam rumah tangganya. Aura yang selama ini tidak ada menjadi ada, karena kejadian keterlambatan Bryan pulang ke rumah sehabis bekerja di kantor.


"Dibalik suatu kejadian, ada hikmah yang bisa diambil. Terimakasih Tuhan" ujar Julian berkata dengan sangat pelan yang hanya bisa di dengar oleh Julian dan Tuhan saja.


"Sayang masak?" tanya Bryan kepada Julian.


"Ya. Aku masak sesuatu yang kamu sangat sukai" jawab Julian dengan nada bangga.


"emang kamu tau makanan apa yang aku suka?" tanya Bryan penasaran


"Lihat saja nanti" jawab Julian dengan nada yang sengaja membuat Bryan menjadi tidak sabaran lagi untuk melihat menu makan malam yang sudah disiapkan oleh Julian di atas meja makan

__ADS_1


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju meja makan yang terletak di depan dapur bersih. Julian tadi sudah memanaskan menu makan malam yang akan mereka makan berdua. Julian sangat tau kalau Bryan tidak suka makan makanan yang sudah dingin, sehingga dia sudah memasukkan menu makan malam mereka ke alat pemanas.


__ADS_2