Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #71


__ADS_3

Jam berapa kalian berdua mau berangkat ke Francais?" tanya Bryan saat masih melihat Kevin dan Felix yang masih berada di dalam ruang kerjanya.


"Masalah keberangkatan gampang." jawab Felix sambil membetulkan posisi duduknya.


"Terus masalah apa yang nggak gampang?" tanya balik Bryan saat mendengar jawaban dari Felix.


"Keputusan untuk siapa yang salah nanti itu gimana. Kemi mutuskan sendiri atau bagaimana" tanya Felix yang sampai malam tadi masih kepikiran tentang keputusan yang akan mereka berikan kepada orang yang bersalah di perusahaan milik Bryan tersebut.


"Sekarang gini aja, loe berdua pergi dulu ke sana. Nanti saat rapat, gue akan ikut secara virtual dari sini. Jadi, keputusan tetap gue yang ambil, karena kalau kalian berdua yang ngomong keputusannya, mereka tidak akan percaya. Jadi, tetap gue yang akan mengatakan apa keputusan dari permasalahan yang telah mereka buat" jawab Bryan yang ternyata sudah memikirkan dampak kalau dirinya tidak berangkat ke negara Francais, sehingga Bryan juga sudah memikirkan apa yang akan dilakukan oleh dirinya nanti saat Felix dan Kevin sudah memulai rapat di sana.


"Oh gitu Oke sip. Kami berangkat sekarang" kata Felix saat sudah menemukan jawaban dari persoalan siapa dan apa keputusan yang akan diberikan saat mereka rapat di sana nanti.


"Kalian terbang pakai pesawat perusahaan?" tanya Bryan saat melihat Felix dan Kevin tidak ada memegang tiket pesawat.


"Ya, memanfaatkan fasilitas perusahaan" jawab Kevin dengan santainya.


"Okeh kalau begitu. Hati hati berangkatnya. Gue doakan semoga kalian berdua berhasil" kata Bryan memberikan semangat kepada Felix dan Kevin.


"Kami jalan dulu. Loe hati hati kerja" kata Felix sambil menepuk pundak Bryan.


"Sip. Serahkan pekerjaan perusahaan di sini ke gue. Loe berdua selesaikan yang di sana dengan baik" kata Bryan dengan tenang.


"Ya. Kami tau kenapa loe menyuruh kami pergi ke sana" ujar Kevin yang sudah bisa membaca niat Bryan kenapa mereka berdua yang diminta Bryan pergi ke negara Francais menggantikan dirinya.


"Sudah jangan bahas lagi. Mari kita berangkat." kata Felix kepada Kevin.


"Kami di sana satu minggu" lanjut Felix berkata kepada Bryan memberitahukan berapa lama mereka akan berada di negara Francais.


"Hah? Lamanya" ujar Bryan yang kaget mendengar kedua sahabatnya akan berada di negara Francais selama satu minggu ke depan.


"Urusan sepele itu hanya perlu satu hari menyelesaikannya. Kenapa harus satu minggu" lanjut Bryan yang tidak Terima kedua sahabatnya akan pergi selama satu minggu untuk urusan segampang itu.


"Jadi nggak setuju kami pergi satu minggu?" tanya Felix kembali kepada Bryan.


"Nggak. Dua hari setuju" jawab Bryan.

__ADS_1


Felix melihat ke arah Kevin. Kevin mengerti akan arti lirikan dari Felix.


"Kalau loe nggak setuju ya udah, kami nggak jadi berangkat. Berangkat aja sana sendiri kalau memang bisa dua hari selesai" ujar Kevin.


Kevin kemudian duduk kembali ke sofa tamu. Felix yang melihat cakting Kevin yang memuaskan, memilih untuk ikut ikutan duduk di sofa. Bryan menatap tidak percaya ke arah kedua sahabatnya itu.


"Ngapain pakai duduk segala loe berdua. Sana pergi" usir Bryan saat melihat kedua sahabatnya sudah duduk kembali di sofa ruang tamu.


"Kalau nggak boleh satu minggu, kami tidak akan berangkat" kata Kevin membuka suaranya.


Kevin akan melakukan negosiasi kepada Bryan. Tapi tujuan negosiasi Kevin adalah negosiasi berhasil. Bukan negosiasi kalah.


"Lima hari. Tidak ada tawar menawar lagi" kata Bryan yang sudah langsung memutuskan berapa hari dua orang sahabatnya itu akan berada di negara francais.


Kevin melihat kearah Felix. Felix mengangguk setuju. Menurut Felix lebih baik lima dari pada dua. Jadi mereka harus setuju saja sebelum Bryan berubah pikiran lagi.


"Oke kami setuju, kami akan berada di negara Francais selama lima hari ke depan" ujar Kevin yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada mereka berdua.


"Lima hari itu sudah pulang pergi. Bukan lima hari di sana saja." kata Bryan menjelaskan waktu yang lima hari sistemnya bagaimana kepada Kevin dan Felix.


"Mantap" puji Bryan kepada Felix dan Kevin.


"Kalau perintah di ikuti maka akan ada kata mantap. Coba kalau tidak maka yang ada kami kena marah mulu" komentar Kevin yang memang paling sering kena marah Bryan.


Hal itu terjadi karena Kevin kesehariannya dengan Bryan selalu. Beda dengan Felix yang sudah bekerja di luar perusahaan utama. Jadi, frekuensi ketemu dengan Bryan sangat sedikit sekali.


"Sudah jangan ngomel terus. Jalan sana" ujar Bryan mengusir kedua sahabatnya itu.


"Apa loe nggak minat ngantar kami ke bandara? Kan hari ini loe nggak ada kegiatan" ujar Kevin meminta Bryan untuk mengantar mereka berdua ke bandara.


"Bener juga ya. Gue nggak ada kegiatan lain sekarang. Ya udah lah gue antar loe berdua ke bandara. Dari pada gue sendirian di sini. Bosan baca dokumen" jawab Bryan.


Bryan dengan kedua sahabatnya tambah dengan Julian akan terlihat sangat berbeda dengan Bryan sewaktu bertemu dengan rekan bisnis dan orang orang yang tidak dekat dengan dia. Sehingga orang orang mengambil kesimpulan bahwasanya Bryan adalah pria yang sombong dan kaku.


Ketiga pria tampan dan menjadI pimpinan perusahaan ternama itu berjalan beriringan menuju bestman. Mereka bertiga akan ke bandara. Felix dan Kevin akan terbang ke negara Francais. Sedangkan Bryan nanti sepulang mengantarkan Felix dan Kevin, dia akan kembali ke perusahaan untuk bekerja.

__ADS_1


"Oh ya Bryan. Loe tidur dimana semalam?" tanya Kevin yang teringat bagaimana konflik yang terjadi antara Bryan dan Julian semalam.


"Maksud loe gimana Vin?" tanya Felix yang tida mengerti dengan pertanyaan dari Kevin kepada Bryan.


"Ya itu maksud gue. Kemaren ada perang Dunia ketiga, tetapi versi perang dinginnya. Nah, gue penasaran, sahabat kita yang garang di depan semua orang, apa juga bisa garang di depan istrinya. Gitu" kata Kevin menjelaskan kepada Felix apa maksud dari pertanyaannya tadi kepada Bryan.


"Oooo gitu. Jadi, loe tidur dimana Bryan?" kali ini Felix yang bertanya.


Bryan langsung saja menatap tajam ke arah Kevin. "Bosan idup loe?" tanya Bryan.


"Ops santai bro. Sekarang statusnya teman ya. Bukan yang lain lain" bela Kevin yang tidak mau menjadi titik salah dari seorang Bryan.


"Ya ya ya. Gue tidur di luar kamar" jawab Bryan.


"Puas loe pade?" lanjut Bryan bertanya kepada kedua sahabatnya itu.


"Loh kok bisa loe tidur di luar kamar? Loe dikunci Julian dari dalam?" tanya Felix lagi lebih serius.


"Ya seperti itulah kira kira" jawab Bryan.


"Hem kasihan" kata Kevin dengan wajah mencemooh Bryan.


"Tapi sebentar doang. Julian keluar lagi kok tidur bareng gue di luar kamar. Dia mana bisa tidur tanpa ada gue di sampingnya" lanjut Bryan menjawab dengan nada bangga.


Felix melihat ke arah Kevin. Kevin mengangkat bahunya antara percaya dengan tidak apa yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini.


"Haha haha haha. Gue nggak percaya sama sekali" kata Kevin tertawa ngakak.


"Terserah" jawab Bryan lagi.


Mobil yang dikemudikan oleh Felix meluncur menuju bandara dengan tenang. Ketiga sahabat di dalam mobil itu masih sama sama mengobrol hal yang tidak penting. Mereka akan selalu seperti itu kalau sudah bertiga.


"Sampai. Turun sana. Gue mau langsung pulang" ujar Bryan meminta kedua sahabatnya untuk langsung turun.


Felix dan Kevin turun dari dalam mobil. Mereka berdua masuk ke bandara tempat penumpang pesawat pribadi aka terbang. Sedangkan Bryan mengemudi menuju perusahaan kembali.

__ADS_1


__ADS_2