Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Dah Tuan Muda #35


__ADS_3

Vian menatap Julian yang berjalan cepat itu. Julian sama sekali tidak memelankan langkah kakinya saat Vian memanggil untuk jalan bersama. Hal itu tidak seperti biasanya, biasanya Julian akan langsung berhenti saat Vian meminta untuk menunggunya.


'Apa Julian sudah tau sesuatu ya?' tebak Vian dalam pikirannya.


'Tidak biasanya dia bersikap seperti ini' lanjut Vian lagi.


'Gue harus nelpon ini' kata Vian yang pada akhirnya memutuskan untuk menghubungi seseorang.


Vian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi seseorang. Vian tidak ingin semuanya terbongkar sebelum waktunya.


'Bisa bisa gue di dendeng Tuan Muda nanti ini' lanjut Vian.


Vian berusaha mengejar Julian. Tetapi sayangnya, saat Vian sampai di depan swalayan, Vian melihat Julian sudah pergi naik taksi online.


"Hallo Vian. Ada apa?" tanya seseorang yang dihubungi oleh Vian.


"Felix, apa kita bisa bertemu di kantor tuan muda sekarang?" tanya Vian langsung pada inti permintaannya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Felix yang jelas memiliki insting yang sangat kuat kali ini.


"Sepertinya ya, memang ada sesuatu. Tapi gue belum bisa mengambil kesimpulan sendirian, sebelum konsultasi dengan loe dan tuan muda" jawab Vian.


Vian sudah memberhentikan taksi online yang baru saja lewat di depan dirinya.


"Dengan Nona Vian?" ujar sopir taksi online.


"Ya. Tujuan sesuai dengan yang ada di aplikasi" ujar Vian memberitahukan kepada tujuannya.


"Siap Nona" jawab sopir taksi online.


"Loe udah di taksi?" tanya Felix saat mendengar percakapan antara Vian dengan sopir taksi online itu.


"Ya, gue sudah di taksi sekarang. Gue tunggu elo di perusahaan" jawab Vian.


Tanpa mendengar persetujuan dari Felix, Vian sudah memutuskan panggilan itu. Dia benar benar kalut sekarang ini. Vian takut kalau Julian sudah mengetahui kalau dia adalah orang suruhan dari seseorang untuk menemaninya selama ini.


"Sepertinya ini gawat"

__ADS_1


Felix langsung gerak cepat. Felix masuk ke dalam mobil dan berkendara dalam kecepatan tinggi menuju perusahaan Witama. Mereka akan berdiskusi di sana tentang apa yang baru saja terjadi.


'Tuan muda ada di ruangan' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Felix kepada Kevin.


'Ada. Apa ada sesuatu yang penting?' balas kevin dengan sangat cepat secepat petir yang menyambar.


'Ya. Vian melihat gelagat yang aneh dari Nona muda. Itu yang harus kita diskusikan secepatnya' balas Felix sambil tetap fokus mengemudi.


Vian telah turun dari dalam taksi online yang mengantarkannya ke perusahaan Witama. Kedatangan Vian bertepatan juga dengan kedatangan Felix.


"Jadi gimana Vian?" tanya Felix saat mereka berjalan bersisian menuju ruangan Bryan yang letaknya di lantai paling atas gedung tinggi itu.


"Pas sampe sana saja gue cerita ya. Capek kalau harus ngulang ngulang" jawab Vian yang menolak untuk menceritakan kepada Felix saat mereka berjalan bersisian.


Felix mengangguk, dia tidak akan memaksa Vian untuk menceritakan apa yang terjadi sekarang juga. Felix tetap menomor satukan keinginan dan juga privasi Vian.


"Apa Tuan Muda ada di dalam?" tanya Vian kepada Kevin yang sedang menunggu mereka di depan ruang kerja Bryan.


"Ada di dalam. Kalian berdua sudah di tunggu dari tadi sama Tuan Muda" jawab Kevin.


Kevin membuka pintu ruang kerja Bryan. Felix dan Vian masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata Bryan sudah menunggu mereka dari tadi di sofa ruangan itu.


Felix dan Vian duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Bryan. Kevin pun ikut juga duduk di sana.


"Jadi bagaimana Vian?" tanya Bryan yang sudah penasaran dari tadi dengan cerita yang akan disampaikan oleh Vian kepada mereka semuanya.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan Muda. Tetapi menurut saya, saya sudah bekerja dengan baik dan rapi. Tapi ntah kenapa bisa jadi seperti sekarang ini" ujar Vian meminta maaf terlebih dahulu sebelum mulai menceritakan kepada Bryan apa yang terjadi.


"Salah atau betul yang kamu kerjakan, hanya bisa kita nilai nanti. Sekarang kamu cerita, apa yang terjadi" jawab Bryan dengan nada dingin dan kaku.


Bryan hari ini sedang dalam mode Tuan Muda Witama. Seorang pengusaha yang terkenal dingin dan kejam. Siapapun yang berani berkhianat kepada dirinya, maka siap siap saja mereka akan berpindah tidur. Siapapun tau akan hal itu.


Vian kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada mereka semua. Bryan, Felix dan Kevin menyimak semua cerita dari Vian. Tidak satupun dari mereka yang menjeda apa yang dikatakan oleh Vian.


"Kalau menurut analisa gue, Nona muda memang curiga kepada Vian, tetapi tidak kepada Tuan Muda" ujar Felix mengambil kesimpulan atas apa yang diceritakan oleh Vian kepada mereka bertiga.


"Kenapa loe bisa ngambil kesimpulan seperti itu?" tanya Vian.

__ADS_1


"Ya, kalau dia curiga dengan Tuan Muda, tentu Nona muda sudah mencari tau sipa Tuan muda sebenarnya. Tapi sekarang buktinya dia tidak melakukan itu" jawab Felix.


"Dari mana loe bisa yakin seperti itu?" sekarang giliran Kevin bertanya.


Sedangkan Bryan masih dalam posisi diam. Dia memiliki pendapatnya sendiri. Pendapat yang sangat jarang sekali meleset dari apa yang sebenarnya.


"Ambil ponsel loe" ujar Felix meminta Kevin untuk mengambil ponselnya.


"Coba cari di alat pencarian nama Tuan Muda" ujar Felix memerintahkan Kevin.


Kevin melakukan apa yang diminta oleh Felix kepada dirinya.


"Nah ini masuk notifnya, sekaligus masuk alamat email yang mencari nama Tuan muda di internet" ujar Felix.


"Selama ini tidak ada yang mencari tentang siapa Tuan muda di internet. Lagian gue juga sudah menghentikan media cetak untuk membuat wajah Tuan muda di majalah bisnis manapun" kata Felix menjelaskan kepada semua orang yang ada di sana.


Kevin dan Vian mengangguk anggukkan kepala mereka berdua. Mereka sekarang paham apa yang dikatakan oleh Felix sebentar ini. Saat itulah mereka melihat ke arah Bryan yang dari tadi hanya diam saja. Bryan seperti sudah memiliki kesimpulan sendiri tentang apa yang terjadi terhadap Julian saat ini.


"Kalau kalian bertiga bertanya pendapat gue, maka gue setuju dengan Felix" jawab Bryan dengan tegas dan lugas.


"Ke ponsel gue juga tidak ada notifikasi pencarian tentang gue. Makanya gue sangat yakin kalau Julian sama sekali tidak mencurigai gue" lanjut Bryan menerangkan kepada ketiga rekannya itu.


"tapi kalau masalah Julian curiga kepada Vian. Itu adalah benar seratus persen. Bukan karena kesalahan Vian saat menjaga Julian" ujar Bryan langsung memberikan garis bawahnya. Dia tidak mau Vian merasa kalau kerjanya selama ini salah dan sia sia.


"Tenang Vian, gue tidak menyalahkan elo. Tenang saja itu" kata Bryan sekali lagi meyakinkan Vian, kalau Bryan sama sekali tidak menyalahkan dirinya.


"Sekarang yang bikin gue penasaran. Siapa tujuan Julian mengatakan hal itu. Itu yang bikin gue jadi penasaran" lanjut Bryan.


Kevin melihat ke arah Felix. Felix mengangkat pundaknya tanda tidak tahu siapa yang mau mereka tuduh.


"Atau jangan jangan Julian merupakan Tuan putri dari negara mana gitu" ujar Vian menyuarakan pendapatnya.


Pluk sebuah tepukan mendarat di kepala Vian.


"Au, kenapa main pukul aja?" Vian protes saat kepalanya di pukul Felix


"Lagian jawaban yang aneh aneh aja. Mana ada Tuan putri zaman sekarang. Emang Megan" ujar Felix sambil geleng geleng kepala.

__ADS_1


"Hehe hehe hehe. Bener juga ya" jawab Vian dengan gampangnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajah cantiknya itu


__ADS_2