Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #103


__ADS_3

"Huam. Argh. Hiya" ujar Bryan membuka mulutnya lebar lebar dan merentangkan tangannya lebar lebar kiri dan kanan, serta tidak lupa dengan badannya yang lain.


"Seger bener rasa badan gue. Bener bener enak banget tidur di kasur seperti ini Udah lama banget rasanya tida tidur di kasur seempuk ini." ujar Bryan tanpa tau sekarang sudah jam berapa. Padahal dia memiliki agenda yang sangat penting yang harus dikerjakan oleh dirinya dari tadi pagi.


Bryan kemudian mengambil ponsel miliknya. Bryan mengaktifkan layar ponselnya itu. Betapa kagetnya Bryan saat melihat angka yang tertera di ponselnya saat ini. Angka yang membuat Bryan langsung syok seketika dan tidak bisa berbicara lagi. Bryan benar benar kaget melihat dua digit angka di layar ponselnya.


"Hah jam dua belas siang? Ponsel gue yang salah atau bagaimana?" ujar Bryan yang kaget melihat angka yang tertera di layar ponselnya itu.


Bryan kemudian melihat jam dinding yang ada di kamar tersebut. Ternyata angka yang ditunjuk oleh jarum jam dinding sama dengan angka yang ada di ponselnya.


"Gila bener jam dua belas. Gimana rapat gue? Apa di handel sama Felix?" kata Bryan bertanya tanya sendirian. Bryan benar benar panik sekarang. Karena tidurnya yang enak membuat dirinya tidak bangun bangun dari tidurnya itu.


Bryan mencari nomor ponsel Felix. Dia harus bertanya kepada asistennya itu tentang rapat yang seharusnya di mulai pukul setengah delapan pagi tadi. Sedangkan sekarang sudah jam dua belas siang.


'Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi' ujar operator layanan seluler milik Felix.


"Kemana tu anak? Apa mungkin dia memang sedang memimpin meeting, sehingga telponnya di non aktifkan? " Ujar Bryan yang tidak tau kemana perginya Felix.


"Ah salah gue lagi, kenapa bisa gue tidak bangun di jam enam. Huft." Ujar Bryan kesal dengan dirinya sendiri.


"Lagi lagi gue bikin kesalahan yang seharusnya tidak perlu gue lakuin. Emang benerlah ya gue hanya bisa nyusahin orang aja sekarang" lanjut Bryan yang benar benar kesal dengan dirinya saat ini


Bryan kemudian berdiri dari posisi tidurnya. Dia akan pergi membersihkan dirinya


"Mandi, siap itu ke restoran makan siang." ujar Bryan menyusun rencana yang akan dilakukannya sebentar lagi


Bryan masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan dirinya terlebih dahulu. Bryan mandi sambil bersenandung, Bryan sama sekali tidak tau kalau Felix tidaklah ke perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melainkan pergi jalan jalan.


Setelah mandi selama lebih kurang setengah jam, Bryan kemudian memakai pakaian santainya. Dia berencana untuk makan siang di sebuah restoran. Tetapi sebelum itu dia mau bertemu dengan manager hotel.


"Oke siap. Mari jalan. Lapar" ujar Bryan sambil memegang perutnya yang sudah protes minta di isi makanan karena setelah makan malam Bryan sama sekali belum memasukkan apapun ke dalam perutnya itu.


Bryan mengambil ke dua ponselnya dan juga dompet. Dia berencana untuk meminjam mobil perusahaan sebagai kendaraan dia selama di luar hotel.


"Maaf manager ada?" ujar Bryan kepada resepsionis hotel.


"Sebentar Tuan Muda akan kami hubungi dulu manager. Tuan muda silahkan duduk dulu" ujar resepsionis mempersilahkan Tuan Muda untuk duduk di sofa yang ada di lobby hotel itu.

__ADS_1


'Untung saja lobby sedang sepi. Coba kalau rame, bisa berabe kita' ujar resepsionis dalam hatinya yang mensyukuri para pengunjung hotel yang seharusnya cek out audah cek out semua, sehingga lobby lebih sepi sekarang.


Manager yang dihubungi resepsionis karena ditunggu oleh Tuan Muda Bryan di lobby langsung saja dengan kecepatan tinggi turun ke lobby hotel. Dia tidak ingin Tuan mudanya itu mendadak menjadi marah karena dia yang telat datang menemui Tuan Muda tersebut.


"Maaf Tuan Muda saya terlambat" ujar manager berkata kepada Bryan.


"Tidak apa apa." jawab Bryan dengan tenang.


"Apa saya bisa pinjam mobil perusahaan?" tanya Bryan langsung ke topik permasalahan dan tujuannya memanggil manager.


Manager kaget mendengar pertanyaan dari Bryan. Dia tidak menyangka kalau itu pertanyaan yang diajukan oleh Bryan. Padahal dalam bayangan manager dia akan ditanya dimana keberadaan Felix saa ini. Ternyata sama sekali tidak. Tuan muda malahan hanya meminjam mobil operasional untuk dipakainya selama di pulau Balis.


"Kenapa diam saja? Apa ada mobil yang bisa saya pakai?" ulang Bryan bertanya ke manager hotel yang dari tadi hanya diam saja.


"Eeee maaf Tuan Muda. Ada Tuan muda. Sebentar saya ambilkan dulu kuncinya" ujar manager menjawab pertanyaan dari Bryan tentang mobil yang bisa dipakai oleh dirinya selama di pulau Balis.


"Bisa tidak langsung dengan sopir? Saya tidak paham daerah sini" lanjut Bryan mengatakan keinginan tambahan dari dirinya.


"Siap bisa Tuan Muda" ujar manager lagi.


"Andri, kamu sekarang jadi sopir Tuan Muda untuk melayani dirinya kemana dia mau pergi selama tinggal di hotel" ujar manager memberi perintah tambahan kepada Andri untuk menjadi sopir Bryan selama dirinya tinggal di hotel.


"Hah? Saya manager?" ulang Andri yang tidak yakin kalau dirinya yang diminta untuk melayani Tuan Muda yang terkenal dingin dan sombong sert angkuh itu.


"Iya kamu, siapa lagi. Tidak ada orang lain yang bisa menjadi sopir Tuan muda lagi. Hanya kamu yang bisa" kata Manager memberitahukan kepada Andri bahwa tidak ada orang lain lagi yang bisa.


"Oh baiklah manager. Saya Terima walaupun ya begitulah" ujar Andri yang dengan terpaksa menerima perintah dari managernya itu.


"Terimakasih Andri, saya berhutang dengan kamu" ujar manager.


Manager kemudian memberikan sebuah amplop kepada Andri.


"Apa ini manager?" kata Andri bertanya kepada manager sambil memegang amplop coklat tersebut.


"Uang untuk beli bensin. Nggak mungkin kamu beli bensin mintak ke Tuan Muda. Ntah kalau kamu berani" kata manager lagi


"Siap tidak manager" ujar Andri.

__ADS_1


Manager kemudian memberikan kunci mobil kepada Andri. Andri yang melihat kunci apa diberikan oleh manager hanya bisa geleng geleng kepala saja


"Gores saya tidak tanggung jawab" ujar Andri yang sudah bisa berhitung berapa biaya bengkel kalu mobil itu tergores.


"Selama masih membawa Tuan Muda, biaya perawatan di tanggung perusahaan" ujar manager.


Manager dan Andri kemudian keluar dari dalam ruang kerja manager. Manager akan memperkenalkan Andri kepada Bryan.


"Tuan muda, Andri akan menjadi sopir Tuan muda selama Tuan muda menginap di hotel" ujar manager memperkenalkan Andri sebagai sopir yang akan melayani Bryan selama dirinya berada di pulau Balis.


"Oh oke" ujar Bryan sekenanya saja.


"Saya pamit ambil mobil dulu Tuan muda" ujar Andri.


Andri kemudian pergi mengambil mobil. Sedangkan Bryan masih tetap duduk di sofa yang sama dari tadi. Dia tidak akan mau menunggu di pintu masuk lobby. Dia akan menunggu kedatangan Andri di dalam lobby saja. Sedangkan manager yang melihat Bryan masih duduk di sofa akhirnya memilih untuk tetap berdiri di dekat Bryan. Resepsionis dan beberapa offline boy serta valet yang melihat apa yang dilakukan oleh manager hanya bisa memberikan manager semangat dengan bahasa isyarat serta membantu manager dengan doa saja. Mereka semua tidak ada yang berani mendekat ke arah manager


Tepat sepuluh menit semenjak Andri pergi mengambil mobil, sebuah mobil keluaran terbaru dan sangat mewah berhenti di depan lobby hotel mewah itu.


"Tuan muda, mobil sudah datang" kata manager kepada Bryan.


"oke" jawab Bryan.


Bryan kemudian berdiri dari posisi duduknya. dia berjalan keluar menuju mobil yang sudah menunggu Bryan di depan pintu masuk hotel. mewah bintang lima itu.


Seorang vallet mobil membukakan Bryan pintu mobil. Bryan masuk tanpa mengucapkan terimakasih kepada vallet yang telah membukakan pintu mobil.


"kita kemana Tuan muda?" tanya Andri dengan hormat dan sedikit ragu menyapa Tuan muda itu.


"cari makanan tradisional. tidak restoran mewah" jawab Bryan.


Andri harus memotar otaknya untuk membawa Tuan Muda itu ke warung lesehan yang makanannya enak dan tidak ramai orang


'bener bener permintaan yang sangat susah' ujar Andri lagi.


Tapi bagaimanapun susahnya Andri tidak bisa menolak keinginan dari Bryan. Dia tetap harus melaksanakan perintah dari Bryan itu.


"Ya Tuhan lancarkanlah urusan pekerjaan saya dalam beberapa hari ke depan" Ujar Andri berdoa dalam hatinya memohon bantuan Tuhan dalam pekerjaannya yang dirasakan Andri lebih berat dari pada menjadi seorang office boy seperti biasanya

__ADS_1


__ADS_2