
Baiklah Julian, saya akan mengabulkan permintaan kamu itu. Saya akan memberikan pengumuman untuk semua orang yang tadi makan siang dikantin untuk berkumpul di kantin kembali sekarang" ujar manager yang setuju dengan apa yang diinginkan oleh Julian.
Manager kemudian meminta salah satu karyawannya untuk mengumpulkan semua karyawan yang tad makan siang di kantin untuk berkumpul ke aula perusahaan yang letaknya bersebelahan dengan kantin tempat Julian dan Vian makan siang tadi.
"Terimakasih buk, sudah mengambulkan permintaan saya" ujar Julian mengucapkan terimakasih nya kepada manager HRD yang sudah bekerja dengan sangat baik dan sudah mengambil keputusan yang sangat tepat untuk setiap kasus yang terjadi di perusahaan.
Hukuman yang sebenarnya lebih berat dari pada hukuman fisik yang dikatakan oleh Julian tidak ingin dilakukan oleh dirinya. Julian sangat cerdik sekali dalam memilih hukuman yang akan diberikannya kepada Ranti.
Manager HRD berjalan berdampingan dengan manager personalia. Setelah itu Julian dan Ranti karyawan yang akan meminta maaf di depan semua orang nantinya. Mereka berempat keluar dari dalam ruang kerja manager HRD. Vian yang melihat Julian sudah keluar, juga langsung berdiri dari posisi duduknya. Dia langsung berjala menuju Julian.
"Gue dengar semua karyawan yang tadi makan siang di kantin di kumpulkan. Apa semuanya sudah terbukti?" tanya Vian yang penasaran dengan pengumuman tadi
"Ya, semua sudah terbukti. Sekarang tinggal menunggu eksekusinya lagi" kata Julian memberitahukan apa hasil keputusan dari manager HRD.
"Keren tu manager. Bisa langsung mengambil keputusan yang tepat" puji Vian kepada manager HRD perusahaan VJ Grub itu.
"Ya, sepertinya perusahaan ini benar benar menempatkan seseorang dengan kapasitas dan kemampuannya. Bukan karena azas berteman dengan siapanya" kata Julian memberikan tanggapan dari pernyataan yang dikatakan oleh Vian tadi.
"Ya memang benar. Gue setuju dengan pendapat loe kali ini" ujar Vian yang juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian tadi.
Mereka berlima kemudian berjalan menuju aula perusahaan. Jarak dari ruangan manager HRD dengan aula perusahaan hanya perlu berjalan lima belas menit. Karena mereka turun menggunaan lift bukan tangga. Makanya waktu yang diperlukan sangat singkat sekali.
Semua karyawan sudah berkumpul di dala aula yang luas itu. Para manager juga terlihat hadir di sana termasuk wakil direktur yang selalu mewakili direktur saat harus berurusan dengan perusahaan lain.
Julian dan Ranti duduk di sebuah kursi yang diletakkan di bagian pinggir panggung. Sedangkan para karyawan yang lain sudah duduk di posisi mereka masing masing.
"Apa karyawan baru itu akan meminta maaf, karena sudah menuduh orang mengambil ponselnya?" kata seorang karyawan yang tempat duduknya di belakang Vian.
Vian langsung saja memutar kepalanya untuk melihat siapa yang sudah mengeluarkan kata kata tuduhan seperti itu.
__ADS_1
"Loe mau tau akibat dari memfitnah orang?" tanya Vian kepada dua orang karyawan wanita yang duduk di belakangnya.
"Kalau mau tau, tunggu aja. Sebentar lagi akan lihat apa konsekuensi kalau memfitnah Julian" lanjut Vian lagi
Kata kata yang dikeluarkan oleh Vian dari dalam mulutnya membuat dua orang karyawan itu langsung terdiam. Mereka berdua tidak lagi berkomentar apapun. Mereka sama sama langsung menutup mulutnya saat itu juga.
Manager HRD kemudian berdiri di depan pengeras suara yang ada di podium. Dia mengetuk tiga kali mic tersebut. Hal itu membuat semua karyawan langsung diam dan tidak mengeluarkan suara apapun. Mereka fokus melihat ke arah manager HRD yang sudah berada di atas podium.
"Baiklah, terimakasih atas waktu da juga kehadiran anda semua ke aula ini. Kali ini saya mengumpulkan anda semua untuk meluruskan permasalahan yang sempat terjadi di kantin saat jam makan siang tadi" kata manager HRD membuka perihal kenapa semua karyawan di kumpulkan di aula tersebut.
"Julian silahkan ke depan" kata manager HRD meminta Julian untuk berdiri ke atas panggung.
Wakil direktur yang mendengar nama Julian di panggil langsung saja melihat ke arah Julian. Dia memperhatikan Julian dengan seksama. Seperti halnya manager HRD memperhatikan Julian saat Julian berada di ruang kerjanya tadi.
"Memang mirip dengan apa yang kita pikirkan, tetapi kita harus cari bukti yang kuat" kata manager HRD kepada wakil direktur.
"Nanti kita bicarakan" ujar wakil direktur yang tidak ingin terlihat mengobrol di saat semua karyawan mereka serius mendengarkan orang yang akan berbicara di panggung itu.
"Terimakasih atas waktu yang diberikan kepada saya. Di sini, kali ini saya cuma mau mengatakan kepada semua rekan rekan karyawan, bahwasanya kita ini semua sama, jadi tidak perlu bersaing untuk membuat posisi kawan menjadi sulit. Kalau mau bersaing silahkan bersainglah dengan cara yang sehat. Tingkatkan kemampuan kerja kita sendiri sendiri, bukan dengan memfitnah orang lain." kata Julian mulai mengeluarkan suaranya.
"Cukuplah saya yang kali ini di fitnah, jangan ada karyawan lainnya. Apapun latar belakang anda ingin membuat seseorang berada di posisi sulit, tolonglah berpikir kembali. Jangan karena ingin maju, anda membunuh karakter orang lain" lanjut Julian.
"Kali ini saya memaafkan Ranti untuk kesalahannya. Tapi tidak untuk waktu yang lainnya." kata Julian.
"Sekian dan terimakasih" kata Julian menutup pembicaraan dirinya di depan podium itu.
Semua orang menatap ke arah Julian. Mereka kaget saat mendengar bagaimana cara Julian berbicara. Sebuah magnet yang seperti aura seorang bos besar terpancar dari cara Julian berbicara tadi. Hal itu membuat semua orang menjadi diam dan terpana saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian barusan.
"Ranti sekarang giliran kamu untuk maju" kata manager HRD meminta Ranti untuk maju ke depan.
__ADS_1
Ranti kemudian maju dan berdiri di belakang podium pengeras suara. Dia terlihat sangat cemas sekali. Dia benar benar takut dan jatuh mentalnya sekarang. Ranti sama sekali tidak bisa membuka suaranya
"Woi, ngomong loe jangan hanya diam saja" teriak seorang karyawan dari deretan kursi paling belakang.
"Setuju, kalau loe berani berbuat, berani juga tanggung jawab. Jangan hanya diam saja. Nggak asik lo" sambar karyawan yang lainnya.
Teriakan teriakan para karyawan itu membuat Ranti yang berada di atas podium semakin takut dan semakin tidak mampu membuka mulutnya.
Akhirnya setelah rong rongan dari orang orang yang ada di ruangan itu, Ranti akhirnya membuka suaranya. Dia meminta maaf kepada Julian dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Suara riuh langsung terdengar dari arah tempat duduk para karyawan. Ranti hanya bisa pasrah saja. Sekarang dia benar benar terpuruk mentalnya. Dia sudah memutuskan akan mengirimkan surat pengunduran diri karena kesalahannya sendiri.
"Kalau gue jadi Julian. Gue akan suruh tu orang bersih bersih kamar mandi" kata seorang karyawan.
"sama. kalau gue akan minta dia diberhentikan" ujar karyawan yang lain.
"Itulah beda Julian dengan kita semua. Kita mementingkan ego kita sendiri tanpa memberikan pelajaran kepada orang yang telah berbuat semena mena kepada kita" ujar karyawan yang berjalan di depan Julian dan Vian.
"Julian juga mengajarkan kepada kita, kalau kita nggak boleh melakukan suatu hal yang bodoh yang akibatnya akan ke diri kita sendiri. itu contohnya, gue sangat yakin Ranti tidak akan sanggup lagi bekerja di sini" kata karyawan yang lainnya menimpali pembicaraan dari karyawan sebelumnya.
"gue juga sangat yakin" kata yang lainnya.
Julian bisa mendengar apa yang mereka katakan. Memang tujuan Julian adalah membentuk karyawan supaya tidak melakukan hal yang bodoh untuk menyingkirkan karyawan yang lain.
"Gue juga yakin, kalau Ranti tidak akan di sini lagi mulai besok" kali ini Vian berbicara kepada Julian.
"gue juga tidak" jawab Julian dengan entengnya.
Julian memang sangat berharap Ranti tidak lagi bekerja di perusahaan itu. karyawan yang seperti Ranti tidak layak berada di perusahaan VJ Grub yang mengedepankan prilaku baik karyawan karyawannya. Hanya karena Ranti seorang citra itu akan rusak. maka tidak ada orang yang akan membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
Semua karyawan kemudian kembali ke ruang kerja mereka masing masing. Mereka tidak menyangka kalau rasa cemburu bisa membuat seorang karyawan menuduh yang tidak tidak kepada karyawan lain. Suatu hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi di perusahaan VJ Grub.