
"Kita makan di rumah saja sayang. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita hanya tinggal menikmatinya saja lagi." Kata Julian sambil tersenyum yang indah kepada Bryan.
"Tapi aku butuh waktu sedikit untuk memanaskan semua makanannya terlebih dahulu" lanjut Julian meminta sedikit waktu untuk dirinya memanaskan semua hasil masakan itu.
Julian memang sudah menyiapkan semua menu makan siang mereka untuk perayaan hari kelulusannya itu kemaren sebelum Bryan pulang ke rumah. Julian sudah memasak ayam kecap, dendeng balado. Pokoknya semuanya sudah di siapkan oleh Julian. Mereka semua hanya tinggal menyantap makanan itu saja lagi saat sampai di rumah.
"Hem oke. Kalau kamu yang sudah menyiapkan makanan aku setuju banget. Masakan kamu sangat enak" kata Bryan dengan semangat.
"Setuju, kalau Julian yang masak, nggak usah diragukan lagi rasanya. Restoran bintang lima saja lewat dibuatnya" kali ini Kevin menambahkan apa yang dikatakan oleh Bryan tadi.
"Haha haha. Biasa aja kali Kevin" Julian berkata sambil terus menggenggam tangan Bryan.
"Cie ada yang malu" goda Vian.
Julian semakin memeluk lengan Bryan dengan kuat. Dia menyurukkan wajahnya di punggung Bryan. Julian benar benar malu dibuat oleh Kevin dan Vian.
"Sudah sudah jangan goda Julian lagi. Tengok wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus" Bryan berusaha menghentikan godaan para pengawalnya itu.
"Yah kalahkan. Jelas dekingan aku kuat" ujar Julian sambil tersenyum penuh kemenangan saat mendengar Bryan membela dirinya
Mereka kembali masuk ke dalam mobil Kevin. Kevin mengemudikan mobil menuju rumah Bryan dan Julian kembali. Mereka akan merayakan hari wisuda Julian di rumah saja sesuai dengan permintaan Julian.
Kevin mengemudikan mobil kembali menuju rumah Bryan dan Julian. Sepanjang jalan Bryan terus menggenggam tangan Julian. Felix yang berada di belakang serasa menyewa di atas mobil itu. Bryan dan Julian sama sekali tidak memperdulikan perasaan Felix yang duduk setia di sana seorang diri.
"Gimana kata sambutan aku tadi sayang? Apa aku terlihat grogi?" tanya Julian.
"Sama sekali tidak, kamu sangat sangat hebat sayang. Aku sangat kagum dengan dirimu. Kamu bisa menguasai panggung itu" jawab Bryan dengan sejujur jujurnya.
"Satu lagi, aku tidak melihat kamu membuat konsep pidato sejak semalam?" tanya Bryan yang heran kenapa bisa Julian menyampaikan kata sambutannya tanpa melihat sedikitpun rancangan yang ditulis dalam kertas satu lembar.
"Aku sama sekali tidak membuat konsep sayang. Aku mengatakan apa yang ada di otak aku saja" jawab Julian.
"Itu hebatnya seorang dosen Bryan. Dia bisa mengatakan apapun yang ada di dalam otaknya. Beda dengan kita kita yang hanya orang biasa seperti ini. Setiap mau berbicara buat konsep dulu. Malahan ada yang lebih tragis orang lain yang membuatkan konsepnya" kali ini yang mengatakan adalah Kevin.
Kevin memang sengaja menjawab seperti itu supaya Bryan sedikit merasa tersinggung. Bryan selalu seperti itu, setiap akan menyampaikan kata sambutan, pastilah Kevin yang akan membuat teksnya.
"Oooooooo jadi ada ya orang yang keberatan untuk membuat naskah kata sambutan" balas Bryan langsung kepada Kevin.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudnya. Loe tengok ajalah pejabat, yang membuat kata sambutannya siapa? Ajudannya kan, kalau tidak staff nya" kata Kevin memberikan contoh kepada Bryan. Kevin tidak mau Bryan salah sangka kepada dirinya, sehingga membuat dia mengalami posisi yang sulit pada akhirnya.
Bryan mengangguk angguk, dia malas melanjutkan pembicaraan ini. Bisa bisa nanti Julian curiga hanya karena hal ini saja.
Kevin memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Setelah itu semua orang turun dari dalam mobil. Mereka semua masuk ke dalam rumah Julian.
"Tunggu bentar ya, aku siapin dulu makanannya" kata Julian.
"Sayang, kita makan depan TV saja" ujar Bryan yang meminta Julian untuk menyiapkan makanan di depan TV.
"Sip sayang. Vian bantuin aku ya!" Julian meminta bantuan kepada Vian untuk menolong dirinya menghidangkan menu makan siang mereka yang spesial kali ini.
"Sip" Vian setuju untuk membantu Julian menyiapkan makanan.
Vian memanaskan dulu semua makanan yang akan dihidangkan nya. Bryan termasuk orang yang tidak suka makan makanan dingin.
"Kenapa dipanaskan Julian?" tanya Vian yang kaget melihat Julian memanaskan semua makanan yang dibuatnya.
"Sohib kamu yang satu itu, mana bisa makan makanan dingin. Dia akan terus meminta makanan panas" kata Julian memberitahukan kebiasaan makan Bryan.
"Serius loe?" tanya Vian yang kaget dengan kebiasaan Tuan Muda.
"Haha haha haha. Ada ada aja kelakuan orang ya Julian. Kita gimana makan yang dingin, eeeee suami kamu gimana makan yang hangat sampai piring piring pun harus hangat" kata Vian yang tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.
"Ya mau bagaimana lagi. Gue syukurin aja. Masih mending dia mau pakai alat pemanas makanan, kalau minta dipanasi pakai baru gimana? Repotkan gue" ujar Julian sambil menaruh piring hangat mereka ke atas baki.
Julian dan Vian menaruh semua menu makanan di karpet yang sudah dibentang oleh Kevin di depan televisi.
"Wow sepertinya nikmat nikmat semua makanannya" ujar Kevin saat melihat makanan apa saja yang terhidang di depan waja mereka semua saat ini.
"Cobain dulu baru bisa kamu mengatakan enak dan tidak enak" jawab Julian.
Julian mengambilkan nasi untuk Bryan. Bryan tersenyum bahagia. 'Memang berbeda kenikmatan nasi saat diambilkan oleh istri dengan yang diambilkan oleh pelayan' ujar Bryan dalam hatinya.
"Vian, tolong ambilkan nasi gue ya" ucap Kevin sambil memberikan piring kosongnya kepada Vian.
Vian menatap piring kosong itu. Dia sangat tidak suka sekali Kevin memerintah dirinya di depan semua orang. Apalagi ini mengambilkan makanan, wow suatu hal yang tidak akan mungkin mau Vian melakukannya.
__ADS_1
"Punya tangan kan ya?" tanya Vian kepada Kevin.
"Ada ne dua tangan" Kevin dengan polosnya mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi.
"Nah, gunain aja tu kedua tangan untuk ngambil makanan." jawab Vian dengan ketus.
"Lain cerita kalau loe nggak punya tangan. Baru loe bisa pinjam tangan gue" lanjut Vian lagi.
"Haha haha haha haha"
Bryan dan Felix sontak langsung tertawa saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Vian kepada Kevin. Apalagi saat mereka melihat wajah Kevin yang memerah padam. Hal itu semakin membuat Bryan dan Felix menjadi sangat bahagia sekali.
"Yah yah yah. Bahagia sekali loe berdua ya" ujar Kevin.
"Sedikit bahagia" jawab Felix dengan menahan senyumannya.
"Oh ya Vian, makasih ya loe udah membantu gue mencarikan jawaban kalau Kevin minta tolong ke gue" ujar Felix dengan nada bahagianya.
Vian mengangguk. Dia sebenarnya mau membantu Kevin, tetapi tidak di depan orang ramai seperti ini.
"Sudah sudah. Jangan di teruskan lagi. Nanti makanan jadi dingin plus piringnya juga dingin" kata Julian meminta mereka semua menghentikan candaan yang tidak masuk akal itu.
"Nanti ada yang nggak selera makan walaupun sambalnya kesukaan dia" sambung Vian sambil berusaha menahan senyumannya.
"Wow sudah berani dia" kali ini Kevin yang bersuara.
Vian yang sadar sudah menyinggung siapa hanya bisa menggaruk kepalanya. Dia tadi sedikit lupa kalau rekan daam obrolan kali ini ada bos besarnya.
"Hay sudah. Obrolan nanti kita lanjutkan kembali" nada suara Julian sudah sangat tinggi dari pada sebelumnya.
"Sudah. Kita makan sekarang" kali ini Bryan yang bersuara.
Ketiga orang tadi yang masih akan melanjutkan keributan nya menghentikan secara mendadak obrolan mereka saat mendengar suara Bryan yang meminta mereka untuk diam.
"Sambal apa sayang?" tanya Julian dengan mesra kepada Bryan.
"Biasa ayam kecap bagian paha, satu potong dendeng" jawab Bryan.
__ADS_1
Julian mengambilkan sambal yang diinginkan oleh Bryan. Dia juga menambahkan sambal lado rebus serta sayur capcay yang juga merupakan kesukaan Bryan.
Mereka semua makan dengan sangat lahap menu makanan yang disediakan oleh Julian. Mereka makan sambil berbincang bincang antara satu dengan yang lainnya. Berbagai hal mereka bahas bahkan masalah pekerjaan. Tetapi sampai sekarang mereka tidak pernah membahas tentang perusahaan, satu hal yang sangat mereka hindari untuk mereka bahas.