Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #20


__ADS_3

"Gue pilih ini ajalah Vin. Sepertinya baju ini pas dan keren di pakai Bryan"


"Yakin loe kalau ini adalah pilihan terakhir? Atau masih ada pilihan pilihan lain berikutnya lagi?" Tanya Vina sambil melirik ke arah Julian yang dari tadi mengatakan kalau itu adalah pilihan terakhir.


"Yakin gue. Kali ini yakin sangat kalau ini adalah pilihan terakhir dan tidak akan tukar tukar pilihan lagi" jawab Julian yang sudah menetapkan hatinya kalau pilihan terakhirnya adalah kemeja yang sekarang sudah berada di tangannya itu, itu adalah kemeja yang paling keren yang sesuai dengan isi saku Julian.


"Mana tengok? Gue pengen lihat pilihan elo, yang udah muter muter mall selama satu jam lebih."


"Mana kaki gue udah gempor lagi" kata Vina yang memang sudah terlalu letih menuruti Julian yang mengelilingi mall mencari baju yang sesuai dengan keinginannya dan harganya cukup miring.


Akhirnya buah kesabaran dari Julian tercapai juga. Julian berhasil menemukan baju yang keren dan berharga miring. Hal ini membuat Julian menjadi sangat bahagia sekali.


Julian memperlihatkan baju yang telah dipilihnya tadi kepada Vina. Vina menatap lama baju pilihan Julian. Julian ternyata memiliki selera yang sangat tinggi untuk pakaian. Hal itu terlihat dari pilihan baju yang akan diberikannya kepada Bryan. Baju yang harganya tidak seberapa tetapi memiliki model yang pastinya akan sangat disukai oleh Bryan. Vina bisa memastikan hal itu karena dia sudah biasa melihat model baju yang biasa dikenakan oleh Bryan. Model yang sama dengan yang dipilih oleh Julian. Walaupun dari segi merk tidak bertemu sama sekali.


"Bagaimana menurut kamu? Keren ngak?" tanya Julian yang meminta pendapat dari Vina tentang baju yang dipilihnya.


Baju yang menurut Julian itu adalah baju yang paling keren dan paling sesuai dengan Bryan. Terutama sekali sesuai dengan budget yang ditetapkan oleh Julian.


Vina mengacungkan jempolnya kepada Julian. Vina tersenyum dan mengangguk anggukkan kepalanya setuju atas pilihan Julian.


"Itu akan sangat keren di pakai oleh suami kamu. Sudahlah dia gagah makin gagah dan keren setelah memakai kemeja ini."


"Istilahnya ini ya, dari nilainya yang sembilan setengah jadi sepuluh setengah. Atau kita anak kuliah ini dari nilai A menjadi A plus"


Vina memuji baju yang dipilih oleh Julian.


"Lebay loe. Mana ada segitunya" kata Julian yang nggak ingin Vina terlalu memuji pilihan kado ucapan terimakasih nya untuk Bryan.

__ADS_1


"Serius itu sangat bagus. Kalau loe nggak percaya sama yang gue bilang. Sini ikut gue."


Vina menarik tangan Julian untuk berjalan menemui seorang pria yang berdiri tidak jauh dari mereka. Pria yang sebenarnya masih dalam lingkaran yang sama dengan Vina.


"Hay bro maaf ganggu" ujar Vina sok kenal dan sok dekat dengan laki laki yang dipanggilnya bro itu.


"Ya ada yang bisa dibantu?" jawab pria itu dengan ramah seperti juga sudah kenal dengan Vina.


"Menurut loe sebagai laki laki, apa baju ini sangat keren saat di pakai seseorang yang tingginya hampir sama dengan elo dan badannya juga sama besar dengan elo" Vina dengan gampangnya berbicara dengan orang yang baru ditemuinya itu. Sedangkan Julian hanya terdiam dan melihat Vina yang memang selalu gampang berbicara dengan orang yang baru dikenalnya, hal ini berbanding terbalik dengan Julian.


Pria yang dimintai pendapatnya oleh Vina, melihat kemeja yang di pegang oleh Vina tersebut. Pria itu melihat dengan seksama ke kemeja yang di pegang oleh Vina.


"Menurut gue, pria yang memakai kemeja ini akan sangat terlihat tampan. Loe ngasih untuk pacar loe?" tanya pria tersebut kepada Vina.


"Oh tentu tidak. Kawan gue ini yang beli kemeja ini untuk suaminya"


Julian mengangguk, dia sama sekali tidak menyangka kalau pria itu akan berbicara dengan dirinya. Dalam bayangan Julian pria itu hanya akan berbicara dengan Vina saja, karena dirinya dari tadi hanya diam saja tidak ikut berbicara.


"Loe pulang sama apa?" tanya Vina saat mereka berdua sudah berada di antrian kasir untuk membayar kemeja yang sudah dipilih oleh Julian tadi.


"Taksi online saja"


"Loe sama apa?" giliran Julian bertanya kepada Vina sahabatnya yang sudah mau mengorbankan waktu berharganya untuk menemani Julian mencari hadiah untuk Bryan.


"Nunggu saudara jemput. Kalau naik taksi online kejauhan" jawab Vina ngasal. Sebenarnya Vina ada urusan lain yang harus dilakukannya setelah menemani Julian berbelanja.


Julian dan Vina kemudian pergi membayar kemeja yang sudah dipilih oleh Julian.

__ADS_1


"Makasih ya udah mau nemani gue cari kemeja ini"


"Sama sama" jawab Vina sambil tersenyum.


Setelah itu mereka berpisah di parkiran mall. Julian naik taksi online ke kontrakannya, sedangkan Vina menunggu jemputan di mall tersebut.


.............................................................


"Sepertinya Bryan masih belum pulang" ujar Julian saat melihat pintu pagar yang masih tertutup rapat. Serta saat menyaksikan tidak ada sepatu kerja Bryan terletak di rak rak sepatu.


Julian mengeluarkan kuncinya dari dalam saku tas. Dia membuka pintu kontrakannya yang sederhana itu.


"Hem bunga bunga itu harus di siram" ujar Julian saat melihat tanaman bunganya seperti sudah mulai layu dan memang harus di siram, malahan kalau bisa di remajakan ulang, Julian akan mencari waktu untuk melakukan hal itu.


Julian masuk ke dalam rumah kontrakan sederhana tersebut. Dia manaruh tas nya serta menyimpan kado yang akan diberikan kepada Bryan ke tempat yang dirasa oleh Julian tidak akan diketahui keberadaannya oleh Bryan.


"Aku akan masak menu spesial hari ini. Masak ayam kecap dan tempe crispy, semoga Bryan suka dengan hidangan ini"


Julian mengeluarkan semua bahan bahan yang akan diperlukannya dari dalam kantong kresek. Setelah itu Julian mulai mengolah bahan bahan makanan itu menjadi menu yang sudah direncanakan oleh Julian saat dirinya membeli semua bahan makanan itu di tukang sayur depan gang.


"Selesai. Saatnya bersih bersih setelah itu tinggal menunggu suami pulang sekalian mengerjakan sedikit perbaikan lagi" kata Julian sambil merapikan dapur yang sedikit berantakan karena dia memasak tadi.


Julian memulai lagi perkerjaannya. Dia menyempurnakan lagi tugas akhirnya yang memiliki sedikit perbaikan. Julian terlihat sangat serius sekali.


"Kenapa udah jam segini Bryan masih belum pulang ya? Ada apa dengan dirinya?" Julian mulai sedikit cemas dengan keadaan Bryan di luar sana.


Julian berpindah duduk di ruang depan. Dia benar benar mencemaskan suaminya itu sekarang. Dia selalu saja menatap ke arah luar, berharap pria yang sedang ditunggu tunggu ya itu datang sekarang juga dalam keadaan sehat.

__ADS_1


__ADS_2