
"Sayang, kamu kapan libur?"
Julian yang sedang memasak sarapan mendadak. tubuhnya langsung menegang saat kaget menerima pelukan yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.
Bryan yang tau kalau istrinya itu kaget berusaha menahan tawanya dan tersenyum bahagia melihat bagaimana reaksi seorang Julian yang kaget saat dipeluk.
'Gue bener bener memperistri seorang wanita lugu'. 'Gue sangat yakin kalau Julian tidak pernah dipeluk oleh seorang laki laki selama ini.' 'Betapa beruntungnya gue' ujar Bryan dalam hatinya dengan nada bangga dan bahagia yang tidak bisa disembunyikan oleh Bryan.
Bryan sangat bahagia karena mendapatkan istri yang seperti Julian. Seorang wanita yang sama sekali tidak mengenal pria atau kehidupan berbagi kisah romantis karena tuntutan hidupnya selama menjadi mahasiswi.
"Kamu ngagetin aku aja" ujar Julian memprotes apa yang dilakukan Bryan.
"Tapi kamu suka kan?" balas Bryan yang nggak mau mengalah mendengar apa yang dikatakan oleh Julian.
"Hem" hanya itu tanggapan yang bisa diberikan oleh Julian kepada Bryan atas rasa percaya diri Bryan menanggapi protes yang diajukan Julian kepada dirinya.
"Jadi, apa malam minggu ini kamu libur kerja di supermarket?" Bryan kembali mengulang pertanyaannya kepada Julian. Tetapi masih dalam posisi memeluk Julian dengan pelukan mesra. Malahan sekarang Bryan sudah menaruh dagunya di pundak Julian.
Nafas yang dikeluarkan oleh hidung Bryan, sedikit mengganggu kepada Julian. Tetapi, Julian tidak ingin memprotes apa yang dilakukan oleh Bryan kepada dirinya. Julian berusaha menikmati semua itu dengan caranya sendiri.
Julian berusaha menatap ke arah Bryan. Dia sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan dari Bryan.
"Aku mau mengajak kamu kencan di luar" jawab Bryan dengan terang terangan.
"Hah!!!" Julian sangat kaget mendengar apa yang dikatakan suaminya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau perkataan itu yang akan diucapkan oleh Bryan kepada dirinya.
Selama ini, Julian jangankan berharap seorang pria tampan mengajak dia kencan, bermimpi saja Julian sama sekali tidak berani. Julian benar benar kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Kencan makan bakso sayang"
Bryan menatap ke arah Julian. Julian masih dengan ekspresi seperti tadi saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
__ADS_1
"Kali ini makan bakso di pinggir jalan, besok besok makan bakso di restoran bintang lima, atau kita akan langsung mendatangkan mamang tukang bakso paling enak ke rumah" ujar Bryan sambil memegang tangan istrinya.
"Aamiin. Aku percaya sama kamu, walaupun aku sebelumnya tidak pernah mengenal kamu"
"Tetapi dengan semua yang kamu lakukan ke aku, aku sangat yakin kalau kamu sangat sangat mencintai aku dengan tulus. Aku sangat bahagia dengan itu semua sayang" jawab Julian sambil menatap dengan tatapan yang penuh arti ke wajah Bryan.
Bryan tersenyum membalas senyuman tulus dari Julian. 'Aku pastikan aku akan membuat kamu bahagia istriku. Nantikan saat itu tiba. Aku janji sama kamu'
"Ayuk sarapan. Hari ini makan dengan ayam tepung yang kamu beli semalam." ujar Julian yang kembali menggoreng ulang ayam tepung yang dibawa Bryan untuk makan malam mereka semalam. Tetapi karena Julian sudah masak menu makan malam, Bryan lebih memilih menikmati menu makan malam yang dibuat Julian dari pada ayam tepung yang dibawanya dari luar.
"Jadi kamu liburkan malam minggu?" ulang Bryan yang sampai sekarang masih belum mendapatkan jawaban dari Julian atas pertanyaannya.
"Sebenarnya sih nggak. Cuma aku akan minta pulang cepat aja. Kamu jemput jam delapan aja ya" ujar Julian setelah mempertimbangkan keinginan dari Bryan.
Julian tidak ingin Bryan menjadi kecewa kepada dirinya karena Julian lebih mementingkan pekerjaan.
'Rugi sedikit tak apalah. Terpenting aku nggak berdosa karena menolak ajakan suami'
Selesai sarapan Julian membereskan meja makan dan menaruh piring kotor ke bak cuci piring. Sedangkan Bryan sudah mengambil sapu.
"Sayang kamu mau ngapain?" ujar Julian saat melihat Bryan sudah menyapu lantai.
"Kamu berangkat aja sana. Biar kali ini aku yang membereskan semua kegaduhan tadi pagi" jawab Bryan.
"Tapi........... Ini bukan kerjaan laki laki" ujar Julian dengan wajah dan nada lesu. Julian tidak mau suaminya mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Julian.
"Sayang, nggak ada tapi. Ini juga kerjaan laki laki. Kecuali kalau kamu tidur aja terus aku yang kerjain ini semua memang salah sayang. Tapi kan kamu pergi kerja."
"Masak iya, nanti kamu capek kerja, terus bersihin rumah. Mana tega aku sayang. Oke. Jadi jangan pikirkan"
Bryan meyakinkan Julian kalau apa yang dikerjakan oleh dirinya adalah bener bener alias murni dari dalam dirinya sendiri. Jian tersenyum keara Bryan. Dia sangat senang suaminya bisa memahami bagaimana letihnya Julian dalam menjalankan hari harinya selama ini.
__ADS_1
"Kamu hati hati di jalan ya. Nanti jam delapan kurang aku akan sampai di sana" kata Bryan mengingatkan Julian tentang janji temu kencan perdana mereka.
Julian mengangkat kedua jempolnya. Dia kemudian mencium punggung tangan Bryan. Suatu hal yang memang dilakukannya semenjak dia menjadi seorang istri. Bryan yang pertama sekali canggung atas apa yang dilakukan oleh Julian, tetapi setelah terbiasa Bryan merasa sangat senang. Malahan dia akan meresa kecewa kalau Julian tidak mencium punggung tangannya.
Bryan mengantarkan Julian sampai depan pintu pagar kontrakan kecil mungil milik mereka. Julian kemudian berjalan menuju supermarket tempat dia bekerja.
Bryan kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia akan berusaha untuk membersihkan rumah kontrakan mereka.
"Huft, apa aku bisa?" kata Bryan saat melihat sapu yang ada di tangannya.
"Aku harus bisa. Julian aja bisa cari uang, kuliah, masak, bersih rumah seeeeeeeeeeee tiap hari. Masa aku nggak bisa" Bryan menyemangati dirinya dengan memberikan kata kata motivasi.
"Oke selesai. Selanjutnya nyupir."
"Semangat Bryan"
Sekali lagi Bryan memberikan semangat kepada dirinya. Bryan benar benar tidak ingin mengecewakan Julian. Dia harus bisa membuat Julian bangga mempunyai suami seperti dirinya.
Bryan menuangkan sabun cuci piring yang ada di dekat bak cucian.
"Waduh kenapa banyak banget lagi tumpahnya"
"Cari kerjaan gue aja"
Bryan mulai melakukan tugas kedua. Dia berusaha dengan sungguh sungguh supaya setiap alat makan dan juga alat masak yang dipakai oleh mereka berdua tidak satupun menjadi banyak.
"Akhirnya selesai."
"Capek juga ternyata jadi istri." kata Bryan sambil duduk di atas karpet ruang tamu.
"Mending gue di suruh presentasi dan melobby rekan bisnis dari pada ngerjain pekerjaan rumah kayak gini"
__ADS_1
"Bener bener jadi istri itu harus strong."