
Bryan kemudian merapikan meja makan, Bryan memindahkan piring kotor ke dalam tempat cuci piring, bagian mencuci piring nanti adalah bagian pekerjaan Julian. Sedangkan Julian terlihat pergi ke dalam kamar. Dia menaruh kotak hadiah yang sudah disiapkan nya di atas kasur.
"Semoga kamu senang dengan hadiah ini suamiku. Hadiah yang tidak mahal, tetapi aku minta jangan lihat harganya, tetapi lihatlah bagaimana tulusnya aku memberikan hadiah ini kepada dirimu" ujar Julian berkata dengan sangat pelan. Julian takut kalau dia berkata agak keras, maka bisa terdengar oleh Bryan yang sedang berada di luar. Julian mengecup sedikit hadiah yang akan diberikannya itu, setelah adegan romantis tersebut, Julian kemudian menaruh hadiahnya di atas kasur.
"Kenapa lama sekali sayang?" tanya Bryan saat melihat Julian baru keluar dari dalam kamar setelah beberapa menit berada di dalam.
"Bersihin kamar dulu sayang. Mau tidur di atas sprei yang tidak dibersihkan?" ujar Julian mencari alasan supaya selamat dari pertanyaan pertanyaan yang akan diajukan oleh Bryan berikutnya.
"Mana aku mau sayang. Aku mandi dulu ya" kata Bryan.
Julian mengangguk setuju. Bryan pergi mandi sedangkan Julian membersihkan piring piring yang mereka gunakan tadi untuk makan malam. Setelah selesai membersihkan piring yang tidak seberapa, Julian masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Bryan.
"Oke selesai"
Julian kembali ke ruang tengah. Dia kemudian menghidupkan kembali laptopnya yang besar itu. Julian kembali mengerjakan sedikit lagi tugas akhirnya. Sebenarnya tugas akhirnya itu bisa selesai dengan cepat, tetapi karena ada drama kepulangan Bryan yang telat dari pada biasanya, membuat Julian menunda pekerjaan menyelesaikan tugas akhirnya itu.
"Pakaian kamu udah di atas kasur ya" kata Julian memberitahukan kepada Bryan.
"Oke sip. Makasi banyak sayang" kata Bryan dengan sangat mesra. Satu perubahan kembali terjadi dalam hidupnya. Julian sudah mau mengambilkan pakaian yang akan dipakai oleh Bryan setelah bersih bersih.
"Satu, dua, ti" Julian mulai menghitung saat Bryan sudah berjalan masuk ke dalam kamar.
"Sayang, ini apa? Siapa yang ulang tahun? Kenapa ada kado di dalam kamar kita? Apa aku melewatkan satu moment penting?" ujar Bryan berteriak dari dalam kamar mereka saat dirinya melihat sebuah hadiah di taruh Julian di atas kasur tepat di bawah baju yang akan dipakai oleh Bryan.
Julian berdiri di depan pintu kamar. Dia sudah tersenyum ke arah Bryan.
"Kenapa senyum senyum? Ada apa?" tanya Bryan yang semakin penasaran dengan hadiah dan juga senyum Julian.
"Siapa yang senyum?" ujar Julian lagi mulai menggoda Bryan.
"Sayang, jangan main main sayang. Ini hadiah untuk siapa dan kenapa ada hadiah di sini?" Bryan kembali mengulang pertanyaan nya untuk kedua kali.
"Kamu bica baca nggak sih. Di kertas kado itukan ada kartu ucapannya" ujar Julian kesal karena Bryan tidak melihat kertas ucapan yang ada di bagian bungkus kado.
Bryan membaca apa yang tertulis di kartu ucapan itu. Setelah itu dia menatap ke arah Julian.
"Jadi ini kado untuk aku?" tanya Bryan sambil menunjuk ke arah badannya.
__ADS_1
"Ya, itu hadiah untuk kamu" jawab Julian sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Bryan lagi.
"Apa kamu tidak suka mendapatkan kado dari aku?" tanya balik Julian dengan membuat nada suaranya sedikit murung.
Bryan yang mendengar nada suara Julian sudah mulai sedikit aneh, langsung menatap ke arah Julian dengan tatapan tajam dan penuh kasih sayang. Julian bisa merasakan tatapan dari seorang Bryan. Julian juga bisa merasakan makna di balik tatapan itu.
"Sayang, aku beneran sangat suka menerima kado dari kamu" jawab Bryan dengan sungguh sungguh.
"Tapi yang aku tanyakan tadi, ada acara apa, kenapa kamu memberikan hadiah ke aku. Sedangkan aku tidak sedang ulang tahun. Itu maksudnya sayang" ujar Bryan menjelaskan maksud dan keinginannya kepada Julian.
"Emang ngasih kado harus saat ulang tahun?" tanya balik Julian kepada Bryan.
"Nggak juga sih."
"Terus, apa salahnya ngasih kado tidak di waktu ulang tahun?" tanya Julian balik kepada Bryan.
"Kan harus ada penyebabnya, kenapa harus kasih kado" ujar Bryan yang tidak mau kalah.
"Hem. Sebenarnya aku ngasih kado ini karena...." ujar Julian yang terlihat sedikit kagok untuk mengatakan apa yang mendasarinya memberikan hadiah kepada Bryan.
"Karena kamu mencintai akukan ya?" lanjut Bryan.
"Haha haha haha. Kamu percaya diri sekali Tuan Muda" kata Julian sambil tersenyum ke arah Bryan.
"Lah orang yang ngasih hadiah itu tanda sayang dan cinta. Apalagi kalau ngasih hadiahnya ke lawan jenis" ujar Bryan yang masih tetap percaya diri dengan apa yang ada dalam pikirannya saat ini
"Ya nggak selalu gitu. Ada orang ngasih hadiah karena seseorang itu mendapatkan prestasi. Ada juga seseorang memberi hadiah karena orang itu dibantu dan sukses" ucap Julian menjelaskan kepada Bryan.
Bryan menatap ke arah Julian. "Jadi, kamu bagian yang mana?"
"Aku bagian memberikan hadiah sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolong aku dan sukses" jawab Julian sambil tersenyum bahagia ke arah Bryan.
"Sukses? Apanya?"
"Aku semakin nggak paham?"
__ADS_1
Julian memainkan ujung bajunya. Dia tidak tau mau mengatakan dari mana. Dia sendiri lumayan pusing mau menjelaskan bagian mana Bryan sudah membantunya.
"Hem gini, kemaren kamu kan banyu aku untuk menyiapkan tugas akhir aku. Nah, jadi tugas akhir aku itu pada akhirnya selesai dan aku sudah bisa untuk mendaftar sidang hasil" ujar Julian.
Julian menundukkan wajahnya dalam dalam, dia tidak berani menatap ke arah Bryan. Julian takut salah sampai kepada Bryan.
"Jadi, kamu sudah menyelesaikan tugas akhir kamu?" tanya Bryan dengan nada bangga yang terlihat jelas dari nada suara Bryan.
Julian mengangguk. "Berkat kamu" ucap Julian.
"Kamu yang keren. Aku hanya membantu" tolak Bryan saat Julian terlalu memuji dirinya yang telah membantu.
"Jadi, apa aku boleh membuka hadiah pertama aku dari istri aku yang baik ini?" Bryan berkata sambil menaik turunkan alis matanya.
Julian mengangguk. Bryan terlihat sudah akan membuka bungkus kadonya. Tetapi dengan tiba tiba Julian menahan tangan Bryan.
"Ada apa?" tanya Bryan yang kaget Julian menahan tangannya untuk membuka hadiah itu.
"Kamu nggak boleh kecewa karena harganya tidak seberapa. Oke? Janji?" ujar Julia yang takut kalau nanti Bryan kecewa saat melihat hadiah dari dirinya.
Bryan maju mendekati Julian. Bryan memegang dagu Julian dengan sangat lembut.
"Aku tidak akan ambil pusing dengan harga dan modelnya atau apapun itu. Bagi aku, kamu memberi aku hadiah, itu sudah membuat aku menjadi sangat bahagia sekali. Lebih bahagia dibandingkan aku mendapatkan pekerjaan" jawab Bryan sambil menatap tajam ke manik mata Julian.
"Lebay" ucap Julian.
"Beneran" jawab Bryan.
"Sudah buka kadonya. Jangan ribut mulu" perintah Julian kepada Bryan untuk membuka kado dari dirinya itu.
"Beneran udah boleh?" tanya Bryan sambil melirik Julian.
Julian menganggukkan kepalanya. Bryan mulai membuka hadiah tersebut. Dia kemudian mengangkat sebuah kemeja putih yang modelnya sangat Bryan banget. Bryan menatap kagum ke arah baju yang dipegangnya itu. Julian yang melihat ekspresi dari Bryan mendadak menjadi harap harap cemas. Dia tidak tau apakah Bryan suka atau tidak.
"Aku sangat suka" jawab Bryan.
"Bener?" ujar Julian tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan.
__ADS_1
Bryan mengangguk. Bryan maju dan memeluk Julian. Bryan tau berapa harga dari kemeja itu, tetapi karena yang membeli adalah Julian dan Bryan sangat tau bagaimana susahnya Julia mencari uang, membuat baju itu menjadi baju yang paling berharga dimiliki oleh Bryan.