
"Jadi gimana ini masalahnya sekarang sayang? Aku dapat izin nggak untuk pergi dinas keluar kota dengan Felix?" tanya Bryan yang belum mendapatkan keputusan apapun dari Julian.
"ais masih masalah itu juga baru sayang" kata Julian yang kaget mendegar pertanyaan dari Bryan kepada dirinya.
"lah iyalah sayang masih masalah itu juga yang mau aku tanyakan. aku kan belum mendapatkan jawaban apapun dari kamu" kata Bryan lagi.
"lagian aku juga tidak bisa menghubungi Felix kalau jawaban dari kamu belum dapat sayang" ujar Bryan lagi.
Bryan sudah mengatakan kepada Felix kalau dia akan berangkat, saat mendapatkan izin dari Julian. Bryan tidak akan mungkin main kabur saja. Bisa bisa Julian mengamuk dan membuat semua yang terjadi selama ini menjadi buyar dan rusak seketika karena Bryan yang main kabur dari rumah untuk pergi ke perusahaan cabang selama beberapa hari ke depan.
"Kalau aku ngomong nggak bagaimana?" kata Julian bertanya kepada Bryan.
"Ya aku nggak pergi" jawab Bryan dengan santainya.
"kenapa?" tanya Julian penasaran dengan jawaban yang diberikan Bryan kepada dirinya.
"sayang sayang. suami tidak akan berkah jalannya kalau istri tidak merestui. begitu juga sebaliknya. Aku nggak mau perjalanan aku sia sia saja karena tidak kamu ridhoi" kata Bryan memberikan alasan kepada Julian.
"hem baiklah kalau begitu" Jawab Julian.
Julian terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya. Julian tidak menyangka kalau jawaban sesederhana itu yang akan diberikan oleh Bryan kepada dirinya. Julian mengira kalau Bryan akan mengamuk saat mendengar jawaban kalau tidak dari Julian. Ternyata malahan Julian yang diberikan kejutan oleh Bryan akan jawabannya.
"Baiklah aku setuju kamu untuk pergi keluar kota dengan Bryan. Tetapi harus dengan Felix, tidak sendirian" kata Julian menekankan syarat yang harus di penuhi oleh Bryan kalau dia tetap ingin berangkat keluar kota bekerja.
"Oke dengan Felix." jawab Bryan lagi.
__ADS_1
"Ya telpon sekarang Felix nya. Nggak nanti nanti" kata Julian lagi meminta Bryan untuk menghubungi Felix di depannya.
"Harus sekarang?" tanya Bryan yang sangat suka menggoda Julian dengan kebiasaannya.
"Harus sekarang, nggak nanti nanti" jawab Julian dengan manatap mata Bryan.
"Oke sip. Sekarang aku telpon" jawab Bryan lagi.
Bryan mengambil ponselnya dari atas meja. Dia mencari nama Felix di sana. Nama asisten yang letaknya di bawah nama Julian.
"Hallo Felix. Kita berangkat besok jam delapan. Jemput saya ke rumah" kata Bryan dengan kata kata yang pasti digunakan oleh dirinya. Sama sekali tidak ada basa basi apapun. Julian yang berada di sebelah Bryan menjadi heran mendengar bagaimana Bryan berbicara dengan Felix.
"Oke" jawab Felix yang kaget mendengar pa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Sayang, kamu kok ngomong ke Felix kayak atasan kepada bawahan? Bukannya Felix atasan kamu ya?" kata Julian meng komplen cara berbicara Bryan kepada Felix
"Ya memang atasan, tapi kan tadi ngomongnya bukan antara atasan dan bawahan, tetapi sahabat dengan sahabat" jawab Bryan berusaha mengelak dari tuduhan yang diberikan Julian kepada dirinya.
"Ais mana ada sahabat dengan sahabat kayak gitu cara ngomongnya" kata Julian yang semakin tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Ye lah kalau nggak percaya" jawab Bryan yang sudah mulai lelah dengan pembicaraan antara dirinya dengan Julian.
Julian sudah tau kalau Bryan mulai bosan dengan pembicaraan mereka kali ini. Apalagi dengan Julian yang banyak tidak percayanya kepada apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Gimana mau tidur lagi atau masih mau lanjut ngobrol?" tanya Julian kepada Bryan.
__ADS_1
"Siapin pakaian aku dulu tolong ya. Setelah itu baru kita tidur" Bryan berkata sambil meraih tangan Julian untuk masuk ke dalam kamar mereka guna menyiapkan pakaian yang akan dj bawa oleh Bryan saat bekerja ke luar kota.
"Sip. Untuk berapa hari?" tanya Julian yang tidak akan bisa menyiapkan pakaian Bryan kalau dirinya tidak mengetahui berapa hari Bryan akan keluar kota.
"Tiga hari saja. Itu sudah sangat lama rasanya, karena harus berpisah dengan kamu" ujar Bryan dengan nada sedih karena harus berpisah dengan istri cantiknya itu.
Selama mereka menikah, inilah kali pertama Bryan harus berpisah dengan istri cantiknya itu. Padahal selama ini mereka terus bersama tidak terpisahkan sama sekali oleh kegiatan apapun.
Julian memilihkan pakaian Bryan yang semakin hari akan terus bertambah. Julian paling suka membelikan pakaian untuk Bryan, mulai dari celana, baju sampai dengan printilan printilan kecil akan selalu dibelikan oleh Julian untuk kebutuhan Bryan. Hal yang sana juga berlaku untuk Bryan, saat Bryan melihat pakaian yang sangat pas dan cantik untuk dipakai oleh Julian, maka Bryan tidak akan ragu untuk membelikannya. Sehingga gara gara kelakuan mereka yang seperti itu, bulan kemaren Julian meminta Bryan untuk membeli lemari baru tempat menyimpan pakaian mereka yang sudah banyak.
"Segini cukup sayang?" tanya Julian kepada Bryan sambil memperlihatkan berapa banyak pakaian yang akan dibawa oleh Bryan keluar kota selama tiga hari itu.
"Rasanya sudah lebih dari cukup sayang. Segitu saja sudah pas" jawab Bryan lagi sambil melihat berapa banyak pakaian miliknya yang disiapkan oleh Julian untuk dirinya.
Setelah Julian memasukkan semua pakaian ke dalam satu koper kecil. Mereka berdua memilih untuk tidur, tetapi dasar Bryan yang sangat sangat usil, tidur yang seharusnya cepat menjadi tertunda karena ulah Bryan yang mengganggu Julian tidur. Mereka tidak jadi langsung beristirahat. Melainkan melakukan permainan luar biasa hebat terlebih dahulu.
"Ah sayang, kamu memang lah ya, katanya kamu pengen istirahat cepat, kiranya main dulu. Aku kira beneran pengen langsung tidur ternyata olahraga dulu" kata Julian komplen akan kelakuan Bryan sebelum mereka beneran tidur.
"Haha haha haha. Gimana lagi sayang. Tiga hari ke depan kita nggak ketemu. Ya udah aku ambil jatah aku dulu lah" jawab Bryan sambil tersenyum.
.
Bryan kemudian membawa Julian ke dalam pelukannya. Dia benar benar tidak bisa lepas dari Julian lagi. Julian adalah magnet dan pusat kehidupan Bryan untuk ke depannya. Bryan pasti akan melakukan semuanya untuk Julian, begitu juga sebaliknya. Julian pasti akan melakukan semuanya untuk Bryan.
Cinta yang tumbuh di antara dua manusia berlainan jenis karena suatu keterpaksaan, membuat jalinan cinta mereka menjadi sangat kuat sekali. Mereka berdua menjadi saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka benar benar sama sama kuat menjaga keutuhan cinta mereka berdua.
__ADS_1