Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #109


__ADS_3

Julian yang melihat wafel favoritnya yang ada di depannya saat ini benar benar menggugah seleranya. Dia langsung saja mengambil garpu kecil yang ada di tepi wafel.


"Hem enak banget. Gue kalau tau seenak ini wafel di sini, nggak akan mau jauh jauh ke tempat biasa. sudahlah jauh rasanya juga biasa saja. tidak seperti yang ini. ini bener bener the best tiada lawan" kata Julian memuji rasa wafel yang dinikmati nya itu. Wafel itu benar benar enak. Siapapun pasti akan memuji wafel tersebut saat sudah merasakannya.


Vian yang mendengar penilaian dari pecinta wafel yang mengatakan wafel itu enak, tidak. sabaran lagi untuk mencoba wafel yang di pesan oleh dirinya. Wafel dengan rasa stroberi. Rasa favorit Vian.


"Gimana enak kan Vian?" tanya Julian yang sudah menghabiskan separo dari wafel nya itu.


"Pake banget. Besok besok kita langsung ke sini saja, mana bonus es krim lagi. Ngapain harus jauh jauh ke sana kalau di sini aja ada yang seenak ini" kata Vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian tentang rasa wafel yang mereka makan sekarang ini.


Tania yang melihat interaksi yang tidak ada batasannya antara Julian dan Vian merasa sangat senang. Dia sudah bisa membayangkan kalau dirinya tinggal satu mansion dengan Julian. Tentu Tania akan sangat bahagia karena mempunyai saudara perempuan sebaik Julian.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu lagi?" ujar Tania yang sangat sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Julian.


"Boleh, mau tanya apa?" kata Julian sambil tersenyum ke arah Tania.


Senyuman Julian merupakan senyuman terteduh yang pernah di dapatkan oleh Tania. Selama ini setiap orang yang senyum kepada Tania, selalu tidak tulus, mereka mengharapkan sesuatu dari dirinya.


"Kan di antara kita bertiga ini, kakak aja ne yang udah nikah. Menurut kakak ya, ini menurut kakak, kenapa wanita sekarang banyak yang memilih untuk menjadi janda dan tidak mempertahankan pernikahan mereka?" ujar Tania bertanya perihal kejadian yang sedang marak terjadi sekarang ini, tidak hanya di kalangan selebritis saja, tetapi juga dikalangan masyarakat pada umumnya.


Julian terdiam mendengar apa yang ditanyakan oleh Tania kepada dirinya. Dia tidak tau harus menjawab seperti apa pertanyaan dari Tania itu.


"Eeeeeee kalau kamu nanyak dari segi pengalaman, amit amit jabang bayik, jangan sampai itu terjadi dalam pernikahan gue dan Bryan" Julian berkata sambil mengetok ngetok ujung meja seperti orang yang sedang mengetuk pintu rumah.


"Tapi ini tapi ya Julian seandainya itu hampir terjadi. Gimana tanggapan dan reaksi elo?" kali ini Vian yang bertanya kepada Julian.


"Gila ya loe berdua, pertanyaan sangat berat itu" ujar Julian yang tidak menyangka kalau pertanyaan semacam itu yang ditanyakan oleh Tania dan Vian kepada dirinya.


"Bolehlah kita berandai andai saja. Anggap saja persiapan. Orang kan nggak akan tau apa yang terjadi setelah ini" kata Vian sambil menaik naikkan alis matanya.


Julian terdiam. Dia sama sekali tidak tau apa yang harus di jawabnya. Tetapi apa yang dikatakan oleh Vian ada benarnya juga. Kita tidak tau kehidupan setiap detiknya.

__ADS_1


"Tadi kan nanyak kalau gue merasakan seperti yang dirasakan mereka di luar sana" kata Julian mulai membuka suaranya.


Tania sudah siap dengan alat perekam yang sudah diaktifkan nya di dalam tas tangan miliknya.


"Kalau gue jadi mereka, gue akan lihat dulu kesalahannya dimana" kata Julian selanjutnya.


"Kita anggap aja yang pertama dari segi ekonomi. Kalau gue ekonomi nggak begitu penting ya. Ada sama dimakan nggak ada mari sama ditahan. Itu prinsip gue" kata Julian.


"Kak, gimana kalau perempuan aja yang kerja sedangkan yang laki laki hanya di rumah saja?" tanya Tania lagi.


"Nah itu mirip tu kasus gue dengan Bryan di awal pernikahan. Tapi sama disaksikan, gue nggak ada ninggalin Bryan atau ngamuk ke Bryan, karena itu tadi ekonomi memang penting tapi bukan nomor satu bagi gue" jawab Julian.


"Kalau ekonomi gue jadikan nomor satu, dengan posisi Bryan yang nggak kerja sekian bulan, dan otomatis dia hidup dari penghasilan gue, ini maaf ya sekali lagi maaf mungkin gue udah lama cerai dari dia" kata Julian selanjutnya.


Tania dan Vian kaget mendengar jawaban dari Julian. Julian bisa melihat ke kagetan dari kedua sahabatnya itu


"Untungnya saja laki gue bukan tipe orang yang suka numpang hidup dengan istrinya. Lakik gue setiap hari pergi keluar mencari pekerjaan apapun itu pekerjaannya. Berhasil atau tidak itulah nasib. Yang penting dia pergi dulu untuk mencari kerja, gue udah seneng aja nengoknya" kata Julian sambil tersenyum membayangkan bagaimana letihnya Bryan saat pulang mencari kerja di awal awal pernikahan mereka berdua.


"Tapi kalau suami main ongkang ongkang kaki saja, sedangkan istri capek kerja. Oh maaf dulu, gue juga nggak akan sanggup dan nggak akan menerima suami yang kayak gitu. Enak aja, gue capek kerja dia capek tidur" kata Julian yang ternyata ada juga kesalnya.


"Kalau itu pertanyaannya ya maaf aja dulu. Aku nggak akan nerima dia lagi. Mau apapun yang dilakukannya."


"Gue memilih untuk pergi dari dia, senyaman apapun yang diberikannya ke gue. Tapi yang namanya selingkuh, maaf nggak akan ada obatnya. Bagi gue setia adalah perkara nomor satu" jawab Julian dengan tegas.


"Wah keren, aku juga Kak, kalau pasangan aku selingkuh maaf dulu, akan aku buang jauh jauh. Dia bisa ngasih aku duit atau materi. Aku juga bisa cari sendiri. Gampang kan ya, nggak ada yang susah ternyata" kata Tania yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada mereka berdua.


"Sebenarnya gini Tania. Ada orang yang selingkuh karena istrinya yang acuh dan tidak mau tau kebutuhan suami, kalau istri seperti itu ya setidaknya istrinya juga salah karena menjadi penyebab suami selingkuh"


"Ada juga suami selingkuh karena memang sudah hobbynya selingkuh. Ini yang gawat, sebaik apapun istri yang didapatkannya dia akan tetap selingkuh. Apalagi kalau dapat istri yang tidak melayani dia dengan baik, maka selingkuh nggak akan bisa dielakkan lagi" jawab Julian.


"Jadi intinya, perceraian itu memang suatu solusi yang baik, tapi ada tetapi nya" kata Julian lagi.

__ADS_1


"Apaan?" tanya Vian dan Tania kompak.


"Aye kompak banget" ujar Julian saat mendengar Tania dan Vian berkata bersamaan.


"Wanita tidak akan semudah itu meminta atau bersedia bercerai dengan suaminya setelah semua perjuangan dilakukannya untuk menjaga pernikahan mereka. Apalagi kalau sudah punya anak. Mereka pasti akan berpikir seribu kali untuk mengambil keputusan yang menyedihkan itu" kata Julian.


Julian bisa membayangkan bagaimana sakitnya dan pedihnya sebuah perceraian bagi seorang wanita. Apalagi kalau perceraian diakibatkan karena perselingkuhan


"Tapi, wanita juga punya titik dimana dia rasa perjuangannya sudah tidak dipandang lagi, tidak dihargai lagi, maka disitulah mereka akan menyerah."


"Mereka akan memilih untuk berpisah demi kebaikan hati mereka sendiri" kata Julia lagi.


"Makanya ya aku heran dengan orang orang yang menyalahkan wanita wanita yang meminta cerai dari suaminya." kata Julian lagi.


"Kenapa loe heran Julian?" tanya Vian penasaran.


"Iyalah heran, apa mereka yang menghujat itu tau bagaimana perjuangan wanita itu salama ini, apa mereka tau sakit seperti apa yang sudah dirinya tanggung selama ini." lanjut Julian lagi.


"Kita sebagai manusia memang selalu bisa menghakimi seseorang tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya. Padahal ya kalau kita sendiri berada di posisi mereka, belum tentu kita kuat menghadapi seperti apa yang telah mereka hadapi selama itu" lanjut Julian lagi.


"Jadi wajarlah sebua perceraian harus mereka minta untuk membuat mereka bahagia kembali"


.


"Semua orang berhak untuk bahagia. Apapun itu dan siapapun itu" kata Julian selanjutnya.


"Udah ah males bahas ini. Nanti jadi kepikiran sama gue lagi. Bahas yang lain ajalah" kata Julian yang suda mulai nggak nyaman membahas masalah perceraian dan sebagainya itu.


"hahaha haha haha. Gue setuju bahas yang lain ajalah. Kejauhan kali kita bahas masalah ini" Kata Vian yang setuju dengan yang dikatakan oleh Julian.


"sorry kak" Ujar Tania yang merasa bersalah karena dia yang memulai membahas tentang perceraian.

__ADS_1


"nggak apa apa santai saja. Terkadang kita juga perlu mengambil pelajaran dari kasus orang lain, supaya kita tidak mengalami seperti apa yang telah mereka alami" Jawab Julian yang tidak ingin Tania merasa bersalah karena sudah membahas masalah perceraian tadi.


Tania tersenyum ke arah Julian. Julian sangat bijaksana jadi seorang wanita. Dia bisa membuat seseorang merasa nyaman berada di dekat dirinya dengan kelebihan yang dia punyapunya.


__ADS_2