Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #95


__ADS_3

Julian sudah menghubungi Vian kalau dirinya terlambat ke perusahaan hari ini karena harus menunggu Bryan yang akan pergi bekerja ke luar kota selama tiga hari. Vian yang sudah sampai di perusahaan juga sudah memberitahukan hal itu kepada Rendy, manager bagian mereka.


"Sayang kamu belum berangkat? " tanya Bryan saat melihat masih ada Julian yang sedang duduk di ruang tamu rumah kontrakan sederhana mereka itu.


"Belum sayang. Mana mungkin aku berangkat sebelum kamu berangkat. Itu satu hal yang tidak akan mungkin terjadi sayang" ujar Julian menjawab perkataan dari Bryan kepada dirinya.


"Kirain kamu mau ninggalin aku sendirian. Aku harus berangkat tanpa melihat wajah kamu" Bryan benar benar bersikap manja kepada Julian.


Sikap manja yang sama sekali tidak ditutup tutupi oleh Bryan. Sikap manja yang membuat Julian merasa menjadi seseorang yang paling sangat dibutuhkan oleh Bryan di muka bumi itu.


Bryan membaringkan kepalanya ke atas paha Julian. Dia benar benar ingin menikmati kebersamaan mereka yang tersisa berapa menit lagi itu. Sedangkan Julian yang melihat bagaimana sikap Bryan kepada dirinya, membuat dia mengusap usap kepala Bryan dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang istri kepada suaminya.


Tepat saat itu terdengar bunyi pintu rumah yang diketuk seseorang dari arah luar.


"Sayang ada yang datang" ujar Julian kepada Bryan.


"Iya, biarkan saja" jawab Bryan yang sama sekali tidak ingin mengangkat kepalanya dari paha Julian.


"Kamu angkat kepala dulu sayang. Aku harus buka pintu" ujar Julian dengan ramah kepada suaminya tersebut.


"Aku udah tau siapa yang datang sayang. Jadi nggak usah aja di buka pintu nya" jawab Bryan yang sudah bisa menebak siapa yang datang ke rumah mereka bertamu dan tamu yang sebenarnya akan membuat Julian dan Bryan berpisah selama tiga hari ke depan.


"Emang siapa yang datang?" tanya Julian penasaran


"Felix lah sayang. Siapa lagi. Kedatangan dia hanya akan membuat kita berdua terpisah. Aku tidak suka itu" ujar Bryan berkata sambil melihat ke mata indah milik Julian.


"Gaga haha haha. Sayang sayang sayang, kamu biarin pun Felix nggak masuk, toh kamu tetap harus pergi. Lagian cepat kamu pergi maka akan cepat pula kamu pulang sayang" kata Julian memberikan saran kepada Bryan.


"Tapi aku nggak mau pisah" jawab Bryan yang ntah kenapa membuat dirinya tidak mau berpisah dengan Julian.

__ADS_1


"Terus maunya gimana? Aku harus ikut kamu gitu?" kata Julian memberikan penawaran kepada Julian.


"Kalau bisa iya, kamu ikut dengan aku" jawab Bryan lagi.


"Lah sayang, kalau aku ikut dengan kamu, tentu aku di pecat perusahaan. Apa kamu mau aku dipecat?"


"Ya nggak gitu juga sayang. Masak iya pergi tiga hari aja kamu di pecat" kata Bryan mengomentari jawaban dari Julian.


"Lah tentu iya di pecat sayang. Aku kan bukan siapa siapa. Jadi, kalau nggak masuk tiga hari tentu di pecat mereka. Emang perusahaan punya bapak aku" jawab Julian lagi kepada Bryan.


"Bener juga ya sayang. Kita bikin perusahaan aja gimana? Biar bisa kabur seenak kita saja" kata Bryan dengan gampangnya berbicara kepada Julian untuk membuka perusahaan baru.


"Aye kira beli kacang goreng apa bikin perusahaan" kata Julian setengah kesal dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


"Haha haha haha" Bryan tertawa ngakak mendengar jawaban Julian yang berisi kekesalan.


Felix masih terus mengetok pintu rumah. Dirinya mengetuk dengan sedikit kekerasan. Felix sudah sangat kesal dengan Bryan yang tidak juga membuka pintu rumah, padahal dia sudah lebih lima belas menit mengetuk pintu rumah mereka.


Bryan mengangkat kepalanya dari atas paha Julian. Sedangkan Julian saat kepala Bryan tidak ada lagi di atas pangkuannya, kemudian berdiri dan berjalan untuk membuka pintu rumah.


"Eh Felix. Maaf lama buka pintunya" kata Julian dengan nada segan saat melihat wajah Felix yang sudah berwajah kesal itu.


Bryan yang tau sahabatnya sedang kesal memilih untuk menyambut kedatangan Felix.


"Hay bro sudah lama? Maaf gue baru siap mandi" kata Bryan dengan nada ramah tetapi wajah dan tatapannya tidak seramah ucapannya kepada Felix.


"Eh tidak kok, baru saja" jawab Felix yang langsung mengubah raut wajahnya supaya Julian tidak memiliki pemikiran yang aneh aneh saat ini.


"Oh sukurlah kalau memang tidak lama menunggu" jawab Julian.

__ADS_1


Julian bisa merasakan kalau wajah Bryan sedang tidak dalam keadaan baik baik saja saat melihat ke arah Felix. Julian yakin Bryan sedang memasang wajah marahnya di balik punggungnya itu.


"Apa sudah siap? Bisa berangkat sekarang?" tanya Felix kepada Bryan.


"Sudah" jawab Bryan.


Bryan kemudian kembali ke dalam kamar. Dia akan mengambil kopernya.


"Sayang aku jalan dulu. Kamu jangan melakukan hal apa apa Oke" ujar Bryan menitip pesan kenapa Julian.


"Yang harusnya ngomong kayak gitu adalah aku, bukan kamu sayang" jawab Julian yang langsung geleng geleng kepala saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


"Kalau aku mah nggak akan ngapa ngapain. Masak iya punya istri cantik masih ngapa ngapain, itu namanya nggak bersyukur" kata Bryan memuji Julian.


"Bagus" Julian memberikan dua jempolnya kepada Bryan sebagai bentuk pujian atas jawaban yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.


"Felix, aku nitip suami aku yang tampan ini ya. Jangan sampai dia menggoda wanita manapun. Kalau sempat dia menggoda bawa pulang saja langsung" kata Julian menyampaikan titipan pesan kepada Felix yang pergi berdua dengan Bryan ke perusahaan cabang yang ada di luar kota


"Siap Julian. Kalau dia macam macam, akan saya seret pulang" jawab Felix sambil menatap penuh kemenangan kepada Bryan.


"Sayang, tenang saja, aku nggak akan macem macem" ujar Bryan yang tidak menyangka kalau dirinya akan dititipkan kepada Felix.


"Sudah sana pergi. Malam pula nanti sampe di sana" kata Julian mengusir suami dan juga teman suaminya itu untuk pergi dari rumah.


Julian tidak ingin Bryan dan Felix sampai di daerah itu terlalu malam. Julian tidak akan bisa tidur nantinya membayangkan Bryan dan Felix yang berkendara dengan mobil yang cukup lama.


"Sip" jawab Bryan.


"sayang, kamu ambil tas sana. biar kami antar ke prusahaan dulu, baru setelahnya kami pergi ke luar kota" kata Bryan meminta Julian untuk bersiap siap.

__ADS_1


"oh makasi banget. aku senang sekali di antar" jawab Julian yang langsung mengambil tas kerjanya yang sudah di taruh di meja tamu.


Bryan dan Felix kemudian berjalan menuju mobil. Sedangkan Julian mengunci pintu rumah terlebih dahulu, dia akan diantar ke perusahaan oleh Bryan dan Felix. Barulah setelah itu mereka akan menuju daerah yang akan mereka tuju.


__ADS_2