Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #91


__ADS_3

"Sayang, aku mau ngomong serius dengan kamu, apa bisa?" tanya Bryan saat dia dan Julian sudah selesai makan malam dan sekarang sedang menonton televisi di ruang tengah.


"Oke sayang. Tapi aku ambil teh ke belakang dulu ya" kata Julian meminta izin untuk membuat teh sebentar.


"Aku nggak manis ya sayang. Karena yang manis udah ada di depan aku dan baru selesai aku dapatkan tadi" ujar Bryan kembali mengingatkan Julian tentang apa yang mereka lakukan tadi di kamar mandi.


"Otak mulai nggak aman sayang" balas Julian sambil melempar Bryan dengan bantal.


"Haha haha haha. Omes ke istri sendiri nggak ada yang larang sayang" kata Bryan dengan suara yang keras agar terdengar oleh Julian yang berada di dapur.


"Ya, yang di larang omes ke istri orang lain, apa lagi pelakor" jawab Julian yang nggak mau kalah membesarkan suaranya.


Julian membuat teh untuk dirinya dan Bryan. Kemudian memotong puding yang dibuatnya kemaren malam, saat gabut menunggu kedatangan Bryan dari perusahaan.


"Jadi, apa yang mau dikatakan?" tanya Julian lagi saat dirinya sudah kembali duduk di sebelah Bryan.


"Ais main langsung aja" ujar Bryan saat mendengar Julian yang langsung menanyakan apa yang mau dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


Bryan mencari posisi duduk yang dirasanya paling nyaman untuk bercerita dengan Julian. Bryan ingin menatap langsung wajah istrinya saat dirinya mengatakan apa yang ingin disampaikannya itu.


"Jadi begini sayang, perusahaan mengirim aku untuk mengurus permasalahan di perusahaan cabang." ujar Bryan mulai mengatakan apa yang ingin dikatakannya kepada Julian.


"Ke perusahaan cabang?" tanya Julian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya


"Ya, ke perusahaan cabang. Aku diminta untuk menyelesaikan masalah di sana." kata Bryan mengulang kembali apa yang baru dikatakannya barusan.


"Sama siapa?" tanya Julian yang tidak ingin Bryan pergi sendiri saja.


"Sama Felix sepertinya. Aku kan baru sayang diperusahaan jadi nggak akan mungkin aku diminta pergi sendirian untuk mengurus masalah cabang perusahaan" Bryan menerangkan kepada Julian dengan siapa dia akan pergi ke anak cabang perusahaan.


"Kalau sama felix aku akan merasa aman" jawab Julian sambil tersenyum.


"Kok bisa gitu?" tanya Bryan yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.

__ADS_1


"Ya, jadi kan kamu benar benar pergi kerja, bukan kemana mana" ujar Julian memberikan alasan dengan jawaban yang diberikan oleh Julian tadi


"Haha hahaha, kamu kira aku mau kemana coba, ya pergi kerja lah. Kalau pergi main ya mending sama kamu" kata Bryan sambil geleng geleng kepala mendengar alasan yang diberikan oleh Julian kepada dirinya.


"Mana tau kan ya, alasan aja ngomong pergi kerja, kiranya pergi main" lanjut Julian yang nggak mau kalah mengomentari Bryan yang mau pergi kerja keluar kota


"Ya udah mulai nggak percaya sama suami neh ceritanya?" ujar Bryan kepada Julian sambil melihat ke arah Julian.


"Bukannya mulai dak percaya dengan kamu sayang, tapi harus di antisipasi supaya tidak terjadi" kata Julian lagi membela dirinya.


"Ye ada pula antisipasi nya" ucap Bryan dengan raut wajah lucu saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian.


"Iyalah sayang, suami ganteng gampang di curi orang" kata Julian.


"Tergantung orangnya juga sayang. Kalau dia pengen di curi juga tentu klop. Tapi kalau tidak ya nggak akan bisa juga" jawab Bryan.


"Capek juga bahas curi mencuri. Bahas yang lain ajalah" kata Julian yang akhirnya capek sendiri dengan obrolan aneh mereka yang tidak akan jelas ujungnya itu.


"Haha haha haha, sayang sayang, aku tu cintanya hanya ke kamu saja, nggak ada yang lain. Jadi nggak usah mikir yang aneh aneh" kata Bryan meyakinkan Julian supaya tidak berpikiran yang aneh aneh dan membuat Julian pusing sendiri.


"Aku sudah di dalam restoran. Kamu dimana?" Bunyi pesan chat yang dikirim oleh Felix kepada Vian.


"Sudah mau sampai" balas Vian hanya dua kata saja.


Vian berjalan dengan santai menuju Felix yang sudah menunggu kedatangannya dari tadi di restoran tersebut.


"Maaf telat. Tadi ada kegiatan mendadak" ujar Vian yang langsung meminta maaf kepada Felix saat mereka berdua sudah bertemu di restoran itu.


"Oke santai aja. Duduk" kata Felix.


"Apa yang terjadi? Dan kenapa bisa dikatakan penting?" kata Felix yang heran kenapa Vian meminta mereka berdua untuk ketemu secepatnya.


"Saat bertemu dengan Tuan besar dan Nona muda ada satu kejadian yang membuat aku sangat heran sekali. Sampai sampai aku berpikir kalau itu memang masalah sebenarnya" kata Vian.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Felix tidak sabaran lagi.


"Jadi, saat itu kan nona muda meminta saya untuk mengklarifikasi tentang pernikahan antara Tuan dan Nyonya muda. Nah setelah saya menceritakan semuanya, Tuan besar langsung terdiam, seperti tidak menyangka saat mendengar apa yang saya katakan itu" kata Vian lagi.


"Itu sudah biasa Vian. Anak menikah tanpa di ketahui orang tuanya, layak lah orang tuanya kaget" kata Felix yang tidak menyangka kalau itu yang akan disampaikan oleh Vian kepada dirinya.


Padahal tadi Felik membayangkan sesuatu yang luar biasa saat Vian mengatakan ada sesuatu yang penting. Ternyata tidak sepenting yang ada di dalam pikiran Felix.


"Bukan masalah anak menikah tanpa sepengetahuan orang tua yang akan saya katakan sebagai permasalahan yang rumit Tuan Felix" ujar Vian yang setengah kesal melihat gaya Felix sebentar ini.


"Terus apa lagi masalahnya sekarang" kata Felix lagi dengan setengah kesal kepada Vian.


"Tadi Tuan besar sempat ngomong. Akan ada masalah besar karena pernikahan Tuan Muda" ujar Vian.


"Masalah dengan nyonya besar kali" jawab Felix.


"Sepertinya tidak. Sepertinya kali ini lebih berat dari pada hanya sekedar Nyonya besar saja"


"Tuan besar sampai tidak tau harus berbuat apa apa. Nona muda saja yang ingin tau apa masalah besar itu, Tuan besar tidak berniat untuk memberitahunya" kata Vian.


"Sepertinya ini masalah cukup rumit" komentar Felix.


Felix terdiam, dia berusaha menyambung nyambung kan semua kepingan puzzel supaya menjadi puzzel yang utuh. Felix tidak mungkin bertanya kepada Tuan Muda mereka. Sudah pasti Tuan Muda itu tidak akan tau jawaban dari pertanyaannya.


"Tuan Felix, apa mungkin ada perjanjian bisnis yang membuat Tuan Muda tidak bisa menikah dengan Nyonya muda?" ujar Vian mencoba menebak dan memberikan satu gambaran yang masuk akal kepada Felix.


Felix terdiam, apa yang dikatakan oleh Vian ada benarnya juga. Tetapi itu masih sekitar lima puluh persen kurang. Felix masih meragukan hal itu.


"Sepertinya itu masuk di akal. Cuma kalau memang Tuan Muda tidak bisa menikah dengan wanita perjanjian bisnis itu, apa dampaknya ke perusahaan?" Kata Felix mencari tau menurut pandangan Vian.


"Bisa jadi saham atau kerjasama yang paling penting di tarik. Nggak mungkin Tuan besar akan secemas itu kalau masalahnya tidak berat" lanjut Vian memperkuat omongannya kepada Felix.


"ada benarnya juga" kata Felix yang sekarang sudah agak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.

__ADS_1


Felix dan Vian sama sama terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Walaupun sama tujuan masalahnya cuma dalam otak mereka berbeda apa yang dipikirkan tentang masalah besar yang akan terjadi itu.


__ADS_2