Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #80


__ADS_3

"Sayang, kita makan dulu yuk. Aku udah laper ini" kata Bryan mengajak Julian untuk makan siang. Bryan sudah merasakan rasa lapar di perutnya. Dia sejujurnya tidak bisa lagi manahan rasa lapar


"Tumben jam segini udah lapar?" tanya Julian balik.


"Biasanya kamu kalau sarapan laparnya jadi lama sayang. Kenapa ini laparnya jadi cepat sekali" lanjut Julian yang heran dengan Bryan hari ini.


"Biasanya kita sarapan makan nasi, atau roti pakai telur dan sayur. Hari ini cuma makan roti doang. Ya beda sayang, makanya jadi cepat terasa lapernya" Bryan menjelaskan kepada Julian kenapa dirinya sangat cepat merasakan lapar, padahal tadi dirinya sudah sarapan dengan roti.


"Haha haha haha" Julian tertawa puas mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


"Kok?" Bryan menatap heran ke arah Julian yang tertawa dengan sangat puas itu. Bryan memberikan tatapan menyelidik kepada Julian atas sikap tertawa Julian sebentar ini.


"Sayang sayang, gimana aku nggak akan tertawa gara gara apa yang kamu katakan tadi. Kemaren malam, aku tanya, sayang bawa bekal nggak. Jawaban kamu, nggak usah saja sayang, kita makan dj luar saja"


"Nah sekarang jadi kelaperan sendirikan" lanjut Julian memberikan ceramahnya panjang lebar kepada Bryan. Suaminya yang sangat keren sekarang dengan tampilan casual nya itu


"Haha haha haha. Bener sayang. Ini perut sepertinya sudah biasa manja. Makanya protes saat diisi sarapan hanya dengan roti saja" jawab Bryan lagi sambil berseloroh dengan Julian.


"Mau makan dimana?" tanya Julian yang melihat begitu banyak cafe dan juga warung kecil kecil yang menjual makanan di daerah kebun teh itu.


"Cafe itu aja gimana?" tunjuk Bryan ke arah cafe yang terlihat paling besar berada di daerah kebun teh itu.


"Oh oke. Kita makan di sana saja" jawab Julian yang langsung setuju saat melihat cafe yang begitu bersih.


Bryan menggenggam tangan Julian. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan menuju cafe yang berada di puncak paling atas dari kebun teh tersebut.


"Aku sangat yakin sayang, kalau view di sana pasti keren sekali" kata Julian yang bisa melihat kalau view cafe itu akan sangat keren karena terletak di daerah paling tinggi di kawasan tersebut.


"Sepertinya memang begitu sayang. Makanya aku pilih untuk makan di sana. Sambil makan bisa melihat dan menikmati view yang bagus dari ketinggian" jawab Bryan yang tetap memandang ke arah istrinya yang tidak pernah bosan di pandangnya itu.


"Sayang, apa kamu tidak bosan mandangi aku terus?" tanya Julian yang sudah risih dipandangi oleh Bryan tiada henti dari tadi.


"Kamu risih? Kalau aku tidak akan pernah bosan" jawab Bryan dengan sangat yakin.


"Hem yang bucin tingkat dewa nggak ada saingan sama sekali. Memuja istri banget pak" kelakar Julian sambil tersenyum indah.

__ADS_1


"Punya istri cantik itu harus di syukuri sama harus dipandangin kalau nggak maka rugilah anda" jawab Bryan dengan kelakarnya pula.


"Bisa aja kamu sayang"


Tak terasa karena mereka mengobrol sambil berjalan menuju cafe yang lumayan tinggi itu, akhirnya mereka berdua sampai juga di sana.


Saat itulah pandangan mata Bryan bersirobok dengan pandangan salah satu wanita yang ternyata dari tadi sudah mengamatinya dari atas.


'Aduh kenapa harus ada Tania di sini' kata Bryan saat melihat ada adiknya di cafe itu sedang duduk bersama dengan rekan rekannya.


"Sayang, kamu duduk dulu ya, aku mau ke toilet sebentar. Udah nggak tahan ini" kata Bryan mencari jalan supaya bisa berbicara dengan Tania tanpa diketahui oleh Julian.


"Oh oke. Aku akan cari tempat yang bagus, nanti akan aku kabari ya, aku duduk dimana" jawab Julian.


Julian kemudian berjalan mencari tempat dia akan duduk bersama dengan Bryan. Sedangkan Bryan memberikan kode kepada Tania untuk mengikutinya menuju suatu tempat


"Ngapain kamu ke sini Tania. Jauh amat mainnya" kata Bryan saat dirinya sudah berada di posisi yang aman dengan Tania.


"Kakak yang ngapain ke sini. Terus siapa wanita itu?" tanya balik Tania tanpa menjawab pertanyaan dari Bryan.


"Kok kakak nggak ngomong ke Daddy dan Mami kalau sudah punya istri" ujar Tania komplen dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


"Ceritanya lumayan panjang. Tidak bisa kakak ceritakan sekarang. Kamu datang saja besok ke perusahaan, kakak akan ceritakan semuanya di sana. Paham?" kata Bryan yang meminta Julian untuk datang ke perusahaan saja, karena Bryan tidak mungkin menceritakan semuanya di sini.


"Kenapa nggak kenalin aja aku dengan istri kakak sekarang coba" kata Tania lagi yang masih belum mengerti.


"Lagian kakak apa apaan sih pake baju yang kayak beginian" lanjut Tania protes saat melihat Bryan yang memakai baju tidak sesuai dengan kelas dan kasta mereka.


"Ceritanya panjang. Besok akan kakak ceritakan sama kamu. Kakak janji, datang ke perusahaan sehabis praktek, setelah itu akan kakak ceritakan semuanya" kata Bryan meminta Tania untuk tidak banyak tanya lagi.


Dret dret dret. Ponsel milik Bryan bergetar. Bryan mengeluarkan ponsel sederhananya. Tania kembali tidak percaya kalau kakaknya bisa memakai ponsel yang seperti itu. Padahal apa yang tidak dimiliki oleh seorang Bryan.


"Wanita itu?" tanya Tania.


"Julian" jawab Bryan.

__ADS_1


"Oke Julian" balas Tania yang tidak mau ribet dengan kakaknya itu.


'Hallo sayang. Bentar lagi aku ke atas ya' kata Bryan saat mengangkat panggilan telpon dari Julian.


'Oke sayang aku tunggu ya. Aku di pojokan sebelah kanan dari tempat kita berpisah tadi' Julian memberitahukan dimana posisi mereka akan duduk saat makan siang nanti.


'Oke sayang. Aku akan ke sana sekarang' jawab Bryan.


Bryan mematikan ponsel miliknya. Dia kemudian menatap ke arah Tania yang masih berada di depannya saat ini.


"Kamu bisa bantu kakak?" tanya Bryan kepada Tania dengan harapan Tania mau membantu dirinya.


"Apa kak?" tanya Tania.


Tania sekarang bisa sedikit melihat kalau kakaknya itu mencintai Julian. Sekarang Tania harus tau Julian itu wanita seperti apa.


"Kakak minta kamu pura pura tidak mengenal kakak. Apa kamu bisa?" tanya Bryan.


"Oke kak, aku akan pura pura tidak mengenal kakak" jawab Tania yang setuju dengan permintaan dari Bryan.


"Kamu ke atas duluan" perintah Bryan yang akan tetap mendahulukan adiknya dari pada dirinya.


Kakak beradik yang saling menyayangi itu harus berpisah dan menjadi pura pura tidak mengenal satu dengan yang lainnya. Hal itu karena satu alasan yang sudah diketahui siapapun.


Ternyata betapa kagetnya Bryan, tempat makan mereka bersebelahan dengan tempat Tania duduk. Untung saja teman teman Tania sekarang adalah teman temannya yang baru sehingga tidak kenal dengan Bryan. Sehingga hal itu mempermudah Bryan dalam mengamankan acara makan siang mereka.


"Kok lama banget sayang?" tanya Julian yang kaget Bryan terlalu lama saat ke toilet.


"Toiletnya ngantri sayang. Makanya jadi lama" kata Bryan menjelaskan kepada Julian kenapa dirinya begitu lama di toilet


Tani mencuri dengar percakapan antara Bryan dengan Julian. Tania beberapa kali menatap ke arah Julian.


"Cantik" ujar Tania pelan.


"Gue harus tanya ke Felix" ujar Tania yang menemukan siapa orang yang bisa membantu dirinya saat ini.

__ADS_1


Mereka semua kemudian menikmati hidangan yang sudah di sajikan oleh pramusaji. Julian dan Bryan terlihat mengobrol dengan mesra. Tania tersenyum melihat kebahagiaan Kakak laki lakinya itu. Tania tidak pernah melihat Bryan sebahagia ini dengan seorang wanita


__ADS_2