
Ting. Sebuah pesan email masuk ke dalam email milik Kevin. Kevin yang melihat pengirim email tersebut, tidak membutuhkan waktu yang lama langsung membuka email yang dikirim oleh seseorang itu. Kevin membaca keseluruhan email tersebut.
"Ini gawat. Gue harus beri tahu Bryan. Kalau dibiarkan maka sesuatu yang buruk sudah pasti akan terjadi" kata Kevin setelah membaca keseluruhan email yang masuk tersebut.
Kevin mencetak semua email tersebut. Setelah itu barulah dia berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju ruang kerja Bryan yang letaknya tidak berapa jauh dari ruang kerja Kevin.
Tok tok tok tok. Kevin mengetuk pintu ruang kerja Bryan. Kevin mengetuk dengan ketukan seperti orang yang tidak sabaran untuk di suruh masuk ke dalam ruangan.
"Siapa pula yang ngetuk pintu dengan tidak sopan seperti itu" kata Bryan mengomel saat mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk berkali kali.
"Masuk" jawab Bryan sambil menutup laporan yang sedang dibacanya.
Kevin membuka pintu ruang kerja Bryan. Bryan menatap tidak percaya ke arah Kevin. Tidak biasanya Kevin mengetuk pintu ruang kerja Bryan seperti itu.
"Duduk Vin. Ada apa? Tumben loe pakai ketuk pintu yang membabi buta seperti itu" tanya Bryan yang melihat Kevin tidak seperti biasanya
"Apa ada masalah Vin?" lanjut Bryan yang sudah mulai sedikit cemas karena melihat gaya Kevin yang lain dari pada biasanya.
Kevin menarik nafasnya dalam dalam, dia harus menenangkan dirinya sebelum mulai mengatakan hal yang akan membuat Bryan kaget dan tidak akan konsentrasi dalam bekerja.
Bryan membiarkan saja Kevin dalam posisi seperti itu. Dia membiarkan Kevin tenang terlebih dahulu. Bryan sekarang yakin ada sesuatu yang lumayan berat yang ingin disampaikan oleh Kevin kepada dirinya.
"Gue nggak tau mau mulai dari mana. Gue bener bener pusing sekarang" kata Kevin yang pada akhirnya bisa membuka mulutnya.
"Maksud loe?" Bryan menjadi tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Kevin.
"Loe bisa langsung ngomong aja Vin. Nggak perlu pake drama nggak jelas gini. Ada apa sebenarnya? Jangan bikin gue jadi ikutan cemas seperti loe" lanjut Bryan yang heran melihat Kevin bersikap tidak biasa seperti sekarang ini.
"Perusahaan milik loe yang di negara Francais sedang bermasalah" kata Kevin yang pada akhirnya bisa mengatakan kepada Bryan apa yang ingin dilaporkan nya.
"Maksud loe?" Bryan kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin sebentar ini.
"Ya, gue baru dapat email sebentar ini dari orang kepercayaan gue yang ada di sana" jawab Kevin lagi. Kevin tidak mau laporannya kepada Bryan tidak memiliki dasar, sehingga nanti membuat Bryan menjadi tidak percaya lagi kepada dirinya.
"Coba kirim emailnya" perintah Bryan.
__ADS_1
Bryan sudah meletakkan orang kepercayaan nya di perusahaan milik dirinya pribadi di negara Francais tetapi ternyata hal seperti ini terjadi juga.
Kevin mengirimkan email yang diminta oleh Bryan. Dia ingin Bryan membaca sendiri email tersebut. Kevin tidak mau Bryan salah sangka kepada dirinya.
"Telpon Felix suruh ke sini secepat yang dia bisa" perintah Bryan.
Hanya Felix yang bisa membantu dirinya sekarang. Bukannya Bryan tidak mau meminta tolong kepada Kevin. Tetapi Kevin cukup bekerja di perusahaan Witama Grub. Kevin bukan tipe orang yang bisa bekerja di segala lini. Sehingga Bryan memutuskan untuk meminta Felix datang ke perusahaan utama.
Kevin mengikuti perintah yang diberikan oleh Bryan. Dia menghubungi Felix sesuai yang diperintahkan oleh Bryan. Felix yang menerima kabar seperti itu, langsung menuju perusahaan utama Witama Grub. Dia meninggalkan meeting dengan para manager saat itu juga.
Bryan terlihat membaca email yang dikirim oleh Kevin sebentar ini. Tetapi karena membaca lewat layar tablet yang tidak begitu besar, membuat Bryan kesusahan dalam mencerna laporan perusahaan itu.
"Kev, bisa loe tolong print kan laporan ini?" kata Bryan memberikan perintah selanjutnya kepada Kevin.
"Gue udah cetak. Ini" Kevin memberikan lapora yang sudah dicetaknya sebelum dirinya masuk ke dalam ruang kerja Bryan.
Bryan mengambil laporan perusahaan tersebut. Bryan membaca dengan sangat teliti laporan perusahaan miliknya yang dibangunnya dengan uangnya sendiri. Perusahaan yang dibangun dengan penuh kesabaran dan ketelitian serta keseriusan Bryan saat dirinya kuliah magister di salah satu kampus ternama di negara Francais.
Bryan mengambil laporan yang dikirim oleh orang kepercayaan nya di perusahaan itu. Dia kemudian membandingkan dua dokumen tersebut. Bryan membaca dengan sangat serius. Dia menandai setiap kejanggalan kejanggalan yang ditemukannya dari kedua laporan yang ada di tangannya sekarang.
"Ini bener bener gila Kevin" ujar Bryan mengomentari dua laporan yang sekarang berada di tangannya.
"Loe baca ini"
Bryan memberikan dua laporan yang berbeda. Satu laporan yang didapatkannya dari orang yang dipercaya nya untuk mengendalikan perusahaan, sedangkan yang satu lagi adalah laporan yang diberikan oleh Kevin tadi.
Kevin membaca dan membandingkan dua laporan itu. Laporan yang sangat jauh sekali perbedaannya.
"Ini bukan gila lagi Bryan. Tapi udah luar biasa, layak disuntik mati" kata Kevin emosi melihat dua laporan yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya.
"Itulah. Pusing gue" kata Bryan.
Bryan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi kerja yang sangat empuk itu. Dia butuh Julian sekarang. Hanya Julian yang bisa mengembalikan semangat hidupnya.
"Apa Felix masih lama?" tanya Bryan saat melihat sudah setengah jam lamanya mereka menunggu Felix yang sampai sekarang masih belum datang juga.
__ADS_1
"Dia baru mau take off saat gue nelpon tadi" ujar Kevin memberitahukan dimana posisi Felix saat Kevin menghubunginya.
"Lama lagi itu" kata Bryan.
Bryan meraih ponsel miliknya di atas meja. Dia membuka aplikasi pesan chat.
'Sayang, bisa pulang sekarang?' bunyi pesan chat yang dikirim Bryan kepada Julian.
'Maaf sayang, aku ada kerjaan yang mendesak, jadi nggak bisa pulang sekarang' balas Julian yang memang sedang membuat laporan stok barang yang baru saja dikirim oleh orang gudang.
'Baiklah' Bryan membalas sambil memberikan emoticon orang menangis.
Julian kaget menerima pesan chat yang dikirimkan oleh Bryan. Tidak biasanya Bryan seperti ini.
'Ada apa? Jangan bikin aku cemas sayang' Julian mengirim pesan chat saat melihat pesan chat dari Bryan.
'Nggak apa apa. Kangen kamu aja' balas Bryan.
'Sabar ya sayang. Aku akan usahakan pulang lebih cepat dari pada biasanya.'
'Kamu jemput aku nanti ya' balas Julian yang berusaha mengerti keadaan Bryan.
'Siap sayang. Aku akan selalu menjemput istri cantik aku' balas Bryan.
'Aku mencintaimu' bunyi pesan chat dari Bryan.
'Aku mencintaimu' balas Julian.
Bryan menaruh ponsel miliknya ke atas meja kerja. Kevin melihat raut wajah Bryan masih tidak berubah.
"Julian nggak bisa di ajak pulang?" tanya Kevin saat melihat raut wajah Bryan yang tidak berubah.
"Nggak" jawab Bryan.
Bryan berdiri dari posisi duduknya. Dia berjalan menuju kaca jendela tinggi yang langsung menghadap ke arah pemandangan kesibukan kota. Kevin hanya bisa melihat ke arah Bryan. Kevin ikut merasakan betapa sedihnya dan betapa beratnya beban pikiran Bryan hari ini.
__ADS_1
Bryan tidak tau dan tidak mengerti harus berbuat apa untuk saat ini. Kesedihan terlihat jelas dari cara Bryan melihat jauh ke sana. Bryan sama sekali tidak terlihat gairah hidupnya seperti tadi pagi. Kehidupan dan mood Bryan menjadi berubah semenjak kejadian email yang diberikan oleh Kevin.
"Loe telpon Felix. Suruh cepat" kata Bryan memberi perintah kepada Kevin.