Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #31


__ADS_3

"Julian, sekali lagi, aku katakan, selamat sudah menyelesaikan magister kamu" ujar Vian sambil memberikan sekotak coklat yang tadi sempat dibelinya dalam perjalanan menuju rumah Julian.


"Aku juga mengucapkan selamat Julian" kali ini yang berkata adalah Kevin.


"Kalian berdua samaan sekali. Apa udah buat kesepakatan atau udah jadian?" ujar Bryan.


Perkataan Bryan sontak membuat Kevin, dan Vian yang mendengar menjadi kaget. Hal ini tidak biasa terjadi, tidak ada dalam sejarah Bryan yang akan meledek siapapun itu.


Sedangkan Julian yang sudah biasa mendengar Bryan berkata seperti tadi hanya bersikap santai saja. Dia tidak menyangka kalau Bryan akan mengatakan hal seperti itu juga kepada Kevin dan Vian.


"Bryan, jangan ledek mereka lagi." Julian menegur suaminya itu.


"Tapi........... sayang" Bryan masih ingin melanjutkan ledekannya kepada Kevin dan Vian.


Julian melihat kode yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya. Kode yang hanya dimengerti oleh Julian dan Bryan saja.


"Bener juga ya sayang, kalau mereka berdua jadian, pastinya akan wow. Kita bisa double date" kata Julian yang sekarang sudah mendukung apa yang dikatakan oleh Bryan. Padahal sebelumnya Julian melarang Bryan.


"Kami berdua pamit pulang ya. Nggak usah pake acara barbeque segala" Kevin setengah marah mendengar candaan yang tidak lucu menurut dirinya itu. Dia memang menyukai Vian, tetapi Kevin tidak ingin Bryan ikut campur dalam urusan pribadinya itu. Apalagi sekarang nona mudanya itu juga ikut ikutan.


"Haha haha haha. Jangan marah begitu Kevin. Kita berdua hanya bercanda. Benerkan Bryan?" Julian tidak ingin acara selamatan dia berhasil sidang terbuka disertasinya itu menjadi ricuh. Dia tidak ingin itu terjadi.


"Ya, benar yang dikatakan Julian" Bryan terpaksa menurut saat melihat mata Julian yang sudah besar. Bryan tidak ingin ribut dengan Julian gara gara hal ini. Apalagi sekarang adalah hari teristimewa bagi Julian, tidak mungkin rasanya Bryan akan merusak hari bahagia istri cantiknya itu.


"Hay, gue kira acaranya sudah selesai" ujar Felix saat dirinya baru sampai di dekat mereka semua.


"Loe dari mana aja? Pake acara lama sampai" ujar Kevin menatap Felix dengan menyipitkan matanya.


"Dari kerja lah. Emangnya elo yang kerja sambil.......... "


"Au" Teriak Felix saat sebuah kaki menendang tulang keringnya.

__ADS_1


Felix menatap protes ke arah Bryan. Bryan dengan sengaja dan terang terangan menendang tulang kering Felix.


"Sorry sorry" ujar Felix yang paham dengan kode yang diberikan oleh Bryan sebentar ini kepada dirinya.


Acara bakar bakar itu berlangsung dengan penuh canda tawa. Mereka semua saling tertawa dan sekali sekali saling mengejek satu dengan yang lainnya. Tapi ejekan mereka tidak pernah lagi menyinggung perasaan Kevin.


"Julian, hari sudah malam. Gue pulang duluan ya" ujar Vian saat melihat jam di tangannya menunjukkan angka setengah sepuluh.


Kevin yang mendengar Vian akan pulang malam malam begitu merasakan sedikit rasa cemas di hatinya akan keselamatan Vian di jalan. Walaupun sebenarnya Vian sangat jago dalam hal bela diri, tetapi dengan berjalan sendirian membuat Kevin masih memiliki kecemasan sendiri.


"Kamu pulang sendirian?" tanya Kevin dengan nada cemas.


Vian mengangguk "mau sama siapa lagi" ujar Vian dengan nada dingin. Nada suara khas seorang pengawal setia.


"Biar saya temani" ujar Kevin yang tidak ingin sesuatu terjadi kepada Vian.


Vian terlihat ragu untuk menerima ajakan dari Kevin. Dia bisa sendirian pulang ke rumahnya, dia tidak butuh Kevin sebagai pengawalnya pulang.


Kevin melirik sedikit ke arah Julian.


"Huft" Julian menghembuskan nafasnya yang berat itu. Dia tidak menyangka kalau Kevin akan meminta bantuan dirinya untuk meminta Vian supaya mau menerima tawaran dari dirinya.


"Vian, hari sudah malam banget. Apa lagi loe cewek, masak iya cewek bawa motor malam malam pulang" ujar Julian mulai membujuk Vian supaya mau pulang ditemani Kevin.


"Loe di anter Kevin aja ya." kata Julian dengan santai.


Vian menatap tidak percaya kepada nona mudanya itu. Kalau sudah nona mudanya yang berbicara berarti itu adalah sebuah perintah. Mau tidak mau, suka tidak suka, maka Vian harus melakukannya.


"Tapi...... Julian" ujar Vian yang masih tetap ingin pulang sendirian tanpa di antar oleh Kevin.


"Nggak ada tapi tapi dan tapi Vian. Kamu harus mengikuti apa keinginan aku. Aku minta kamu untuk pulang diantar Kevin" ujar Julian sekali.

__ADS_1


"Gue nggak mau tau Vian. Suka tidak suka, loe tetap diantar sama Kevin" lanjut Julian menekankan sekali lagi kepada Vian kalau dirinya harus pulang dengan Kevin.


Vian terdiam, dia tidak bisa lagi menolak keinginan dari Julian. Dia hanya bisa mengangguk setuju atas apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh Julian.


"Baiklah gue setuju" ujar Vian pada akhirnya.


Vian dan Kevin pulang dengan naik mobil Kevin. Sedangkan motor Vian ditinggalkan di rumah Julian. Besok pagi motor Vian akan dibawakan ke kampus oleh Bryan sambil mengantarkan Julian ke kampus.


Tepat pukul sepuluh malam semua orang sudah kembali ke rumah mereka masing masing. Sedangkan Julian dibantu oleh Bryan membersihkan semua peralatan yang kotor habis dipakai untuk kegiatan barbeque tadi.


"Jadi kamu hadir tadi pas aku ujian terbuka disertasi?" tanya Julian saat dirinya sudah tinggal berdua saja dengan Bryan.


Bryan tersenyum "Aku tidak akan mungkin tidak hadir dalam hari bersejarah istri aku sendiri" ujar Bryan menjawab pertanyaan dari Julian.


"Jadi kamu lihat bagaimana aku menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh tim penguji?" lanjut Julian bertanya dengan ekspresi penuh kebahagiaan dan kebanggaan atas apa yang sudah diraih dan dicapainya tadi sore.


"Ya, jangankan melihat kamu menjawab pertanyaan dari tim penguji dan yang hadir. Dari kamu mulai berjalan dari kursi kamu aja aku udah lihat" kata Bryan secara tidak langsung mengatakan kapan dirinya sampai untuk menghadiri sidang terbuka disertasi Julian itu.


"Wow, jadi kamu sudah lama hadir di sana?" kata Julian dengan nada kaget dan bangga mendengar kalau Bryan memang hadir mulai dari dia berjalan menuju tempat melakukan presentasi disertasinya itu.


"Ya" jawab Bryan sambil tersenyum.


"Aku bahagia sekali" lanjut Julian sambil memeluk Bryan dengan penuh kebahagiaan.


"Ternyata walaupun aku baru memberitahukan kepada kamu pagi tadi, ternyata kamu tetap hadir. Makasi banyak" ujar Julian yang tetap memeluk Bryan.


"Tapi sudah aku katakan, aku tidak akan mungkin melewatkan hari bahagia kamu, hari terpenting dalam hidup kamu" jawab Bryan sambil mengusap kepala Julian dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Mari kita istirahat. Besok aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan pagi pagi sekali" ujar Bryan yang meninggalkan banyak pekerjaan supaya dia bisa pergi menghadiri acara sidang terbuka Julian.


Sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu berjalan masuk ke dalam kamar. Mereka berdua akan beristirahat karena besok masih banyak kegiatan dan juga aktifitas yang akan mereka lakukan.

__ADS_1


__ADS_2