Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #30


__ADS_3

"Julian, ulang beberapa kali pengambilan fhotonya." ujar Vian dengan santai kepasa Julian yang sekarang sedang merapikan tasnya.


"Lah kok bisa ulang lagi? Ada apa?" tanya Julian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


"Jangan katakan kalau loe lupa untuk memencet kameranya?" ujar Julian yang sudah memiliki pemikiran buruk terhadap Vian sahabat terbaiknya itu.


"Mentang mentang gue minjam ponsel loe ya, makanya loe sengaja nggak mencet tombol merahnya. Mana gur udah memaksimalkan gaya gue lagi" ujar Julian dengan nada sedikit mengejek Vian.


Vian melongo mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. Dia sama sekali tidak membayangkan kalau Julian bisa mengatakan hal sekejam itu.


"Hay mulut loe kejam sekali" balas Vian sambil menggeleng geleng kan kepalanya tidak percaya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


"Hay gue cuma bercanda" balas Julian lagi sambil tersenyum ke arah Vian.


"Ya gue juga tau" jawab Vian sambil tersenyum juga ke arah Julian.


Julian kembali ke posisi awalnya. Dia berdiri di samping papan bunga. Saat itulah sebuah tangan memeluk pinggang Julian dari belakang. Julian kaget, saat itulah dia tau kalau yang memeluknya dari belakang adalah Bryan. Julian tersenyum kepada Bryan, ternyata Bryan hadir dalam hari spesialnya itu.


"Aku kira kamu nggak hadir" ujar Julian dengan berbisik ke arah Bryan.


"Haha haha haha. Mana mungkin aku nggak hadir dalam hari istimewa kamu ini sayang. Apapun halangannya aku pasti akan datang" ucap Bryan sambil tersenyum penuh kasih sayang kepada Julian.


"Kamu masih tetap pake masker untuk berfoto?" tanya Julian lagi saat melihat Bryan yang tidak juga membuka maskernya itu.


"Bener juga ya" jawab Bryan.


Bryan melihat sekitarnya. Dia tidak ingin saat dirinya membuka masker, maka ada seseorang yang mengenalinya atau bahkan memfoto Bryan yang sedang bersama dengan Julian. Julian mengamati semuanya. Julian jelas melihat sebuah kabut ketakutan tipis di mata Bryan.


"Kalau kamu cemas, maka nggak usah saja Bryan. Tidak masalah." kata Julian yang tidak ingin Bryan merasa tidak nyaman saat harus membuka masker untuk berfhoto dengan dirinya.


"Bu bu bukan begitu sayang" ujar Bryan yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.

__ADS_1


"Terus?" ujar Julian.


Beberapa kali Vian mengambil fhoto saat sepasang suami istri itu berbincang bincang. Vian sengaja melakukan hal itu karena di beri kode oleh Bryan. Jadi fhoto yang dihasilkan akan terlihat sangat natural sekali.


"Selesai" ujar Vian dengan semangat.


Julian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada mereka berdua langsung menatap ke arah Vian.


"Apanya yang selesai?" tanya Julian dengan nada kaget. Kaget Julian disebabkan oleh perkataan Vian yang mengatakan kalau sesi berfoto mereka berdua telah selesai.


Sedangkan sebaliknya, Bryan terlihat santai dan biasa saja menanggapi apa yang dikatakan oleh Vian kepada mereka berdua.


"Fhotonya" jawab Vian dengan santai kepada Julian.


"Hah? Mana ada kami fhoto dari tadi. Yang ada kami dari tadi ribut perihal masker" protes Julian saat mendengar alasan dari Vian mengatakan kalau dirinya telah selesai mengambil fhoto mereka berdua.


"Ais kalau loe nggak percaya sini tengok sendiri aja" ujar Vian sambil memberikan ponsel miliknya kepada Julian.


Julian dan Bryan melihat hasil foto yang diambil oleh Vian tanpa mereka ketahui. Julian dan Bryan sekali sekali tersenyum melihat fhoto itu.


"Kita lihat di rumah saja gimana sayang?" ujar Bryan memberikan masukan. Bryan sudah tidak nyaman lagi berada di area kampus yang sudah kembali ramai itu.


"Oke" jawab Julian yang bisa melihat dengan sangat jelas Bryan yang sudah tidak nyaman lagi berada di kampus.


"Hay Julian. Selamat kamu sudah sukses lulus dari jenjang magister" ujar Kevin yang mendadak datang ke dekat Julian, Vian dan Bryan.


"Makasih Kevin. Oh ya Felix mana?" tanya Julian yang tidak melihat Felix di dekat Kevin.


"Biasa kerja" jawab Kevin.


Padahal orang yang ditanya oleh Julian berada tidak berapa jauh dari dirinya. Tetapi tidak mungkin Kevin mengatakan hal itu kepada Julian. Bisa bisa berdampak dan merembet ke pertanyaan pertanyaan lainnya.

__ADS_1


"Kalian mau balik?" tanya Kevin saat melihat Bryan, Julian dan Vian sudah bersiap siap.


"Ya, rencana mau langsung ke rumah. Loe mau ikut?" tanya Bryan sambil memberikan kode supaya Kevin mau ikut.


"Emang boleh?" tanya Kevin yang sebenarnya hanya ingin mendengar jawaban dari Julian juga.


"Boleh. Tapi hubungi Felix juga. Aku mau ngucapin terimakasih kepada Kevin" ujar Julian. Julian mengingat semua kebaikan Felix yang mau meminjaminya buku buku yang akan dipakai untuk referensi disertasinya itu.


"Kalau itu cerita gampang. Nanti tinggal kirim pesan chat ke Felix kemudian share lock saja ke Felix. Gampang" jawab Kevin dengan semangat karena bisa hadir di rumah Julian.


Padahal sebenarnya bukan itu yang membuat Kevin bahagia. Tetapi karena dia bisa bertemu lama dengan Vian. Itulah alasan sebenarnya Kevin yang terlihat sangat bahagia sekali.


"Vian, kamu bawa motor?" tanya Julian yang ingat sahabatnya itu selalu memakai motor ke kampus.


"Ya. Mau pakai apa lagi" ujar Vian.


Julian mengangguk anggukkan kepalanya. Rasanya tidak mungkin Julian meminta Vian untuk meninggalkan motornya di kampus, bisa bisa satu satunya kendaraan milik sahabatnya itu bisa hilang di kampus.


"Sini kunci mobil loe" perintah Bryan kepada Kevin.


Kevin yang kaget menatap lama ke arah Bryan. Dia sudah bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Bryan selanjutnya.


Julian melihat ke arah Bryan. Dia juga sudah tau. Makanya Julian hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus mengikuti apa yang sudah ada di dalam otak Bryan.


"Gue sama Julian akan bawa mobil loe, sedangkan elo akan bawa motor Vian" ujar Bryan tanpa merasa bersalah dan berdosa. Bryan dengan santai mengatakan hal itu kepada Kevin.


"Oke. Siapa takut" jawab Kevin.


Bryan melihat ke arah Vian. Vian yang sebenarnya ingin menolak, terpaksa mengangguk dengan apa yang diinginkan oleh tuan mudanya itu. Suatu keinginan sekaligus perintah untuk dirinya dan Kevin.


Felix yang melihat dari jauh apa yang sedang terjadi hanya bisa tersenyum simpul saja. Dia tidak menyangka kalau Bryan akan meminta Kevin mengemudikan motor berdua dengan Vian.

__ADS_1


Tetapi yang namanya perintah dari tuan muda siapa yang bisa menolak. Hal ini membuat Kevin dan Vian terpaksa berboncengan menuju rumah Julian yang letaknya tidak jauh dari kampus, karena ada jalan tikusnya itu.


__ADS_2